Berondong Manisku

Berondong Manisku
Backstreet lagi


"Jadi kamu kemarin pergi mengurus tender yang ada di kalimantan?" Farrel mengangguk.


"Dan kamu berhasil?" Farrel mengangguk lagi.


"Kau tau selama aku bekerja disini, belum pernah aku mendengar ada orang yang bisa masuk kesana, semua akan mental begitu saja"


"Dan kamu berhasil?"


"Iya, benar aku bersyukur sekali, kehadiranku disana membuat perubahan besar untuk hidupku, juga hidup kakak nantinya"


"Apa maksud nantinya?"


"Jadi kakak tidak mau nih nemenin aku sampai nanti, sampai aku punya banyak perusahaan dengan nama ku sendiri," Farrel merentangkan tangannya lebar-lebar.


"Kau ini.."


"Aku juga ingin dunia tahu kalau aku mencintai kakak"


"Astaga, sudah gila kamu"


"Aku memang sudah gila sejak menyadari aku cinta sama kakak"


"El sudah, jangan banyak membual. Aku gak suka"


"Jadi kakak sukanya apa hem"


"Begini"


Cup


"Begini"


Cup


"Atau begini"


Cup Cup Cup


Farrel menarik tangan Metta dan menciuminya bertubi tubi hingga hampir ke bahu.


"Ih, lepas"


"Malu tahu, kamu ini udah sembarangan bicara, mesum juga" Metta mendelik kearah kekasih bocilnya itu.


"Hahaha, tapi kakak suka aku kan?"


"Udah ahk berhenti menggangguku bocil"


"Hah, kakak memanggilku apa?"


"Bocil"


"Farrel menggelitik tubuh Metta hingga tertawa terpingkal pingkal, "Nih nih, enak saja memanggilku begitu"


"Hahahha...geli El hentikan, sudah hahhaha"


"Tidak sebelum kakak meralatnya"


"Memang hahah kenyataan nya begitu kan hahahaha"


"Kakak..." Farrel terus menggelitik.


"Iya ampun bocil, hahahha"


"Katakan yang benar, ayo"


"Iya..haha Lepas dulu..haha hentikan"


Farrel menghentikan gelitikan nya, dia bersidekap menghadap Metta.


"Ayo bilang yang benar"


"Iya bocil, aku tidak akan menyebutnya bocil lagi"


Farrel mengembangkan senyumnya,


"Bilang sayang"


"Tidak mau"


"Ayo bilang, atau ku cium lagi."


"Kali ini disini" Farrel menyentuh bibir Metta dengan ibu jarinya dengan lembut.


Metta tertegun, merasakan sentuhan lembut di bibirnya membuat darahnya mendesir, perlahan lahan Farrel menambah sentuhannya hingga ke sudut bibir Metta. Sementara tangan Metta mengulur memegang tangan Farrel di bibirnya.


Pandangan mereka saling mengadu, kerinduan yang teramat dalam mencuat begitu saja.


Metta memejamkan matanya, benda hangat itu kini saling menempel, menyisir lembut bak angin sepoi. Saling bertaut melepas rindu yang membuncah. Detak jantung menderu dengan kencang saat saliva mereka saling menukar.


Farrel mengecup kening Metta, dengan nafas yang masih turun naik.


"Ayo pergi, sebelum semua ini hilang kendali" Farrel mengelap sudut bibir Metta dengan ibu jarinya.


Metta mengangguk namun tak juga beranjak.


"Kenapa begitu?"


"Pokoknya aku gak mau,"


"Jadi, kita Backstreet lagi?" Farrel menekukkan wajahnya.


"Udah backstreet dari bunda, sekarang Backstreet juga dikantor"


Cup


"Sabar"


Rona merah terlihat jelas saat Metta dengan keberanian yang secuil itu mengecup pipi Farrel. Hingga Farrel membelalakkan matanya dengan tidak percaya.


"Apa itu tadi?"


"Apa"


"Ada sesuatu yang mendarat disini, tapi kok bentar" menunjuk pipinya sendiri.


"Ih, mesum banget sih, udah ah yuk balik ke kantor"


Mereka berjalan beriringan menuju kantor, Farrel selalu berusaha meraih tangan Metta dan ingin menggenggamnya sepanjang jalan, namun Metta lagi-lagi menghempaskannya.


Metta yang selalu mencebikkan bibirnya saat Farrel meraih tangannya, namun kembali tertawa saat Farrel mendengus kesal.


.


.


"Halo bos"


"Apa"


"Mereka sepertinya berbaikkan"


"Sial, kau tidak becus bekerja"


"Maaf bos"


Tut


Faiz melempar ponselnya, dia mengacak ngajak rambutnya dengan kesal.


"Sial, sial"


"Sh'it semua rencana ku gagal"


"Bastian pun tidak bisa dihubungi"


.


Waktu adalah rahasia,


Ada takdir yang tidak bisa kembali,


Meski raga ini berusaha,


Jiwamu tetap pergi.


...^Faiz Dinandra"...


Sekalipun Faiz merutuki takdir, dan memaki alam. Semua tidak akan pernah bisa berubah, penyesalan yang dia rasa di masa lalu tidak akan bisa mengubah keadaan. Orang bisa berubah, bisa memaafkan dengan mudah, namun terlalu sulit untuk melupakan.


Cinta yang begitu besar sekalipun akan hilang begitu saja, perlahan terkikis oleh ego dan obsesi. Segala kenangan kian terpatri dalam sanubari, namun semua tidak lagi berarti.


"Sayang, andai saja waktu bisa berputar kembali"


Faiz mengelus Foto Metta dengan jarinya, perlahan meluncur bulir bening dari pelupuk matanya. Dia tak berniat mengelap air bening itu, mungkin ada rasa lega jika dibiarkan.


Sakit, perih, kini dirasakannya. Buah dari keputusan tanpa logikanya dulu. "Apa tidak ada harapan lagi?"


"Dan semua ini gara-gara bocah sialan itu"


"Apa hebatnya hem?"


"Apa karena dia kaya raya?"


"Aku pun akan menghancurkan perusahaannya"


"Hahahhahhaha"


Faiz tertawa, dia mere'mas foto Metta sekuat tenaga. "Sayang maafkan aku, aku tidak sengaja"


Dia kembali merapikan Lembar foto itu.


.


.


Jangan lupa like komen dan terus dukung Author remahan yang receh ini yaa..


Makasih 😘