
Kini mereka tengah berada di ruang meeting. Farrel, Doni dan Fara serta Tia. Tengah sibuk memutuskan hasil akhir kerja sama mereka, Fara yang akan membuka anak perusahaan di luar kota meminta Farrel untuk menjadi penanam saham sekaligus mendesain gedung.
Tentu saja itu kesempatan besar, karena Farrel lebih suka membangun perusahaan dari nol ketimbang perusahaan yang sudah berdiri kokoh. Persis seperti Alan, tentu saja, hidup dengannya sejak kecil membuat sifat mereka hampir mirip, kecuali masalah kaku dan dinginnya.
Kenapa tiba-tiba aku merindukan Alan sialan! batin Farrel.
Setelah mempelajari mekanisme dan ke inginkan Fara, Farrel setuju, dengan syarat dia akan meninjau terlebih dahulu tempat yang akan dibangunnya nanti, agar dia mudah mendesainnya.
"Tapi sepertinya saya tidak bisa terjun langsung untuk meninjau tempat, biar asisten saya yang pergi ke sana," ujarnya.
"Tentu pak Farrel, saya tidak masalah dengan hal itu, karena saya pun demikian, proyek ini akan saya berikan pada asisten saya Tia, dia yang akan mengurusnya."
Membuat Tia dan Doni yang tengah mencatat poin-poin penting mendongkakkan kepalanya secara bersamaan, mereka terperangah, karena itu artinya mereka akan pergi ke tempat yang sama selama seminggu hanya berdua saja.
"Tapi bos!"
"Bu Fara?"
Keputusan sudah tercetus dari atasan masing-masing, tidak ada daya untuk keberatan apalagi menolaknya.
"Kalian bisa pergi lusa, karena besok peresmian kantor baru kami,"
"Wow... saya salut pada Anda pak Farrel, di usia yang dua kali lipat usia saya, anda sudah memiliki banyak pencapaian yang luar biasa."
"Terima kasih! Jangan terlalu memuji, saya rasa semua orang mempunyai kesempatan yang sama, tergantung orang tersebut bisa melihat kesempatan itu atau tidak."
"Itulah yang saya suka pada cara anda pak Farrel, selalu merendah padahal posisi anda jauh melesat di tempat tinggi."
Farrel hanya tersenyum, sementara dua asisten yang masih sibuk dengan catatannya masing-masing itu tampak terdiam, walau batin mereka yang nyatanya sibuk berbicara, merutuk, dan mengumpat ribuan kata, dengan bibir yang tetap mengatup.
*Kenapa jadi begini sih, kenapa juga malah terjebak dengan cewe aneh macam Tia.
Astaga, entahlah gue harus seneng apa tidak, tapi ini mungkin tidak akan semulus sebelum dia mengetahui gue masang fotonya di wallpaper gue*.
"Baiklah kalau begitu, kita akhiri meeting ini, kita harus mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Ayo Tia."
Fara bangkit dari kursi, disusul oleh Tia, Farrel dan Doni pun ikut berdiri, dan mengangguk saat mereka pergi dari sana.
Doni berlari keluar, mengejar Fara dan juga Tia yang hendak masuk ke dalam Lift.
"Tunggu!"
Fara memicingkan mata ke arahnya, "Apa lagi? Kamu tidak akan mengacau kan? Saya sebenarnya tidak suka Kamu yang menghandle proyek ini, tapi atasanmu mempercayaimu, jadi jangan mengecewakannya."
"Saya mohon maaf sebelumnya, atas ketidak nyamanan anda Bu Fara, tapi saya ingin bicara dengan asisten anda."
Tia terperanjat, sementara Fara yang salah faham melengos begitu saja, "Tia, apa perlu aku menunggumu selesai?"
"Tidak usah bu, aku bisa naik bis untuk kembali ke kantor."
"Baiklah!"
Akhirnya Fara masuk ke dalam lift, dia meninggalkan Tia dan Doni begitu saja.
"Apa yang ingin lo bicarakan?"
"Tolak lah proyek ini! Kita tidak bisa pergi hanya berdua saja."
"Kenapa bukan lo saja yang menolak proyek ini pada atasanmu, ini adalah impianku, jangan coba-coba menghancurkannya."
"Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin pergi berdua saja! Apa nanti kata keluarga lo keluarga gue!"
"Ya udah sih ajak keluarga lo saja, sekalian cucu-cucu dari kakek lo semuanya!"
Tangan Doni mengepal ke udara, dia menahan kesal sedemikian rupa,
"Kenapa lo takut jatuh cinta sama gue?" ucap Tia kemudian.
Doni berdecih, "Cih ... tidak akan!"
"Ya udah, ngapain lo takut!" Tia berlalu begitu saja, dia masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka. "Sombong, lo akan menderita jika lo termakan omongan lo sendiri." gumamnya dengan menatap Doni yang juga menatapnya hingga pintu lift tertutup sempurna.
"Sialan, dia ngomong apa barusan!"
.
.
"Udah beres semua Al?" ujar Farrel dari sambungan telepon.
"Beres, kamu tinggal datang dan nikmati acaranya."
"Emang brother terbaik. Thanks yaa!"
"Kita ketemu besok disana, aku belum bisa ke kantor, urusanku masih banyak."
"Oke Al. Bye."
Ceklek
Metta masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Doni dari belakang yang membawa paper bag.
"Telepon dari siapa El?"
"Alan, sayang!"
Doni meletakkan paper bag itu di atas Meja, membuat Metta mengernyit, "Apa ini Don?"
"Silakan tanya suamimu," ujarnya lalu kembali keluar dari ruangan.
"Dih, kenapa dia?"
"Tidak usah difikirkan, dia kesel mungkin karena aku kasih proyek di luar kota selama. seminggu,"
"Bagus dong sayang, kenapa dia kesel?"
"Dia harus pergi dengan asistennya bu Fara, musuh bebuyutannya dari zaman sekolah!"
"Hm... Doni baru tahu itu kemaren waktu reuni, dan kesel sampai hari ini!" Farrel tergelak.
"Tapi setahu ku Tia baik kok orangnya, mungkin cocok dengan Doni!"
Farrel merengkuh bahu Metta, "Entahlah sayang, aku tidak mengenalnya, satu-satunya gadis yang aku ingin kenal cuma kamu. Dari dulu, aku tidak pernah ada gadis yang aku lihat lebih dari tiga detik!"
Metta menjumput hidungnya, "Mulai deh gombal, konyol apa lagi coba, borong semua!"
Farrel tergelak, dia lantas memberikan paper bag padanya, "Aku ingin kakak mencobanya, mungpung masih ada waktu, kalau ada yang kurang, kita masih bisa memperbaikinya."
Metta membuka paper bag itu, dan seketika matanya membola sempurna, "Apa ini sayang?"
Dia menarik dress berwarna peach yang sangat lembut dan mewah.
"Bagus banget! Memang kita ada acara apa El, sampai aku harus memakai dress ini?"
"Peresmian sebuah gedung,"
"Sayang, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku memakai ini apa orang lain akan menyangka kalau aku pemilik gedung." Metta terkikik.
"Gak apa-apa, sekalipun hanya dalam fikiran, mereka berhak menyangka hal itu. Biarkan saja!"
"Sayang..."
"Aku ingin kakak memakainya, tidak ada bantahan lagi. Mengerti?"
Kalah telak, jika suaminya yang konyol itu sudsh dalam mode serius, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Baiklah, aku akan memakainya! Kapan acaranya?"
"Besok ...!"
"Mana aku pengen lihat undangannya, siapa memangnya, apa kita mengenalnya?"
Kakak ... kakak, sampai tidak menyadari apa-apa.
"Tentu saja kita mengenalnya, kalau tidak mana mungkin kita mendapat undangan, dan undangannya di bawa Doni. Agar kita tidak lupa membawanya besok."
"Baiklah...."
"Sudah sana cobaan!"
Metta mengangguk riang, dia masuk ke dalam toilet dengan membawa paper bag itu. Tak lama kemudian dia keluar dengan dress yang membalut tubuhnya, menyamarkan perutnya ya g buncit namun tetap memberikan efek elegan dan juga sexy.
Farrel terpana melihatnya, "My perpect wife."
"Bagus?"
"Tentu saja, apapun yang kakak pakai luar biasa, aku jadi ingin segera pulang!"
"Kok pulang?"
Farrel merengkuh pinggang Metta, "Huum... aku ingin itu," ucapnya dengan alis yang turun naik.
Metta melepaskan rengkuhan tangan Farrel di pinggangnya, "Iihh...dasar mesum!"
Dia bergegas masuk kembali ke toilet, dan mengganti pakaiannya kembali.
"Kenapa yang dia fikirkan hanya hal itu saja, walaupun aku menyukainya juga." gumam Metta dengan terkikik.
Tak lama kemudian dia keluar dari toilet, dan kembali melipat dress berwarna peach itu ke dalam paper bag nya kembali.
"Kamu paling tahu model yang cocok buat aku El, makasih yaa!"
"Kok makasih doang!"
"Terus mau apa?"
"Cium aku dong!" Farrel menepuk pipinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Sayang, ih kebiasaan!"
"Mau bilang ini kantor kan?" Farrel terkekeh.
"Ya udah, kalau gitu cium aku di lobby bawah!"
"Farrel....!"
"Ruanganku atau lobby? Tidak ada pilihan lain, kalau tidak aku akan ...."
Cup
"Udah tuh! Nyebelin...."
Farrel menyentuh pipinya yang basah, "Eh curang, aku mencuri namanya,"
"Ih mencuri apanya, jelas-jelas itu kamu yang mau!"
Farrel menarik pinggangnya, "Jadi kakak gak mau? Hanya aku yang mau?"
Glek
"Farrel lepasin, aku sesak!"
"Mana mungkin, perut kakak jadi pembatas kita, mana mungkin sesak,"
"Farrel ah... udah, jangan bikin aku malu!" ujarnya dengan tersipu, wajahnya memerah seketika.
"Kalau gak mau, kenapa malu gitu!"
Metta menutupi wajahnya, "Kamu ih!"
"Malam ini aku menunggu Mettasha yang nakal." bisiknya lalu tergelak.