Berondong Manisku

Berondong Manisku
Makan malam


"Yah, kenapa lagi anak nakal itu?" tanya Ayu saat melihat Farrel menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Anak muda Bun, biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya," Arya masih terus sibuk dengan ipad nya.


Ayu memukul lengan suaminya, "Ayah ini ...! Sudah jangan terus mengurusi pekerjaan,"


"Iya...iya bunda mau apa hem?" Arya menatap sang istri.


"Kita makan malam diluar bagaimana? kita ajak El dan juga Alan, hem!" Ayu bergelayut manja pada lengan suaminya.


Arya mengernyit, "Apapun yang membuat Bunda senang," ucapnya dengan mencuil dagu Ayu.


Membuat Ayu tersipu dan menenggelamkan kepalanya didada suaminya.


Alan yang tiba-tiba turun dari kamarnya menatap jengah kearah orang tuanya yang tengah bermesraan.


"Astaga," ucapnya lalu melenggang pergi ke arah dapur.


"Mereka berbuat sesuka hati, sampai tidak memperhatikan orang lain," Alan memijat pelipisnya pelan.


Setelah mengisi gelasnya dengan air, Alan kembali berjalan melewati kedua orang tuanya, tampak mereka tengah berciuman di kursi dengan posisi membelakangi Alan.


"Astaga, kalian tidak punya malu. lakukan dikamar kalian!" pekik Alan.


Seketika pagutan kedua suami istri itu terlepas, dan menoleh kearah Alan, dengan malu-malu Arya terlihat mengelap bibir istrinya yang tampak gelagapan.


"Maaf sayang," ucap Ayu dengan terkekeh.


Alan memutar malas kedua matanya lalu kembali menaiki tangga untuk kembali ke kamar. Saat itu Farrel yang tengah uring-uringan keluar dari kamar dan hendak ke kamar Alan.


"Eh, Aku baru mau ke kamarmu,"


"Ada apa?"


"Tidak jadi, Aku lupa," Farrel melenggang turun kebawah.


"El...!" Seru Alan saat Farrel baru melangkah turun.


"Lebih baik kau tidak usah kebawah, Ayah dan Bunda sedang sibuk! Ayo naik kita keatas saja."


Farrel mengernyit tak mengerti apa yang dikatakan Alan, " Memangnya mereka sibuk apa?"


"Membuat seorang adik untukmu!" Ucap Alan sambil berlalu.


"Astaga..." ucap Farrel kemudian berbalik kembali menyusul Alan.


Alan kembali ke kamarnya, menutup pintu lalu menuju walk in closet, mengganti bajunya yang dia lemparkan sembarang tempat dan mengambil piyama yang tersusun rapi.


"Mereka benar-benar tidak mengerti!" ucapnya sambil menyandingkan pidananya, dengan kepala yang dia gerakkan berulang kali.


"El...Al..." teriak Ayu dari bawah. Namun tidak ada satu pun yang menyahutinya.


"Mimah...Mim...! ucapnya memanggil asisten rumah tangganya.


Mimah tergopoh dari arah belakang saat mendengar majikannya memanggilnya.


"Ada apa Nyah?"


" Tolong panggilkan Alan dan juga El, suruh mereka siap-siap," ucap Ayu seraya menghubungi seseorang.


Mimah mengangguk, " Iya, Nyah." lalu naik keatas menuju kamar Alan dan juga Farrel.


"Baiklah, kalau itu mau mu, nanti Bunda kirim alamatnya ya!"


"...."


"Sampai bertemu disana." ucap nya kemudian.


Sementara Mimah berjalan menuju keatas, menyusul Farrel dan juga Alan ke kamarnya.


Mimah mengetuk pintu kamar Farrel, "Mas Farrel, ditunggu ibu dibawah. Mas disuruh siap- siap."


Farrel membuka pintu kamarnya, "Memangnya mau kemana bi?"


"Tidak tahu Mas, bibi disuruh itu saja sama nyonya."


"Makasih ya bi,"


Lalu Mimah berlalu ke kamar Alan dan juga mengetuknya, namun Mimah tampak ragu, karena Alan berbeda dengan Farrel.


Beruntunglah sebelum Mimah berhasil mengetuk, pintu itu sudah terbuka, "Mas, ma- maaf disuruh si- siap-siap " ucapnya gelagapan.


"Hem ....!" Ucap Alan dingin.


.


.


Alan keluar dengan memakai piyamanya, lalu turun kebawah menemui kedua orang tuanya yang telah siap menunggu di ruang keluarga.


"Bun, Alan tidak bisa ikut. Ada pekerjaan yang harus Alan urus, dan selesai malam ini juga!"


Ayu merengut, "Ayolah sayang, sebentar saja temani Bunda yang bosan dirumah saja."


"Maaf Bun, tapi aku benar-benar tidak bisa!"


"Lah kok masih pake baju tidur," ucapnya pada Alan.


"Sorry, Aku gak bisa ikut. Pekerjaan menunggu ku!"


"Ya sudah, ayo El kita berangkat. Biarkan Alan tua dikamar kerjanya," sungut Ayu kesal.


"Bunda, gak boleh berkata sembarangan.!" Arya mencubit pelan hidung istrinya.


Ayu merengut dan memukul bahu Alan dengan kesal, " Ini makan malam biasa, bukan makan malam perjodohan."


"Ayo El... kita pergi!"


Farrel terkikik begitu juga Alan yang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri yang tidak mau dibantah.


"Astaga, Bunda ternyata tahu!" Batin Alan dengan menggaruk belakang kepalanya.


.


.


Mereka tiba di cafe, cafe yang sangat mewah tempat mereka biasa makan atau mengadakan acara-acara keluarga biasanya.


Mereka memilih meja di puncak gedung cafe itu, bagian roof top yang ekslusif dan hanya bisa dipergunakan oleh member kelas 1 seperti keluarga Adhinata.


Yang dihiasi lampu- lampu dan hiasan yang sangat indah, dengan pemandangan yang sangat indah pula, seluruh kota terlihat dari sana, view yang terkesan romantis dan mewah berada diatasnya. Karena itulah tidak semua member dapat menikmatinya karena harganya pun sangat fantastis.


Ayu duduk ditengah-tengah antara suami dan anaknya. Terlihat sangat cantik dan elegan.


"Bunda cantik banget sih malam ini," ucap Farrel.


"Tentu saja, istri siapa dulu dong." kelakar Arya.


Ayu mendaratkan pukulan pada lengan Arya, "Gombal kamu Ay!"


Namun wajah Ayu semakin bersinar saat kedua pria di depannya itu memuji dirinya, dan membuatnya tertawa.


Satu persatu hidangan mereka tiba, para pelayan yang mengantarkan hidangannya tak meminta melihat kearah Farrel. Namun Farrel terlihat datar dan tidak peduli.


"Duh, anak nakal Bunda ini jadi tontonan orang saking tampannya," Ayu terkikik.


"Bunda apa sih, ayo makan aku sudah lapar!" Ucap Farrel dengan mencuil hidangan pembuka.


"Tunggu, tamu spesialnya belum datang!" Ayu menepis tangan Farrel yang tengah mencuil satu persatu hidangannya.


Farrel mengernyit, " Memangnya Bunda mengajak siapa lagi?"


"Ada deh, pokonya spesial banget buat Bunda."


"Jangan-jangan ini perjodohan," ucap Farrel dalam hati.


Farrel merengut, "Bunda, apa tamunya masih lama? aku lapar, aku duluan saja makan ya,"


"Ih kamu ini tidak sabaran, sebentar lagi juga datang! sudah diam dulu saja." seru Ayu.


"Bundamu benar, tunggulah sebentar lagi, mungkin dia sudah sampai dan menuju kesini!" Ucap Arya yang sibuk memainkan rambut Istrinya.


" Lagian siapa sih, tamu spesial ini, sampai kita harus menunggunya seperti ini, Aku sudah lapar Bun!" rengek Farrel.


"Tahu gini aku makan dirumah saja bareng Alan, keburu pingsan aku!" Farrel memangku dagunya.


Ayu mendecak, " Kau ini cerewet sekali, sabar sedikit! nanti juga kamu tahu sendiri!"


Tak lama kemudian, seseorang yang ditunggu pun tiba, dengan seorang pelayan yang mengantarkannya.


"Terima kasih Mas, sudah mengantar," ucapnya pada pelayan yang pengantarnya.


"Sama-sama, sudah tugas saya. Kalau begitu saya permisi," ucap pelayan itu.


Tamu yang ditunggu-tunggu itu berjalan mendekat, lalu berdiri anggun dengan rambut yang digerai dan wajahnya sedikit dipoles, tubuhnya yang ramping dibalut dengan mini dress sabrina bergaya korea yang memperlihatkan bahunya yang mulus.


"Selamat malam Ayah, Bunda, Farrel." Sapanya dengan lembut.


Seketika mereka menoleh pada sumber suara, Ayu tersenyum dengan hangat melihat kearahnya, begitu juga Arya. Namun tidak dengan Farrel, dia segera memalingkan mukanya dengan malas.


"Sini sayang, duduk!"


"Terima kasih," ucapnya.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi, karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Hayo siapa yang belum like sana ulangi lagi.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Selamat malam dan selamat beristirahat, jangan bergadang, ingat pesan bung Roma


Terima kasih