
Semua telah dipersiapkan oleh Alan dengan sempurna, sore itu juga mereka berangkat ketempat resepsi. Ibu Sri, Andra dan Nissa masuk kedalam mobil bersama Doni. Sementara sepasang pengantin yang baru saja menikah masuk kedalam mobil Farrel bersama dengan Mac. Sementara Alan memilih untuk sendiri saja.
"Iiiih, kamu kok gak bilang kita resepsi hari ini juga?" ujar Metta dengan memukul lengan Farrel saat mereka baru saja masuk kedalam mobil.
Farrel meringis namun juga tersenyum, "Aku kan sudah bilang, setelah 2 minggu aku bekerja, aku akan mengurusnya,"
"Kamu bilang kita akan mengurus bersama, bukan kamu yang mengurusnya sendiri!" Metta menyandarkan kepalanya.
"Sama saja sayang, yang penting sekrang kita sudah resmi menikah, benarkan?"
Farrel menarik tubuh Metta kedalam dekapannya, "Istirahatlah dulu, jangan memikirkan hal yang lainnya. Kita akan membutuhkan tenaga yang banyak untuk hari ini." ucapnya dengan mengecup pucuk kepala Metta.
Metta mengenadah kan kepala nya, "Aku fikir kita akan mengadakan resepsinya nanti, karena tadi saja segala mendadak."
"Enggak ... karena semua sudah siap,"
"Tapi kan...."
Farrel membekap bibir Metta yang sedang berbicara itu dengan bibirnya. Dia melu matt nya lembut, menyisir bibir Metta yang manis itu dengan penuh perasaan dan semakin dalam. Dan kedua mata Farrel terpejam agar bisa merasai sepenuh jiwa, hingga Metta terlena dan ikut menari di dalam sana.
Tautan kedua benda kenyal itu terhenti saat pasokan oksigen terasa sesak. Lalu saling menempelkan dahi lama dan semakin lama.
"Jangan memikirkan apa-apa lagi, cukup fikirkan hari-hari bahagia setelah ini, kakak paham?" Ucap Farrel lirih.
Metta mengangguk, "Terima kasih sayang,"
"Panggil aku suami," dengan terkekeh.
Metta memundurkan tubuhnya, "Kenapa harus memanggilmu begitu, geli tahu!" terkekeh.
"Aku gak geli saat memanggilmu istriku,"
"Iihhh ... pokoknya aku tidak mau memanggilmu begitu, terdengar seperti film seri cina, istriku, suamiku ... geli."
Farrel terbahak, "Gitu yaa, Ya sudah terserah kakak panggil aku apa, memanggil kata sayang untukku juga kemajuan yang bagus." terbahak lagi
Metta mengerdikkan bahunya, lalu menjumput hidung suami nya itu dengan lembut, "Nyebelin terus iiihh...."
Setelah hampir satu jam perjalanan mereka sampai di satu tempat yang membuat Metta kembali terbelalak, bukan suatu mimpi namun kenyataan yang membuatnya tak percaya bahwa ini pesta pernikahannya.
Ballroom yang disulap menjadi sebuah taman dengan penuh bunga mawar dengan wangi yang semerbak, jajaran menu hidangan khas dari berbagai daerah ada disana, dengan foto-foto candid mereka berdua dengan tulisan indah diatasnya,
Sweet memories that we will cherish forever
Kenangan manis yang akan kita kenang selamanya
"El ... apa ini benar?" gumamnya saat masuk kedalam ballroom mewah itu.
"Tentu saja ini benar, " jawab Farrel yang terus menggenggam tangan Metta.
Hingga mereka masuk kedalam satu ruangan khusus, dan Wedding dress miliknya sudah berada disana.
"Ini benar-benar konyol El!" ucapnya dengan terperangah.
"Kakak fikir pernikahan indah itu hanya di dunia dongeng? Aku mampu mewujudkan apapun untuk kakak,"
Metta berhambur memeluk Farrel. " Terima kasih, ini luar biasa sampai aku tidak percaya ini pernikahanku." ucapnya dengan sudut mata yang mulai terasa hangat, dan sedetik kemudian pipinya basah karena air menganak itu lolos begitu saja.
Lalu setelah mengenakan dress nya dan segala riasan dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, mereka keluar dari ruangan itu menuju tempat yang sebenarnya, area outdoor yang menjadi tema pernikahan mereka, dengan panggung kecil berada di tengahnya dengan jajaran kursi yang cukup banyak.
Lagi-lagi membuat Metta terperangah tak percaya, ini bukan sekedar mimpi, bahkan aku tak pernah berharap mimpi seperti ini. batinnya.
Alunan musik dari vokalis home band yang membawakan lagu A Thousand years yang menjadi soundtrack film yang bercerita tentang seorang vampire yang mencintai seorang manusia selama seribu tahun lamanya. Membuat suasana pesta semakin indah, hangat dan tentu saja bahagia, lalu vokal dari home band itu berganti dengan menyanyikan lagu perfect dari E. Yang mengalun membuat mereka semakin larut dalam pesta.
Saat suara MC menggema menyambut mereka dengan tepuk tangan riuh dari undangan yang sudsh datang terlebih dahulu. "Kamu mengundang berapa banyak sayang?" Ucap Metta yang terlihat malu-malu.
"Entahlah Alan yang mengaturnya." Ucap nya dengan menoleh dan melempar senyum kembali pada tamu undangan.
Acara dilanjutkan dengan pelemparan buket bunga, semua tamu yang belum mempunyai pasangan tampak riuh dan berhambur kedepan untuk mendapatkan buket bunga. Terutama Doni yang tampak selalu antusias dalam rangkaian acara.
"Rel lempar kesini...." tunjuknya dengan tangan yang mengenadah ke atas.
Semua bersorak menunjuk diri nya.
"Rame sekali sayang! Mereka ingin seperti kita." gumam Farrel saat maju sesuai arahan seorang MC.
Tak lama mereka melemparkan bunda itu begitu saja,
Hap
Alan yang melintas hendak masuk ke dalam gedung terkesiap saat bunga itu terlempar di dadanya dan sontak dia memegangnya, lalu dia menoleh pada Farrel dan Metta yang berada di panggung kecil di tengah-tengah.
Farrel menatapnya lalu mengacungkan jempol kearahnya, sementara Alan hanya memicingkan mata tak mengerti.
Memangnya siapa yang mau menikah
Lalu dia berlalu begitu saja masuk kedalam ballroom untuk mengecek sesuatu dengan buket bunga di tangannya.
Berpapasan dengan Dinda yang tengah mengambil hidangan di tangannya, mereka pun berpapasan. Namun Dinda seolah tak ingin melihatnya, dia membuang muka kearah lain dengan sengaja. Hingga Dinda melewati Alan begitu saja.
"Hei ...." ujar Alan saat Dinda sudah sampai di ambang pintu keluar.
Alan melemparkan buket bunga itu pada Dinda, "Untukmu saja...."
Dinda terkesiap dengan lemparan tanpa aba-aba dari Alan. Buket bunga itu mengenai dadanya dan dia menangkapnya. "Dasar gila...."
Setelah Dinda berhasil menangkapnya Alan berlalu begitu saja, dia masuk kedalam sebuah ruangan diikuti oleh beberapa orang berseragam ARR. corps. Sementara Dinda menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.
"Selalu saja begitu!!"
.
.
Tamu undangan yang tak hentinya datang dan terus menyalami mereka, rekan bisnis, hampir semua karyawan PT Adhinata menghadiri pesta itu, entah sudah berapa ratus tangan yang sudah menyalami mereka.
Dan sudah hampir 3 jam mereka berdiri lama, duduk sebentar lalu berdiri kembali hingga kakinya terasa kesemutan.
"Cape yah...." Tanya Farrel.
Metta mengangguk, "Sangat ...."
"Sudah ku bilang, malam ini kita akan kelelahan. Makanya aku menyuruh kakak istirahat, tidur ..., saat dimobil tadi." ucapnya dengan mengelap keringat didahinya dengan tissue.
Ooh ... aku kira itu. Batin Metta lalu terkekeh sendiri.
"Kaki ku bengkak rasanya, seperti kaki gajah," rungutnya.
"Kalau begitu kita kedalam saja," ajak Farrel meraih gaun bagian belakang yang menjuntai.
Mereka akhirnya bernafas lega, karena bisa istirahat sejenak, "Kita kesana," tunjuknya pada meja besar khusus berisi keluarga yang tengah berkumpul dengan saling mengobrol.
Hingga acara akhirnya selesai, seluruh keluarga pun kembali ke hotel tempat mereka menginap, yang akan pulang keesokan harinya. Sementara Farrel dan Metta akan menginap di hotel tempat acara itu berlangsung.
"Acara yang sebenarnya akan berlanjut di atas, bersiap lah!" bisik Farrel di telinga Metta saat berpamitan pada keluarganya.
Metta membulatkan matanya, dia mencubit lengan Farrel. "Mesum...."
.
Author bikin bab ini sambil dengerin lagu A thousand year dan juga lagu Perfect beneran lhoo...😍😍Uwu gak sih, dan author berada di pojokan sambil senyum-senyum, ingin menyalami mereka tapi ada Si Alan..Huh