
Malam itu Arisa tidak keluar kamar sama sekali karena Angga yang melarangnya. Bahkan untuk makan malam pun Angga membawa makanan mereka ke dalam kamar. Arisa merasa tidak enak pada Papa Hari dan Mama Mutia tetapi kedua mertuanya itu memakluminya, apalagi tadi Arisa merasakan kram pada perutnya.
" Mas, sini " ucap Arisa meminta Angga untuk naik ke atas tempat tidur.
Angga yang saat itu baru keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan dan kakinya langsung menuruti apa kata istrinya dan naik ke atas tempat tidur.
" Lepas baju kamu, Mas. Tadi kan aku udah bilang kalau aku lebih suka kamu gak pakai baju " ucap Arisa saat Angga sudah berada di sampingnya.
Angga terperangah dengarnya karena istrinya itu semakin aneh. Biasanya Arisa akan sangat malu hanya karena ia bertelanjang dada tapi saat ini Arisa malah meminta ia membuka pakaiannya.
" Tidak mau, nanti kamu akan menggodaku lagi " tolak Angga mengingat tadi Arisa menggodanya sehingga ia harus mandi dua kali.
Tiba-tiba mata Arisa mengembun karena mendapatkan penolakan dari suaminya.
" Jadi kamu gak suka aku goda? Kamu lebih suka digoda sama perempuan lain yang lebih cantik dan lebih seksi dari aku? " ucap Arisa dengan air mata yang begitu mudah jatuh membasahi pipinya.
Angga langsung panik melihat Arisa yang tiba-tiba saja menangis. " Bukan seperti itu, Sayang. Aku sangat suka, tetapi aku takut tidak bisa menahannya " jawab Angga mencoba menjelaskan agar istrinya itu tidak salah paham.
" Kenapa harus ditahan? Kamu gak mau dilayani aku? Emang aku gak menarik lagi ya buat kamu. Kamu jahat banget, Mas " ucap Arisa dengan tangis yang semakin kencang.
" Bukan, Sayang " jawab Angga bingung karena baru kali ini ia menghadapi Arisa yang seperti ini.
" Bohong, kamu bohong. Kamu udah gak cinta lagi sama aku, kamu gak mau lagi menyentuh aku. Kamu jahat, Mas Angga ja... " ucapan Arisa terhenti karena Angga tiba-tiba membungkam bibirnya.
Arisa terdiam walaupun air matanya masih terus mengalir dari matanya. Ia tidak tahu mengapa dirinya sangat kecewa saat Angga menolaknya dan berpikir yang tidak-tidak.
" Jangan pernah mengatakan itu lagi. Aku masih mencintai kamu dan akan terus mencintai kamu " ucap Angga setelah melepaskan ciumannya.
Arisa memalingkan wajahnya karena merasa kecewa dan kesal pada suaminya.
Angga menangkup wajah Arisa dengan kedua tangannya agar istrinya itu melihat ke arahnya.
" Dengarkan aku, aku sangat menginginkannya apalagi kita sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri. Tapi juga aku khawatir jika nanti akan menyakiti kamu dan anak kita. Aku juga tidak ingin kamu sampai kelelahan dan mengalami kram lagi seperti tadi " ucap Angga mencoba menjelaskan alasannya menolak padahal ia juga menginginkannya.
" Aku hanya tidak ingin kalian terluka, Sayang " lanjut Angga menatap mata Arisa.
Arisa pun mengerti jika Angga mengkhawatirkan dirinya dan juga kandungannya, tetapi ia juga sangat menginginkan sentuhan dari suaminya itu.
" Aku gak akan lelah karena yang bergerak, Mas " jawab Arisa berharap suaminya itu mau menyentuhnya.
" Aku menginginkannya, Mas. Kalau seorang istri yang meminta duluan itu salah satu tiket ke surga loh, Mas. Emang kamu gak mau dapat tiket ke surga " ucap Arisa pada Angga.
Tangan Arisa mulai bergerak untuk membuka kancing piyama yang dipakai oleh Angga dan mengusap dalam bidang suaminya itu dengan gerakan sensual. Arisa benar-benar ingin memancing Angga dan membuat suaminya itu tidak bisa menolak lagi.
" Kamu yang memintanya, Sayang " ucap Angga memejamkan matanya karena hasratnya sudah terpancing.
" Iya Mas, aku yang memintanya " jawab Arisa tersenyum.
" Katakan jika aku menyakiti kalian berdua " ucap Angga mengusap wajah Arisa.
Tanpa keraguan lagi Angga langsung melahap bibir manis istrinya itu. Pertahanan Angga benar-benar runtuh jika terus-terus digoda seperti itu. Angga memberikan ciuman yang begitu lembut dan memabukkan. Arisa pun tidak mau kalah, ia membalas ciuman Angga dan mengalungkan tangannya pada leher suaminya itu.
Angga segera melucuti pakaiannya dan juga pakaian sang istri lalu menutupi tubuh mereka yang sudah polos dengan selimut.
" Katakan jika sakit, aku akan melakukannya dengan lembut " ucap Angga setelah pemanasan dan Arisa basah.
" Iya Mas " jawab Arisa lalu mengecup bibir suaminya.
Kemudian Angga langsung mengarahkan miliknya ke dalam inti tubuh sang istri. Angga merasakan miliknya dijepit karena milik Aris itu sangat sempit walaupun mereka melakukannya berulang kali.
Angga kembali mencium bibir Arisa dan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh sang istri melayang. Angga mulai bergerak dengan pelan dan lama kelamaan bertambah cepat sehingga membuat tubuh kecil Arisa yang berada di bawahnya terguncang.
" Apa kamu lelah, Sayang? Ingin berhenti? " tanya Angga dengan pinggul terus bergerak.
Angga tidak tega melihat Arisa yang sudah lelah dengan keringat yang memenuhi keningnya.
" Jangan, Mas. Teruskan aja sampai selesai " jawab Arisa dengan napas yang tersengal-sengal.
Arisa tidak ingin mereka berhenti di saat sudah hampir mencapai puncak walaupun ia akui jika dirinya merasa sedikit lelah.
Angga pun patuh dan terus melanjutkan kegiatan mereka hingga mereka sampai di puncaknya. Angga menyirami benih yang ia tanam di rahim Arisa agar tumbuh dengan baik.
Setelah itu Angga menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Ia menarik Arisa ke dalam pelukannya dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di wajah istrinya itu.
" Malam ini cukup satu ronde saja, memintanya lagi " ucap Angga sembari memeluk tubuh Arisa.
" Lagian siapa sih yang mau minta lagi, aku juga capek " jawab Arisa membenamkan wajahnya di dada Angga.
Sebenarnya Arisa merasa sangat malu mengingat dirinya yang meminta duluan dan ia juga sangat menikmati permainan Angga tadi. Ia tidak menyangka bisa bersikap seperti itu dan sangat jauh berbeda dari Arisa yang biasanya. Mungkin saja pengaruh dari kehamilannya yang membuat dirinya ingin lebih dimanja dan ingin merasakan sentuhan dari sang suami.
" Aku tidak melukai kalian kan? " tanya Angga memastikan keadaan Arisa.
" Enggak, Mas. Anak kita malah senang dijenguk Papanya " jawab Arisa padahal yang senang adalah dirinya.
Angga pun tersenyum lalu mempererat pelukannya.
Setelah itu Angga mengajak Arisa untuk tidur dan mereka akan mandi saat sebelum subuh nanti. Mana mungkin tega menyuruh sang istri mandi di tengah malam seperti ini dan juga Arisa sudah cukup lelah sehingga harus segera beristirahat.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π