
Keesokan harinya Metta seperti biasa pergi bekerja dengan menggunakan motor matic nya. Walaupun Farrel sudah melarang untuk Metta tak lagi menggunakan motor, namun dia bersikeras.
Sebenarnya Farrel bisa saja menjemputnya dan pergi bersama dengan nya kekantor. Namun gadis berego tinggi itu tetap ingin hubungannya dirahasiakan.
Dengan berat hari Farrel mengalah saat mereka berdebat tentang masalah ini. Metta yang notabene karyawan teladan hanya tidak ingin dicap tidak profesional karena memiliki hubungan dengan atasannya. Dan pemikiran negatif lainnya jika mereka tahu.
Metta melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung divisi, dilihatnya ruangan Farrel masih senyap. Itu bertanda dia belum datang ke kantor. Sementara Metta melangkahkan kakinya kearah meja kerjanya.
Bukankah hari ini terakhir dia berada divisi umum, berarti besok dia sudah kembali ke gedung utama.
Ada perasaan sedih karena dia tidak lagi bekerja bersama, melihatnya menyebalkan setiap hari. Tiwi yang melenggang mendelik kearahnya, lalu melewati begitu saja.
"Dih, kenapa dia?"
Tiwi membereskan meja kerjanya, dia memasukkan barang-barang kedalam boks. Dinda menepuk bahu Metta yang tengah memperhatikan Tiwi.
"Ngapain ngeliatin dia?" Tanyanya penasaran.
Metta menggeleng, "Dia mau kemana?"
"Lho kamu gak tahu? dia dapat promosi pindah ke gedung utama.
Uhuk
Metta yang tengah menyeruput kopi yang baru saja dia buat itu tersedak. "Benarkah?"
"Heem, dia mendapat promosi langsung dari HRD."
Celaka, dia pasti akan berulah, dan dia akan disana juga.
Metta memperlihatkan wajah tidak bersahabat, mengingat Tiwi selalu berusaha mencari perhatian Farrel. Meskipun Farrel tidak pernah peduli padanya.
Perasaanku jadi tidak tenang begini.
"Shaun malah bengong lagi, kenapa?" selidik sahabatnya itu.
"Tidak ada, udah ayo kerja!"
"Dih gak jelas." Dinda berlalu menuju meja kerjanya.
Tiwi kembali melenggang dan berdiri didepan semua meja, lalu berpamitan, wajahnya angkuh terhadap semua rekan termasuk Metta.
"Attention please, hari ini aku pindah tugas ke gedung utama, akhirnya! So ... bye."
Setelah berkata seperti itu Tiwi melenggang keluar dari, dan sudah dipastikan dia berjalan menuju gedung utama.
"Benar-benar tidak punya malu!" ucap seseorang rekan mereka.
Dinda mengerdikkan bahu, "Whatever...."
Sementara Metta terlihat tidak tenang, selain Farrel belum juga datang, "Apa mungkin dia tidak kesini dulu, tapi langsung ke gedung utama."
Mettapun mengecek ponselnya, namun tidak ada notifikasi dari kekasihnya itu. Membuat dia semakin berdecak kesal.
Hingga siang hari Farrel tak kunjung datang, dia juga tidak memberikan kabar apapun, Metta akhirnya mengikuti keinginan Dinda untuk makan di kantin, walaupun terlihat tidak semangat.
"Kamu sakit...? Tanya Dinda.
Metta menghela nafas kasar, "Tiba-tiba gak enak."
"Gak enak badan?" menempelkan punggung tangan ke arah dahi Metta.
"Gak panas kok,"
Metta kembali menghela nafas, "Entahlah aku tidak berselera makan." Mengaduk-ngaduk makanan diatas piring.
"Ya udah, keruang kesehatan saja kalau gitu!" Ujar Dinda dengan menyuap makanannya kedalam mulut.
Bak mendapat air di gurun padang pasir Metta mengangguk, "Sepertinya benar, aku harus ke ruang kesehatan."
"Ya udah aku antar kesana!" Dinda bangkit dari duduknya.
"Ti-tidak usah, kau habiskan saja makan siangmu, juga punyaku nih!" mendorong piring ke hadapan Dinda.
Dengan cepat dia bangkit dan langsung berlalu menuju gedung ujung dimana ruang kesehatan berada, letaknya yang lebih dekat dengan gedung utama. Dan itu artinya memudahkannya menuntaskan rasa penasaran yang menyerang, membuat ketidak tenangan.
Metta sampai di ruang kesehatan, namun dia tidak masuk kedalamnya melainkan kearah lorong penghubung gedung, dia masuk kedalam lift menuju ke atas, mengarah ke ruangan Farrel. Namun dia tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan kekasihnya itu. Hanya ada Alan dan beberapa orang yang baru saja keluar dari ruangannya.
Metta menunggu sampai semua keluar, namun tidak ada pula Farrel disana. Hingga terlihat Mac menatap kearah nya dari kejauhan. Metta dengan cepat berbalik dan kemudian berbelok kearah lift dan masuk kedalamnya kemudian menekan tombol kebawah.
Sialan Mac melihat kearahku, kenapa aku bisa berbuat nekat begini dengan diam-diam mengawasinya, sudah mulai gila. Astaga apa yang kau lakukan Sha.
Metta merutuki dirinya sendiri. Lalu dengan cepat dia kembali ke gedung divisi. Pandangannya mengarah pada sosok yang sedari pagi membuat hatinya tidak tenang. Farrel baru saja masuk kedalam ruangannya, disusul oleh Doni dari belakang
Tanpa berfikir panjang Metta melangkahkan kakinya membuka pintu ruangan dan masuk kedalamnya setelah mengetuk pintu.
"Kakak?" Ujar Farrel dengan senyuman melebar di bibirnya.
"Memangnya kau kira siapa Don?" Ujar Metta dengan ketus.
"Sayang ada apa? kenapa wajah cantiknya ditekuk begitu hem?" Tangannya terulur kearah wajah Metta, namun dia menepisnya.
"Darimana saja? kenapa baru datang?"
Farrel mengernyit, " Maaf aku tidak sempat memberi kabar, aku tadi dari kampus, pihak kampus menghubungiku untuk segera kesana,"
Metta terlihat memicingkan matanya, "Benarkah, kau tidak sedang berbohong?"
"Tidak, untuk apa aku berbohong?"
"Kamu tidak diam-diam bertemu dengan seseorang kan?"
Farrel menaikkan sudut bibirnya keatas, "Astaga, sa-yang ada apa denganmu,"
Tuh kan bener, gelagatnya seperti sedang berbohong.
Kakak kenapa sih? tiba-tiba aneh begini.
Farrel menggelengkan kepalanya, " Memangnya ada apa calon tun--"
"Tidak ada apa-apa!" dengan cepat Metta berbalik dan menghilang kearah pintu.
"Astaga, dia kenapa?"
Doni terkikik, " Kau berbuat apa, hingga wanitamu itu terlihat sangat kesal begitu?"
"Aku tidak melakukan apapun!" ujarnya dengan ikut kesal.
Doni kembali terkekeh, "Begitulah perempuan! sebentar baik, sebentar merajuk,"
"Tidak usah memikirkan calon tunanganku dengan kepalamu yang bodoh itu, urus saja tugas yang aku berikan padamu!"
Sialan nih bayi besar, selalu saja aku yang jadi sasaran kekesalannya.
"Semua sudah selesai yang mulia, kau hanya tinggal memoles sedikit lagi saja," sungut Doni.
"Bagus... Kau antarkan lagi ke Apartemenku."
.
.
Metta kembali ke meja kerjanya, dengan menekuk bibirnya kebawah. Menghempaskan tubuhnya begitu saja diatas kursi.
"Bodoh Sha ... Sha! Kau bahkan melewatkan makan siangmu hanya untuk mencari dia, bego banget! kan jadi malu begini. Batin Metta.
Dinda yang mengira sahabatnya tengah sakit dan pergi ke ruang kesehatan itu kaget saat melihatnya sudah berada di ruangan dengan wajah yang kusut.
"Lho, kok ada disini? bukannya sakit...Tuh muka kenapa?"
"Udah sembuh! Gak apa-apa." ketus Metta.
Tanpa diduga Dinda tergelak, "Mungkin bukan sakit sih ini, tapi rindu, jadinya meriang kan tuh badan. Baru sembuh kalau sudah melihatnya." Ujar Dinda yang sempat melihat Doni keluar dari ruangan Farrel, dan dapat dipastikan Farrelpun berada didalam.
"Apaan sih!?"
Dinda menoyor kepalanya, "Rasain tuh bucin, tahu kan sekarang bagaimana rasanya, hahaha...."
"Sialan emang lu,"
Dinda melewati Metta, "Syukurin, emang enak!"
"Sardiiiin ... berisik!"
Dinda tertawa terbahak sampai memegangi perutnya.
Ekhem
Suara deheman menghentikan tawanya seketika.
.
.
Jangan pernah bosan untuk kasih author dukungan yaa.
Terima kasih