Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
58. Meledak


Sementara itu di dalam sebuah mobil yang melaju begitu kencang, Angga mengambil ponselnya miliknya dari dalam kantong celananya. Ia ingin mengirimkan pesan terakhirnya pada Arisa jika nanti ia tidak bisa selamat.


" Assalamualaikum, Arisa. Aku minta maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik dan sempurna untuk kamu serta imam yang baik untuk keluarga kita. Aku minta maaf karena mungkin aku tidak bisa berjanji kembali padamu tapi aku akan berusaha. Kamu harus bisa melanjutkan hidup tanpa aku dan jagalah dirimu dengan baik. Aku sangat mencintaimu, Istriku " ucap Angga dalam pesan itu.


Angga tahu jika apa yang dilakukannya ini adalah egois untuk Arisa tetapi ia melakukan ini untuk membalas semua kebaikan keluarga Wicaksono kepadanya. Ia juga ingin Arden mendapatkan hukumannya di penjara. Sehingga ia memutuskan untuk berkorban karena ia tidak mungkin bisa meminta orang lain mengorbankan dirinya juga.


" Maafkan aku, Arisa " ucap Angga dengan air mata yang menetes di pipinya.


Rasanya sungguh sakit dan berat harus meninggalkan istri yang sangat di cintanya dan bahkan mereka baru memulai kehidupan yang bahagia. Kebahagiaan yang baru Angga dapatkan dengan terpaksa harus ia korbankan demi kebaikan semuanya.


Angga terus mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi dan sebentar lagi ia akan sampai di hutan terdekat dan juga cukup jauh dari pemukiman penduduk.


" Aku harus lebih cepat lagi " ucap Angga saat melihat waktu pada bom hanya tersisa dua menit lagi.


Angga terus fokus mengemudi hingga mobil itu memasuki kawasan hutan. Di detik-detik terakhir, Angga mencoba menyelamatkan dirinya dengan mencoba keluar dari mobil dalam keadaan mobil yang melaju kencang.


" Aku harus berusaha agar bisa selamat " ucap Angga karena waktunya tidak banyak.


Angga segera melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil untuk keluar. Tetapi pada saat ia hendak melompat, bom yang berada di sampingnya pun meledak.


" Aaaaaa " teriak Angga saat bom itu meledak tepat di sampingnya.


Duar.


Sebuah ledakan yang sangat kencang terdengar dari tengah hutan. Dampak ledakan yang sangat hebat itu mampu menyebar hampir ke seperempat hutan yang sangat luas. Pilihan Angga sangat tepat membawa bom itu ke hutan itu karena tidak ada korban selain dirinya. Tidak ada orang ataupun kendaraan yang melintas di sana karena jalanan di dekat hutan itu sangat sepi.


Lima belas menit kemudian, beberapa mobil beserta mobil polisi dan pemadam kebakaran tiba di tempat itu. Mereka semua keluar dari mobil dan melihat hutan itu terbakar akibat dampak dari ledakan bom itu. Sangat kecil kemungkinan jika Angga bisa selamat di dalam kobaran api yang begitu hebat.


Pasukan pemadam kebakaran pun langsung mencoba untuk memadamkan kobaran api di hutan itu.


" Angga " teriak Teno saat turun dari mobil.


Tubuhnya terasa sangat lemas dan terjatuh di tepi jalan saat melihat kobaran api dan Angga berada di dalam sana. Ia tidak menyangka akan kehilangan Angga secepat ini, adik yang begitu ia sayangi dan selalu bersamanya walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah.


Tidak jauh berbeda dengan Teno, Ardi pun merasakan hal yang sama. Angga sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri dan sekarang Angga berkorban untuk keluarganya. Ardi sangat ingin masuk ke dalam hutan itu dan menyelamatkan Angga tapi itu akan membuat keadaan semakin memburuk. Selain karena dirinya juga akan celaka, Angga juga belum tentu akan selamat.


Tuan Gunawan memeluk Ardi dan Teno untuk menguatkan mereka. Ia juga merasa sangat terluka karena kehilangan salah satu putra sekaligus orang yang sangat ia percaya. Penyesalan muncul di hati Tuan Gunawan karena semua ini karena masalah di perusahaan sehingga Angga mengorbankan dirinya.


Ardi ingin berlari memasuki hutan tetapi Tuan Gunawan melarangnya karena itu sangat berbahaya walaupun api sudah mulai paham.


" Jangan bertindak bodoh, Ardi. Kamu bisa celaka dan itu akan membuat pengorbanan Angga menjadi sia-sia. Dia berkorban seperti ini karena ingin kita semua selamat " ucap Tuan Gunawan pada Ardi.


Ardi hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Angga dan ia sangat menyesali itu.


Tidak jauh dari mereka bertiga, ada Arden yang berdiri dengan dua orang polisi di sisinya dan menatap kobaran api yang sedang dipadamkan dengan penuh rasa penyesalan. Ia sangat menyesal terlambat dan tidak bisa menyelamatkan Angga. Ia berjanji setelah ini akan menebus semua kesalahannya di penjara seperti yang Angga katakan.


" Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuamu? " ucap Arden lirih.


Arden merasa tidak sanggup mengatakan ini kepada kedua orang tua Angga. Mereka sangat ingin bertemu dengan putra mereka tetapi sekarang Angga mungkin sudah tiada.


***


Di rumah utama, Arisa yang memang tidak bisa tidur langsung mendudukkan tubuhnya saat mendengarkan suara notifikasi pesan dari ponselnya. Arisa turun dari tempat tidur dan memilih duduk di sofa yang ada di kamar itu. Tya yang juga tidak tidur pun segera mengikuti Arisa dan duduk di sampingnya.


Arisa segera membuka ponselnya dan ia melihat sebuah pesan dari Angga. Awalnya bibirnya tersenyum karena mendapatkan kabar dari suaminya tetapi beberapa detik kemudian, air matanya pun menetes setelah membaca pesan itu. Perasaannya bertambah tidak tenang, apalagi dari Angga pamit untuk pergi memang Arisa merasa ada suatu hal yang akan terjadi. Apakah mungkin itu benar-benar terjadi dengan Angga yang mengirimkan pesan yang seperti pesan terakhir untuk Arisa.


" Arisa, ada apa? Siapa yang kirim pesan? " tanya Tya saat melihat Arisa menangis.


" Mas Angga, Kak. Entah kenapa aku merasa ini seperti pesan terakhir dari Mas Angga. Aku takut, Kak. Aku takut Mas Angga kenapa-napa dan pergi ninggalin aku " ucap Arisa dengan air mata yang semakin mengalir deras dari pipinya.


Tya langsung menarik Arisa ke dalam pelukannya dan mencoba membuatnya tenang. Ia paham apa yang dirasakan Arisa karena ia pun merasakan hal yang demikian karena ia pernah berada di keadaan seperti ini dan ia harus selalu percaya jika mereka akan selamat.


" Arisa, kamu tenang dan berpikir macam-macam. Kita tunggu salah satu dari mereka kembali dan memberikan kabar apa yang terjadi. Kamu harus selalu berpikir positif dan yakin Kak Angga akan baik-baik aja " ucap Tya pada Arisa.


Arisa menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tenang dalam pelukan Tya dan berdoa untuk keselamatan suaminya.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘