
Sebelum lanjut baca, author ingatkan hari ini hari senin, boleh dong author minta vote nya? Rate 5, gift, dan jangan lupa like dan komen.
(Banyak keinginan ya author ini) Terima kasih untuk semua yang sudah dukung author hingga hari ini.
.
.
"Freak gak sih?" gumam Tia.
"Makanya itu! Lo harus bantuin gue!"
"Lo mau gue saingan sama bocah? Dan dia bilang apa tadi, gue cuma jagain jodoh dia?" Tia menepuk jidatnya sendiri.
"Itulah ... karena dia masih bocah! Gak usah lo ladenin, entar juga dia cape sendiri."
Langkah Nissa terhenti dan dia kembali berbalik,
"Nih lihat, dia balik lagi!" gumam Tia.
Nissa kembali menghampirinya dan mengambil gelas minuman yang tadi dia letakkan di meja dihadapan mereka.
"Nissa cuma mau ngambil minuman ini,"
"Dan Nissa masih mau ngomong sesuatu pada kak Doni."
"Kalau gitu, kak Tia ke sana dulu yaa!" Ujarnya dengan mengedipkan satu matanya pada Doni, namun Doni malah menahannya dengan mengalungkan tangannya pada bahu Tia.
"Ngomong saja, Niss!"
"Gak jadi deh, nanti saja!"
Gadis yang beranjak remaja itu kembali menghentakkan kakinya dan kembali masuk ke dalam.
Dengan cepat Tia memintir tangan Doni, hingga dia terlihat kesakitan, baru lah Tia melepaskannya.
"Jangan ngambil kesempatan lo," Mendudukkan dirinya kembali.
"Sorry, tapi gue gak punya pilihan, dari pada gue kena masalah sama kakak-kakaknya."
Tia mengernyit ke arahnya,
"Dia adik iparnya Farrel."
"Mampus lo!" ujar Tia dengan berdiri, Doni pun ikut berdiri.
"Gue mau pulang, jangan ikutin gue!"
"Dih kepedean banget!"
.
Dentuman musik masih mengalun, mengiringi merdunya suara sang vokalis. Para tetua sudah menempati tempatnya, acara formal sudah bergilir. Waktunya para eksekutif muda yang menjadi bintang, riuh tawa dan juga tepuk tangan masih membahana di pesta peresmian itu.
Musik pun berganti, suasana pun beralih lebih intim, dengan dentuman alat musik yang lebih menggelegar. Beberapa orang tua sudah melipir dari tempatnya duduk, tergeser oleh gerak aktif kaum muda.
Metta masih betah bertukar cerita dengan sahabatnya, sesekali dia melirik ke arah suaminya yang juga sibuk bertukar cerita dengan rekan bisnis maupun teman-temannya.
"Jadi kamu gak tahu kalau sebenernya hari ini tuh peresmian gedung ini?" tanya Dinda dengan alis yang mengernyit.
"Boro-boro Din, kamu kan tahu sendiri, suami ku itu pria terkonyol dimuka bumi ini, gak bakalan ada deh yang kayak dia!"
"Pria terkonyol apa nih maksud nya?" ucap Farrel yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
Metta menatap ke arahnya lalu menutup mulutnya sendiri, sementara Dinda terkikik dan juga mendapat tatapan tajam dari Alan yang memperhatikannya jauh.
"Enak ya bisa ngetawain orang!" mencubit lembut pipinya.
"Enggak Sayang! Maafin aku...." ujarnya dengan menangkup kedua tangan di dadanya.
Nasib gue punya cowok super sibuk, mana ada dia nyamperin gue, jangankan bersikap konyol seperti adiknya, huft
"Lo juga!" ujarnya pada Dinda.
"Dih, apaan nyalahin Aku?"
Trrt trrttt
Pesan masuk di ponsel milik Dinda, dia pun merogoh ponselnya, dan tersenyum saat melihat pemilik nomor dengan nama si kaku,
'Jangan iri melihat hubungan orang lain!'
"Dah gitu doang pesannya?" gumamnya dengan ibu jari yang mulai bergerak membalas.
Seketika manik coklatnya melebar, mencari-cari pria yang mengirimkan pesan padanya. Namun dia tak menemukannya.
.
"Kakak lelah ya?"
"Sedikit," ujar Metta dengan merekatkan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Kita pulang saja?" tawarnya.
"No ... mana mungkin, ini acaramu, mana bisa kamu pulang begitu saja."
"Acara kita tepatnya!"
Farrel melukis senyum, tak hentinya mengusap perut buncit yang terlihat samar karena dress yang di pakainya.
"Cepatlah lahir, Papa tidak sabar bertemu denganmu."
"Apaan sih Sayang, masih ada sekitar empat bulanan untuk dia lahir."
"Aku hanya tidak sabar sayang,"
"Aku boleh menemui ibu?"
"Tentu saja, Aku juga belum bertemu ibu dari tadi," ucapnya dengan mengulurkan tangan.
Dinda yang sibuk membalas pesan pun hanya mengangguk dan melambaikan tangan saat keduanya meninggalkannya.
"Ibu ..."
"Sha, sini duduk!" menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Nak El...sini duduk juga!"
"Iya bu...."
"Selamat ya bang, lo keren banget, gue harap gue bisa kayak lo suatu hari nanti!"
"Harus dong Ndra, kalau bisa harus lebih dari gue!"
"Pasti, tapi gue gak janji bisa!" ujarnya terkekeh.
Metta berdecak ke arahnya, "Makanya belajar yang benar, kuliah dulu yang bener, jangan sibuk pacaran mulu!"
"Kak ... gue tahu lo kangen ngomel-ngomel tiap hari ke gue, iya kan! Baru ketemu udah ngomel aja," sungut Andra.
Membuat Metta mencebik baik juga setuju dengan adiknya, sudah lama rasanya dia tidak lagi merasakan hal yang dulu dia lakukan dengan adik-adiknya.
"Wah, keren lo Ndra, pacar baru lagi?" tukas Farrel.
Metta mencubit pinggangnya, "Keren dari mana, jangan mendukung hal seperti itu!"
"Sayang, badan ku bisa-bisa biru-biru nih!"ujarnya meringis.
Ibu Sri hanya menggelengkan kepalanya saja melihat mereka.
"Oh ya bu, Nissa mana? Kok gak kelihatan?"
"Keluar noh kak, bilangnya cari angin! Gak jelas emang punya adik satu itu."
"Andra dari pada kamu ngomel, mending kamu cari Nissa ya, ibu khawatir!"
"Gak apa-apa bu, biarin aja lah!"
"Heh nyon ... cepet cari gak!" Ujar Metta dengan bola mata yang membulat sempurna.
Baru saja akan berdiri dari duduknya, Andra dikagetkan oleh Nissa yang menepuk bahunya, dengan gigi putih yang berderet rapi yang dia perlihatkan.
"Panjang umur nih bocah!"
"Apaan sih bang, Kak Sha ... bang El...." Papanya dengan ceria.
"Lo abis nemuin angin ****** beliung? Ceria amat!" tukas Andra yang heran dengan Nissa.
"Gak apa-apa! Jangan kepo deh bang,"
"Dari mana Nissa?" tanya ibu mereka.
"Habis ke luar situ bu, ngobrol sama kak Doni juga pacarnya kak Doni."
"Oh ya, kak Doni bawa pacarnya kesini? Kok abang gak tahu!" sahut Farrel.
"Iya ... Pacarnya kok, kak Tia namanya, cantik juga! Tapi masih lebih cantik kan Nissa, iya kan bu?"
Ibu Sri mengangguk, sementara Andra tergelak.
"Cantik dari hongkong!"
Sementara Metta dan Farrel saling menatap, Farrel mengerdikkan bahunya seolah mengerti tatapan istrinya yang bertanya apa benar Tia pacar Doni.
"Kalau gitu aku cari Doni dulu yaa Sayang." kaya Farrel yang langsung berdiri.
"Bu aku keluar sebentar, tolong jaga kakak ya bu!"
"El ... pake di titipin sama ibu aku sendiri! Aneh deh....!"
Farrel mengecup pipi Metta dengan terkekeh, "Jangan kemana-mana."
Metta mengangguk, Nissa dan Andra menggelengkan kepalanya.
Farrel keluar mencari Doni, namun tidak menemukannya, lalu dia merogoh ponsel dan mendial nomor kontak asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu.
"Lo dimana?"
"Apa memangnya?" ujar Doni yang ternyata sudah berada di belakangnya, dnegan ponsel uang msih menempel di telinganya.
"Sialan," ujar Farrel padanya.
"Ada apa nyari aku?"
"Kamu beneran pacaran sama Tia?"
Doni terdesak saliva nya sendiri, dia gelagapan dengan pandangan ke arah meja yang di tempati Nissa.
"Kalau iya, aku akan menarik dirimu dari proyek ini, dan menggantikannya dengan orang lain."
"Lho kenapa tiba-tiba berubah gini? Gara-gara kamu denger aku pacaran dengan Tia?"
"Astaga...." ujarnya dengan mengurut dada.
"Terus apa hubungannya aku tidak jadi di ikut sertakan dalam proyek ini."
"Benar begitu?"