Berondong Manisku

Berondong Manisku
Pillow talk


"El ... kau akan kembali ke kantor?"


Farrel yang masih menyandarkan punggungnya itu hanya menggelengkan kepalanya,


"Aku ingin bertemu bunda, tapi aku takut, melihat wajahnya saja aku merasa tidak tega."


"Lebih baik kita pulang saja dulu, kamu harus istirahat. Aku juga tidak mau bunda melihatmu berantakan seperti ini, lihat wajahmu, juga tanganmu yang penuh luka!"


Farrel mengangguk, " Mac kita pulang saja."


Mac yang melihat sekilas dari spion itu tampak mengangguk, lalu dia menanjak pedal gasnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di gedung apartement milik Farrel.


Mereka turun lalu masuk kedalam lobby apartemen, Mac terlihat sibuk mengotak-ngatik ponselnya, membuat Farrel mengernyit menatapnya.


"Aku tahu Alan pasti menyuruhmu melakukan sesuatu!" ujarnya saat melewatinya.


"Pergilah, bantu dia Mac! Aku tidak akan kemana-mana lagi hari ini, aku hanya akan di apartemen saja!"


Mac mengangguk, "Baiklah, aku pergi dulu!"


"Hm...." gumamnya.


Mereka akhirnya kembali berjalan menuju platnya. Sedangkan Mac pergi untuk mengurus anak buahnya sesuai yang diperintahkan Alan.


Tidak biasanya Farrel tampak lebih banyak diam, dia masuk kedalam kamar lalu membuka pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Metta yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafas.


Dia lantas masuk ke dapur dan membuka lemari es, mengambil beberapa kantong es cube dan juga obat untuk luka.


Farrel keluar dari kamar mandi, masih menggunakan bathrobenya dia lantas masuk ke dalam walk in closet.


"El ... baju sudah aku siapkan!" Ucap Metta yang menunjuk pakaian yang dia ambil saat Farrel masih di kamar mandi.


"Terima Kasih sayang, maaf aku tidak fokus."


Metta mengangguk, kejadian yang terjadi pada Alan mungkin mengganggu gilirannya, hingga beberapa kali dia memanggil Farrel namun pria yang selalu bertingkah konyol itu tidak mendengarnya.


"El ... sini!" ujarnya menarik pergelangan tangannya.


"Duduk, biar aku obati lukamu!"


"Terima kasih sayang!"


"Kenapa terima kasih lagi, aku istrimu, sudah sepantasnya aku merawatmu."


Farrel hanya menarik tipis bibirnya.


Metta mengoleskan salep pada tangan Farrel yang terluka, meneteskan obat anti septik lalu menutup ya dengan plester, sementara Farrel hanya menatap wajah Metta yang tengah fokus mengobati tangannya, dengan sesekali meniupnya perlahan.


"Kamu merasa lebih baik sekarang?"


Farrel menghela nafas, "Sebenarnya tidak, aku masih khawatir dengan Alan, bagaimana jika dia melakukan sesuatu dan ayah bunda tahu soal ini!"


"Bukankah lebih baik mereka tahu, siapa tahu mereka bisa membantu mencari jalan keluar untuknya, dan Alan pasti akan menepati janji nya untuk segera berhenti,"


"Huum... tapi aku takut, mereka akan bertambah marah ataupun sedih! Mereka pasti akan kecewa sayang,"


"Seberapa kecewanya mereka, lambat laut pasti mereka akan menerimanya, bagaiman pun juga orang tua akan tetap menerima anaknya, seberapa buruk prilakunya, orang tua pasti akan memaafkan." jelas Metta.


Farrel mengangguk, "Aku harap mereka tidak akan pernah tahu, jika mereka sampai tahu aku tidak akan memaaafkannya."


Metta mengelus lengannya, "Jangan begitu, bukankah kau tidak akan diam saja jika keluargamu di usik? Begitu juga Alan, dia tidak akan diam saja saat kamu terlibat masalah, dia akan membantu mu, menjadi orang nomor satu yang akan membelamu, walaupun kamu melakukan hal yang buruk. Benarkan?"


"Seperti yang dia lakukan pada Hendra!"


Deg


"Kakak mengingatnya?"


"Aku sudah tidak ingin mengingat masa lalu, tapi saat tahu Hendra menghilang tanpa kabar, aku sudah berfikir bahwa itu semua karena Alan. Dan itu artinya, karena ingin membantu mu, benarkan?"


Farrel menggaruk belakang kepalanya, "Apa kakak akan marah?"


Metta menggelengkan kepalanya, "Seperti yang pernah kau katakan, jika seseorang berbuat jahat dibiarkan begitu saja, dia pasti akan melakukan lebih dari sebelumnya, itu juga yang terjadi pada mas Faiz bukan!"


Farrel mendengus, "Mas ... mas!!"


Metta terkekeh, dia mengambil bantal lalu menyusunnya, setelah itu membaringkan tubuhnya.


"Kau ingin aku panggil mas juga?" ujarnya dengan terkikik.


Farrel mengikuti Metta dengan naik ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping Meta, , "Tidak terima kasih!" rungutnya.


"Aku sudah menjadi istrimu, aku juga sudah mengandung anakmu papa El. Apa yang kau denguskan itu hem?" ujar Metta yang memiringkan tubuhnya dengan menahan kepalanya dengan satu tangan.


"Siapa juga yang berani? Kalau ada, aku hanya kau dengan mu, yang konyol ... yang nyebelin, yang selalu bikin aku marah dan ngeselin."


Farrel tergelak, "Sejak kapan kakak menyadari kalau kakak cinta sama aku?"


"Iiih... pake ditanya lagi! Enggak ah ... aku lupa!"


"Kakak selalu tidak mau jawab kalau ditanya seperti itu."


Metta menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga menutup mulutnya, "Entahlah aku selalu malu jika ditanya begitu!"


"Ayo jawab sejak kapan?"


"Eehhmm ... mungkin sejak ketahuan bunda dan disuruh menjauhi kamu, saat itu aku bersembunyi di apartemen milik Dinda selama tiga hari. Tidak keluar kamar, tidak keluar plat, pokoknya gitu deh...udah ah!"


Farrel terkekeh, "Benarkah secinta itu kakak sama aku!"


"Dasar tuan narsis!"


"Memang begitu kan kenyataan nya?" ujar Farrel lagi.


"Iya ...iya ...sayang, iya!" Metta menjumput hidung mancung bak perosotan itu.


Giliran Farrel yang menyampingkan tubuhnya, lalu menahan kepalanya dengan satu tangan menghadap Metta yang menutup turnya dengan selimut. Dia terus menatap Metta dengan lekat.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Tidak ... aku senang melihat kakak melakukan hal manis ini!" Ucapnya dengan mencubit pelan pipinya.


"Maafin aku yaa, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi didepan kakak, dan calon anak kita!" Ucapnya dengan tangan yang mengelus perut sang istri.


Metta mengangguk, "Papa El serem kalau lagi ngambek. iya kan sayang!" ujarnya dengan mengusap perut nya sendiri.


Farrel menenggelamkan wajahnya pada perut sang istri yang sudah terlihat buncit, " Kira-kira dia mirip siapa? Aku atau kakak?"


"Aku lah, aku kan yang mengandung nya selama sembilan bulan,"


"Tapi kan aku yang membuatnya."


Metta memicingkan kedua matanya, "Memangnya kau membuatnya sendiri?"


"Baiklah, mungkin matanya mirip denganmu, hidungnya juga, bibirnya lalu...." ujar. Farrel yang menyebutkan bagian wajah Metta sekaligus menyentuhnya.


"Lalu apa ...?"


"Lalu...."


Farrel menarik dagu Metta, dan mencium bibirnya lembut.


"Ih dasar, mengambil kesempatan saja."


"Selalu ... karena semua ini milikiku sekarang, tidak ada yang lain."


Metta terkekeh, "i'm your."


Farrel kembali memagut bibir yang tengah terkekeh itu dengan lembut, membuat Metta yang belum siap itu mengerjap kaget.


"El ...!"


Farrel tidak peduli, dia terus memagut benda kenyal itu, menyelusup kan lidah ke dalamnya, dengan tangan yang terus mengusap perut Metta.


"Apa aku boleh?"


Metta mengangguk, "Kata dokter Mariska boleh,"


"Kalau kata kakak?"


"El ...kenapa malah bertanya."


"Tinggal jawab saja mau apa tidak!" tangan yang mengelus perut kini naik lebih atas lagi, menyentuh benda bulat yang semakin berisi itu dengan lembut.


"Kalau aku bilang tidak Mau?" ujar Metta dengan melenguh.


"Mulut mu mengatakan tidak, tapi tubuhmu mengatakan iya."


"Iya terus kenapa masih ditanya!" menjumput hidungnya.


"Katakan! Aku ingin mendengarnya sendiri!"


"El ...ahaaahhhkk!!"


Farrel berseringai, dengan jari yang mulai me remass benda yang kini berada dalam genggamannya. "Katakan, kalau tidak! aku akan berhenti."