Berondong Manisku

Berondong Manisku
Posesif manja


"Astaga, kalian merusak kesucianku!" ucap Doni yang sedari tadi tak bergerak dari tempatnya.


"Apa ...."


Dengan kesal Farrel melemparkan sandal yang tengah dipakainya kearah Doni, "Kesucian apa hah?"


Metta yang masih terperangah mencoba menenangkan kekasihnya yang terlihat kesal.


"Sayang...sudah," Metta melingkarkan tangan pada


lengan Farrel.


"Apa kakak masih ingin pulang dengannya?"


Metta menggelengkan kepalanya, " Tidak, aku tidak akan pulang dengan Doni jika kamu tidak mengizinkannya."


"Kau dengar itu Doni?pacarku sudah tidak ingin pulang denganmu!"


"Siapa juga yang ingin mengajaknya pulang!" sungut Doni mengerdikkan bahunya.


"Orang aneh, cinta membuat orang pintar menjadi bodoh seperti dia." gumam Doni.


Doni beranjak dari duduknya, "Tanda tangani dulu ini, setelah itu aku akan mengantarkannya lagi kekantor, aku ingin cepat pulang dan beristirahat!" Doni menyerahkan beberapa berkas pada Farrel dengan tersungut.


Setelah selesai dia pun segera pergi dari sana, dan melesat masuk kedalam rumah.


Farrel kembali memeluk Metta, dia menyembunyikan kepalanya diceruk sang kekasih,


"Kak, jangan membuatku cemburu seperti itu! Aku tidak suka,"


"El, kamu tuh kenapa sih, siapa juga yang membuatmu cemburu! jangan aneh-aneh deh,Udah lepas nanti ada bunda,"


Metta lagi-lagi heran dengan sikap Farrel, semenjak kecelakaan itu sifatnya berubah menjadi lebih manja, dan selalu ingin diperhatikan, namun tetap menyebalkan juga menggemaskan.


"Aku tidak tahu, aku hanya tidak ingin melihat kakak dengan pria lain manapun!"


"Posesif...." bisik Metta ditelinga Farrel.


"Itu karena aku sangat mencintai kakak!" semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan begini aku sesak nafas!" merasa dadanya terhimpit karena dada Farrel.


"Iya...iya aku tahu, lain kali aku lebih baik pulang naik ojek saja dari pada dengan Doni atau siapapun," Metta menepuk keras bahu Farrel.


Farrel mengangkat kepalanya, menatap wajah Metta yang berseringai, "Aku akan hancurkan motor ojek online itu jika kakak berani pulang bersama pria yang sama sekali tidak dikenal, kalau perlu aku akan membuat bangkrut perusahaan ojek online itu!"


"Astaga apa yang kau bicarakan, aneh!lantas aku harus pulang dengan siapa?" Metta mendorong tubuh Farrel.


"Aku akan mengantarkan kakak pulang,"


"Itu semakin gila sayang, kau kan baru sembuh! kau mau aku dimarahin bundamu begitu?" Farrel menggelengkan kepalanya.


"Aku naik taxi saja," Farrel menggelengkan kepalanya lagi.


"Taxi lebih berbahaya, apa kakak tidak tahu maraknya taxi gelap?"


"Taxi memang gelap kalau kitanya pulang malam El," Metta menarik bibirnya keatas.


Aneh-aneh aja


"Kakak Jangan bercanda, aku serius! naik taxi tidak akan," Farrel menggelengkan kepalanya sebanyak 2 kali.


" Ya sudah Bis kota saja!"


"Terlalu jauh kalau dari sini, kakak akan dibawa berputar-putar dulu, dan didalamnya banyak pria-pria yang tidak jelas,"


"Cx, lantas apa? aku jalan kaki saja kalau begitu!" Metta merengut, dia berjalan ke taman, menghirup dalam-dalam udara."


Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menyusul Metta yang sudah berjalan didepan.


"Sudah kubilang aku akan mengantarkan kakak pulang, kakak jangan khawatir!" Farrel memeluknya dari belakang.


"Ya terserah kamu saja, dasar posesif!" Metta memukul bahu Farrel dengan keras, membuat Farrel meringis,


"Kak, aku masih sakit! lihat ini," Farrel menunjukan tangan bekas jarum infusan yang kini tertutup plester.


Metta memutar malas kedua bola matanya, "Iya...iya aku tahu! sakit membuatmu manja sekali.


Farrel terkekeh, "Kalau gitu kakak peluk aku! kalau bisa kakak menginap saja bersamaku!"


.


.


Sementara Doni menggerutu tiada henti karena kelakuan sahabatnya yang tengah dimabuk cinta, masuk kedalam rumah dan melewati ruang makan.


"Don, apa sudah selesai?" Ayu yang tengah menyiapkan makanan di meja makan.


"Sudah Tante, aku mau langsung pamit. Masih ada yang harus aku selesaikan,"


"Makanlah dulu,"


"Tidak usah Tante, aku sudah makan tadi di kampus."


"Oh, ya sudah kalau begitu hati-hati yaa."


Doni mengangguk, " Permisi Tante."


Walaupun lapar aku tidak mau makan disini jika Si Rel ta api sedang bersama pacarnya, siapa yang ngomong siapa yang disalahkan, apes banget.


Doni masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya menyusuri jalanan, dia harus kembali ke kantor untuk menyerahkan berkas yang sudah ditanda tangani Farrel kepada Alan.


"Mereka bisa menyerahkannya dirumah, kenapa malah membuat aku semakin repot dengan mengantarkannya kekantor, benar- benar tak habis fikir!"


Jalanan sore itu lumayan lancar, Doni menyalakan tape mobilnya dengan kencang, melupakan kekesalannya pada orang-orang yang tengah jatuh cinta. Melupakannya dengan ikut bernyanyi dengan suara keras dalam mobilnya.


Dia berteriak saat suara vokalis Guns n Roses berputar di tape mobilnya.


OOOOO. JUMP


You're in the jungle, baby,


You're gonna die


In the jungle


Watch it the bring you to your


Welcome to teh jungle in the jungle


Sha-n-n-n-n-n-n-n-n knees ...knees


Fell,my, my, my


Doni menirukan potongan lirik suara sang vokalis, membuat adrenalinnya terpacu dan menanjap pedal nya dengan kencang. Meskipun bunyi klakson dari pengendara lain yang ikut kesal lantaran cara dia mengemudi, namun karena kerasnya musik tapenya, Doni tidak peduli bahkan tidak mendengarnya.


Setelah beberapa saat


Doni menghentikan mobilnya tepat didepan gedung utama, layaknya mendapat energi tambahan dari musik Rock yang dia gemari itu, dia turun dengan semangat, dan langsung melangkah masuk dengan percaya diri, berjalan kearah lift dan dengan semangat pula dia menekan tombol keatas dipintu lift, dia akan menyerahkan berkasnya keruangan Alan.


Ting


Beberapa saat akhirnya lift terbuka, namun langkahnya terhenti karena sosok yang baru saja dia lihat didalam lift, bersandar dengan satu tangan berada didalam saku dan terlihat tengah memainkan ponsel, Alan berdiri dengan begitu gagah, tubuhnya yang tegap serta wajahnya yang dingin, kemudian melangkah dengan khasnya membuat semangat Doni menciut kembali.


"Bang, eemp maksud saya Pak! aku baru saja akan naik keatas untuk menyerahkan berkas ini," ucap Doni yang tidak jadi masuk lift hingga lift tertutup kembali.


"Simpan saja keatas, titipkan pada sekretarisku" ucap Alan lalu kembali melangkah melewati Doni.


Walaupun hanya mengatakan hal itu saja, namun lutut Doni ikut bergetar,


"Sialan, padahal kelihatannya tidak sedang marah, hanya mengatakan itu saja membuat ku takut." Doni lantas menekan kembali tombol keatas pada kotak besi itu dan segera masuk kedalam.


Ting


Lift tertutup,


"Aku jadi ingin sepertinya nanti." gumam Doni.


.


.


Jangan lupa like dan komennya


Terima kasih buat semua dukungannya.


✍jangan lupa ini hari senin, vote outhor biar makin semangat