
Sinar temaram menyapu indahnya senja, kala malam mengantikan sinar mentari yang menemani bumi sepanjang hari. Seseorang perempuan tengah berdiri menatap langit dari bawah jendela. Dengan alunan musik merdu dan segelas minuman ditangannya.
"Ini kesempatan terakhirku, aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik." gumamnya dengan menenggak minuman beralkohol tinggi.
Seseorang terdengar mengetuk pintu, perempuan itu menyimpan gelasnya diatas meja, lalu berjalan membuka pintu.
"Kau sudah datang?" ucapnya pada seorang pria dengan pakaian lengkap berlogo sebuah hotel.
Pria itu mengangguk, "Apa tugas saya Nona?"
"Mudah, kau hanya memberikan ini padanya, dan arahkan dia ke kamar ini!" ujarnya dengan memberikan sebuah bungkusan kecil.
"Bagaimana cara aku bisa memberikan ini padanya." tanyanya bingung.
Chaira membalikkan tubuhnya, "Kau pikirkan caranya bagaimana, untuk itu aku membayarmu mahal."
Pria itu mengangguk, lalu mundur dan menghilang dibalik pintu.
"Bodoh!!" gumam Chaira.
Pria itu masuk kedalam ruangan staff only, berjalan mondar-mandir sebentar lalu kembali keluar.
Sementara itu
"Sayang, aku pergi dulu yaa," ujar Farrel memeluk Metta.
"Apa lebih baik aku ikut? Kamu tidak bisa mengurus semua ini hanya dengan Doni, El!"
"Sayang, kamu tenang saja ya, aku akan baik-baik saja kok!" ujar Farrel menenangkan istrinya.
"Pokoknya aku ikut, kalau tidak boleh, lebih baik kau juga tidak usah pergi, biarkan saja dia!"
"Sayang, kalau dia dibiarkan begitu saja, dia akan terus menganggu. Kamu mau?"
Metta menggelengkan kepalanya, "Enak saja!"
Farrel terkekeh, "Iya kan, aku juga gak mau!"
"Ya sudah, pokoknya aku ikut! Kalau gak aku akan pergi sendiri kesana."
"Wow Nyonya Farrel sudah bisa mengancam sekarang yaa," pungkasnya dengan menjumput hidung sang istri.
"Sa--yang boleh yaa," melingkarkan tangan pada lengannya.
"Ya ampun, udah pinter ngancam, pinter juga menggoda sekarang,"
"Tapi maaf sayang, lebih baik tunggu di rumah Ya!" ujarnya lalu mengecup kening Meta dan keluar dari Apartemen.
"Tapi firasatku mengatakan ini akan terjadi sesuatu hal yang buruk sayang! ya... biarkan aku ikut dengan mu!"
"Maaf sayang, kali ini saja! ya, aku akan membereskan semuanya, dengan cepat. Kau janji,"
"Aku tidak mau! Aku ingin ikut!" ujar Metta dengan menyambar tasnya.
Farrel merengkuh kedua bahunya, "Hei, dengar aku sayang, sekali saja! Please, aku janji, setelah selesai aku akan segera pulang."
Metta merengut, sementara Farrel memeluknya , Maafkan aku jika aku akan mengecewakanmu hari ini. Tapi semua aku lakukan hanya untuk kita, kita semua sayang.
Farrel tersenyum saat mengurai pelukannya, hari ini pertama kalinya dia melihat wajah kecewa dari istrinya, tapi dia tidak ada pilihan lain, hanya inilah caranya, mengikuti kemauan Chaira.
Farrel berbalik, dia tidak tega jika harus melihat raut wajah istrinya lebih lama. Lantas dia keluar dari Apartemennya. Doni dan Mac sudah menunggunya diluar.
"Don, kau siap?"
Doni mengangguk, "Selalu...!"
"Mac lebih baik kau tunggu di sini saja! jaga istriku, dia pasti akan menyusul kesana! Jangan biarkan dia menyusulku Mac, kau faham?" ujarnya kemudian berjalan keluar,
Mac mengangguk, dia merogoh ponselnya setelah melihat punggung Farrel dan Doni semakin menjauh dan berbelok lalu menghilang di telan kotak besi yang kebetulan terbuka,
Mac menghubungi Alan, namun tidak diangkatnya, lalu dia mencoba lagi.
"Ada apa?"
"Mas Farrel pergi!"
"Bodoh! ikuti dia Mac,"
Mac tidak menjawab, namun dia mengangguk walaupun Alan tentu saja tidak melihatnya.
Bruk
Pintu terbuka dengan keras, Metta mengkuncir rambutnya lalu berjalan keluar.
"Mac, aku ikut denganmu!" sentaknya keras.
"Maaf Mbak lebih baik anda istirahat saja! Mas Farrel akan kembali dengan cepat." ujar Mac.
"Kau antar aku atau aku pergi sendiri Mac.
.
Farrel dan Doni tiba di sebuah hotel sesuai tempat yang Chaira tunjukan padanya, Dia membuka seat belt nya lalu keluar dari mobil. Sedangkan Doni menyusul nya setelah memarkirkan mobilnya.
Farrel masuk kedalam lobby hotel, tampak beberapa orang berlalu lalang, menuju stand welcome drink, yang merupakan sajian untuk tamu yang baru saja datang dari sebuah hotel yang menjadi kesan awal penyambutan tamu.
"Kau siap?"
Farrel mengangguk, dia bangkit dari duduk dan berjalan masuk. Seorang pelayan wanita menghampirinya, dengan membawa nampan minuman ditangannya.
"Welcome drink tuan." ujarnya dengan tersenyum, lalu Farrel mengambilnya, begitu juga Doni.
"Terima kasih!"
Seseorang menatap dari kejauhan dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Kau tunggu di sini, tunggu aba-aba dari ku! Seseorang pasti sedang mengawasi kita dari sini." ujar Farrel lalu menenggak minuman itu.
Kemudian Farrel masuk kedalam lift, menekan tombol no tiga dan menyandarkan tubuhnya di dinding kotak besi itu.
Ting
Tak lama lift terbuka, Farrel berjalan kearah pintu bernomorkan sesuai dengan kartu uang Chaira berikan.
"Ini dia."
Lalu Farrel mengetikkan sesuatu di ponselnya pada Doni,
"Aku akan masuk sekarang! waktumu sepuluh menit Don!"
Farrel mengetuknya, tak lama Chaira membuka pintunya. Dia tersenyum padanya,
"Akhirnya kau datang juga! Masuklah."
Tubuhnya berkeringat dengan cepat, hawa panas menyerangnya tiba-tiba. Dirinya merasa kegerahan, sesuatu menyerangnya dengan cepat.
"Sh it "
"Kau lebih cepat dari yang aku duga sayang!" ujar Chaira yang memberikan segelas wine pada Farrel.
"Berikan aku air putih saja Aira!"
Chaira tergelak, "Kau curiga aku akan memberikan sesuatu di dalam minumannya?"
"Tidak mungkin kan aku melakukan hal serendah itu." pungkasnya lagi.
Farrel berseringai, "Jadi apa yang akan kau berikan padaku?"
Chaira berjalan mendekat, "Kau ternyata tidak sabaran yaa. Duduklah dulu!"
Farrel semakin berkeringat, dia menatap Chaira dengan lekat,
"Kau sangat cantik Aira." ujarnya dengan tangan yang menyeka keringat.
"Benarkah?" Ujar Chaira yang tersenyum menggoda Farrel.
Farrel semakin tak karuan, hawa panas itu semakin membuatnya tersiksa, melihat Chaira yang hanya menggunakan Dress mini yang membuatnya semakin bergejolak.
"Sial...." gumamnya.
Bagus, kau semakin tersiksa Farrel, aku akan mengunggu sebentar lagi, hingga kau siap dan akan bersujud dihadapanku. Ayo sayang, keluarkan semua. batin Chaira.
Chaira dengan sengaja berjalan mendekat, menyentuh dada bidang Farrel tengah gelisah, gelanyar itu semakin menyeruak, Farrel mengepalkan tangan.
Chaira menggigit bibir bagian bawahnya sedikit, dengan tangan yang menyusuri leher Farrel, membuatnya semakin bergejolak.
"Kau berkeringat?" ujar Chaira dengan menyeka keringat dari dahi Farrel dengan tanganya.
"Chaira... aa--aku," ujar Farrel dengan suara yang serak.
"Apa, katakan padaku sayang! Apa kau menginginkannya sekarang?"
Farrel menghela nafas, lalu mengangguk.
"Chaira, boleh aku ... minta air putih lagi?"
"Tentu saja boleh," ucapnya sambil berlalu dan mengambil gelas kosong.
Sial, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Minuman itu, Aah sh iitt ... aku menginginkannya!
Chaira mendekatinya, lalu menyerahkan gelas berisi air putih itu pada Farrel.
"Terima kasih Aira."
Dengan cepat Farrel menenggak air putih itu hingga tandas. Lalu menyimpan gelas itu di atas meja.
Chaira semakin berani, dia menyentuh wajah Farrel yang tengah menahan sesuatu.
"Kau menginginkannya bukan?"
Farrel mengangguk pasrah, saat Chaira membuka satu persatu kancing kemeja nya, dengan mendaratkan ciuman kilat pada Bibir Farrel.
"Sh iiitt Chaira, kau membuatku menginginkannya sekarang juga!!"
.
.