Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
111. Tidak Mau Ditinggal


Keesokan paginya, Angga dibuat pusing karena Arisa yang tiba-tiba tidak mau ditinggal olehnya. Padahal ia harus segera berangkat ke kantor karena ada rapat penting bersama para pemegang saham dan ia harus mendampingi Ardi.


" Sayang, aku harus berangkat ke kantor sekarang. Aku ada rapat penting pagi ini " ucap Angga pada sang istri yang terus memeluk tubuhnya dengan erat.


" Gak boleh. Kamu di rumah aja dan aku gak mau ditinggal, aku mau sama kamu terus " larang Arisa malah membenamkan wajahnya di dada Angga.


Angga mengusap wajahnya kasar karena ia tidak tahu harus memakai cara apa lagi membujuk Arisa agar ia mau ditinggal ke kantor.


" Ya sudah, bagaimana kalau kamu ikut ke kantor saja? Kamu bisa menunggu di ruangan kerjaku selama aku rapat " ucap Angga memutuskan untuk mengajak Arisa. Ardi juga pasti akan memakluminya karena ia pernah memiliki istri yang sedang hamil dan banyak maunya.


" Gak mau juga. Nanti kamu pasti sibuk terus aku ditinggalin sendirian di ruangan kerja kamu. Aku pasti akan bosan nanti " jawab Arisa menolak juga.


" Terus kamu maunya apa? Aku harus berangkat ke kantor sekarang, aku ada rapat penting, Sayang. Tuan Muda Ardi pasti sudah menungguku, tolong mengerti " ucap Angga dengan nada yang sedikit tinggi karena ia kesal.


Dari subuh Arisa sudah menempel kepadanya dirinya dan sudah satu jam ia membujuk Arisa tetapi istrinya itu masih tidak mau ditinggal. Angga tidak habis pikir dengan perubahan sikap istrinya yang semakin manja, suasana hatinya cepat sekali berubah dan banyak maunya. Ia mengerti jika itu pengaruh karena istrinya sedang mengandung tetapi ia pusing juga.


" Kamu bentak aku, Mas? Kamu gak cinta lagi sama aku? Ya sudah sana kamu pergi dan gak usah peduliin aku sama anak kita " ucap Arisa melepaskan pelukannya dan mulai menangis.


Angga menghela napasnya berat, seharusnya ia bisa lebih bersabar lagi.


" Bukan, Sayang. Maaf ya, aku tidak ada niatan sedikit pun untuk membentak kamu dan aku sangat mencintai kamu. Tapi aku minta kamu untuk mengerti, aku harus bekerja untuk kebutuhan kita dan tabungan untuk anak kita nanti " ucap Angga dengan suara selembut mungkin karena istrinya sedang sangat sensitif.


" Pagi ini aku ada rapat penting dan aku harus mendampingi Tuan Muda. Jika aku tidak pergi bekerja, bisa saja Tuan Muda akan memecat suamimu ini " lanjut Angga memberikan Arisa pengertian.


Arisa terdiam dan mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Jika Angga tidak bekerja maka mereka tidak akan memiliki tabungan untuk anak mereka nanti. Sedangkan Arisa ingin anaknya hidup terjamin sehingga tidak perlu susah-susah seperti ia ataupun Angga saat kecil.


" Ya sudah, kamu boleh pergi ke kantor sekarang, tapi nanti langsung pulang dan jangan pulang terlambat seperti kemarin " ucap Arisa akhirnya.


Arisa sebenarnya ingin Angga selalu berada di sampingnya tetapi ia harus mengerti juga pekerjaan sang suami.


" Iya Sayang. Aku akan pulang tepat waktu " jawab Angga bernapas lega.


Arisa pun menganggukan kepalanya walaupun dengan bibir yang sedikit maju beberapa centi meter karena ia tidak ingin suaminya pergi bekerja.


" Kamu jangan seperti ini, tersenyumlah agar aku lebih semangat bekerja. Jika kamu seperti ini aku tidak akan bisa kerja dengan tenang " ucap Angga pada Arisa.


" Iya Mas " jawab Arisa mencoba untuk tersenyum.


Angga tersenyum dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibir istrinya itu.


" Aku berangkat ya, Sayang. Aku akan membawakan kamu sesuatu saat pulang nanti " pamit Angga.


" Bener ya? Nanti aku tagih loh " ucap Arisa berusaha senang saat mendengar itu.


" Iya Sayang " jawab Angga.


Arisa pun mencium tangan Angga dan Angga tidak lupa memberikan kecupan untuk Arisa. Bukan hanya di kening, tetapi di seluruh wajahnya agar istrinya itu tidak cemberut lagi.


" Baik-baik di rumah, Sayang. Assalamualaikum " ucap Angga.


Arisa melambaikan tangannya hingga mobil yang Angga kendarai benar-benar tidak terlihat lagi.


Setelah itu Arisa segera masuk ke dalam rumah, ia sudah tidak tahan ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat malas dan hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mungkin mulai hari ini ia akan menjadi kaum rebahan seperti yang dikatakan teman-temannya.


" Angga sudah berangkat ke kantor, Sayang? " tanya Mama Mutia pada Arisa yang baru masuk rumah.


" Sudah, Ma " jawab Arisa.


" Arisa ke kamar dulu ya, Ma. Maaf Arisa gak bisa bantuin Mama apa-apa hari ini " ucap Arisa pada Mama Mutia.


Sebenarnya Arisa ingin membantu Mama Mutia untuk mengerjakan pekerjaan rumah tetapi memang rasa malasnya lebih besar.


" Gak papa, Sayang. Kamu istirahat aja " jawab Mama Mutia mengusap kepala Arisa.


Arisa segera masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


***


Sementara itu, Angga baru sampai kantor saat menit-menit terakhir jam masuk kantor. Beruntung ia tidak terlambat dan rapat juga belum dimulai sehingga ia tidak perlu takut akan dipecat ataupun diberi surat peringatan oleh Tuan Gunawan.


Angga segera pergi ke ruang kerja Ardi dan menyerahkan beberapa berkas yang akan dibawa untuk rapat nanti.


" Kak Angga kenapa tumben datangnya mepet banget? Pantesan aku tadi cari ke ruang kerja Kak Angga tapi gak ada " ucap Ardi pada Angga.


" Maafkan saya, Tuan Muda. Tadi ada masalah sedikit karena istri saya tidak ingin ditinggal bekerja " jawab Angga takut Ardi akan memarahinya.


Tetapi Ardi malah tersenyum, ia paham apa yang terjadi pada Angga karena ia pernah merasakannya saat Tya sedang hamil.


" Oh kirain Kak Angga kenapa, soalnya biasanya Kak Angga berangkat lebih pagi. Apalagi ada rapat penting seperti ini " ucap Ardi menganggukkan kepalanya.


" Sabar ya, Kak. Nanti kalau udah lewat dari trimester pertama pasti Arisa gak gitu lagi. Kebanyakan wanita hamil memang sedikit bertingkah saat sedang hamil muda " lanjut Ardi karena sudah pernah melewati masa itu.


Angga pun menganggukan kepalanya. " Saya mengerti, Tuan Muda " jawab Angga.


Sekarang yang bisa Angga lakukan hanya harus lebih banyak sabar untuk menghadapi istrinya yang sedang hamil muda. Apalagi ini juga karena dirinya yang ingin memiliki seorang anak, jadi ia harus melewati apapun itu.


Setelah itu Angga dan Ardi segera pergi ke ruang rapat karena para pemegang saham mulai berdatangan dan rapat pagi itu akan segera dimulai.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘