Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kakak yang semakin manja


"Karena akan berbahaya jika pergi hanya berdua saja, kalian hanya akan pacaran disana!"


"Astaga ... ya enggak lah, gak mungkin aku pacaran sama cewek aneh kayak Tia, ini semua karena adik ipar mu!!"


Tanpa menjelaskan apa-apa pada Farrel yang masih bingung, Doni berlalu begitu saja, sementara Farrel berdiri dengan berkacak pinggang melihat Doni menjauh.


"Aku pastikan proyek itu berjalan mulus!" teriaknya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Kenapa dengan dia, apa hubungannya dengan Nissa?" gumamnya.


Doni melajukan mobilnya, lebih baik dia pulang dari pada menghadapi Farrel yang beranggapan hal yang tidak-tidak padanya,


"Pacaran sama Tia, hih ...." gidik Doni, dengan tangan berada di kemudi.


Namun saat berada di jalan Doni melihat mobil Tia teronggok begitu saja, setelah memastikan memang benar itu mobil Tia, Doni lantas menghentikan mobilnya.


Matanya mengedar mencari Tia, namun dia tidak menemukan siapa pun di dalam mobil itu.


Doni turun dari mobil, dan melihat sekeliling mobil Tia.


"Astaga, Ti...lo kenapa?"


Dilihatnya Tia tengah berjongkok memeluk lututnya, dengan menyembunyikan wajahnya. Dia mendongak ke arah Doni dan terkekeh.


"Lo kenapa? sakit ... malah cengengesan, gila Lo?"


"Mobil gue mogok lagi, gue bingung mesti ngapain, dompet gue ketinggalan, ya udah deh gue diem aja sambil berdoa."


"Eh ternyata Tuhan kabulin doa gue, lo nemuin gue."


"Ada-ada aja sih lo, lagian masih saja mobil jelek begini di pelihara, mending lo jual atau gak lo buang saja! Doyan banget lo mempersulit diri sendiri."


"Enak aja lo suruh buang, ini benda keramat gue!"


"Dimana-mana benda keramat itu di pajang, gak di bawa-bawa. Aneh lo!"


"Udah buruan gue anterin lo balik."


"Entar siapa yang nganterin lo balik lagi? Terakhir lo nganterin gue, lo takut pulang kan!"


"Udah deh berisik, mau gak? kalau gak gue tinggal nih!"


Tia tersungut- tersungut masuk ke dalam mobil. Sementara Doni sudah terlebih dulu masuk.


Hening


Tiba-tiba suasana canggung meliputi mereka berdua, Tia memilih melihat keluar jendela dan Doni tetap pada ruas jalan.


"Ada yang mau gue tanyain ke lo! Mengenai foto gue yang lo jadiin wallpaper ponsel Lo. Maksudnya apa tuh?"


Deg


"Gak mesti gue jawab, harusnya lo udah tahu jawabannya apa!" lirihnya, dengan memainkan ujung kuku.


"Sejak kapan?"


"Lo bisa lihat foto lo itu, gak mungkin Lo yang sekarang kan!"


"Gak mesti ketus juga kali jawabnya, gue nanya baik-baik!"


"Terserah." ujarnya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tidak ada lagi percakapan setelahnya, mereka terdiam dalam fikirannya masing-masing. Hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Tia.


"Masuk dulu, gue bikinin lo minum!"


"Gak usah gue langsung balik lagi saja, gak enak sama keluarga lo, lagipula besok kita pergi naik pesawat pagi. Lo harus istirahat."


"Gue pulang dulu!" ucapnya kemudian melakukan kembali mobilnya.


Tia kembali ke rumah dengan perasaan yang lebih baik.


.


.


Sementara itu


Farrel kembali ke dalam, duduk di samping istrinya yang tengah mengobrol dengan kedua adik dan juga ibu mereka.


"Sayang kita pulang sekarang?"


Mereka sampai di rumah, Metta langsung masuk ke dapur, membuka lemari es dan memanaskan makanan. Sementara Farrel langsung naik ke kamar.


"Kak aku mau mandi dulu."


"Huum"


Farrel masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat, setelah itu barulah dia turun kembali. Namun dilihatnya Metta masih sibuk dengan bahan makanan yang sudah dia panaskan, dan meletakkannya di piring saji.


"Sayang, belum selesai?"


Metta terkekeh, "Aku lapar lagi sayang! Aku mau makan dulu habis itu baru bersih-bersih."


"Astaga ... kasian istri dan anakku, sampai kelaparan gini!"


"Farrel ih, aku kelaperan melulu sejak hamil tahu tidak, kamu malah ledekin aku!"


Farrel kembali terkekeh, "Enggak sayang, sini biar aku yang siapin, kakak mandi saja dulu,"


"Enggak ah ... tiba-tiba aku males mandi! Nanti saja."ketusnya


"Kakak jorok ih, udah sana mandi, biar aku nanti bawa makanannya ke kamar."


"Gak mau sayang, aku mau makan sekarang!" ujarnya dengan merebut piring dari tangan Farrel.


"Ya ampun kakak!"


Farrel menggelengkan kepalanya, "Wanita hamil ada-ada saja kelakuannya."


Metta melahap habis makanannya, sampai-sampai dia menghabiskan dua piring, Farrel terkekeh saat melihat pipi chuby itu menggemuk penuh makanan.


"Sayang, mau makan apa lagi sekarang?"


"El ... ih kamu malah ledekin aku sih!"


Farrel mengatupkan bibirnya, "Enggak sayang, aku gak ledekin kamu kok!"


Metta memicingkan kedua matanya, "Gak ngeledek, tapi ketawain. Nyebelin."


"Astaga, enggak sayang." ujar Farrel dengan mengangkat kedua tangannya.


Metta mengambil piring kotor lalu membawanya ke dapur, mencuci nya lalu merapikan kembali meja makan.


"Sayang, marah?" ujar Farrel merengkuh pinggangnya dari belakang.


"El lepas, aku mau mandi!"


"Katanya tadi malas!"


"Tiba-tiba ingin mandi!" melepaskan kedua tangannya, lalu berlari kecil menuju kamar.


"Kakak ... jangan lari-lari! Astaga, kenapa dia itu jadi kayak bocah!"


.


"Sudah selesai?"


"Hm..."


"Sini naik!"


Farrel menepuk ranjang disampingnya, Metta menurut dengan naik ke ranjang di samping suaminya, Farrel merentangkan lengannya dan dijadikan bantal untuknya,


"Kakak senang hari ini?"


"Tentu saja, kenapa kamu bertanya soal itu terus?"


"Aku hanya memastikan saja!"


"Aku bahagia El ... terima kasih."


"Gak di kasih cium?" ujarnya dengan menekan pipi bagian dalam dengan lidahnya.


"El ... jangan mulai deh!"


"Belum mulai sayang! Baru juga mau...."


"Awwwss... sayang, sakit!" ringis Farrel saat Metta mencubit pinggangnya.


"Lama-lama ini masuknya kekerasan dalam rumah tangga, bisa aku laporin nih!"


"Aaaaa ...iya ...iya... ampun sayang! Sakit!"


Metta kembali mencubit pinggangnya.


"Kamu kenapa sih nyebelin banget."


"Kalau aku kamu laporin, kamu nanti sama siapa?"


"Siapa yaa ... eeemmpphh!"


"Farrel ih... gitu sih!"


Farrel tergelak, dengan tangan yang mencubit pipi istrinya yang sedang merajuk itu.


"Aku gak nyangka kakak ternyata bisa semanja ini sama aku. Gemes banget!"


"Farrel ah...."


"Cie ... cinta nya semakin dalam yaa sekarang? Udah gak ada ragu lagi yaa,"


Metta membalikkan tubuhnya membelakangi Farrel, "Tahu ah, nyebelin!"


"Wah ... ini sih kode minta digempur!" ucapnya terkikik.


"Farrel !!!"