Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kencan??( Ungkapan Hati)


Kakak siap?" tanya Farrel ketika tiba di rumah Metta, dengan pakaian casualnya dan santai.


" Hem" sahut Metta, tak kalah santainya dengan


celana jeans yang hanya dipadukan dengan kaos, tampak natural dengan rambut yang digerai. Riasan wajah yang sangat sederhana dan simple.


" Apa kau mengajakku pergi berkencan?" tanya Metta saat mereka baru saja memasuki mobil.


" Apa kakak berpikir kita ini sedang berkencan" sahut Farrel dengan terkekeh.


" Kenapa dijawab dengan pertanyaan lagi" Metta memukul lengan Farrel.


.


.


Farrel melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, menuju tempat yang sebelum nya Farrel temukan di pencarian tempat kencan disitus online, jujur saja karena Farrel tidak pernah pergi untuk berkencan.


" Kita mau kemana?" ucap Metta


" Nanti kakak akan tau,"


.


.


.


" Ini planetarium?" Metta mengenadahkan kepala, melihat keindahan gugusan bintang dan susunan benda benda langit.


" Kakak suka?"


Metta menangguk,


" Kakak bisa melihat bintang bintang disini, pengetahuan tentang perbintangan dan benda benda langit lainnya."


" Tapi ini bukan akhir pekan atau hari libur Rel, tapi kenapa tidak ada orang lain?"


" Tentu saja karena aku menyewanya untuk kita berdua" tukas Farrel sendirinya pun sedang mengagumi tempat itu.


" Cx, berhentilah membual, kau pikir kau tuan muda yang selalu diceritakan di dalam novel, yang tidak segan menyewa tempat untuk pergi dengan wanitanya" sahut Metta sambil berjalan lebih dalam lagi.


Farrel terkekeh, seperti biasa Metta selalu menganggap dirinya sedang membual, biarlah tetap begitu. Pikirnya.


" Sini ka, ke arah sini" Farrel menarik lembut tangan Metta memasuki sebuah ruangan. Mereka masuk kedalam ruang teater.


Metta terpukau karena hal sepele itu, tempat yang umumnya biasa dikunjungi rombongan anak sekolah yang hendak belajar perbintangan.


Sejujurnya Metta tak pernah mengunjunginya, meski tempat ini tidaklah jauh.


Pintu masuk pertama yang disebut Teater bintang, ruangan yang luas layaknya teater bioskop dan konon paling di minati pengunjung.


Layar tersebut yang akan menampilkan langit malam dengan segala kondisi dan situasi, Mata pengunjung akan menikmati pembentukan tata surya, gerhana matahari dan bulan, riwayat hidup bintang, serta situasi tata surya dengan segala benda dan segala isinya meliputi galaksi, matahari, bulan yang akan ditampilkan secara apik.


Metta berdecak kagum, dan tak berhenti memandangi layar teater bintang itu.


Mereka duduk bersila ditengah tengah lantai ruangan itu, meski kursi penonton tersedia disekelilingnya.


" Cantik" ucap Farrel tanpa kedip.


" Hem, sangat cantik" sahut Metta yang tertuju ke atas kubah teater yang menampilkan gugusan bintang.


" Maksud ku kakak " Farrel tak berkedip melihat wajah Metta.


" Aku sudah cantik dari lahir" ujar Metta tergelak.


" Aku tau.."


" Kamu tau apa? bahkan kamu masih telur ketika aku lahir " sahut Metta tanpa menoleh.


" Aku tau, karena aku pernah lihat foto kakak waktu masih kecil" Farrel memandang Metta dengan kedua netranya, kemudian beranjak dari duduknya.


" Heh, siapa yang memperlihatkan nya?dari mana kau tau" Metta ikut berdiri menyusul Farrel yang berlari kabur.


" Hei Farrel, dari siapa? "


Metta mencengkram lengan Farrel dan mendaratkan pukulan bertubi tubi. " Aaww, kakak sakit"


" Cepat katakan, atau aku tidak akan melepaskanmu" ujar Metta dengan cengkraman yang lebih kuat dari sebelumnya.


" Ah, aku memilih opsi kedua, jadi kakak tenang saja karena aku tidak akan kemana mana" Farrel tergelak, meski lengan nya benar benar sakit.


" Kau ini nakal sekali" pukulan mendarat di bahu Farrel.


Namun membuat senyuman terbit di hati Metta.


"Ayo, ku ajak kesatu tempat lagi." ucap Farrel menarik tangan Metta.


Farrel mengajak Metta beralih lagi ke suatu tempat.


Ini dia ruang pameran, ruang yang di gunakan untuk memamerkan aneka peralatan observasi


Astronomi, dengan gambar gambar dilangit dengan informasi lengkapnya, pakaian astronot, hingga pecahan batu meteor.


Metta lebih terpana melihat beberapa benda yang dipamerkan diruangan berlorong panjang itu, banyak benda benda yang bahkan dia baru tahu sekarang.


" Indah sekali"


" Suka sekali, terima kasih" Metta memegang lengan Farrel dan menarik bibirnya keatas manis sekali.


Farrel mengangguk, dia tak hanya melihat Metta tersenyum namun juga sisi Metta yang lainnya, yang tak pernah dia lihat.


" Kakak tau kenapa aku mengajak kakak kesini?" tanya Farrel memainkan ujung rambut Metta.


" Aku tau, karena hari ini di luar hujan kan,!" makanya lebih baik kesini, kita bisa melihat gugusan bintang tanpa kehujanan." sahut Metta dengan terkekeh.


" Kakak ini merusak momen saja."


" Lah kenapa, emang gitu kan"


" Kakak tau aku lagi berusaha untuk romantis, tapi kakak selalu saja merusaknya"


Metta tergelak mendengar penuturan Farrel,


" Kenapa kamu berusaha untuk romantis?"


" Apa kakak tidak suka pria romantis?" tanya Farrel.


" Tidak suka"


" Baiklah aku tidak akan berusaha romantis lagi"


" Kenapa?"


" Aku akan menjadi seperti yang kakak mau."


" Kenapa begitu, aku juga tidak mau!"


"Kenapa kakak tidak mau juga!" Farrel mulai mengerucutkan bibirnya yang tipis.


" Jadilah diri sendiri, tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk memenangkan hati seseorang" tukas Metta.


" Jadi kakak menyukaiku?" tanya Farrel memicingkan netranya.


" Aku tidak bilang begitu" ucap Metta mengerdikkan bahu.


" Tapi kakak tadi bilang begitu" ucap Farrel.


" Farrel..." Cubitan kini mendarat di lengan Farrel.


" Aw..kakak ini kenapa suka sekali kekerasan,"


Farrel menggosok lengannya yang sakit.


" Tapi aku menyukainya" bisiknya lembut


ditelinga Metta, membuat sesuatu mendesir ditubuh nya.


" Aku menyukai semua yang ada dalam diri kakak"


Metta menoleh ke arah Farrel, seketika mereka beradu pandang, kedua manik mereka saling menelisik satu sama lain.


" Aku menyukai kakak, kemarin, hari ini dan juga nanti, aku tak pernah bisa melihat perempuan seperti aku melihat kakak sedalam ini, dan jika..." Farrel menarik kedua tangan Metta yang ditelungkupkan bersama tangannya.


" Dan jika kakak pernah terluka sebelumnya, ijinkan aku untuk menjadi obat untuk luka kakak, jadikan bahuku tempat kelelahan kakak"


ucap Farrel semakin lembut.


Metta tak bergeming, dirinya sedang mencerna apa yang di katakan Farrel. Meski berkali kali Farrel menyatakan rasa suka nya, tapi baru sekarang Metta merasakan kata kata itu langsung menyelusup ke dalam hatinya.


Lagi lagi rasa hangat itu menyeruak didalam hatinya, rasa hangat yang muncul saat bersamanya, namun rasa itu pula lah yang bahkan selalu ditepisnya, tapi kini perasaan itu kian membuncah, dan Metta takut tak bisa menahan nya lagi.


Tidak ada kebohongan dalam manik hitam itu, Metta melihatnya, semakin lama semakin menusuk, namun lagi lagi Metta takut jatuh.


" Aku tidak perlu jawaban apapun dari kakak, seperti yang sudah aku katakan. Aku tidak akan menyerah sedikitpun "


.


.


.


" Aku...takut!"



Ruang pameran


.


.


🍁🍁


Kalian pernah ke planetarium gak sama pacar, atau mantan atau gebetan??


Ea..ea..ea..


Aku juga takut kalo kalian lupa tekan jempolnya,


Terus dukung aku dengan like, dan komen nya yaa.


Terima kasih😚