Berondong Manisku

Berondong Manisku
Doni terjebak permainannya


Farrel menangkup wajahnya, "Sayang, kita lagi honeymoon lho!!Hem... Masa mukanya ditekuk terus."


"Iihh...udah ah nyebelin tahu gak!"


"Iyaa udah aku kan udah janji nanti take off aku akan bilang semua nya dengan jelas. Sekarang kita masuk yah!" ujar Farrel mengulurkan tangan padanya.


Akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat, tak jarang orang lain melihat mereka dengan berdecak kagum, Tampak serasi dan juga membuat mereka terus saling melempar senyum.


"Habis take off, jelaskan semua nya padaku!" bisik Metta di telinganya.


"Apapun yang kamu mau sayang!" ucapnya saat mereka sama-sama duduk.


Sementara itu, sesuai apa yang di katakan Farrel, saatnya Mac mengantarkan Doni ke sebuah apartemen yang ternyata tidak jauh dari kantor.


"Mac kau harus yaa mengantarkan ku sampai kedalam?" ujar Doni saat melihat Mac yang juga ikut masuk kedalam gedung apartement.


Mac tidak menjawab, dia terus saja berjalan. Doni hanya berdecak, "Dasar lampu taman! Orang aku nanya baik-baik juga."


Ting


Mereka masuk kedalam lift, Mac menekan tombol angka di mana plat baru milik Doni. Sementara Doni melipat tangan dengan menyandarkan tubuhnya di dinding lift.


"Terima kasih Mac, kau membuat aku merasa seorang bos seperti Farrel atau pak Alan." ujarnya lagi.


Mac tetap terdiam, menatap angka-angka berkedip.


"Mac aku sedang bicara padamu, kenapa kau ini hanya diam saja. Dasar lampu taman." ledek Doni kesal karena Mac terus mengabaikannya.


Ting


Pintu terbuka, Mac keluar dan Doni mengikutinya, "Kau mengetahui letak apartemen milik ku yaa?"


Mac berbalik, "Kau cerewet sekali, seperti perempuan. Tinggal ikuti aku dan diam saja, kau juga akan tahu nanti."


Doni mendengus,"Galak banget nih lampu taman, oke paham aku akan diam!"


Mac kembali berjalan menuju ke plat baru Doni. Melewati lorong lalu berbelok kearah kiri dan sampai. "Nih platmu...." ucapnya dengan cepat.


"Terima kasih Mac, kau boleh pergi!" ujar Doni datar.


Mac mengangguk dan berbalik kembali ke arah depan. Menekan tombol password platnya dan masuk kedalamnya.


Doni terperangah melihat Mac masuk kedalam pintu di depan platnya."Astaga, kau ternyata tunggal disini, bahkan persis tinggal di depan platku, kita bertetangga gitu! Astaga...."


Mac kembali membuka pintu, menyembulkan kepalanya keluar, "Supaya aku bisa mengawasimu."


Doni bergeleng kepala lalu masuk kedalam platnya sendiri. Dia terperangah melihat ruangan didalam platnya, memang tidak sebesar milik Farrel maupun Alan, namun ruangan ini lebih besar dibandingkan dengan kost-kostan yang selama ini ditempatinya, yang hanya muat satu orang, itupun tidak bisa bergerak bebas karena terlalu sempit.


"Akhirnya aku punya apartemen milik ku sendiri," ujarnya dengan menghempaskan bokongnya begitu saja di sofa.


Ruangan yang baru saja dia lihat, terdapat dapur dan juga kamar yang luas. "Ah sayang sekali, tempat ini tidak bisa di pakai untuk bersenang- senang, Mac pasti membunuhku!"


Doni masuk kedalam kamar, dia kembali terperangah dengan kamar luas nya dan juga kasur empuk, berbeda sekali dengan kasur miliknya yang tipis.


Dia menghempaskan tubuhnya diatas kasur, berguling-guling bak seorang anak kecil yang kegirangan. Dia bersyukur sekali walaupun ya harus kehilangan kesempatan yang lainnya juga.


Samar-samar bel berbunyi, Doni yang kembali terduduk mendengarkan dengan seksama, apakah itu bunyi bel miliknya atau bukan. Namun bel itu tidak terdengar lagi.


Dreet


Dreet


Namun kini ponselnya yang berbunyi, Doni merogoh ponsel dalam saku celananya, menampilkan nama Mac ada disana.


"Halo...."


"Keluar lah kita harus kembali bekerja,"


Lalu Mac menutup ponsel sebelum Doni menjawabnya. " Apa maksudnya, bos kita saja sedang honeymoon, lah kita bukannya liburan malah kerja."


Doni menggerutu sambil berjalan menuju pintu."Aku kita aku akan menikmati hari pertama di apartemen ini, eeh ternyata aku harus berkerja lebih giat lagi.


Doni akhirnya keluar, dan Mac sudah menunggu nya disana. "Apa kita tidak bisa libur barang sehari saja? Aku masih ingin melihat-lihat apartemen ku ini!"


Mac menyalang, "Kau fikir dengan memberi mu apartemen ini, kau akan bersenang-senang? Pekerjaan dan segala tanggung jawab mu malah akan semakin banyak."


Lalu Mac berjalan menuju lorong, dengan Doni yang mengikuti dibelakang, menekuk wajahnya dengan tersungut.


Mac hanya menoleh sepintas lalu kembali menyetir, membuat Doni mendengus kasar.


Dreet


Dreet


Ponsel Doni kembali berdering, dia terperangah saat mengetahui nomor yang menghubungi.


"Apa?"


"Kau dimana?"


"Dijalan.


"Iya dijalan dimana?"


"Bukan urusan kamu!!"


Doni menutup sambungan telepon nya dan juga men blokir nomor milik Tiwi.


Dia menjadi masalah besar di hidupku, sialan...aku terjebak dalam permainan ku sendiri.


Tiwi membanting ponselnya begitu saja, hingga membuat rekan kerja yang lainnya menatap heran padanya.


Dia kenapa menutup teleponnya, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja anak bodoh! Lihat saja, kau tidak akan bisa menghindari aku.


"Kenapa dia?" bisik rekannya dibelakang.


Rekannya itu pun hanya mengerdikkan. "Mana aku tahu, harus kah aku bertanya padanya?"


"Kau ini polos apa bodoh! itu sangat memalukan." tukas rekannya yang lain


Sementara Tiwi menoleh kearah mereka." Kalau kalian berani, sini ngomong langsung dihadapan ku, bukan seperti ini, bisanya ngomong dibelakang!"


Dia kembali mengambil ponsel yang dia banting ke ujung meja, beruntung ponselnya tidak rusak."


Dia mencoba menghubungi kembali nomor kontak Doni, namun nihil nomor yang dituju tidak aktif


Tak lama kemudian Doni dan Mac tiba dikantor, mereka langsung menuju ruangan Alan untuk mengetahui tugas apa yang akan mereka jalankan.


Tiwi memicingkan matanya, melihat peluang besar didepan mata, Doni yang memberikan servise luar biasa yang terus, bak air yang sejuk untuk nya di kala dahaga.


Dia lantas berjalan menuju ke arah nya,


"Doni...Aku mau bicara!" ujarnya dengan menarik lengan Doni kerah lorong.


Sementara Mac mengerdikkan bahu lalu masuk kedalam ruangan Alan.


"Apa sih, lepas!" Doni menghempaskan tangan Tiwi dari lengannya.


"Aku mau bicara!"


"Bicara saja, kenapa mesti narik-narrik begini!!" Tukas Doni dengan kesal.


Tiwi mendekat, "Don, kenapa nomor mu tidak aktif, kau tidak memblokir nomor ku kan?"


"Tidak penting, urusan kita sudah selesai bukan? Aku sudah tidak mau bertemu denganmu!"


Tiwi terkesiap namun tidak membuatnya kecil hati, dia terus maju mendekati Doni dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kau yakin bisa melakukannya?" ucapnya dengan menyentuh dada Doni dengan lembut, bermain dengan kancing kemeja yang dikenakan nya.


"Hentikan, ini kantor! Jangan bersikap seperti Ja lang disini Tiwi!"


Tiwi berseringai, "Kalau gitu temani aku malam ini."


"Tidak bisa, aku harus pergi!


Doni menepis jari Tiwi yang tengah bermain kancing, dengan sengaja memancing darah nya mendesir. " Aku harus pergi."


"Temui aku malam ini atau...."


Glek