
Doni membuka handle pintu kamar Vip tempat Farrel dirawat, dia berniat untuk berpamitan, pagi ini dia harus ke kampus untuk menyelesaikan beberapa tugasnya yang belum sempat dia serahkan.
"Astaga ... kalian ini!" Doni berdecak saat melihat Metta dan Farrel tidur diatas ranjang yang sama.
Dengan posisi Farrel yang memeluk Metta dari belakang, terlihat wajahnya yang damai bak seorang bayi yang tengah terlelap karena kekenyangan.
Sementara Metta mengerjapkan kelopak matanya sipit saat mendengar pintu ruangan terbuka,
"Doni ...."
Doni menempelkan telunjuk dibibirnya, saat Metta tengah membuka matanya sempurna, melihat kearahnya, "Suthhh... Aku tidak ingin membuat bayi besar itu bangun."
Metta menoleh kearah Farrel, dan dia setuju dengan apa yang dikatakan Doni, "Wajahnya lucu saat tertidur begitu, sangat menggemaskan."
"Jangan terus dilihat begitu kak, wajahku jelek saat bangun tidur." ucap Farrel dengan suara serak.
Metta terkesiap, dia bahkan tidak menjawab, hanya memalingkan mukanya setelah ketahuan diam-diam menatapnya, lalu beranjak turun dari ranjang. Melesat masuk kedalam kamar mandi.
"Sial ... ketahuan lagi! tapi memang bener wajahnya menggemaskan sekali, rasanya semakin jauh berbeda usia denganku! Jelas banget bedanya."
Sementara Doni menghampiri Farrel,
"Rel, aku mesti ke kampus dulu. aku harus memberikan tugasku beberapa hari ini, boleh kan?" Doni menghempaskan tubuhnya di kursi tepi ranjang.
"Tentu saja boleh! memang siapa yang melarangmu?"
"Aku ....!!"
Keduanya menoleh kearah suara bariton yang seolah menggema diruangan itu, Doni terhenyak saat tahu siapa yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan.
"Kau tidak boleh kemana-mana, jaga dia disini. Mac harus ikut denganku hari ini." titahnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
Farrel terkikik melihat wajah sahabatnya itu yang berubah menjadi pucat pasi.
"Alan, kau membuat Doni takut!"
"Kalau dia takut, seharusnya dia bisa menjagamu lebih baik! bukan tidak becus seperti kemarin ...."
Alan mendudukkan diri disofa, menghadap kearah mereka dengan mata elang yang menajam. Sementara Doni menggeser kursinya hingga menjadi menyamping.
"Pekerjaanmu belum selesai, kerjakan dengan baik! jangan sampai terjadi lagi seperti kejadian kemarin! kau faham?" Doni mengangguk. Dia menelan salivanya pelan.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tatapannya berubah saat bertanya pada Farrel, tidak lagi seperti elang yang menandai mangsanya.
"Aku baik-baik saja! kau tidak usah khawatir, ada suster khusus yang menjagaku!" ucap Farrel.
Alan menatap jengah, "Suster khusus, memangnya ada?"
Kemudian Alan mengeluarkan ipadnya, meletakkannya diatas paha, dia duduk dengan menumpangkan kakinya keatas kaki yang satunya.
"Kau tidak pergi ke kantor hari ini?"
"Hem ...."
"Kau sudah mengetahuinya?" tanya Farrel.
"Hem ...."
Doni menatap Alan saat dia berbicara, kemudian menatap Farrel yang tengah bertanya.
"Sial, keahlianku memecahkan kode-kode game tidak ada artinya disini, kode yang mereka katakan ucapkan sulit aku mengerti."
"Jadi kau pergi mengurusnya?" Tanya Farrel kembali.
"Hem ...."
"Apa arti kata hem ...kenapa hanya si bayi besar ini yang mengerti, astaga!!" batin Doni penasaran.
Alan menggulir ipadnya, memeriksanya lalu menghubungi seseorang,
"Biarkan saja!" ucapnya datar.
Membuat Doni semakin mengernyit, kenapa bisa mengatakan hal itu, padahal dia baru saja mengangkat teleponnya.
"Benar- benar tidak aku mengerti,"
"Rel, apa hanya kau yang mengerti semua ucapannya?" Doni berbisik pada sahabatnya.
Farrel mengerdikkan bahunya, " Dia memang begitu! kau akan terbiasa, jadi tidak usah takut!"
"Bagaimana aku tidak takut, dia lebih mengerikan dari ayahku!" Doni bergidik.
"Aku mendengarnya!" sahut Alan tiba-tiba, membuat Doni melonjak, rasanya ingin segera keluar dari ruangan yang mendadak panas dan mencekam itu.
Metta keluar dari kamar mandi, dengan memakai setelan kerjanya, matanya langsung mengarah pada Alan yang tidak peduli sama sekali.
"Pak ...." sapa Metta ragu.
Alan hanya melihat kearahnya sekilas, lalu kembali menatap ipadnya.
"Heh, jangan membuat susterku ketakutan!" Farrel melempar bantal kearah Alan.
Doni dan Metta menohok, mungkin hanya Farrel yang dapat melakukan hal itu pada Alan.
Farrel melebarkan matanya, "Justru karena aku sakit, kau harusnya yang mengalah!"
"Kak, kemarilah." ucapnya pada Metta, dia berjalan pelan hingga tepi ranjang.
"Menjijikan...." gumam Alan.
"Dasar si manekin hidup, tunggu sampai kau jatuh cinta pada Dinda, ah aku jadi ingat anak itu." batin Metta berbicara.
Doni menatap Metta, begitupun sebaliknya,
"Apa-apaan mereka?"
"Entahlah!Aku ingin segera pergi dari ruangan ini."
Alan bangkit dari duduknya, dia mendekati Farrel yang tengah bersandar diranjangnya.
"Segeralah sembuh, aku tidak sabar untuk menghajarmu!"
Farrel terkekeh, "Thank Al ...."
Doni benar-benar tidak mengerti ucapan mereka, dan hanya merekalah yang tahu artinya. Lalu Alan berbalik, melihat Metta sekilas dengan ujung matanya.
"Suruh sustermu itu segera kekantor, atau mereka akan curiga!"
Doni menunduk saat Alan melewatinya.
Grep
Alan mencengkeram bahunya, dia merasa bahunya melemah hingga turun kebawah,
"Jaga dia, jangan teledor!" ucapnya lalu membuka pintu dan keluar.
Doni hanya mampu mengangguk, tanpa satu katapun keluar dari mulutnya, Sementara Farrel terkikik.
"Heh, Rel ta api, paling enak emang ngetawain orang," Sungut Doni.
"Siapa? aku tidak tertawa, " Farrel mengatup mulutnya.
"Tadi kau tertawa, kau tidak tahu apa nyaliku menciut tiba-tiba!"
"Nyalimu memang hanya untuk game gak guna itu!"
"Sialan nih orang sakit!"
"Astaga, aku ngerasa dikelilingi teman-teman Andra," Metta memijit pelipisnya.
"Sayang, bisa diem gak? istirahat ya, jangan banyak bicara," ujar Metta merapikan selimut.
"Aku berangkat kerja dulu!"
"Sa-yang, bisakah kau melakukan pekerjaanmu disini saja, Doni akan membawa laptopku,"
"Tidak bisa El, kau tidak dengar tadi kata kakakmu itu? mereka pasti mencurigaiku,"
"Lagian bunda sebentar lagi kesini, jadi aku harus pergi!"
"Peluk ...."
"Tidak mau, kau bau obat!" Metta menaikkan bahunya sekali.
"Ayolah kak, sebentar saja ...." rengeknya.
Metta menggelengkan kepalanya, dia merapikan rambutnya lalu menguncirnya.
"Doni bisakah kau keluar dulu?" seru Farrel
Doni menggelengkan kepalanya, " Pasangan aneh!!"
Dia kemudian keluar dari ruangan itu.
"Kak...."
"Ya ...? kau butuh sesuatu?"
"Buka ikatan rambutnya," ucap Farrel.
"Memangnya kenapa? jangan aneh-aneh deh!" Sahut Metta.
"Aku tidak suka kakak dikuncir seperti itu,"
Metta berbalik, "Kenapa memangnya?hem ...."
"Aku tidak suka, saat ada pria lain yang melihat leher kakak itu."
.
.
Jangan lupa like dan komen, rate 5juga Fav
Terima kasih