Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kakak galak, tapi aku suka


Metta lantas keluar kamar dan menyibakkan tirai yang berada diruang tamu, namun juga tidak menemukannya.


"Kemana anak itu! Menyebalkan, berani-beraninya dia pergi dari sini."


'Awas saja, berani pergi dari sini! juga berani masuk kedalam rumah!'


Namun hatinya tetap waswas, bagaimana kalau Farrel kembali ke hotel, bagaimana kalau di tengah jalan bertemu perempuan gila seperti Chaira. Fikiran nya ikut kalut, bagaimana kalau ada yang mengambil kesempatan karena Farrel sendirian, apalagi hanya menggunakan Bathrobe hotel. Astaga


"Farrel...." seru nya memanggil nama suaminya tanpa sadar.


Namun tidak ada yang menyahutinya. Metta lantas berjalan keluar pekarangan hanya untuk mencari Farrel,


'Apa dia tidur didalam mobil?'


Metta menempelkan tangannya mengintip ke dalam, namun tidak terlihat apa-apa, gelap gulita dari luar.


'Dia tidak ada, kemana sih'


Metta berbalik hendak kembali ke rumah, namun dirinya malah menabrak sesuatu.


Bruk


"Aw...Farrel, kau ini! Darimana? maksud ku ngapain masih disini?" ujarnya dengan kembali berjalan masuk kedalam pekarangan rumah.


Syukurlah dia tidak pergi.


"Kak, sayang! tunggu," Farrel menyusul langkah kaki istrinya.


Metta menghentakkan kaki namun juga lega, karena Farrel ternyata tidak pergi.


Farrel berhasil mencekal pergelangan tangannya, "Tunggu aku kak, kita bicara dulu,"


Metta berusaha melepaskannya, dia memutarkan tangannya, namun tenaganya tidak seberapa hingga Metta tertarik menabrak dada Farrel.


Deg


Deg


Jantung tiba-tiba berpacu dengan kencang, wajah Farrel tiba-tiba begitu tampan diterpa sinar dari lampu rumahnya.


Menyebalkan, bahkan aroma tubuhnya tercium, meracuni fikiranku.


"Sayang, maafkan aku yaa. Please."


"Hukumannya yang lain saja, tapi jangan sampai pergi seperti ini, aku tidak akan sanggup!"


"Kamu yang mulai, menyebalkan!" ujarnya dengan memukul-mukul dada Farrel dengan keras.


"Aku benci tahu gak, ih... ngeselin, gimana kalau dia berhasil, kamu ...iih...rasakan!" ujarnya sambil memukul-mukul dengan brutal.


Namun Farrel yang meringis tapi juga tersenyum melihat Metta yang marah dan cemburu.


Farrel merengkuh pinggang Metta hingga tidak ada jarak antara mereka, "Iya aku salah, aku minta maaf yaa."


"Tahu ahk, udah lepas!"


"Tapi boleh kan aku masuk? tangan dan kaki ku gatal, aku juga lapar kak." ujarnya dengan wajah memelas.


"Ya udah masuk, tapi inget! Aku masih belum memaafkan mu!" sentak Metta.


"Aku akan melakukan apapun agar kakak memaafkanku," ujarnya kemudian.


"Terserah." jawab Metta lalu masuk kedalam rumah.


Farrel menyusul nya dengan cepat, takut jika Metta berubah pikiran, dia menghempaskan tubuhnya di kursi, lalu menggaruk kakinya.


Metta menatap kantong berwarna putih tergeletak di atas meja, "Kamu tadi kemana?"


"Ooh, aku ke toko di ujung sana, membeli ini!" ujarnya mengeluarkan obat anti nyamuk.


"Astaga, niat banget kamu membeli ini." ujar Metta yang melihat kulit Farrel yang putih itu bintik- bintik kemerahan.


Kasian juga. Biarin lah, suruh siapa melakukan hal konyol seperti itu.


Hatinya malah ikut berdialog sendiri.


"Aku pasti akan menunggu kakak, walau di gigitin nyamuk."


Metta membuang wajah, " Menyebalkan."


Dia pergi ke dapur, menyiapkan makan malam lalu meletakkannya di atas meja makan.


"Makanlah, aku tidak mau dimarahi bunda, gara-gara anak nya belum makan!" serunya dengan ketus.


"Sayang, masih marah aja!" tukas Farrel yang kemudian berjalan menuju meja makan.


Sementara Metta berlalu ke kamar, dia membawa pakaian untuk Farrel.


"Nih, bajumu." ujarnya meletakkan pakaian itu di sofa,


"Habis ini, kita pulang yaa! Besok pagi aku ada. meeting penting."


"Kamu aja pulang sendiri! Aku tidak mau pulang." ujarnya masih dengan ketus.


"Sa--sayang udah dong marahnya." Farrel menarik tangan Metta.


Menepis tangan Farrel, "Udah deh, siapa juga yang marah!"


"Oke, aku harus apa biar kakak maafin aku? Apa aku harus pergi dari sini, iya... kakak mau disini dulu sampai tenang? Besok aku jemput. Iyaa?"


Hening


"Jadi kakak maunya apa? hem?"


Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia benar-benar bingung kalau istrinya itu marah seperti ini,


Farrel merengkuh bahu Metta, "Sayang, udah dong marahnya, maafin aku yaa. Aku udah berbuat sesuatu yang konyol."


Dia mendekap tubuh Metta kedalam rengkuhannya, "Maafin aku!"


"Menyebalkan tahu gak," memukul-mukul lagi dada dan juga bahu Farrel.


Farrel diam saja, dia malah semakin merengkuh tubuh Metta. "Lakukan apa yang ingin kakak lakukan padaku, asal setelah ini, kakak maafin aku."


Tidak ada jawaban dari mulut Metta, hatinya bercampur aduk, sedih, marah, tapi juga lega, bersusah payah hatinya menerima Farrel hingga menjadi suaminya sekarang itu tidaklah mudah.


"Tidak akan aku biarkan orang lain menyentuhmu. Bodoh!" gumamnya.


Farrel tergelak, "Sayang...galak sekali, tapi aku suka...suka sekali! Itu artinya cinta kakak semakin besar untukku, benarkan?"


"Tau ah!!"


Metta masuk kedalam kamar, sementara Farrel menyambar pakaiannya dan menyusul sang istri ke dalam kamar.


"Jadi kita pulang malam ini yaa,"


Metta menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengangguk.


"Aku memang akan pulang, gak bilang mau nginep disini."


Farrel mengelus pipinya lembut, " Iya maafin aku ya, kakak jangan khawatir. Aku tidak bisa melihat wanita lain selain kakak, tidak ada selain bunda. Dan aku tidak akan mungkin membuat semua usahaku selama ini sia-sia. Segala cara sudah aku lakukan, sampai saat ini hingga akhirnya aku menjadi suamimu."


Metta berhambur memeluk suaminya, menenggelamkan wajahnya dalam dekapannya, Farrel mengelus rambutnya.


"Kakak percaya kan sama aku?"


Metta mengangguk, "Jangan melakukan hal konyol seperti itu lagi, kamu bisa mencari cara lain, asal jangan seperti itu."


"Iya, tidak lagi...karena aku sekarang tahu dengan caranya sekarang." Farrel terkekeh.


Metta mendongkak kan kepalanya, "Memangnya apa?"


Farrel kembali terkekeh, "Pake cara kakak mengatasi Chaira seperti tadi."


"Iih...kau ini, aku harap ini yang terakhir, gak kebayang kan kalau nanti! Ah nyebelin... aku kesel lagi kan! Gimana nanti kalau ada yang kayak gitu lagi?"


Farrel menatapnya lekat, dia menarik bibirnya melengkung, "Aku senang melihat kakak secemburu ini." gumamnya pelan.


Sementara Metta yang sejak awal menggerutu, menolehkan kepalanya, "Apa?"


Farrel menggelengkan kepalanya,


"I love you Mettasha."


Sementara Andra dan Nissa yang merencanakan sesuatu kini keluar dari kamar nya.


"Ayo bang, cepet! nanti keburu kak Sha tidur. Itu bawa gitarnya."


Andra berdecak, "Iya bawel ih, lagian kata siapa cara beginian bakal bikin Kak Sha luluh."


Nissa menarik tangan kakaknya, "Iiiihhh, udah deh, abang gak pernah nonton film. Yang romantis itu kalau si prianya kasih lagu buat si gadisnya."


"Kebanyakan nonton film yang dikit-dikit nyanyi, dikit-dikit joged sih! Otakmu jadi geser kan."


"iih... udah ayo!"


Jreng


Andra memetik gitarnya,


'Takkan pernah ada yang lain disisi, segenap jiwa hanya untuk mu,' Suara Andra mengalun lembut,


'Dan takkan pernah ada yang lain disisi, ku ingin kau disini, tepiskan rinduku bersamamu, Hingga akhir waktu.' Suara Nissa yang masih polos terdengar lebih lembut dan natural.


Pintu kamar terbuka, Metta keluar dari kamar dan melihat kedua adiknya tengah bernyanyi dan bermain gitar tepat di depan kamarnya.


"Heh... ngapain malem-malem berisik tahu gak?" ujar Metta berkacak pinggang.


Farrel menyembulkan kepalanya dari belakang.


"Wah, Suara Nissa bagus banget! Ada bakat nih jadi penyanyi."


Metta menoleh ke arahnya, "El...."


"Yeee...kalian udah gak berantem lagi kan?" seru Nissa yang langsung di toyor oleh Andra.


"Drama banget sih, biasa aja kali." ujarnya kesal.


Sri pun keluar dari kamar, "Kalian ngapain? Ayo tidur, ini sudah jam berapa."


Namun kedua adik Metta malah asik kembali dengan gitarnya.


"Bu, aku dan Farrel mau pulang sekarang!"


"Iya bu ...." ujar Farrel.


"Sha, nak El sudah mah pulang? tidak menginap saja?"


"Farrel besok harus meeting pagi bu!" jawab Metta.


Sri mengernyit, "Sha, kok masih panggil nama sama suami mu?!"