
Sesuai janjinya tempo hari pada Faiz, Metta datang mengunjunginya lagi dengan membawa masakan yang dia janjikan pada mantan calon suaminya itu. Dia tidak ingin berhutang janji pada siapapun. Tak ada lagi dendam, apalagi kebencian, semua sudah terlepas begitu saja didalam hatinya, mungkin karena keikhlasan dan juga kerelaannya. Dan, tentu saja karena kehadiran cinta yang baru.
Metta datang seorang diri, Farrel tidak bisa ikut karena dia tengah sibuk mempersiapkan dirinya sendiri untuk menghadapi para pemegang saham pada rapat keputusannya nanti. Meskipun dia harus sedikit berbeda pendapat sebelum pergi.
"Pokoknya Mac akan menemani kakak kesana titik." ucap Farrel saat mobil yang dikemudikan Mac berhenti di depan Rumah sakit.
"Aku tidak mau ..."
"Kakak, menurutlah!"
Metta menyilangkan kedua tangannya didada. "Sudah kubilang aku tidak mau, kalau kamu memaksa, aku bakal marah beneran sama kamu!"
"Kakak kok gitu, iya ... iya aku gak akan menyuruh Mac kesana, oke.. Kakak jangan marah lagi," menyelipkan rambut metta kebelakang telinganya. Metta menang, dia mengangguk dengan menarik bibirnya keatas.
"Iya sudah aku berangkat, kakak gak apa-apa kan masuk sendirian?"
"Iya ... gak apa-apa." Metta keluar setelah Mac membuka pintu mobilnya, namun Farrel menahan tangannya.
"Apa ...?"
"Kakak melupakan sesuatu lagi?"
"Gak ada, semua sudah aku bawa." mengangkat rantang makanannya.
Farrel menunjuk pipi sebelah kirinya, "Ini ...lupa?"
"Ish...kamu ini kebiasaan" memukul lengan Farrel yang kini terkekeh.
"Dah, aku pergi yaa! kamu hati-hati."
Cup
Farrel dengan cepat mencium bibir Metta sekilas, sontak membuat wajah Metta memerah, Mac yang berada diluar pintu pun memalingkan wajahnya dengan segera.
"Itu hadiah buat kakak karena tidak menurut..." Farrel terkekeh.
"Ish... kamu ini!" Metta dengan cepat keluar dari mobil dengan wajah yang tiba-tiba panas.
"Bikin malu ..." gumamnya saat melewati Mac yang tengah tersenyum.
Mac masuk kedalam mobil kemudian memperhatikan Farrel yang tengah menatap punggung kekasihnya hingga menghilang di balik pintu rumah sakit dari spion dalam mobilnya.
"Apa yang kamu lihat Mac, jalankan mobilnya!" Mac mengangguk lalu menjalankan kemudi sesuai perintah.
Sementara Metta masuk kedalam rumah sakit khusus tahanan, dan karena Faiz masih menjadi pasien tahanan kepolisian, Metta harus melewati banyak tahapan ketika datang, mengisi buku tamu dan segala birokrasi nya, bahkan masakan yang dia bawa tidak luput dari pemeriksaan.
Setelah semua pemeriksaan selesai, akhirnya dia diijinkan untuk masuk kedalam ruang inap tempat Faiz dirawat. Metta mengetuk pintu walau tahu tidak akan mungkin ada jawaban dari dalam sana.
"Assalamualaikum!" Dilihatnya Faiz masih dalam keadaan yang sama, terbaring dalam ranjang, bahkan berat tubuhnya kian merosot, dilihat dari wajahnya yang semakin tirus.
"Mas ..."
Metta mendekati tepian ranjang, dilihatnya sekali lagi wajah yang dulu selalu dia rindukan, wajah yang dulu dia harapkan menjadi imam bagi hidupnya, rasa benci berubah menjadi kasihan, menjadi rasa iba juga sedih.
Faiz membuka matanya, menatap wajah mantan kekasih hatinya dengan sendu. Ingin dia berlari memeluknya, mencurahkan kerinduan yang mendalam namun dia juga cukup tahu diri.
Faiz hendak beranjak, namun dengan cepat Metta mencegahnya. " Tidak usah bangun, Mas masih harus istirahat yang banyak."
Sentuhan Metta di lengan Faiz begitu hangat, membuat Faiz semakin merindukannya. "Sha ...."
"Oh iya Mas, kata dokter Mas Faiz sudah banyak kemajuan sekarang." Metta mengeluarkan rantang makanan.
"I- iy- a ...."
"Syukurlah Mas, jangan lupa diminum obatnya dengan teratur yaa! Biar Mas Faiz bisa cepet keluar dari rumah sakit."
"Aku merindukan kamu Sha ..."
"Tarraaa ... coba tebak aku bawa apa?" Faiz menatap dengan penuh tanya, "Ya ... ini ayam betutu buat Mas Faiz," Metta tertawa saat menunjukkannya.
Faiz ikut tersenyum, ingatannya kembali pada saat mereka masih bersama dulu. Kenangan-kenangan Manis yang mereka ciptakan, canda dan tawa yang yang selalu hadir saat bersama. Dia menatap lekat perempuan yang ada di hadapannya, orang yang sama, senyum yang sama pula, namun tatapan dan hatinya yang kini tak lagi sama.
"Ayo makan Mas, nanti keburu dingin,"
"Mas bisa makan sendiri, atau mau aku suapin."
Faiz menggeleng dengan cepat, dia meraih sendok dari tangan Metta. "Habisin ya, biar aku siapin obatnya dulu."
Faiz mulai menyendok masakan yang diberikan Metta, mengunyahnya dengan penuh perasaan, dan bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya, masakan Metta yang enak, rasanya sama persis seperti dulu, saat Metta selalu punya waktu hanya untuk mengantarkan bekal makan siang untuknya. Dan mereka akan makan bersama dengan saling bertukar cerita.
"Sudah Mas, wah hebat,! akhirnya habis juga ya," Metta mengambil piring yang telah tandas dari tangan Faiz, "Sekarang Mas minum obatnya," menyerahkan beberapa macam obat yang telah dipersiapkan perawatnya.
"Makasih sayang..." Sontak membuat Metta kaget dan terpaku di tempatnya.
"Maaf ... aku gak sengaja." Faiz kembali terbaring dengan membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Metta.
"Eemph ... gak apa-apa Mas,"
"A- aku... memang tidak berguna Sha, maafkan aku," lirih Faiz dengan memukul dirinya sendiri.
"Hei, sudah tidak apa-apa, hentikan Mas, jangan menyakiti diri sendiri."
"Aku benar-benar tidak berguna Sha, aku tidak pantas hidup didunia ini," Faiz mulai mengamuk.
Faiz memukul- mukul dirinya sendiri, lalu dia turun dari ranjang dan mulai melempar semua barang yang ada diruangan itu, membuat Metta ketakutan, dan berdiri di sudut ruangan. Ingin berlari ke arah pintu namun Faiz mengamuk tak terkendali.
"Mas, hentikan Mas ..." Metta berteriak namun Faiz seakan tidak perduli.
"Mas Faiz ... Aku mohon jangan begitu!"
Faìz berteriak, memukul dirinya hingga membenturkan kepalanya sendiri ke tembok, melempar lagi barang hingga ruangan itu tak karuan.
Metta mencegahnya dengan menarik tubuh Faiz saat dia membenturkan kepalanya ketembok, " Mas, sudah hentikan!"
Namun tenaga Faiz tidak sebanding dengan tenaga Metta yang menahan tubuhnya, hingga Metta terdorong dan membentur tembok dibelakangnya.
"Aaww...." Metta meringis, memegangi dahinya yang terbentur.
"Maaf Sha ... maaf, aku benar- benar tidak berguna! Aku masih terus menyakitimu."
Metta menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas, sudah tidak apa-apa."
Saat itu pintu kamar terbuka, "Kak, apa kakak tidak apa-apa?"
"El ....? aku takut,"
"Bangunlah, sudah tidak apa-apa." Farrel merangkul Metta yang kini memeluknya erat. Sementara Mac memegangi Faiz yang masih mengamuk.
Beberapa perawat masuk kedalam untuk mengambil alih pasien, Mereka menyuntikkan obat penenang pada Faiz hingga kembali tenang.
Farrel memapah tubuh Metta yang ketakutan.
"Sudah, kakak tenang ya, ada aku disini." Farrel memeriksa dahi Metta yang memar.
"Kita pergi dari sini, tapi sebelumnya kita obati dulu luka kakak ya." Metta mengangguk,
"Maafkan aku El." Melingkarkan tangannya pada Farrel.
.
.
Jangan lupa like dan komen yaa❤❤