Berondong Manisku

Berondong Manisku
Hasil akhir(Menjelang peresmian)


"Bagaimana Yah, apa ayah sudah puas dengan apa yang aku lakukan selama ini?"


Arya berhambur memeluk Farrel, menepuk punggung nya berulang kali, "Ayah bangga padamu, bukan hanya keinginanku yang terpenuhi, tapi keinginan kakekmu juga Nak. Beliau pasti sangat bangga padamu."


"Apa Ayah menangis?"


"Ayah terharu Nak, kamu tumbuh begitu dewasa dan luar biasa."


"Terima kasih yah, tapi, aku harus pergi sekarang,"


Farrel dan Doni segera pergi. Alan dan Arya masih menemani para pemilik saham dan Dewan direksi.


"Luar biasa bos, perfectto" Mengeratkan ibu jari dan telunjuk yang kemudian diciumnya.


"Terima kasih Don! lo boleh libur hari ini,"


"Hei, gue baru saja kerja setengah hari, kenapa sudah libur lagi."


"Ada sesuatu yang mesti gue urus, dan lo gak usah ikut!" Farrel meninggalkan Doni begitu saja.


Sementara Metta yang bosan menunggu Farrel kembali kini tertidur dengan posisi terlentang diatas sofa dengan ponsel yang terjatuh. Video yang dia tonton pun masih berputar tanpa ada yang menontonnya.


Farrel masuk kedalam ruangan, dia menggelengkan kepalanya saat melihat kekasihnya kini terlelap dengan begitu damai, dengan bulu lentik yang berkumpul. Farrel mendekat dan menutupi tubuh Metta dengan jas miliknya. Merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Metta sontak mengerjakan matanya saat merasa ada sentuhan di wajahnya. Matanya membulat lalu menghela nafas seketika saat melihat bahwa ternyata Farrel yang menyentuhnya.


"Astaga, Sayang kamu bikin aku kaget!"


Farrel tersenyum dengan panggilan dari Metta, entah sadar atau tidak Metta memanggilnya begitu,


"Kenapa hem, kakak lagi mimpi apa?" Farrel kembali merapihkan anak rambut yang tersisa di wajahnya.


"Aku gak mimpi apa-apa, gimana rapatnya?" Metta beranjak duduk namun Farrel menahannya.


"Tetaplah begini sebentar, aku lelah!" Farrel ikut naik ke sofa dan berbaring memeluk tubuh Metta dengan memejamkan mata.


"El, apa yang kamu lakukan! sudah sana sempit,"


"Sebentar saja sayang!"


"El ini kantor, bagaimana jika ada orang yang masuk."


"Aku sudah menguncinya!"


"El astaga," tidak ada jawaban lagi dari Farrel, hanya hembusan nafas yang terdengar lembut.


Metta menatap lekat wajah kekasihnya itu, menyusuri wajahnya dengan telunjuknya, dari mata kemudian menyusuri hidung lancipnya. Menyentuh pipi yang kemudian dia tusuk- tusuk dengan pelan.


"El, entah apa jadinya jika dulu aku tidak pernah bertemu denganmu ..." gumam Metta pelan.


"Aku yang akan mencari kakak, aku bahkan akan merebut kakak jika kakak dulu jadi menikah dengan Faiz." Ucap Farrel dengan suara yang berat.


"Hei, kau tidak tidur... Hanya berpura- pura, iya?" Metta menepuk-nepuk dada Farrel.


"Aku tertidur, tapi kakak menggangguku dengan menyentuh wajah tampanku seperti ini." Ucap nya dengan menyusuri wajah Metta meniru apa yang Metta lakukan padanya tadi.


"Tidak, aku tidak menyentuhmu begitu,"


"Apa kakak menginginkan keuntungan kakak sekarang juga," bisiknya pelan.


"Apa yang kau kata- " ucapan Metta terhenti karena Farrel kembali menarik dagunya dan langsung melu'mat bibirnya yang masih terbuka hingga dengan mudah dimasukinya,


Satu tangan Farrel menyelip di leher Metta, membuat bulu halusnya meremang seketika. Farrel menggeser tubuhnya hingga Metta berada dibawah kungkungannya tanpa melepas pagutannya. Hingga nafas memburu keduanya, saling bertukar saliva dengan memejamkan matanya, menikmati setiap decakan-decakan yang membuat jantungnya berolah raga.


"Terima kasih karena sudah hadir di hidupku," Farrel mengecup keningnya beberapa saat, dan merengkuh memeluk tubuh kecil Metta.


"Terima kasih karena telah sabar menungguku." Ucap Metta melingkarkan tangannya.


.


.


Keesokan Harinya


Para karyawan PT Adhinata sudah berkumpul disalah satu hotel berbintang lima untuk menghadiri peresmian CEO perusahaaan yang tidak lain adalah Farrel.


Tamu-tamu penting telah hadir di pesta itu, saling menyalami dan berbincang satu sama lain dengan menikmati hidangan yang telah disediakan. Arya dan Ayu tampak bahagia dan tentu saja bangga atas keberhasilan anaknya.


Sementara Farrel tengah bersiap siap disatu kamar yang khusus dipergunakan oleh keluarganya menginap. Wajahnya yang rupawan menjadi lebih memukau dengan balutan Jas lengkap yang membalut tubuhnya.


Doni dan Mac yang selalu bersitegang itu menunggu dengan cemas, Farrel membuka pintu membuat mereka kaget seketika.


"Ayo pergi ..."


Farrel memasuki ruangan yang sudsh penuh oleh orang- orang kantor nya, seluruh divisi bahkan datang menyambutnya. tak terkecuali Metta yang kini menatapnya dari salah satu kursi di sudut ruangan bersama Dinda yang fokus mencari sosok Alan dalam lautan orang.


Ting


Metta membuka pesan yang masuk dalam ponselnya. Dia membacanya dengan senyum yang merekah di bibirnya.


Kak, temui aku disamping hotel.


Metta menggelengkan kepalanya, dalam keramaian yang seharusnya Farrel hanyut didalamnya, dia malah meminta dirinya menemuinya dan tidak melupakannya barang sejenak.


"Sha, lo mau kemana?" Tanya Dinda saat melihat Metta yang berlalu meninggalkannya.


"Gue kesana sebentar yaa"


Metta melewati lorong yang berakhir disebuah gazebo luas di samping hotel, dengan lampu-lampu kecil yang menghiasinya, menambah kesan romantis dengan meja dan kursi yang terdapat di tengahnya. gazebo itu sendiri berada ditengah-tengah kolam besar dan jembatan yang menjadi jalannya.


Berdiri berhadapan dengan pria yang telah mengubah sisi gelap hatinya menjadi warna-warni, merobohkan dinding kokoh yang selama ini dia bangun. Bahkan mampu mematahkan Stigma bahwa semua pria sama saja.


"Kakak cantik sekali." meraih tangannya saat melewati undakan anak tangga.


"Kamu juga tampan."


"Kenapa kamu malah disini, seharusnya kan didalam, ini pesta khusus untuk CEO muda perusahaan."


"CEO muda itu kekasihmu bukan?" Metta mengangguk.


"Jadi aku ingin menikmati pesta ini hanya dengan kakak,"


"Sayang, bagaimana dengan orang tua mu, mereka pasti akan marah jika tahu kamu disini denganku."


Farrel tersenyum, "Kemarahan mereka tidak akan mengubah perasaanku pada kakak!"


"Sayang..."


"Apa kakak baru menyadari berapa besar cintaku ini? Hem..."


"Aku bahkan mampu merubah dunia jika kakak mau!"


"Kau ini berlebihan sekali El ..."


Ayu berjalan kearah gazebo, setelah beberapa kali dia berkeliling mencari anak kakaknya itu.


"Ternyata mereka disini astaga..."


" El.... apa yang ingin kau rubah? Masuk- acara belum selesai, kenapa malah disini, astaga..."


"Bunda..."


Metta memejamkan matanya, bayangan beberapa waktu lalu bermunculan kembali. Kali ini mungkin akan menjadi yang terbesar, mengingat para tamu dan rekan seluruh kantor berada didalam sana.


Farrel tetap pada tempatnya, menggenggam erat tangan Metta, sampai detik ini dia tidak akan menyerah sedikitpun.


"Kau dengar Bunda El, Ayo masuk ..."


Farrel tidak menjawab, dia menatap Metta dengan lekat.


"Astaga, dia tidak akan terbang, tidak usah terus kamu pegang seperti itu El! kamu dengar Bunda kan" Ayu berjalan mendekati mereka.


"Ayo ikut Bunda, semua orang mencarimu, jangan bikin Bunda dan Ayahmu malu El."


"El pergilah, ikuti apa kata Bundamu, jangan mencari masalah saat ini!"


"Kakak tunggu aku disini ya... Aku pasti kembali"


Metta mengangguk, "Pergilah..."


Farrel melepaskan genggamannya dan berjalan mendekati ibunya yang sudah berjalan duluan. Farrel menoleh kearah Metta yang mengangguk pasrah.


Ayu menoleh melihat kebelakang.


"Heh, siapa yang menyuruhmu menunggu disini, ikut kedalam sekarang juga!" titahnya


"Bunda jangan mencoba mengganggunya!El mohon..."


Ayu memukul bahu Farrel, "Siapa yang akan mengganggunya, Bunda menyuruh dia ikut!"


" Maksud bunda?"


"Suruh dia ikut, jangan banyak bertanya! Bunda tunggu didalam."


Perasaan was-was meliputi mereka saat berjalan memasuki Aula yang besar di dalam, semua orang memandang kearah nya dengan heran, ada juga yang bertanya-tanya dan tidak sedikit yang tersenyum melihat betapa serasinya mereka.


"El, aku takut!"


"Tenang lah, kita akan menghadapinya bersama-sama," Farrel menggenggam erat jemari kekasihnya.


"Aku takut, pesta peresmian ini berantakan gara-gara masalah ini."


" Hei, apa yang kakak katakan? Sudah kubilang kita akan hadapi bersama-sama. Kakak mengerti?" Metta mengangguk.


"Mac dimana bunda?"


"Ada didalam Mas, masuklah"


"Apa yang terjadi Mac...?"


"Lebih baik Mas langsung masuk, jangan membuat mereka lebih lama lagi menunggu."


Mac membuka pintu, Farrel dan Metta berjalan dengan saling menggenggam, menatap semua orang yang berada didalam dengan perasaan yang tidak karuan. Dan langsung disambut sorotan tajam dari semua orang yang tengah melihat kearah meraka.


"Dasar anak nakal."


.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya..terus dukung karya receh author ini..


Terima kasih atas dukungannya ❤❤🌷🌷


Happy Weekend semua.