Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
128. Angga Versi Sachet


Papa Hari dan Mama Mutia serta Reno dan Siska mendekati Angga dan Arisa untuk melihat anak mereka yang sedang berada di dalam gendongan Arisa dan tertidur.


" Wajahnya benar-benar mirip dengan wajah Angga saat bayi " ucap Mama Mutia saat melihat wajah cucunya itu.


" Benar, Ma. Bahkan Papa tidak melihat perbedaan apa pun, mulai dari mulut, hidung dan semuanya memang mirip Angga " tambah Papa Hari karena ia masih mengingat wajah Angga saat bayi dan benar-benar mirip dengan cucunya.


Angga dan Arisa pun tersenyum. Angga sangat bahagia karena putrinya itu sangat mirip dengan dirinya dan Arisa juga tidak merasa iri dengan itu, ia malah sangat senang karena putri mereka begitu mirip sang suami.


" Asli ya Ris, ini mah Angga versi sachet. Kamu gak kebagian sama sekali " ucap Siska benar-benar takjub dengan kemiripan putri mereka dengan Angga.


" Gak papa, Kak. Biar aja semua diborong sama Papanya " jawab Arisa tersenyum.


" Emang bener ya, kita cuma dibuat numpang aja sembilan bulan. Pas keluar pada mirip suami, Hendra sama Hendri juga mirip banget sama Abang kamu ini " ucap Siska melirik sang suami di sampingnya.


" Tapi kan hidung mereka lebih mirip kamu, Dek Siska " ucap Reno lalu merangkul pundak istrinya.


Memang benar jika Hendra dan Hendri memiliki hidung yang sangat mancung dan itu di dapat dari Siska yang merupakan blasteran Indonesia dan Inggris.


" Mau mirip siapa pun yang terpenting sehat dan bisa tumbuh dengan baik " ucap Mama Mutia pada mereka.


Mereka semua pun menganggukkan kepala karena setuju dengan apa yang Mama Mutia katakan.


Setelah itu, Reno dan Siska pamit untuk pulang lebih dulu karena mereka sudah meninggalkan kedua putra mereka terlalu lama dan dua anak itu sudah mencari kedua orang tuanya.


" Kakak pulang dulu ya. Nanti Kakak datang lagi bersama tiga ponakan kamu, mereka pasti senang melihat adik barunya " pamit Siska pada Arisa.


" Iya Kak " jawab Arisa tersenyum.


" Terima kasih banyak Abang dan Siska sudah datang dan memberikan dukungan pada Arisa " ucap Angga pada kakak iparnya itu.


" Iya Angga. Kami tentu akan selalu ada untuk kalian " jawab Reno menepuk pundak Angga.


Kemudian Reno dan Siska pun keluar dari ruang perawatan Arisa setelah menyalami Papa Hari dan Mama Mutia dan mengucapkan salam.


" Sini, Sayang. Biar Mama gendong, kamu harus istirahat dulu " ucap Mama Mutia pada Arisa.


" Iya Ma " jawab Arisa.


Mama Mutia mengambil alih bayi itu dari gendongan Arisa agar Arisa bisa beristirahat dan ia yang akan menjaganya. Mama Mutia membawa cucunya itu ke sofa dan bergabung dengan Papa Hari di sana.


" Cucu Opa " ucap Papa Hari mencium kening cucunya itu.


Angga dan Arisa tersenyum melihat itu. Mereka bisa melihat jika Papa Hari dan Mama Mutia sangat bahagia dengan kelahiran anak mereka karena bayi itu yang sangat mereka nanti-nantikan.


" Aku jadi ingat Anjani, Mas. Dia juga mirip banget sama kamu, seperti adiknya " ucap Arisa dengan mata yang berkaca-kaca mengingat putrinya yang telah tiada.


Walaupun sudah lama berlalu tapi rasa sakit saat mengetahui putrinya tidak bisa diselamatkan dan tiada, masih Arisa ingat jelas sampai sekarang.


Angga menarik Arisa ke dalam pelukannya dan mengusap lembut kepala istrinya itu. Jujur saja ia merasa sedih setiap mengingat putrinya yang telah sebelum bisa ia temui.


" Jangan sedih lagi, Sayang. Anjani pasti akan sangat bahagia jika kamu bahagia dan sekarang sudah adiknya yang akan membawa kebahagiaan di keluarga kecil kita " ucap Angga mengecup puncak kepala Arisa.


Arisa pun menganggukkan kepalanya. " Iya Mas " jawab Arisa lalu mengusap air matanya yang sempat jatuh membasahi pipi.


Tak lama kemudian, Dokter Sinta datang ke ruang perawatan itu bersama dengan seorang perawat.


Setelah itu Mama Mutia memberikan bayi mungil itu pada Arisa untuk diberikan nutrisi, kebetulan juga bayi itu sedang terbangun.


" Kalau gitu, Papa sama Mama keluar dulu. Sekalian kita mencari makan siang untuk Angga " pamit Papa Hari karena tidak mungkin terus berada di sana saat Arisa akan menyusui bayinya.


" Iya Pa " jawab Angga.


Papa Hari dan Mama Mutia pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Angga dan Arisa serta bayi mereka bersama dengan Dokter Sinta dan perawat.


Kemudian Dokter Sinta membantu dan mengajari Arisa untuk menyusui bayinya dan mencari posisi yang nyaman dan tepat. Beruntung ASI Arisa langsung keluar sehingga putri mereka itu bisa langsung mendapatkan nutrisinya.


" Saya rasa Nona Arisa sudah bisa melakukannya sendiri, jadi kami pergi dulu. Masih ada beberapa pasien yang harus saya periksa " ucap Dokter Sinta pada Angga dan Arisa.


" Iya Dok, terima kasih " jawab Arisa.


" Terima kasih atas bantuan Anda, Dokter " ucap Angga karena Dokter Sinta sudah banyak membantu mereka.


" Sama-sama, Tuan Angga " jawab Dokter Sinta tersenyum.


Setelah itu Dokter Sinta pun langsung keluar dari ruang perawatan itu diikuti oleh perawat yang datang bersamanya.


Angga terus memperhatikan wajah putrinya yang sedang menyedot nutrisinya dengan sangat lahap. Sepertinya mainan kesukaannya akan dimonopoli oleh sang putri mulai sekarang.


" Lahap sekali, sepertinya dia sangat lapar " ucap Angga dengan terus memandangi wajah bayi mungil hasil karyanya.


" Iya Mas. Ini dia nyedotnya kenceng banget " jawab Arisa merasakan gerakan bibir putrinya itu.


Angga tersenyum dan ia berharap putrinya itu akan tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang akan menyayangi serta berbakti kepada orang tuanya.


" Kalau dilihat-lihat ya Mas, anak kita ini memang cerminan wajah kamu. Bener kata Kak Siska kalau anak kita adalah Angga versi sachet " ucap Arisa setelah terus memperhatikan wajah putrinya yang bahkan lebih mirip dengan Angga dibandingkan putri pertamanya.


" Itu karena selama ini aku yang bekerja keras untuk membuatnya. Kamu hanya diam dan menikmati setiap gerakan dan hentakanku " jawab Angga tersenyum.


" Aku juga bekerja keras membuatnya, Mas. Kamu gak ingat berapa kali aku di atas kamu " ucap Arisa tidak terima jika Angga bekerja keras sendiri.


Angga tertawa kecil. " Aku mengingatnya, Sayang. Aku bahkan mengingat semua gerakanmu saat berada di atas tubuhku " jawab Angga.


Seketika wajah Arisa pun memerah mengingat jika ia sedang bekerja di atas tubuh sang suami.


" Nanti kita buat lagi yang mirip denganmu, tapi kamu harus lebih sering bekerja di atas tubuhku agar anak kita nanti mirip denganmu " ucap Angga pada Arisa.


" Itu dibahas nanti deh. Aku baru aja melahirkan, masa sudah mikirin buat lagi " ucap Arisa mengerucutkan bibirnya.


Angga hanya tertawa melihat itu karena istrinya sangat lucu.


Setelah itu, Angga memindahkan bayi mereka ke box bayi yang sudah disediakan sebelumnya setelah bayi mereka selesai menyusu dan tidur.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘