
Suasana di rumah keluarga Wicaksono terasa sepi dan diselimuti kesedihan karena kepergian Angga. Tuan Gunawan ingin mengadakan acara pengajian untuk Angga tetapi Arisa menolaknya dengan keras karena ia yakin Angga masih hidup.
" Mas Angga masih hidup, Ayah. Mas Angga belum meninggal " teriak Arisa saat mendengar Tuan Gunawan ingin mengadakan acara pengajian untuk Angga.
" Arisa, kamu harus ikhlas. Abang yakin kamu kuat dan bisa melewati semua ini " ucap Reno yang datang untuk menghadiri acara pengajian itu.
" Enggak, Bang. Mas Angga masih hidup dan gak perlu ada acara pengajian untuk Mas Angga kayak gini " jawab Arisa tidak bisa menerima semua orang menganggap Angga sudah tiada.
Semua orang di sana tidak tega melihat Arisa yang masih belum bisa menerima kepergian Angga. Mama Mutia memeluk Arisa dan menyalurkan kekuatan untuk Arisa.
" Sayang, ikhlas ya. Mama juga berat menerima ini semua tetapi ini sudah takdir untuk kita. Biarlah acara pengajian ini diadakan untuk Angga agar Angga di sana tenang " ucap Mama Mutia pada Arisa.
Arisa tidak mengatakan apa pun lagi dan hanya bisa menangis. Ia tidak bisa meyakinkan semua orang jika Angga masih hidup. Akhirnya Arisa hanya bisa pasrah jika semua orang ingin mengadakan acara pengajian untuk Angga karena tidak ada yang mendengarkannya.
Setelah itu Mama Mutia membawa Arisa untuk pergi ke kamar dan bersiap-siap untuk acara pengajian itu. Arisa hanya diam saat Mama Mutia memasangkan hijab di kepalanya dan tatapannya kosong. Arisa terlihat seperti mayat hidup karena wajahnya yang pucat dan tidak memiliki semangat hidup. Kebahagiaan yang baru ia mulai hancur dengan kepergian Angga.
" Ayo Sayang kita keluar, pengajiannya sudah mau dimulai " ucap Mama Mutia menggandeng tangan Arisa.
Arisa tidak merespon apapun dan hanya mengikuti Mama Mutia saat menuntunnya keluar dari kamar. Arisa hanya duduk terdiam di saat semua orang membacakan doa untuk Angga, ia tidak ingin melakukan itu karena ia yakin suaminya masih hidup. Hati Arisa terasa sangat sakit dan air matanya kembali mengalir ketika semua orang menganggap Angga sudah tiada.
" Mas, cepat kembali. Buktikan pada mereka semua jika kamu masih hidup dan hati aku ini gak salah. Aku gak bisa tanpa kamu, Mas. Kita baru memulai semuanya jadi kamu gak boleh ninggalin aku " ucap Arisa dalam hati.
Acara pengajian itu dihadiri oleh kerabat-kerabat terdekat mereka saja dan beberapa tetangga di daerah itu. Tuan Gunawan juga mengundang beberapa ustadz untuk mendoakan Angga agar Angga tenang. Tuan Gunawan ingin melakukan semua yang terbaik karena ia merasa sangat bersalah sebab kejadian ini, Angga harus tiada.
Setelah acara pengajian itu selesai, semua orang pun pamit untuk pulang termasuk juga Reno dan Siska.
" Kamu boleh sedih tapi setelah ini kamu harus bangkit dan menjalani kehidupan kamu lagi. Angga pasti sedih kalau kamu terus seperti ini " ucap Reno pada Arisa.
Reno menghembuskan nafasnya berat karena tidak ada respon dari Arisa. Ia tahu jika sekarang adiknya itu sedang sangat terpukul.
" Arisa, jaga diri kamu baik-baik ya. Kakak pasti akan sering ke sini kalau kamu butuh teman buat bicara. Kamu bisa hubungi kakak " ucap Siska pada Arisa.
Reno dan Siska pun segera pulang karena hari sudah cukup malam.
" Aku gak tega liat Arisa seperti itu, Mas " ucap Tya pada Ardi saat melihat keadaan Arisa.
" Sekarang Arisa masih sedih dan terpukul, tapi setelah ini kita harus menghiburnya. Kita harus bisa membuat dia menjalani kehidupannya lagi yang masih panjang " ucap Ardi yang juga sedih melihat keadaan Arisa.
Kemudian semua orang pun pergi ke kamar mereka masing-masing. Mama Mutia juga segera membawa Arisa ke kamarnya. Mama Mutia membantu Arisa untuk membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya.
" Sayang, kamu temani saja Arisa malam ini. Aku takut terjadi sesuatu padanya " ucap Papa Hari pada Mama Mutia yang saat itu juga mengantarkan Arisa ke kamarnya.
" Iya Mas " jawab Mama Mutia yang tidak ingin terjadi hal buruk pada Arisa jika ia tinggalkan sendiri.
Setelah itu Papa Hari pun keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Mama Mutia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Arisa.
" Sekarang kamu tidur ya, Sayang. Kamu butuh istirahat " ucap Mama Mutia mengusap lembut kepala Arisa.
Walaupun tidak menjawab tetapi Arisa menuruti perkataan Mama Mutia dengan menutup matanya dan berusaha untuk tidur.
Mama Mutia mengusap air matanya saat melihat Arisa yang sudah terlelap. Ia tidak menyangka gadis semuda Arisa harus menerima semua ini dan pasti sangat berat. Sehingga ia paham sampai keadaan Arisa seperti ini. Ia juga sama hancurnya dengan Arisa karena kehilangan Angga tetapi ia masih lebih bisa untuk tegar. Tetapi Arisa mungkin butuh banyak waktu untuk menerima ini semua.
***
Acara pengajian itu diadakan selama tujuh hari sejak Angga dinyatakan meninggal. Selama itu pula, Arisa tidak menjalani hidupnya dengan normal. Setiap hari Arisa selalu berada di dalam kamar dan menatap luar jendela dengan tatapan kosong. Bahkan Arisa tidak akan makan jika Mama Mutia atau Reno yang membujuknya. Itu pun hanya sedikit dan mungkin hanya sekali dalam sehari. Arisa hanya beranjak dari sana ketika ke kamar mandi dan melaksanakan kewajiban lima waktu saja. Selebihnya ia hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.
Seperti hari ini, Arisa masih betah di dalam kamar dan memandangi luar jendela dengan tatapan kosong. Papa Hari dan Mama Mutia yang melihatnya dari pintu pun sangat sedih dan tidak tega jika keadaan Arisa tetap seperti itu. Semua orang sudah berusaha untuk menghibur Arisa dan mengajaknya berbicara tetapi tidak ada respon apa pun dari Arisa.
" Aku gak tega liat Arisa terus seperti ini, Mas " ucap Mama Mutia pada Papa Hari.
" Aku juga, Sayang. Coba kamu berbicara lagi dengan menantu kita. Jika memang tetap sama, aku ingin mengajaknya pergi ke tempat yang bisa membuatnya tenang dan berharap dia berubah seperti sebelumnya. Aku akan membeli sebuah rumah dengan uang yang aku dapatkan dari Arden " ucap Papa Hari memikirkan cara untuk Arisa.
" Aku juga merasa tidak nyaman terus menumpang tempat tinggal di sini. Kita akan memulai kehidupan baru setelah ini bersama Arisa. Aku akan segera mencari pekerjaan untuk hidup kita nantinya " lanjut Papa Hari tidak ingin terus merepotkan keluarga Wicaksono.
Mama Mutia menganggukkan kepalanya setuju. Ia akan berusaha bicara lagi pada Arisa dan membuat Arisa memiliki semangat hidup lagi.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π