
Doni menepis tangan yang melingkar, namun Tiwi semakin merekatkan jemarinya.
"Diam aku takut jatuh!!" ujar Tiwi semakin merekatkan pelukannya.
"Tiwi ayolah, jangan begini! Aku sesak tidak bisa bernafas, kau ini kenapa hah..."
Astaga, aku benar-benar terjebak dalam posisi ini.
Tiwi hanya tertawa kecil, Ternyata menyenangkan juga, oh God aku jadi tahu rasanya jadi si gadis tua Mettasha yang bahkan sekarang sudah menjadi istri. Batin Tiwi.
Doni melajukan motornya dengan kecepatan penuh, membuat Tiwi semakin merekatkan tubuhnya, dengan rambut ikalnya yang terombang-ambing di terpa angin.
"Woohoo ... kau bisa lebih kencang? Ini sangat menyenangkan," ujarnya berteriak.
Sial padahal aku ingin mengerjainya, malah keenakan!
Tidak lama kemudian Doni menghentikan laju motornya,, dengan kesal, lalu mematikan mesin motornya.
"Turun!" titahnya.
Dengan senyum yang masih terukir Tiwi tersenyum, namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi muram, dengan sorot mata menajam kearah Doni.
"Apa maksudnya ini?" Ujarnya dengan ketus.
"Turunlah .... "
Tiwi turun dari motor dengan tersungut, Sialan, dia menipuku atau apa? Kenapa Erik ada disini juga? batinnya bicara.
Erik yang baru saja keluar dari mobil kini tersenyum, melihat Tiwi, lalu menghampirinya.
"Sudah aku bilang urusan kita belum selesai bukan?" Ujarnya dengan berbisik ditelinga Tiwi.
"Karena sekarang kalian sudah bertemu, jadi ... tolong dengan sangat, selesaikan masalah kalian apapun itu tanpa mengsangkut pautkan lagi dengan ku, kalian sudah paham kan!"
"Kalau begitu aku pergi." ujar Doni dengan seringaian di bibirnya.
"Ooh satu lagi," Doni berbisik pada Tiwi.
Sementara Eric yang masih berdiri menunggu Dini selesai bicara pada Tiwi.
"Lupakan masalah malam itu, anggap saja kau sedang melayani klien One night stand mu, aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening atas namamu, periksalah."
"Dan jangan harap kau bisa masuk kedalam hidupku dengan mudah, apa yang bisa kau banggakan dengan dirimu sendiri Hm?" Doni berseringai.
"Sudah kukatakan, ayo kita coba! Seperti Farrel dan Metta, mereka berhasil bukan?" sela Tiwi.
"Apa kau sehat? Kau menyamakan dirimu seperti Mettasha?" Doni tergelak, "Bangun woi, buka tuh mata! Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dia, bahkan seujung kuku pun tidak,"
"Kau bahkan tidak bisa menghargai dirimu sendiri!" imbuhnya lagi membuat Tiwi semakin telak.
"Sialan, kurang ajar...." gumam Tiwi.
"Dan aku harap ini yang terakhir aku melihatmu, berhenti mencariku dan berhenti berulah,"
Mereka berbicara dengan pelan, masih sadar diri karena mereka sekarang berada ditengah keramaian, awalnya Erik terlihat tenang, lalu dengan langkah cepat Erik berjalan ke arah nya.
Doni menarik satu sudut bibirnya keatas, dia melirik Erik lalu menancap gas motornya dan berlalu dari sana. Melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi, ada kelegaan dihati nya sekarang, meskipun ucapannya tadi sudah dipastikan akan menyakiti hati Tiwi.
Tiwi tampak geram, dia mengepalkan tangan menatap punggung Doni yang semakin menjauh. Setelah itu barulah Erik mendekatinya.
"Sudah ku bilang bukan, kau itu orang brengsekk yang hanya cocok untuk orang brengsek pula. Ayo ikut denganku." Erik menarik tangan Tiwi masuk kedalam sebuah kafe.
"Kau sangat menyebalkan, kenapa kau terus mengangguku?" ucap Tiwi saat Eric menarik kursi untuknya.
Eric terkekeh, namun menarik bahu Tiwi dan mendudukkannya dikursi. Lalu dia ikut menghempaskan tubuhnya kursi samping Tiwi.
"Karena aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja, sekalipun kamu berusaha menjauhiku." kata Erik dengan merengkuh bahu Metta.
"Kau ingin tahu alasan aku memilih pria lain? Dan apa kau tahu kesalahan apa yang telah kau perbuat Erik!!"
Erik terkesiap, "Jadi apa, katakan dengan jelas, dan aku akan memperbaiki nya juga."
Erik terperangah, dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya.
.
.
"Rik, kau benar-benar tidak tahu kemana Miranda?"
"Sudah kubilang aku tidak tahu! lebih baik kau tidak usah berteman dengan mereka lagi."
"Mereka hanya akan menghancurkan hidupmu saja!"
"Hidupku saja sudah hancur Erik, bahkan aku ditolak mentah-mentah oleh seorang pria, memalukan!"
"Benarkah? perempuan secantik ini ada juga yang menolaknya, benar-benar bodoh pria yang menolakmu itu!"
"Thanks Rik, Tapi aku juga tidak sepolos dan sebaik itu. Mereka juga bisa kapan saja menjebakku." ucap Tasya yang masih duduk didepan Erik, sang Bartender sekaligus pemilik club itu.
"Sudahlah tidak usah kau fikirkan lagi," menyodorkan gelas yang sudah di isi ke hadapan Tasya.
"Hem ...."
"Aku tidak tahu, begitu banyak orang malam ini, banyak pula yang bertanya kepada ku, aku bahkan tidak tahu siapa saja yang bekerja hari ini!"
Erik terus mengisi gelas kosong milik Tasya yang terus menenggak nya hingga tandas.
"Itu karena kau bodoh saja, makanya itu kau dipecat kan diperusaahan!"
"Hei kau tidak tahu ya, aku ini mengundurkan diri, kau tahu artinya mengundurkan diri, bukan dipecat ya camkan itu!"
"Terserah kau saja, aku mau pulang!" Siapa Tasya dengan bangkit dari tempat duduknya.
"Kau mau ku antar?" kata Erik dengan melepas apron yang membungkus tubuhnya agar pakaiannya tidak terlalu kotor. itu.
"Tidak, kau selesaikan saja pekerjaan mu!"
Tasya kemudian keluar dari club malam itu dengan mabuk parah, Erik berlari kearahnya dan membantu menopang tubuhnya yang sempoyongan.
"Sudah ku bilang bukan!" ujar Erik dengan tangan yang sudah berada di pinggang nya.
Dan malam itu Erik mengantarkan Tasya pulang kerumah nya, membawa gadis yang tengah tak sadarkan diri masuk kedalam rumah.
"Dimana kamarnya?" tanya Erik pada pelayan yang baru saja dia kenal.
"Diatas Tuan, belok kiri, pintu berwarna cokelat," ucap pelayan itu.
Erik membawanya naik, masuk kedalam kamar yang luasnya 3 kali lipat dari kamar miliknya, lalu mendaratkan tubuh Tasya ke atas ranjang, dan entah bagaimana awalnya, mereka sama-sama terpengaruh minuman keras dan melakukan hal itu.
Mereka sama-sama merasai, saling mencecap raga tanpa sehelai kain pun yang jadi penutupnya, dan sama-sama berakhir di puncak nirwana
.
Erik teringat malam itu, malam panjang yang dia habiskan dengan Tasya dalam satu selimut diranjang yang sama, bahkan Tasya terlihat sangat berbeda, dia yang mengira melakukanya dengan orang lain, bukan
dengan Erik. Namun, Erik yang juga terpengaruh minuman keras tidak ambil pusing.
Erik meraup wajahnya dengan kasar, apa yang dikatakan Tiwi sungguh membuatnya shock.
"Kau tidak sedang bercanda bukan? Tiwi...."
Tiwi menggelengkan kepalanya, "Tidak, kau fikir aku segila itu? Bermain- main dengan hal serius macam ini?"
"Apa kau yakin itu anak ku?"Ujar Erik yang masih belum percaya.
Tiwi menggebrak meja, " Kau fikir Tasya seburuk itu? Dia bukan aku yang sering melakukan dengan banyak pria, apalagi pria brengsek macam kau ini!"
Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah mengatakan padamu semuanya, dan karena itulah, lebih baik aku pergi dari hidupmu, aku juga tidak mencintaimu! Hari ini terakhir aku melihatmu." imbuhnya lagi dengan menyeruput kopi yang baru saja tiba.