
"Kamu masuklah dulu, aku belakangan"
Metta mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya tengah berdua dengan Farrel.
"Kakak saja duluan, lagian aku masuk lewat pintu sana" Farrel menunjuk pintu masuk gedung utama.
"Iya iya deh, yang kerjanya di ruangan paling atas"
"Kalau kakak mau kakak boleh seruangan denganku, kebetulan aku belum punya sekertaris" Farrel terkekeh dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Dasar Mesum"
Tanpa menunggu lama Metta kembali masuk.
"Kak, nanti tunggu aku pulang"
"Tidak usah, aku kan bawa motor, udah sana"
Tanpa menunggu lama Metta kembali masuk, dia
berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Dasar kakak keras kepala" Farrel menggelengkan kepalanya kemudian berjalan menuju gedung utama yang pintu masuknya berada dibelakang gedung divisi umum.
"Heh, keluyuran mulu lo, nih kerjaan udah numpuk di meja lo" ucap Dinda saat Metta baru saja sampai.
"Iya, gue tau"
"Kenapa muka lo"
"Gak, emang kenapa?"
Tasya mengeluarkan cermin mini dari saku celananya.
"Nih lihat sendiri, muka lo berantakan gitu"
"Astaga" Metta menyisir rambutnya dengan jari jarinya, dan terlihat bibirnya sedikit membengkak.
"Habis ngapain lo?"
Metta gelagapan, "Emph, itu tadi"
"Gue heran sama lo akhir akhir ini suka aneh, tiba- tiba bingung, tiba-tiba bego, senyum-senyum sendiri"
Metta meraup bibir sahabatnya itu dengan kesal "Cerewet amat si lo"
"Dah gue mau kerja"
Metta kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi dan mulai dengan segala pekerjaannya dan mulai lupa waktu.
.
.
"Sha lo pulang bareng gue?"
"Enggak Din makasih, gue kan bawa bebeb gue"
"Oh iya udah lo hati hati ya"
Metta mengeratkan jarinya berbentuk O pada Dinda yang sudah melaju dengan mobilnya. Metta berjalan menuju motornya, dia memakai helm lalu menyalakan motornya. Dan melaju membelah jalanan yang sudah mulai ramai, Metta tidak menyadari mobil hitam dibelakangnya yang membuntutinya sejak dari tadi.
"Tuh mobil ngikutin gue terus"
Tin Tin
Suara klakson mengagetkannya, tiba tiba mobil hitam itu melaju mendahului Metta dan memotong jalannya. Metta mendadak mengerem, dua orang bertubuh tegap keluar dari dalam mobil dan menghampirinya.
"Siapa kalian"
"Ayo ikut kami nona"
"Awas, lepaskan atau aku teriak"
"Teriak saja nona"
Kedua orang itu mengangkat tubuh kecil Metta bak karung hingga Metta meronta dan menendang menendangkan kakinya. Namun pertahanannya lemah jika dibandingkan dengan tenaga mereka.
Bruk
Metta terhempas pada kursi belakang mobil, dia merasa pinggangnya sakit akibat benturan.
"Aaaaw..."
Namun rasa sakit itu belum seberapa saat melihat sosok pria berpakaian hitam hitam duduk disampingnya.
"Hai, sayang"
Metta masih tertegun tak percaya,"Mau apa kau?"
"Kenapa melakuan hal ini padaku?"
"Maafkan aku sayang, tapi aku terpaksa melakukannya"
"Apa kau sudah gila?Apa yang kau inginkan dariku"
"Kembali lah padaku sayang, aku akan menikahimu, punya banyak anak, kita akan bahagia"
"Cih, aku tidak sudi!"
Faiz menarik rambut bagian belakang Metta hingga kepala Metta mengenadah keatas.
"Aaah, lepas" Metta mulai menitikkan air matanya.
"Sayang, aku begitu mencintaimu, kau tau itu dan kau juga mencintaiku bukan" bisik Faiz di telinga Metta, dengan sengaja dia menggigit kecil cuping telinga Metta hingga kemerahan
"Hentikan Faiz aku mohon, jangan seperti ini"
"Kau bahkan tidak memanggilku dengan kata Mas lagi? kenapa, apa karena bocah itu?"
"Benar begitu?"
Metta menggelengkan kepalanya berulang kali, dirinya kini begitu ketakutan.
"Aku mohon jangan begini, lepaskan aku"
"Apa jika aku melepaskanmu, kau akan kembali padaku?"
Metta terdiam, dia benar benar takut pada Faiz yang sudah berubah itu.
"Katakan"
"Aaaaaa..." Metta berteriak.
"Tutup mulutnya dengan lakban"
Metta membulatkan mata, tak menyangka sosok yang Metta kenal berada di mobil itu, membuka dasboard mobil dan mengambil lakban.
"Bastian"
Bastian sedikit menunduk, dia merasa kasihan namun juga tidak ada pilihan lain, dia merekatkan lakban pada mulut Metta. Metta meronta, menendang nendang, namun tangannya sudah dicekal erat oleh Faiz.
"Sabar lah sayang, kita akan pergi jauh dan hidup bahagia berdua oke"
"Hanya berdua"
Faiz mengecup pipi Metta, membuat Metta kembali meronta ronta. "Menjijikan"
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Seakan takut jika mereka diketahui orang lain.
"Ya tuhan, tolong aku"
"Siapapun tolong aku"
Metta hanya bisa berdoa dalam hati, semoga dirinya bisa selamat, entah apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Dia hanya berserah pada yang kuasa, diingatannya hanya ada ibu dan kedua adiknya, mereka yang dia fikirkan, bagaimana jadinya jika dia tidak ada, bahkan tidak bisa lagi bertemu dengan keluarganya.
"Ibu, maafkan aku"
"Andra, Nissa"
Metta terus menangis, bibirnya kelu. Meronta pun dia sudah tak kuasa, dengan mulut dilakban, tangan juga kakinya di ikat. Metta benar benar ketakutan, peluh bercampur air mata terpangpang jelas dari wajahnya.
"Tidak usah takut, mas akan mencintaimu seperti dulu, bahkan sekarang rasa cinta mas semakin bertambah"
Faiz membelai wajah Metta yang berusaha meronta ronta.
Dugh
Metta menyundul wajah Faiz dengan kepalanya,, hingga mengeluarkan darah di hidungnya.
"Aah, sialan" pekik Faiz
Plak
Tamparan keras mengenai pipi mulus Metta, perih kini dirasa, tak hanya perih di pipi namun juga di hatinya, orang yang dulu begitu mencintai dan dicintainya itu kini telah berubah.
"Sayang aku minta maaf, aku benar benar tidak sengaja"
Dengan derai air mata Metta kembali meronta sekuat tenaga. Dia tidak perduli apa yang akan terjadi setelahnya, yang pasti dia tidak ingin diam saja.
"Bang, lihat deh itu mobil kenapa?"
"Mana gue tau,"
Bertepatan itu mobil Faiz berhenti tepat dilampu merah. Motor yang dikendarai Andra pun berhenti tepat disampingnya.
"Sial, apa kalian tidak tau jalan pintas, kenapa melalui jalan ini"
Metta terus meronta ronta sekuat tenaga, hingga mobil pun ikut bergerak.
"Bang, lihat?"
"Sial, diamlah"
Faiz merengkuh tubuh Metta yang meronta, dia memeluknya erat hingga Metta tak lagi mampu meronta. Tepat pada saat pandangannya tertuju pada kedua adiknya.
Metta kembali mengeluarkan suara yang tercekat, meronta dan menendang nendangkan kakinya sekuat dia bisa.
"Bang, apa abang gak curiga sama mobil itu"
"Sudah jangan mengurusi orang lain,"
"Tapi bang"
Lampu merah berubah menjadi hijau kembali, perlahan mobil-mobil melaju kembali, begitu juga mobil Faiz yang membawa Metta.
"Eeemmmmm...Andra" Metta berteriak dalam hatinya, namun yang keluar hanya suara tak jelas.
"Perasaan gue gak enak gini" perlahan Andra memperhatikan mobil hitam yang mendahuluinya,
"Mmmeeumm, Andra, Nissa"
Motor yang dikemudikan Andra berbelok di persimpangan, sementara mobil Faiz yang membawa kakaknya itu melaju lurus.
"Aaandraaa, Nissaaa" Teriaknya dalam hati.
.
.
Jangan lupa like, komen dan terus dukung karya receh ini yaa...
Terima kasih 😘