
Alan kembali masuk dengan kekesalan yang membuncah, baru kali ini dia merasa dipermainkan apalagi oleh seorang perempuan. Entah kenapa dirinya bisa sekesal ini.
"Ahhhkk.." Alan mengepalkan tangan ke atas memukul udara.
Tepat didepannya Mimah yang tengah menatapnya sontak terkaget "Astaga, benar benar menakutkan daripada setan" gumam Mimah.
"Apa..!" sentak Alan saat melihat Mimah tengah menelisiknya.
"Um..enggak mas"
"Pergi.." bentaknya lagi.
"Tapi mas.." Alan membulatkan pandangannya sebelum Mimah selesai bicara.
"Ayo mih, maaf mas" Ujang yang datang entah darimana menarik lengan baju Mimah menuju dapur.
"Aku bilang apa, ada yang lebih menakutkan kan?" jangan banyak bicara kalau mas Alan lagi begitu. Lebih baik menyingkir yang jauh" Ujang tiada henti bicara mengingatkan Mimah yang masih melongo.
"Tapi kan Mimah cuma mau bilang .."
"Kenapa mbak Mimah?"
Sontak keduanya menoleh kearah suara,"Ini lho tadi Ujang bilang Mas Alan menakutkan melebihi setan, terus kan Mimah mau bilang kalau non ada disini, belum juga Mimah selesai bicara. Eeh Dia udah maen bentak bentak aja" ujar Mimah menerangkan dengan sangat jelas.
Ujang mengangguk,"Benar, Mas Alan suka bikin jantung mendadak copot" dengan tangan memegang dada.
"Ya sudah kalo begitu, aku mau nemuin dulu tante. Dari tadi aku belum ketemu tante, makasih yaa tadi udah nolongin aku, kalau tadi mbak Mimah gak lewat aku yang udah lewat duluan..haha" Tasya tertawa kemudian berlalu menuju ruang tengah.
Tasya berjalan sepanjang lorong dapur, jarak ruangan dapur menuju ruang tengah memang lumayan jauh. Rumah Farrel memang lebih besar daripada rumahnya, sempat beberapa kali dia kesini pada saat pendekatan pada bunda namun tak begitu paham juga letak bagian bagian rumahnya.
Brukk...
Tasya menabrak sesuatu yang keras, dia sontak kaget setelah melihat Alan lah yang ditabraknya.
"Maaf, aku tidak sengaja"
"Rupanya kau ada disini?Sedang sembunyi hem, atau memata matai, apa yang kau rencanakan kali ini perempuan licik" ucap Alan dengan mencekal lengan Tasya dengan kasar.
Tasya meringis kesakitan,"A...apa yang kau bicarakan, rencana apa? memata matai siapa?"
Alan melangkah menghimpit tubuh Tasya hingga dia mundur menempel dinding dengan ketakutan. Udara di paru paru nya seakan berkurang dengan cepat. Dadanya ikut naik turun karena karena gerakan yang tiba tiba dari Alan.
"Tidak cukup hukuman yang kemarin?hem..kau masih mau bermain main dengan keluargaku? sorot mata Alan menancab tepat.
Tasya menggelengkan kepalanya,dan menunduk takut. "Tidak.. tidak"
"Kau mau kabur begitu saja?" Alan meraih dagu Tasya yang menekuk hingga mereka bertatapan. Secepat kilat Alan ******* bibir Tasya dengan rakus, bak candu yang memabukkan, sesekali menggigit bibir tasya agar terbuka hingga dia dapat memasukinya dengan leluasa.
Tasya mulai terbuai, hingga dia membuka mulutnya dengan sukarela, entah kenapa meski terkesan kasar tapi dia begitu menyukainya. Alan melepaskan pagutannya tepat saat Tasya akan membuka bibirnya.
"Sh it..." Tasya merasa kecewa, "Kenapa? kau ketagihan?" Ucap Alan dengan seringaian dibibirnya.
"Itu hukuman karena kau berusaha kabur" Alan menghempas lengan Tasya dengan kasar, lalu berlalu pergi meninggalkan Tasya yang masih berusaha mengatur nafas.
"Siapa yang kabur, jelas jelas dia hampir membunuhku. Menutup pintu mobil padahal aku belum keluar" gumam Tasya.
.
.
Alan melenggang kedalam menuju kamarnya yang dia pakai jika pulang kerumah utama. Menutup pintu dengan keras menandakan kekesalannya masih setia hinggap didalam dirinya.
"Aaahkk.." Alan meraup wajahnya dengan kasar.
Berkali kali merutuki dirinya, sejak peristiwa beberapa hari yang lalu hingga terjadinya kesalahan malam itu membuat hatinya tidak tenang, namun kesalahannya itu juga yang membuat candu baginya. Hingga merasa sangat kesal saat gadis itu menghilang.
Alan melirik jam tangannya lalu beranjak membawa beberapa berkas yang harus dipelajarinya dari atas meja lalu kembali keluar dari kamar.
.
.
"Apa yang terjadi padamu nak" Ucap Ayu saat melihat Tasya yang terlihat berantakan, dengan bibir yang sedikit membengkak.
"Tante, aku minta maaf atas semua kesalahanku" ucap Tasya dengan memeluk Ayu dan menangis tersedu.
"Apa yang kamu bicarakan Sya, tante tidak paham"
Tasya mulai menceritakan semuanya pada Ayu, rencana jahatnya hingga memprovokasinya agar membenci Metta. Namun tidak menceritakan kejadian setelahnya dengan Alan.
"Astaga, kenapa kamu setega itu Sya" Ayu memijit keningnya. Teringat saat dia merendahkan Metta karena mengira tuduhan yang Tasya katakan adalah benar. Namun ternyata semua salah, dan Ayu merasa bersalah karena tidak percaya akan perkataan anaknya sendiri.
Berkali kali Farrel menjelaskan namun tak sekalipun dirinya percaya, bahkan hanya mempercayai ucapan Tasya.
"Aku minta maaf tante, aku sangat menyesal."
Ayu terdiam, entah apa yang harus dia katakan. Kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu yang membuat keadaan keluarganya semakin rumit. Farrel yang uring uringan, Arya yang mendiamkan nya. Dan semua gara gara ulah Tasya, gadis yang dia pikir baik dan lembut, ternyata mempunyai hati yang kotor.
Bahkan tidak mengira prasangkanya salah terhadap Metta, sosok perempuan yang bahkan belum sama sekali dikenalnya, tidak memberikan kesempatan bahkan kepercayaan pada El anaknya sendiri.
Ayu menghela nafas, dadanya terasa sesak. rasa kecewa pada Tasya. "Kamu harus bertanggung jawab" ucapnya dengan datar.
Tasya mengangguk,"Aku akan menebus kesalahanku tante"
"Lalu kenapa keadaan kamu jadi begini,?" ucap Ayu menelisik, "Apa karena Alan?" Ayu sudah dapat mengira kalau Alan tidak akan tinggal diam,
Mimah yang baru saja datang membawa nampan berisi teh ikut menyela." Betul nyonya, tadi Mimah yang nemuin Non Tasya terkunci didalam mobil Mas Farrel, sudah hampir kehabisan nafas nyonya, untung Mimah datang, kalau tidak.." Mimah menggerakkan tangan dilehernya yang kemudian ditariknya memanjang.
Ayu sontak terkaget, begitu juga sosok yang baru saja datang di belakang Mimah, berkas yang dia pegang terjatuh ke lantai, membuat semua orang menoleh kearahnya. Dengan cepat dia mengontrol dirinya sendiri dan memungut berkas yang terjatuh.
Alan gelagapan, dirinya mengira Tasya menghilang karena kabur darinya.
"Astaga aku bahkan lupa dia ada didalam mobil "
Sementara Tasya yang terhenyak tidak mengira Mimah akan menceritakan perihal kejadian sebelumnya.
"Selain membuatku hampir lewat, dia juga penyebab aku berantakan seperti ini" batin Tasya,
Semua hanyut dalam prasangkanya masing masing.
Dengan cepat Alan menguasai dirinya."Bunda, aku pergi dulu,Kau .." menunjuk ke arah Tasya," Ikut denganku, kau harus bertanggung jawab bukan?" ucap Alan dingin.
"Sudah tau salah sangka, bukan nya meminta maaf" batin Tasya.
.
.
🍁🍁
Semua orang pernah melakukan kesalahan, author disini tidak ingin berlarut dalam kesalahan pada tokoh yang author buat sendiri😁. Karena setiap orang mampu memperbaiki kesalahannya dan menyesal, serta tidak mengulangi perbuatannya lagi dsn berhak menerima maaf meski semua tidak mudah..( Cie so bijak)
Jangan lupa like, komen dan dukungan nya pada karya pertama ini. dukungan kalian lah yang jadi penyemangat aku.🤭🤭
Happy weekend❤