
Angga sudah sampai di kampus tempat Tya kuliah dan itu juga kampus yang sama dengan Arisa nanti. Angga langsung menuju kelas Tya karena Tya tidak akan pergi sebelum ada yang menjemputnya. Itu dilakukan untuk menghindari dari seseorang yang ingin menculik istri majikannya itu agar kejadian dulu tidak terjadi lagi.
" Maaf saya terlambat, Nona Muda " ucap Angga merasa bersalah karena sepertinya Tya sudah lama menunggu.
" Kakak gak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf sama Kak Angga karena sudah mengganggu waktu Kakak yang seharusnya menghabiskan waktu bersama istri Kakak " ucap Tya merasa tidak enak.
" Tidak masalah, Nona Muda. Ini adalah tugas saya dan istri saya juga mengerti " jawab Angga.
Setelah itu Angga dan juga Tya pergi menuju mobil yang Angga bawa berada. Angga sudah menukar mobil miliknya dengan mobil yang biasa ia bawa untuk mengantar Tya. Angga berjalan tepat di belakang Tya.
" Kak, antar aku ke daerah Tanggerang Selatan ya. Aku ada wawancara di salah satu kepala sekolah yang ada di sana " ucap Tya pada Angga saat sudah berada di dalam mobil.
" Baik, Nona Muda " jawab Angga.
Angga pun langsung menyalakan mesin mobil itu dan melajukannya menuju daerah Tanggerang Selatan seperti yang Tya minta. Ia mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang agar Tya merasa nyaman. Ia akan selalu memastikan kenyamanan dan keselamatan Tya karena itu memang bagian dari tugasnya sebagai bodyguard pribadi Tya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih satu jam tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di salah satu sekolah di daerah Tanggerang Selatan. Angga turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil agar Tya bisa turun.
" Kak Angga mau ikut masuk ke dalam? " tanya Tya saat mereka sudah keluar dari mobil.
" Iya Nona Muda. Saya akan selalu berada di dekat Nona Muda kemana pun Nona Muda pergi " jawab Angga.
Angga akan menjaga Tya, karena bisa saja keselamatannya akan terancam. Apalagi setelah kejadian penyerangan itu Angga harus lebih waspada dan tidak boleh sampai lengah.
Kemudian Angga mengikuti Tya masuk ke dalam sekolah itu untuk menemui kepala sekolah dari sekolah itu.
" Maaf ini siapa? Apa teman satu kampus Nak Tya? " tanya kepala sekolah itu yang heran melihat Angga.
Sejak masuk ke dalam ruangan yang sepertinya ruangan khusus untuk menyambut tamu, Angga hanya diam dan berdiri tidak jauh dari mereka.
" Oh ini Kakak saya, Pak " jawab Tya.
Tya memang selalu mengakui Angga sebagai Kakaknya bukan bodyguard pribadinya, karena memang ia menganggap Angga seperti itu.
" Silahkan duduk, Nak " ucap kepala sekolah mempersilahkan Angga untuk duduk.
" Terima kasih, tapi saya akan tetap berdiri " jawab Angga datar.
Setelah itu Tya pun memulai wawancaranya pada kepala sekolah itu ditemani oleh Angga.
Selama Tya melakukan wawancara, Angga terus berdiri tidak jauh dari Tya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun dan persis seperti patung.
***
Hari sudah berganti malam, Angga kembali mengemudikan mobil itu untuk kembali ke Jakarta setelah mampir ke salah satu masjid untuk melaksanakan sholat magrib.
" Jalannya hati-hati aja, Kak " ucap Tya pada Angga karena hujan turun malam itu walaupun tidak terlalu deras.
" Baik, Nona Muda " jawab Angga.
Tapi saat sudah setengah perjalanan, ada sebuah mobil yang terus mengikuti mereka dan bisa dipastikan itu orang yang sama seperti yang menyerang Angga dan Ardi. Angga menyadari itu tapi ia tetap untuk tenang dan tidak gegabah karena tidak ingin Tya merasa khawatir dan panik.
" Tolong berpegangan yang kencang, Nona Muda. Saya akan menambah kecepatan mobil ini " ucap Angga pada Tya yang berada di belakang.
Angga menambah kecepatan mobil itu saat melihat mobil yang mengikuti mereka semakin mendekat. Angga tidak ingin sampai mobil itu berhasil menghadang mereka, apalagi ia sedang bersama Tya. Tentu saja itu akan sangat berbahaya.
" Kenapa, Kak? Apa terjadi sesuatu? " tanya Tya mulai khawatir.
" Tidak ada apa-apa, Nona Muda " jawab Angga tetap tenang dan fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk menghindari mobil yang mengikuti mereka.
Tya yang tidak percaya dengan ucapan Angga pun menoleh ke belakang dan ia melihat ada mobil yang melaju kencang dan sepertinya mengikuti mereka. Tya hanya bisa diam dan berdoa agar Angga berhasil lolos dari mereka dan ia tidak ingin mengganggu Angga yang sedang fokus menyetir apalagi keadaan sedang hujan. Tentunya jalanan sangat licin dan sangat berbahaya, bisa saja mereka mengalami kecelakaan.
Kejar-kejaran mobil di tengah hujan pun tidak bisa dihindarkan. Untung saja jalanan malam itu cukup sepi sehingga tidak akan membahayakan orang lain. Angga terus menambah kecepatan mobil di atas normal demi bisa lolos.
" Aku harus lebih cepat lagi agar bisa lolos dari mereka " ucap Angga dalam hati karena mobil di belakang masih mengejar mereka.
Angga menginjak gas dan mobil itu melesat lebih kencang dan beberapa saat kemudian mobil itu tidak terlihat lagi. Angga bernapas lega karena mereka bisa lolos dan tidak membuat Tya dalam bahaya.
Kemudian Angga menurunkan kecepatan mobil itu walaupun tidak sepelan tadi karena ia ingin segera mengantar Tya ke kediaman Keluarga Wicaksono agar mereka tidak dalam bahaya lagi.
" Sudah aman, Kak? " tanya Tya karena merasa mobil itu sudah berjalan dengan kecepatan normal.
" Iya Nona Muda " jawab Angga fokus ke jalanan.
" Mereka sebenarnya siapa, Kak? Apa mereka orang yang sama seperti yang menyerang Kak Angga dan Mas Ardi di Bandung? " tanya Tya.
" Kemungkinan begitu Nona Muda, tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya akan memastikan Nona Muda kembali ke rumah utama dengan selamat " jawab Angga.
Setelah itu Tya tidak bertanya lagi karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Angga yang sedang menyetir di tengah hujan yang semakin deras itu. Sedangkan Angga memikirkan Arisa yang mungkin saja akan sangat ketakutan saat hujan begini, apalagi kalau sampai ada petir.
" Ya Allah, semoga tidak ada petir malam ini. Arisa pasti akan sangat takut sendirian di rumah " ucap Angga dalam hati sangat cemas memikirkan gadis yang baru dua hari menjadi istrinya itu.
Kemudian Angga kembali fokus untuk menyetir dan memperhatikan jalanan agar mereka cepat sampai dan ia akan cepat pulang. Ia benar-benar mengkhawatirkan Arisa saat ini.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π