Berondong Manisku

Berondong Manisku
Astaga 2


"Hai...."


"Astaga...."


"Kaget? hem..."


Farrel terbelalak saat melihat orang yang baru saja masuk, dia berhambur memeluk orang yang selama 2 minggu ini begitu dirindukannya.


"Kakak, aku rindu sekali."Ucapnya dengan menggoyang-goyang kan tubuh Metta dalam pelukannya.


"Iih...lepas, aku sesak." ujar Metta menarik tangan yang melingkari tubuhnya.


Farrel terkekeh, " Itu karena aku saking bahagianya kakak datang kesini,"


"Aku datang sama bunda kok, tapi bunda msih di ruangan Alan, eh pak Alan...."Rapatnya.


Kok aneh yaa aku manggil manusia manekin itu!


"Kalau gak dipaksa bunda, aku juga gak bakal kesini," rungutnya lagi sambil berjalan menyimpan paper bag diatas meja.


Farrel merekatkan kembali tangan dipinggangnya, "Memangnya kakak gak kangen aku? Hem...?"


Alih-alih menjawab Metta membuka paper bag yang dibawanya, "Kamu pasti belum makan, iya kan?" Farrel mengelengkan kepalanya yang menempel dibahu Metta.


"El ...lepas dulu aku mau buka ini." ujarnya dengan tangan yang sibuk membuka boks berisi makan siang yang dibawanya.


"Bilang dulu kakak kangen aku, baru aku lepasin." Farrel semakin merekatkan pelukannya, hingga aroma shampo dari rambut Metta yang menyeruak masuk kedalam hidungnya.


"Gak mau iih...siapa juga yang kangen kamu!" cibirnya.


"Kakak, jangan memancingku yaa!" Ujarnya sambil menciumi rambut Metta.


"Udah ih lepas nanti ada bunda, lagian juga nanti makanannya keburu dingin. Gak enak...yuk makan dulu."


"Gak mau bilang dulu kakak kangen aku!"


Metta memutarkan tubuhnya hingga menjadi menghadap Farrel, "Iya...aku juga kangen kamu." lalu dia tertunduk dan kembali memutar tubuhnya.


"Udah yuk makan."


Dasar kakak, udah mau menikah masih malu-malu begitu." gumamnya, yang jelas tidak terdengar oleh Metta.


"Ayo duduk..." titahnya kemudian.


Bak seekor kerbau dicocok hidung Farrel hanya menurut, dengan mata yang terus menatap lekat wajah Metta dengan tersenyum. Dia mendudukkan tubuhnya disofa, menunggu Metta selesai menata makan siangnya.


"Kamu mau ini atau ini?" Ucapnya dengan garpu yang menunjuk boks makanan.


Farrel terus saja menatapnya dengan dalam dan semakin dalam. Sampai Metta menyadari tatapan yang mengarah padanya.


"Iiihh...malah ngeliatin terus, makan dulu!" sentak Metta.


"Suapin..."


"Iiihh...emangnya kamu anak kecil!" Metta melengos masuk kedalam toilet yang ada disana. Sementara Farrel terkekeh.


"Ini enak... Kakak yang masak?" Metta mengangguk.


"Habiskan kalau gitu,"Ucap nya


Farrel terus menyuapkan bekal makan siangnya hingga tandas tak bersisa, sementara Metta tersenyum.


"Kalau aku makan siang setiap hari begini, aku pasti semakin tumbuh besar, iya kan sayang?"


Metta terkekeh, "Iya gak apa-apa, malah bagus biar aku semakin kecil jika sedang berjalan berdua,"


"Apanya yang kecil..., besar kok segitu! Cukuplah.... ujar Farrel kembali tergelak.


Metta mendengus kasar, "Iiihh dasar mesum...."


Tak lama kemudian pintu terbuka, mereka berdua menoleh kearah pintu dan bunda Ayu masuk,


"Bunda...?" ujar Farrel memeluk bunda Ayu.


"Dasar anak nakal, sudah mau menikah masih saja sibuk bekerja, kau ini sudah seperti ayahmu saja," ucapnya dengan menepuk bahu Farrel namun juga merekatkan pelukannya.


"Buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya, jadi aku sudah pasti seperti ayah." kelakarnya.


Bunda Ayu mendengus, "Bagus, kau akan terus meninggalkan istrimu sendiri dirumah! Sama seperti ayahmu,"


Metta yang berada tak jauh ikut tergelak, dia menggelengkan kepalanya saat Farrel memeluk bunda-nya.


"Bunda kesini cuma mau bilang, gedung yang akan dipakai resepsi semua nya penuh, waiting list semua. Bunda sebel," ujar Bunda Ayu yang kini menghampiri Metta dan duduk disampingnya.


"Kok bunda yang kesel sih?" Ucap Farrel yang kembali mendudukan diri dikursi kebesarannya.


"Iya bagaimana tidak kesel, semuanya penuh. Kita tidak punya waktu untuk menunggu, " Sahutnya.


"Yang mau nikah aja sabar kok menunggu. Iya kan sayang?" ujar Farrel terkekeh.


Metta mendelik, "Kamu kan tahu beres nya saja,"


" Apa bunda bilang, kamu kan tidak aķan mengerti,"


"Kata siapa sabar?" ujar Alan yang tiba- tiba masuk kedalam ruangan.


"Tau gak Bun, setiap hari yang diceritakan hanya pernikahan-nya saja."imbuhnya lagi.


Farrel terkikik, "Mana ada begitu!"


"Ayo ngaku saja! Bukan kah memang begitu adanya," Ucap Alan dengan menyentil Farrel.


Farrel memukul Alan, "Sudah diam saja, kau ini sudah seperti perempuan sana, mengadukan hal seperti itu pada bunda,"


"Hei, jangan sembarangan bicara! siapa yang seperti perempuan, memang itu kenyataan nya, kau lupa hah!!" membalas pukulan Farrel,


Farrel mengelak dengan mendorong tubuh Alan, bunda bergeleng kepala, "Kalian ini kalau ribut suka tidak ingat umur."


"Dia nih bun, yang udah tua!!" membuat Alan tergelak dan kembali mendorong Farrel.


"Enggak Bun, dia nih bocah nakal, fikirannya perlu dibersihkan!!"


Sementara Metta terperangah tak percaya, melihat Alan yang tengah tertawa yang baru dilihatnya hari ini, Apa aku gak salah lihat tuh manekin bisa begitu juga.


Entah Alan menyadari atau tidak, sikapnya kembali tanpa ekspresi saat melihat Metta, dia hanya mengangguk, namun seutas senyum terbit dari bibirnya. Dasar manekin, aneh banget. Kenapa si Dinda bisa suka sama pria aneh begini.


"Bun ayo, katanya mau ke ruangan ayah." ujar Alan yang langsung berjalan ke arah pintu.


"Sha bunda mah ke ruangan ayah dulu, kamu tunggu disini saja ya. Nanti bunda kesini lagi," Ucap Bunda ayu.


Metta yang sedari tadi hanya duduk tak bergerak itu menganggukkan kepalanya, jujur saja dia masih suka salah tingkah meski selama berhari-hari sering pergi bersama bunda Ayu. Terlalu malu


Setelah kepergian Bunda Ayu dan juga Alan yang tiba-tiba menerobos masuk itu membuat Farrel melangkah menuju pintu dan menguncinya.


"El...kenapa mesti mengunci pintu coba! Nanti bunda kesini lagi kan."


Farrel terkekeh, "Sambil menunggu bunda, kita bisa melakukan hal yang menyenangkan,"


"Apa sih...."


Farrel mendekat kearahnya. Dengan senyum yang semakin melengkung, "Aku bisa kangen-kangenan dulu sama kakak,"


"Astaga...." Farrel tergelak.


Metta langsung berpura-pura sibuk membereskan kotak makanan, sementara Farrel sudah melingkarkan tangan dipinggangnya. "El ... nanti ada bunda datang!"


"Tidak akan!"


"Nanti bunda ketuk-ketuk pintu ih!"


"Tidak akan, bunda kalau keruangan ayah pasti ngobrol lama,"


"Nanti Mac curiga!"


"Biarin sayang!" bisik Farrel dengan suara berat di telinganya.


Celaka!!


"Sayang tahu gak hari ini aku dan bunda akan melihat gedung, kamu mau lihat foto-fotonya gak!" Metta merogoh ponsel didalam tas, namun Farrel menahan tangannya.


"Lihat nya nanti saja, lagipula aku sudah tahu. Bunda sudah mengirim foto-foto gedung itu kemarin."


"El...iiiihh!!" mulai risih karena hembusan nafas Farrel yang hangat membuat bulu nya meremang.


"Apa...."


"Nanti juga bisa! Udah sana...Jangan nakal!" Metta mendorong Farrel yang terkekeh.


Farrel perlahan meraih dagunya, dan menempelkan bibirnya dengan lembut, sangat lembut.


"Iya aku tahu."