
"Kupastikan aku akan merebut kekasihku kembali"
" Jangan mimpi," bisik Farrel ditelinga Faiz, tentu saja Alan tidak sempat mendengarnya karena sudah terlebih dahulu keluar.
Farrel membanting pintu mobil dengan kesal, membuat Alan tersentak kaget.
Farrel menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, rahangnya terlihat mengeras dengan gigi bergemelatuk menahan marah,
"Perlu kubereskan?"
"Berhentilah memata mataiku Alan," Farrel menghela nafas dengan memejamkan mata.
"Jalankan mobilnya, aku tidak ingin berlama lama disini" ucap Farrel.
Tanpa kata Alan menurut, menjalankan laju mobilnya dengan perlahan, " Kau membuatku tambah kesal, minggirkan mobilnya" sentak Farrel.
Alan tak bergeming, dia menancap gasnya lebih kencang, mengetahui bahwa Farrel sedang dalam emosi yang membuncah, karena tentu saja Alan mengetahui semua hal yang berkaitan dengannya.
.
.
" Hentikan mobilnya," ucap Farrel tiba tiba.
Ciiittt..
Alan seketika menginjak gas " Ada apa, mengagetkan saja"
Farrel melihat Metta yang sedang melintas didepannya, berdandengan tangan dengan sahabatnya Dinda. Menahan diri untuk tidak langsung menemuinya saat itu juga.
Alan mengikuti pandangan Farrel, " Cx perempuan itu ternyata"
" Kenapa lo gak turun,"
" Nanti saja, gue gak mau kakak liat gue sekarang"
Alan menghela nafas, " Hanya dengan jatuh cinta, masalah hidupmu semakin banyak El"
" Lo gak akan ngerti," dengan ujung netra yang mengikuti langkah kekasih yang baru saja masuk ke dalam gedung kantor.
" Kalo lo jadi gue, apa yang lo lakuin hah?" Farrel menoleh kearah Alan.
" Gue habisi dia sekarang juga" tukas Alan dingin, tatapan bak elang menatap balik ke arah Farrel.
" Lo selalu memakai cara itu untu menyelesaikan masalahmu"
" Lo gak tau rasanya kehilangan El, jadi lo gak akan bisa jadi gue, begitu pun gue" tukas Alan.
" Lo tinggal ngomong ke gue, kapan pun lo butuh"
" Thank Lan, tapi gue rasa bukan dengan cara yang lo maksud, yang ada Kakak membenciku" Farrel menyandarkan kembali kepalanya.
" Ternyata lo semakin dewasa El" Alan terkekeh. "Baiklah, kita pergi kesuatu tempat"
Alan memutar balikkan arah mobilnya, menyusuri kembali jalan yang mulai ramai.
.
.
" Kau mengajakku ketempat begini lagi" tukas Farrel saat melihat mobil berhenti disebuah club.
Alan tertawa "Ini akan menghilangkan rasa penat lo dan biasakan diri lo, kedepan nya lo akan sering keluar masuk tempat ini"
Farrel menggelengkan kepalanya " Yang ada nambah masalah"
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam, 2 orang berseragam hitam hitam menyambut mereka,
" Apakabar tuan, Sudah lama tuan tidak datang kemari" ucap salah satu mereka, sementara satu orang lagi terlihat menganggukan kepalanya.
"Sibuk.. " ucap Alan datar, berjalan masuk dan kedua orang itu berjalan mengantarkan mereka keruangan khusus
"Silahkan tuan, semua akan saya siapkan sebentar lagi" ucap seorang dari mereka.
" Kim.." Farrel memanggil orang tersebut.
" Bawakan soda"
Orang yang dipanggil Kim mengangguk lalu menutup pintu.
" Gak sekalian lo minta susu" ujar Alan yang kini tertawa.
"Lo ingat terakhir lo kasih minuman itu buat gue, gue kayak orang bego sampe ditarik masuk tante tante didepan sana" Farrel bergidig membuat Alan kembali tertawa dengan terbahak.
" Gak usah ketawa lo," memukul bahu Alan,
" Tapi kesucian lo gak direnggutkan? " sahut Alan masih tertawa dan mengusap bahunya.
" Sialan lo,"
Tring.
Farrel merogoh ponsel nya didalam saku, membuka chat
Kakakā¤
" Kamu nanti gak usah jemput yaa, aku pulang sama Dinda"
Setelah membacanya Farrel memasukkan kembali ponselnya, Entah kenapa Farrel tidak membalasnya.
" Syukurlah, aku jadi tidak perlu memberi alasan, maafkan aku kak"
Pintu terbuka, Kim masuk kedalam ruangan dengan seorang perempuan se xy yang berjalan membawa minuman pesanan mereka. "Silahkan tuan," ucap perempuan itu dengan berkedip , yang hanya memakai rok extra mini, memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah, hingga saat membungkuk meletakkan nampan terlihat dengan jelas belahan beserta benda bulat serta bokong bulat miliknya.
Farrel dengan cepat mengalihkan pandangan nya ke arah lain, " Astaga mata gue" batin nya. Sementara Alan hanya memperlihatkan wajah datar dan dinginnya.
" Apa tuan mau kutemani?" Ucapnya dengan suara yang sengaja menggoda.
" Pergilah" Ucap Alan.
" Tapi tuan.."
" Kau tidak dengar, pergilah lagian aku ini sudah punya pacar" ucap Farrel dengan angkuh.
" Gak mesti diomongin juga kali" batin Alan saat Farrel berbicara.
Perempuan itu berbalik dengan kesal, menghentakkan ujung tumit sepatunya dengan keras, " Sial, gagal deh gue dapet ikan kakap" batinnya.
" Baiklah saya permisi" Kim menganggukan kepalanya dan menghilang dibalik pintu, setelah memastikan mereka tidak membutuhkan yang lain lagi.
" Apa kau tidak bereaksi melihat itu tadi?" ujar Farrel saat menuangkan minuman bersodanya.
" Gue tidak tertarik" ucap nya menenggak minumannya.
Farrel bergidig, dia hanya pernah sekali meminum minuman jenis wine itu saat dulu, itu pun karena ketidak tahuannya. Dan entah kenapa dia tidak berminat untuk meminumnya kembali, berbeda dengan Alan yang memang sudah tidak asing lagi dengan minuman beralkohol. Karena tidak jarang mendapat jamuan saat bertemu klien.
"Lo juga akan terbiasa nantinya, jadi gak usah heran begitu, termasuk ini" Alan mengangkat gelas wine yang dipegangnya.
"Terserah lo" ucap Farrel mengambil minuman soda nya.
"
.
POV Metta
Berkali kali Metta melirik ponsel nya, namun tidak ada satu pesan pun dari Farrel," Tumben tuh anak gak ada hubungin gue dari pagi "
" Apa dia sedang sibuk,"
" Sha ntar balik bareng gue yuk, kita kemana dulu gitu. Udah lama nih gak nongkrong" ucap Dinda menaik turunkan kedua alisnya.
" Emmm, gimana entar deh yaa"
" Huh, bilang aja lo mau bareng pacar lo"
" Justru itu dari pagi tu bocah gak hubungin gue sama sekali"
" Yaa udah mungkin dia sibuk kali, sibuk selingkuh" ujar Dinda terkikik.
Metta mencubit lengan sahabatnya itu " Sialan emang lo, sama aja ngedoain gue diselingkuhin dong" ucap Metta membulatkan kedua matanya.
" Cie..cie...berarti lo ngaku juga dia pacar lo," cibir Dinda.
" Tau ahk," Metta menengkupkan tangan nya di dada.
" Cie, yang gegana karena pacar gak ada kabar"
" Apa gegana?"
" Gelisah galau dan merana" Dinda tertawa.
" Sialan emang lo" Metta kali ini memukul lengan sahabatnya yang belum juga berhenti tertawa.
" Bisa diem gak lo, nanti atasan lo kesini,"
" Yey, atasan lo juga berarti Shauun" mengedarkan pandangan nya ke arah pintu Bastian. Berharap pintu tidak terbuka dengan tiba tiba.
" Heh, bentar pacar lo kan gak kasih kabar, udah buruan lo aja yang kabarin dia,"
" Bilang apa?"
" Bilang ada penculikan!!" Metta mengernyit, "ogeb dasar ya bilang lo balik bareng gue Mettasha"
"Ooh..iya juga yaa" ucap Metta meraih ponsel nya dan mulai mengotak ngatik nya,
Setelah menunggu lama, namun Farrel tak membalas pesan nya.
" Dia kenapa yaa, chat gue cuma dibaca doang"
" Cx Sibuk kali, ngerjain PR" cibir Dinda.
" Yuk ah balik, keburu malem"
Namun akhirnya Metta pergi dengan Dinda, mereka berdua menikmati waktu nya dengan pergi ke mall.
" Ah, ngapain ke mall segala sih, males gue" ucap Metta saat Dinda memarkirkan mobilnya.
.
.
Jangan lupa like dan komen disetiap babnya yaa, aku udah ingetin terus lho yang itu teaš¤
Semoga syuka
Makasihš