Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
86. Tuan Putri Papa


Angga tidak bisa bisa menahan air matanya saat mendengar cerita Arisa tentang anak mereka yang harus tiada sebelum waktunya lahir karena sebuah kecelakaan. Rasa penyesalan yang sangat besar hinggap di hati Angga karena seandainya saja ia tidak pergi maka ia bisa menjaga Arisa dan anak mereka.


" Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjaga anak kita hingga anak kita harus tiada " ucap Arisa dalam tangisnya.


Walaupun ia sudah ikhlas dengan kepergian putrinya itu tetapi hatinya tetap terasa sakit karena harus kehilangan anak yang selama ini ia harapkan.


Angga tidak mengatakan apapun dan langsung memeluk Arisa dengan erat. Mereka menangis dengan saling berpelukan dan berusaha saling menguatkan satu sama lain.


" Aku yang seharusnya minta maaf, Sayang. Seandainya saja aku tidak pergi untuk membawa bom itu dan kita tidak terpisah, aku pasti bisa menjaga kalian. Ini semua salahku, putri kita pergi karena aku " ucap Angga menyalahkan dirinya.


" Tidak, Mas. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri karena ini semua juga takdir yang digariskan oleh Allah untuk kita. Aku sudah berusaha ikhlas untuk menerima ini semua dan kamu juga harus begitu " jawab Arisa yang tidak ingin Angga menyalahkan dirinya sendiri.


Angga berjanji pada dirinya sendiri jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan Arisa lagi dan akan menjaganya.


" Sayang, tolong bawa aku ke makam anak kita. Aku ingin mengunjunginya " ucap Angga setelah melepaskan pelukan mereka.


" Iya Mas, besok aku akan membawa kamu ke makam anak kita " jawab Arisa tersenyum.


Kemudian Arisa kembali mengambil sesuatu dari laci nakas dan itu adalah foto anak mereka yang sempat ia ambil saat baru dilahirkan.


" Ini anak kita, Mas. Hanya ini yang aku punya supaya kami bisa melihat anak kita " ucap Arisa memberikan foto itu pada Angga.


" Walaupun dia perempuan tapi wajahnya begitu mirip sama kamu, Mas " lanjut Arisa tersenyum.


Angga mengusap foto bayi mungil itu yang memang benar-benar begitu mirip dengannya, bahkan tidak sedikit pun tidak mirip Arisa.


" Dia benar-benar mirip denganku, Sayang " ucap Angga tersenyum.


Ia sangat bahagia masih bisa melihat wajah putrinya yang ternyata begitu mirip dengannya.


Setelah itu Arisa mengajak Angga untuk segera beristirahat karena besok mereka harus pergi ke makam putri mereka.


***


Keesokan paginya, Arisa tidak pergi bekerja karena ia akan membawa Angga ke pemakaman keluarga Wicaksono dimana anak mereka dimakamkan. Tuan Gunawan yang meminta agar anak Angga dan Arisa dimakamkan di sana karena anak itu juga bagian dari Keluarga Wicaksono.


Arisa sudah meminta izin tidak masuk bekerja kepada Bu Sita dan ia juga menghubungi Leon tentang ia yang tidak masuk kerja hari itu.


" Ayo kita berangkat, Mas " ajak Arisa sebelum hari beranjak siang.


" Iya Sayang " jawab Angga.


Mereka berdua memasuki mobil milik Arisa dan Angga yang mengemudikannya. Angga merasa bangga karena Arisa menjadi wanita yang mandiri selama ia tidak ada, hingga Arisa bisa membeli mobil dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Sesampainya di pemakaman keluarga Wicaksono, Angga dan Arisa langsung turun dari mobil. Angga dan Arisa membawa bunga dan air mawar yang sempat merekam beli sebelumnya. Angga cukup mengetahui siapa saja yang dimakamkan di sana karena ia cukup lama tinggal bersama keluarga Wicaksono.


Angga dan Arisa terus berjalan hingga Arisa berhenti di sebuah makam kecil yang sudah dipastikan itu adalah makam anak mereka. Arisa berjongkok diikuti oleh Angga di sampingnya.


" Assalamualaikum Sayang, Mama datang lagi. Maaf ya minggu kemarin Mama gak datang, soalnya Mama baru kembali dari luar kota " ucap Arisa mengusap batu nisan putrinya.


Arisa memang selalu mengunjungi makam putrinya itu setiap hari Senin karena pada hari itu adalah hari kecelakaan itu dan putrinya tiada.


" Hari ini Mama gak datang sendiri, Mama datang sama Papa kamu. Alhamdulillah, Papa sudah kembali dan bisa ke sini buat bertemu kamu " ucap Arisa tersenyum lalu melirik Angga yang berada di sampingnya.


Arisa merasa lega karena sudah bisa membawa Angga ke makam putri mereka.


" Namanya Anjani Kaureen Lesmana, aku sudah menyiapkan nama itu sejak aku mengetahui jika aku sedang mengandung " ucap Arisa memberitahu nama Putri mereka walaupun sudah tertulis jelas di batu nisan.


" Nama yang sangat cantik dan aku sangat menyukainya " ucap Angga tersenyum.


Mata Angga kembali berkaca-kaca dan ia tidak menyangka jika sekarang dirinya berada di depan makam putrinya yang tidak pernah ia temui.


" Sayang, ini Papa. Maafkan Papa yang tidak bisa menjagamu dan Papa juga baru bisa mengunjungimu sekarang ini. Papa benar-benar minta maaf, Sayang. Tapi yang harus kami tahu, walaupun kita tidak pernah bertemu, Papa sangat mencintai dirimu. Kamu akan menjadi tuan putri di hati Papa " ucap Angga mengusap batu nisan putrinya.


Angga tidak bisa menahan tangisnya lagi di depan makam putrinya. Angga yang terkenal dingin dan kuat kini terlihat lemah karena orang-orang tersayangnya. Ia merasa sangat rapuh harus melihat makam darah dagingnya. Arisa memeluk Angga dan berusaha untuk menguatkannya.


Setelah Angga merasa tenang, mereka pun menaburkan bunga dan menyiram air mawar yang mereka bawa lalu membacakan doa untuk putri mereka.


" Tuan Putri, Papa dan Mama pulang dulu. Papa janji akan sering mengunjungimu lagi setelah ini " ucap Angga sebelum pergi dari makam itu.


Kemudian Angga dan Arisa pun langsung pergi dari pemakaman keluarga Wicaksono karena hari sudah beranjak siang dan juga matahari semakin terik.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘