
Mobil yang membawa Metta semakin melaju dengan kencang, membelah jalanan yang sudah hampir gelap. Metta terkulai lemas, harapannya pupus sejak melihat adiknya yang mengendarai motor tadi berbelok dipersimpangan.
Mungkin tadi kali terakhir Metta melihat wajah menggemaskan dari adik-adiknya, tangisannya kini semakin keras, namun apalah dayanya. Kepanikan yang hebat membuat Metta menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Faiz hanya dengan anggukan.
"Jadi bagaimana?kau ingin ikut denganku bukan?"Metta mengangguk.
"Aku tak hanya menculikmu sayang, tapi aku akan menculik rasamu yang dulu "
Faiz menyeka darah yang terus mengucur dari hidungnya, dan beralih membelai rambut Metta "Kita akan pergi jauh dari sini sayang, tanpa ada gangguan"Metta mengangguk lagi.
"Aku akan menjadikan mu wanita paling bahagia didunia"
Perjalanan mereka telah sampai disalah satu bandara, Faiz membuka lakban yang merekat dimulut Metta, serta ikatan dikaki dan tangannya.
"Ya tuhan, aku mau dibawa kemana"
"Kalau sedikit saja kamu berteriak, aku tidak segan melukaimu sayang"
Faiz mengecup ujung bibir Metta begitu saja.
"Bersikap manislah seperti dulu"
Sedangkan Metta masih terdiam dan tak berdaya, lalu mereka keluar dari mobil. Faiz menggenggam tangan Metta dengan erat, seakan ia takut kehilangan kesempatannya lagi.
Mereka berjalan beriringan, dua pria bertubuh tegap mengapit disebelah Metta dan Faiz, sementara Bastian mengekor dibelakang dengan mengotak ngatik ponselnya.
"Apa sudah selesai?" Bastian mengangguk.
"Tapi perlu sekitar 1 jam pesawat akan datang"
"Kenapa lama sekali?"
"Kita menyewanya saja mendadak, kalau kau ingin cepat kenapa tidak beli pesawat sendiri saja"
"Hah, diamlah kau ini memang tidak bisa diandalkan" bentak Faiz.
.
.
Sementara Andra dan Nissa tiba dirumah, setelah memarkirkan motornya, mereka masuk kedalam rumah.
"Bu, Nissa pulaaang"
Andra menjitak kepala adiknya "Gak usah teriak juga kali, lama-lama gue budeg gara-gara suara rombeng lo"
Sri datang dari dapur setelah mendengar keributan dari kedua anaknya
"Kalian ini baru sampai rumah sudah ribut lagi, sana ganti baju terus makan"
"Bu besok Nissa mau pulang sendiri aja deh, males nungguin abang sampai sore begini" Nissa merogoh ponsel dalam tasnya.
"Gue juga ogah tiap hari diteriakin, telinga gue lama lama bisa budeg" Andra bergidik masuk ke dalam kamarnya.
"Bu kak Sha belum pulang?" tanya Andra setelah berganti pakaian. Sementara Nissa masih mengotak ngatik ponselnya dari tadi.
"Belum, mungkin lagi dijalan, kalaupun pergi dulu pasti kabarin ibu"
"Mungkin ponselnya mati bu" ucap Nissa tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel, Sri pun hanya mengangguk.
"Iya, mungkin begitu"
Andra merebut ponsel Nissa,"Lo dari tadi maen hape mulu, sana bersih bersih, ganti baju"
"Ih abang, bentar lagi itu lagi kentang, cepet siniin"
Nissa mengikuti gerak tubuh kakaknya yang menghindari dirinya.
"Kentang apa sih, lagak lo" Andra merentangkan tangan ke atas saat Nissa hendak mengambil ponselnya.
"Eh kalian ini ribut terus, Nis ayo ganti baju, kamu cepet makan" tunjuk sang ibu.
"Awas ya, ngapa-ngapain ponsel Nissa!"
Nissa pun berbalik menuju kamarnya, sementara Andra duduk di meja makan.
Ting
Andra merogoh ponselnya, melihat notifikasi yang baru saja masuk.
"Nih bocah alay, foto ginian diupload juga" gumam Andra.
Saat hendak memasukan kembali kedalam saku, Andra kembali tertarik pada foto yang baru saja Nissa upload di sosial media.
"Ini sepertinya mobil yang kemaren kesini, mobilnya Bang Faiz kalau gak salah"
"Tapi mobil ini juga mobil yang tadi aku lihat di lampu merah"
"Nis, ini foto mobil bang Faiz kan?"
"Iya Nissa sengaja difoto di depannya kemaren, hehe buat sengaja di upload, soalnya mobilnya bagus"
"Nis, Lo inget plat nomor mobil yang tadi kita lihat?"
"Enggak, tapi Nissa inget tulisan merk ini. Sama kan Merknya" Nissa menunjuk Logo BMW pada foto yang baru saja di uploadnya.
"Tunggu,"
"Ngapain kakak pergi sejauh itu"
"Bu, Andra pergi nyari ka Sha dulu"
"Memangnya ada apa?"
"Nanti ceritanya ya Bu, aku buru buru"
Dengan langkah terburu buru Andra keluar dari rumah, menyalakan motornya lalu melajukannya dengan cepat.
"Ada apa Nis"
"Gak tau bu, Tapi bang Andra tadi ngeliat foto Nissa lagi Selfy dibelakang mobil bang Faiz. Trs td sempet lihat mobil yang sama persis dilampu merah."
"Ada apa ya?ya sudah kamu makan sana"
Nissa mengangguk dan berlalu menuju meja makan, sementara Sri sang ibu masih berdiam diri di ambang pintu. Keresahan mulai menghinggapinya, namun dia segera menepisnya dan kembali menutup pintu.
Andra mengikuti arahan dari GPS yang terhubung pada ponselnya dan ponsel kakaknya.
"Mana ponsel lo" tanya Metta saat Andra pulang tengah malam.
"Buat apa kak, ponselnya juga mati"
"Jangan banyak berkilah, cepet sini"
"Beneran mati ka,nih lihat" menunjukan ponsel yang di ambil dari tasnya dalam keadaan kehabisan daya.
"Cx, ya sudah nih, masukin email lo kesini" Metta menyodorkan ponselnya.
"Ih kakak ngapain sih lo, gak mau..gak"
"Biar gue tau lo keluyuran kemana" bentak Metta.
Andra mengingat perkataan kakaknya beberapa waktu yang lalu, memasangkan email yang sama hingga bisa melihat posisi ponsel kakaknya berada sekarang.
"Ada untungnya juga waktu itu gue kepo nyalin juga emailnya kakak "
Andra melajukan motor bebeknya semakin cepat, sesekali melihat GPS dari ponselnya untuk memastikan arah jalannya.
Berkali kali Andra menelepon nomor Metta namun tidak juga diangkatnya, membuatnya semakin panik dan berfikir kakaknya memang sedang dalam bahaya.
"Aku tidak mungkin bisa sendiri, bagaimana jika kakak memang benar benar dalam bahaya"
"Berfikir Andra berfikir"
Andra pun sampai di bandara, sesuai dengan GPS yang dia lihat. Mencoba mencari mobil yang dia duga sama dengan mobil Faiz, bahkan berkeliling hampir ke segala area parkir bandara.
"Itu dia"
Andra menemukan mobil itu, merogoh ponselnya dan memastikan plat nomornya sama dengan mobil yang sempat di upload Nissa.
Andra masuk kedalam dan mulai mencari, suasana bandara sedikit ramai, dengan orang yang begitu banyak membuat Andra kesulitan mencari kakaknya.
Andra terus berjalan, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hingga tepat matanya tertuju pada sesosok yang dia cari, hatinya merasa lega.
"Kakak"
Andra menghampiri kakaknya dengan nafas terengah engah, sontak membuat Metta kaget melihatnya sekaligus bersyukur. Sementara Faiz memandang Andra dengan tajam.
"Kak, aku mencari kakak dari tadi. Kakak baik baik saja kan?"
Metta terdiam, dia tak mampu menjawab. Namun raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaan takut dan was was.
"Kakak mu baik baik saja, aku mengajaknya berlibur. Iya kan sayang?" Faiz menoleh kearah Metta dengan kedipan matanya, lalu mencium pucuk kepala Metta.
" Ah, iya ndra maaf tadi kakak lupa bilang. ponsel kakak mati"
"Syukurlah, kakak baik baik saja"
"Jadi bang Faiz mau ajak kakak liburan?"
Faiz mengangguk, dia menggenggam erat tangan Metta hingga Metta meringis namun ditahannya.
"Itu benar"
" Kalau gitu gue balik yaa"
.
.
Diam diam Promo lagi🤣
Jangan lupa like, komen dan terus dukung Author receh ini, mampir juga di karya ke dua aku yaa
...^^Assistant Love^^...
.
.
Makasih😘