Berondong Manisku

Berondong Manisku
Siapa dia


Tiwi berjalan menuju meja kerjanya dan menyambar tas selempangnya, kemudian melangkah menuju toilet. Melewati meja kerja Metta yang menatapnya heran, begitupun dengan Dinda yang tak kalah herannya.


Namun Tiwi seakan tidak perduli, dia terus melenggang masuk kedalam toilet, dan menutup pintu toliet dengan keras. Kemudian dia membantingkan tas kerjanya diatas wastafel, kepalanya berdenyut membutuhkan pelepasan, sementara hatinya merasa sangat kesal karena dipermainkan oleh pria tengil yang dia kira adalah Farrel.


"Bodoh!"


Tiwi menyusuri bibirnya dengan jarinya, mengingat kerakusan pria tengil yang membuatnya melambung namun menjatuhkannya kembali tanpa perasaan.


Dia menggigit pelan sudut bibirnya, membayangkan setiap gerakan brutal dari pria yang bahkan tak dikenalnya. Memberikan sensasi aneh bahkan dari sekian pria yang melakukan one night stand dengannya sekalipun.


Membuatnya ingin melakukannya lagi, Tiwi membayangkan setiap decakan yang dia dengar dari bibir pria yang membuatnya penasaran.


"Bodoh kamu Tiwi!" Tiwi merutuki dirinya sendiri.


Namun mata itu, bibir itu kian berputar di kepalanya, gerakan tangannya,


"Astaga, semakin gila aku dibuatnya, siapa dia?"


.


Semua mata memandang pada Farrel yang berjalan ke kantor pusat, tatapan penasaran kenapa CEO muda yang sudah diresmikan itu tidak pernah menampakkan dirinya di kantor. Desas desus pun merebak dengan cepat. Jika para pemegang saham berserta Dewan direksi yang mungkin kurang menyetujuinya.


Tentu ini membuat Arya khawatir, isu yang merebak itu akan mempengaruhi perusahaan yang tidak tegas dalam mengambil keputusan. Padahal semua hanya isapan jempol belaka, para pemegang saham berserta Dewan direksi bahkan semua sudah menyetujuinya.


"Ada apa yah?" ucap Farrel saat tiba diruangan Ayahnya.


"Kau sudah mendengar isu yang ramai di perbincangan di sini?


Farrel menggeleng, "Aku tidak mendengar apapun,"


Arya menghela nafas, "Kau terlalu sibuk di kantor divisi, bukankah seharusnya kamu itu sudah menempati ruanganmu dikantor ini!"


"Iya yah, hanya saja aku ingin menyelesaikan semua tugasku disana, baru setelahnya aku pindah kemari," Farrel mendudukan tubuhnya disamping Alan yang masih terdiam.


Arya menggelengkan kepalanya, " Tapi semua berspekulasi yang tidak baik untuk mu El!"


"Berapa lama lagi kamu akan disana? apa ini ada hubungannya dengan kekasihmu itu?" ungkap Arya penasaran.


"Tidak sama sekali yah, jangan disangkut pautkan. ini murni keinginan El, dan tidak lama lagi yah," ucap Farrel menjelaskan.


"Mungkin akhir minggu ini aku disana, setelah semua kewajibanku disana beres,"


Arya mengangguk, "Baiklah kalau begitu, Ayah tunggu secepatnya!"


Tiba-tiba terdengar ketukan dipintu, sekretaris Arya masuk kedalam dengan membawa agenda dan beberapa berkas.


"Kau sudah datang rupanya?Apa ibumu sakit lagi ...?" tanya Arya.


"Maaf Pak, aku mendadak meminta ijin tadi, aku harus membawa ibuku berobat."


"Ya sudah, sekarang apa katakan jadwalku yang bisa di handle Alan, aku harus segera pulang!"


Cintya tersenyum menatap Alan, lalu kembali menatap agenda yang dia sebutkan.


"Hari ini ada meeting diluar, lalu makan siang bersama dengan klien dan terakhir undangan makan malam," Ucap Cintya dengan senyum yang mengembang dengan indah kearah Alan.


Namun Alan sama sekali tidak peduli bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya.


Kau dingin sekali, membuat aku ingin menghangatkanmu.


"Harusnya kau bisa melihat mulutnya menganga melihat kearah mu dengan lapar," Farrel menggelengkan kepalanya.


"Jangan banyak bicara!" Ucap Alan beranjak dari duduknya dan mendudukkan dirinya di kursi kekuasaannya.


"Lihatlah dia yah, apa mungkin anak ayah itu seorang Gay. Dia bahkan tidak tertarik melihat wanita seseksi apapun," lanjut Farrel.


Alan melempar bolpoin kearah Farrel dengan kesal, "Sialan, aku ini normal!"


Farrel tertawa terbahak, melihat Alan yang begitu kesal dengan ucapannya. Sementara Arya hanya bergeleng kepala melihat keributan dari anak-anaknya.


"Ayo yah, segera jodohkan Alan, atau aku yang melangkahinya duluan."


Farrel terbahak kembali, sementara Alan memburunya dengan pukulan di bahunya.


"Adik kurang ajar!"


"Adik mu benar Al, segera cari jodoh atau dijodohkan," ujar Arya datar.


Farrel lagi-lagi tertawa, sementara Alan menyorotinya dengan tajam. "Awas kau!"


Tak lama Arya keluar, dia sudah mendapat ultimatum dari sang istri untuk menemaninya dirumah, membuat kedua anaknya menggelengkan kepalanya.


"Kau lihat Ayahmu tadi? semakin hari semakin takut sama Bunda, kenapa wanita selalu membuat rumit!" Ucap Alan setelah Arya menghilang dibalik pintu.


"Ayahmu juga itu!" Farrel melemparkan kembali bolpoin kearah Alan.


"Kau akan tahu jika kau sudah merasakan apa itu cinta, sementara ini carilah dulu calonnya, atau perlu ku carikan untukmu?"


"Atau kau mau kudaftarkan di biro jodoh? pasti banyak yang mengincarmu." Farrel mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jangan bicara macam-macam, atau ku hajar kau!" Lan menyorotinya.


Sementara Farrel terkikik, lalu merentangkan tangannya disandaran sofa dan melihat langit-langit ruangan, "Aku ingin tahu wanita macam apa yang mampu meluluhkan orang macam kau ini!"


"Tidak usah mengurusiku, kau urus pekerjaan mu sana!" sentak Alan.


Farrelpun beranjak, "Ya sudah, jika tidak ada kepentingan lagi aku kembali saja ke ruanganku, yang jelas-jelas bisa memandang wajah cantik yang membuat hari-hari berat ini terasa ringan."


"Terserah." ucap Alan dengan ketus.


Setelah kepergian Farrel, Alan bersidekap tangan. Memikirkan ucapan ayah dan juga Farrel.


"Apa aku harus mencarinya?"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran karena itu membuat Author receh ini tambah semangat. Tapi jangan loncat loncat dong yaa klik like nya.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini


Terima kasih buat semua dukungannya