
Sehari semalam tanpa ada kabar dari sang kekasih membuat Farrel tidak bisa tenang, ditambah dengan foto foto yang dikirimkan seseorang yang membuat darahnya semakin mendidih. Ingin rasanya terbang saat itu juga dan menanyakan langsung pada kekasihnya itu, namun beberapa pekerjaan sudah menantinya.
Banyak hal yang membuatnya penasaran kenapa seseorang melakukan hal ini?
Hingga pagi menjelang, sang pemilik surai coklat itu terbangun dengan lesu, berjalan gontai menuju kamar mandi. Mengguyur dirinya didalam shower dengan fikiran yang entah melanglang buana kemana.
Keluar kamar mandi, lalu berganti pakaian dengan fikiran tak menentu, hingga dering ponsel membuat lamunan nya buyar. Farrel meraih ponsel yang diletakan diatas meja, melihat layar menyala itu menampilkan nama kekasihnya. Sontak wajahnya berbinar namun juga banyak tanda tanya berputar dikepala.
"Hai,,kau baik baik saja"
"Iya aku baik baik saja kak, maaf aku tidak mengabari sebelumnya"
"Tidak apa apa, seharusnya aku mengecek ponsel ku kemarin, tapi.."
"Apa kakak tidak nakal disana" Farrel terdengar terkekeh.
"Kau ini mana mungkin aku nakal, aku sudah punya segalanya dari kamu"
"Benarkah?"
"Tentu saja"
"Ya sudah, aku harus pergi. Ingat pesanku apa?"
"Iya iya pacarku yang bawel"
Keraguan sirna begitu saja, Farrel mengenal Metta lebih dari siapa pun. Cukup mengenal bagaimana sosok kekasihnya itu.
Panggilan pun berakhir bertepatan ketukan dipintu kamar. Seseorang yang dikirim oleh Alan untuk menemaninya sekaligus menjadi asisten nya saat bekerja.
"Kita harus berangkat sekarang bos"
"Oke"
Akhirnya mereka pergi ke dermaga, butuh waktu sekitar 1jam untuk bisa sampai ke lokasi proyek pembangunan dengan menggunakan kapal yang sudah disiapkan Alan.
.
.
Metta tengah tersenyum dengan pandangan pada layar ponselnya. Dia membaca kembali pesan pesan yang dikirimkan oleh Farrel, konyol sekali namun juga membuat hatinya berbunga bunga, bagai taman bunga yang dihiasi kupu kupu berterbangan.
"Astaga..."gumam nya pelan.
"Kakak, jangan percaya siapapun kecuali aku ya"
"Kakak jangan nakal"
"Apa yang sebenarnya sedang dilakukannya?"
Ingatan Metta kembali pada sosok anak kecil di Foto yang terpajang di lobby kantor utama, mencoba mengingat namun tak juga ingat.
"Tapi rasanya tidak begitu asing"
"Wey, ngelamun apaan sih?"
"Sialan, bikin gue jantungan aja lo"
"Habisnya gue perhatiin lo bengong, tadi cengengesan sendiri, otak lo ngegeser ya"
Metta mencubit lengan Dinda,"Sembarangan lo kalau ngomong"
"Ya udah yuk, kantin laper gue"
Metta dan Dinda pun akhirnya ke kantin, saling merangkul dan ketawa saat perjalanan menuju kantin.
"Lo tunggu disini, biar gue yang pesen?" ucap Dinda.
Metta mengangguk, saat itulah Faiz datang dan menghampirinya. Kemudian duduk di hadapannya.
"Hai...kamu sendiri"
Metta mendongkakkan kepalanya."Bukan urusanmu"
"Tidak kah kamu bisa lebih bersikap baik?"
"Tidak bisa, sudahlah apa yang kau inginkan"
"Kau sudah tau apa keinginanku kan"
"Jangan mimpi" Metta beranjak dan pergi begitu saja, selera makan nya tiba tiba hilang karena kedatangan Faiz.
"Sialan mau ngapain lagi sih, kalau udah pergi ya pergi aja ngapain juga harus kembali" gumam nya dengan kesal.
Sementara Faiz menyinggung kan bibirnya,
Apa tidak ada harapan lagi baginya.
"Sha nih..."Dinda berdiri membawa nampan.
"Astaga kemana dia"
"Temanmu sudah pergi"
"Hah.."
Kemudian Faiz pun berlalu meninggalkan Dinda yang kebingungan sendiri.
"Astaga, terus makanan ini?"
.
"Tidak juga mengerti,"
Disaat hatinya mulai sembuh atas luka pedih, dan berdamai dengan masalalunya kenapa sosok itu harus kembali, kembali mengingatkannya akan luka perih dihatinya.
Dengan susah payah Metta menyembuhkan hatinya, dan butuh waktu bertahun tahun untuk menerima semua nya.
Dia fikir mudah apa, sekarang seenaknya kembali dan ingin menebus semuanya.
Alasan demi alasan yang sebenarnya pun tidak lagi berguna, Untuk apa? dia yang memilih pergi..
Metta terus saja menggerutu, dia meraih ponselnya lalu berselancar didunia maya. Mungkin dengan begitu dapat menghilangkan sedikit kekesalannya.
"Mbaknya Metta ini ada kiriman.." Paijo menyerahkan paper bag pada Metta.
"Dari siapa mas,"
"Kurang tau Mbanya, barusan kurir yang mengantarkan nya.
"Oh iya udah makasih yaa"
"Sama sama mbanya, kalau gitu saya permisi" Paijo kemudian berlalu setelah Metta menganggukkan kepalanya.
Metta membuka paper bag itu, wangi sudah menyeruak keluar menusuk hidungnya yang lancip.
..."You need to know how much i love u"...
...❤...
...F. A...
Metta tersenyum saat membaca note didalamnya, lalu mengeluarkan kopi rasa Matcha kesukaannya.
"Manis sekali kamu El"
Metta menghirup perlahan aroma Matcha. Seolah tau suasana hati yang buruk sebelumnya, kiriman kopi dari Farrel membuat suasana hatinya membaik.
Dering telpon mengganggu keseruannya, Metta merogoh ponsel dari tasnya.
"Halo.."
"Kakak sudah terima kirimanku"
"Iya terima kasih"
"Sama sama sayang, kakak pasti saat ini ingin mencium ku kan?" Farrel terkekeh.
"Farrel apa yang kau bicarakan" dengan tersenyum yang ditahannya.
"Aku bercanda, sebenarnya ada hal yang ingin aku tanya?"
"Tanya saja.."
"Mmmpp..nanti saja"
"Ya sudah,"
"Kakak kangen aku gak?"
Astaga, bocah ini
"Jawab jujur"
"Iya.."
"Iya apa.."
Astaga.....
"Iya udah ah aku lanjut kerja "
"Hahaha..yaa sudah by"
Berkali kali Metta menutup wajahnya, rasa malu, namun konyol tapi bahagia. Semua sulit diartikan nya.
"Wah ada yang gila beneran ini" ucap Dinda yang entah dari kapan memperhatikan sahabatnya itu.
Metta tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu yang tampak jelas di wajahnya.
"Emang kayaknya gue gila sih Din, berasa anak ABG gini gue"
"Lo pantes bahagia kok"
"Emm.. Udin bikin terharu deh"
"Gak usah lebay juga lo, gak pantes"
Mereka berdua tertawa terbahak bahak..
.
.
.
Jangan lupa like komen dan terus dukung aku yaa
Happy weekend
Makasih😘