
"Bu, Andra sudah selesai operasi, dan sudah bisa di pindahkan ke ruangan inap," ucap Farrel yang baru saja masuk keruangan Metta.
"Syukurlah, kalo gitu. Ayo Niss kita lihat abangmu" Nissa yang mulutnya penuh dengan roti pun mengangguk.
Farrel menatap tajam Nissa yang tengah memakan roti yang seharusnya untuk Metta,"Dek, kenapa dimakan?itu untuk kakak."
"Kamu beli sendiri yaa." Farrel merogoh dompetnya dari saku celana.
"Ih, Abang pelit amat sih. Iya iya nih aku simpan lagi," Nissa beranjak mendekati ranjang tempat kakaknya terbaring.
"Astaga,"gumam Metta.
"Kak tau gak waktu- ituu..." Menatap Farrel dengan seringaian licik.
"Heh..." Farrel menarik lengan Nissa hingga ikut mundur beberapa langkah.
"Nissa kalau mau makan roti Nissa boleh ambil, atau Nissa beli sendiri yaa" Farrel terpaksa menarik bibirnya hingga melengkung lalu memberikan selembar uang berwarna merah.
"El gak apa apa, lagian aku udah makan kok tadi."
"Nissa" seru Ayu menggelengkan kepalanya.
"Nissa ambil ini aja Bang,"Nissa mengambil lagi roti yang berada didalam kantong.
"Astaga,"Metta memijit pelan keningnya.
"Ya sudah, ibu mau lihat Andra dulu, yuk Niss"
"Tunggu bu, aku ikut."
"No-no kakak gak boleh kemana mana dulu," Farrel mencegah Metta yang baru akan turun dari ranjang.
"El, aku gak apa-apa."
Farrel menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, "Gak boleh, kata dokter apa? kakak harus istirahat"
"Astaga," Metta memejamkan matanya.
"Farrel benar, kamu istirahat dulu aja."
"Ibu sama saja."
Farrel tersenyum penuh kemenangan,"Menurutlah kak"
Metta membulatkan kedua manik hitamnya dan mencebikkan bibirnya hingga berkumpul. Sementara Ibu Sri dan Nissa keluar menuju ruang inap Andra.
Melihat kekasihnya yang merajuk, dan tidak mau berbicara sama sekali. Bahkan kepalanya dia sembunyikan dibawah selimut. Farrel keluar dari ruangan Vip dan terlihat kebingungan.
"Mas cari apa?"ucap Mac yang dari tadi hanya duduk menunggu perintah.
"Kursi, Kursi roda." ucapnya bingung.
"Kursi roda buat apa Mas?"
"Buat dipakai lah Mac"
"Ya sudah aku carikan, Mas El tunggu saja di dalam"
Farrel mengangguk lalu masuk kembali kedalam ruangan.
Tak lama kemudian Mac masuk kedalam ruangan dengan membawa kursi roda sesuai permintaan Farrel. "Mas ini kursi rodanya."
"Terima kasih Mac." Mac menangguk lalu berbalik keluar ruangan.
"Apa kakak masih mau melihat Andra?" seru Farrel dengan tangan memegang kursi roda.
Metta berbalik, dia kaget melihat sudah ada kursi roda didalam ruang inapnya.
"Ayo, kak."
"Kursi roda itu untuk apa?"
"Untuk kakaklah, katanya mau lihat Andra."
"Astaga, kenapa mesti pake kursi roda segala."
Metta tak bisa lagi menahan kekesalannya. Dia turun dari ranjangnya hendak mendekati Farrel, namun selang infus yang menancap di pergelangan tangan menyulitkannya. Alhasil dia hanya berdiri menempel pada ranjang, menghentak hentakan kedua kakinya di lantai.
"Nih, nih aku sehat, lihat..."
" Dasar menyebalkan," ucapnya keras.
Farrel terkekeh melihat kekasihnya yang tengah kesal itu, " Kursi roda atau digendong sekalian?"
"Eeeeellll" Metta memekik.
"Iya..iya kakak aku hanya bercanda, ayo duduk kita ke tempat Andra."
"Menyebalkan sekali" gumamnya.
"Bisa saja kamu cari alasan" Metta akhirnya duduk di Kursi roda dengan terpaksa. Farrel mendorong Kursi roda dibelakang Metta.
Farrel mencondongkan tubuhnya hingga membungkuk dan mengenadahkan kepala Metta menghadap kearahnya. Hingga keduanya silih menatap.
Cup
Farrel mencium kening Metta dengan lembut.
"Jangan marah lagi yaa, aku minta maaf selalu bikin kakak kesal."
Metta masih terkesiap dengan apa yang dilakukan Farrel,"Astaga," tanpa sadar Metta mengangguk.
Mereka akhirnya keluar dari ruangan Vip itu dan menuju ruangan tempat Andra dirawat. Melewati satu koridor yang tidak jauh dari sana, berada diruangan Vip juga.
"Gimana bu keadaan Andra?" ucap Metta saat baru saja masuk.
"Udah sadar, tapi tertidur lagi karena masih ada pengaruh obat biusnya. Baru saja diperiksa Dokter." Ucap Sri menjelaskan.
"Kakak kenapa pakai kursi roda?" tanya Nissa polos.
"Gara-gara dia" menunjuk Farrel dengan kelingan matanya.
" Pacar kakak Over Protective sekali" gumam Nissa yang langsung mendapat pukulan sang ibu di bokongnya.
"Jangan bicara sembarangan."
Andra tiba tiba mengerjap, kedua iris matanya terbuka sempurna, melihat sekeliling ruangan dengan linglung. Kemudian dilihatnya sosok ibu yang mengkhawatirkannya, adik serta kakaknya yang kini duduk di kursi roda.
"Bu..." panggil nya dengan suara yang berat.
"Ini ibu nak, ada disini,"
"Bu, kak Sha baik baik saja kan?"
Sri mengangguk,"kakakmu gak kenapa napa, dia hanya butuh istirahat saja."
"Makasih yaa ndra, kamu sudah menyelamatkan kakak." semua orang menatap orang yang baru saja berbicara.
Farrel mengerdikkan bahu saat semua menatapnya, "Karena sekarang itu adalah tugasku, kalian tidak usah khawatir."
Metta menatap jengah kearah Farrel, baru saja bersikap manis sekarang justru memancing kekesalannya lagi.
"Dasar over" gumamnya.
Lalu Farrel mencondongkan kepalanya tepat di telinga Metta. "Karena aku sayang kakak."
"Hei, aku mendengar kalian berbicara ya, jangan merusak telingaku yang masih suci ini dengan kata kata tidak pantas begitu." seru Nissa dari belakang dengan berlagak pinggang.
Farrel menoleh, "Maaf yaa dek."
Nissa membulatkan matanya lalu menyoroti Farrel dengan tajam, dengan mulut penuh roti. Dengan
Jari telunjuk dan jari tengah berbentuk V yang dia naikkan ke mata kemudian ditembakkan kearah Farrel.
.
.
Sementara Alan saat ini tengah berada di kantor polisi, memberikan laporan dan keterangan tentang laporannya atas Faiz dan kejahatannya. Sementara Faiz tengah berada diruang pemeriksaan, dan polisi yang memeriksa dirinya mengatakan bahwa Faiz saat ini bahwa dirinya tengah terguncang.
Keterangannya pun berubah ubah dan melantur kemana-mana. Hingga polisi menyarankan untuk memeriksakan Faiz pada dokter kejiwaaan.
Bastian sendiri telah kooperatif, Pria paruh bawa itu tampak tertunduk saat Alan menemuinya.
"Maafkan kesalahan adik iparku Pak, dia gelap mata karena kehilangan cintanya, dan aku hanya membantunya untuk mendapatkan kembali calon istrinya,"
Alan mengangguk, meski dia tidak pernah tau seperti apa itu jatuh cinta. "Sudahlah Pak, kami pun sudah memaafkannya, dan memaafkan Bapak juga."
Bastian tampak menghela nafas,"Sebenarnya dia pria yang baik, setidaknya sampai ibunya meninggal dunia."
"Dan kekecewaan yang besar pada ayahnya yang memaksanya meninggalkan Mettasha pada hari pernikahannya."
Alan terenyuh, pria itu juga keras karena keadaan yang memaksanya, kekecewaannya pada takdir yang tak bisa dirubah, serta keadaan yang menjadikan dia menjadi pria keras dan dingin.
"Semoga hukuman Bapak dapat diperingan, dan Bapak tidak usah khawatir, aku akan menjamin keluarga Bapak sampai Bapak bisa bebas kembali."
Tubuh Bastian tiba tiba meluruh kelantai, bersimpuh pada kaki Alan. "Terima kasih Pak, terima kasih," lirihnya.
.
.
Jangan lupa like dan komen disetiap babnya, dukungan dari kalian bener bener berarti buat author remahan ini.
Terima kasih juga untuk yang sudah like, komen, dan nya juga.