Berondong Manisku

Berondong Manisku
Manisnya mengalahkan gula


Dia berlari kecil dan mengecup bibir Farrel sekilas lalu berlari kembali dengan tergelak,


"Astaga, Ibu hamil semakin berani."


Farrel menggelengkan kepalanya, dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Tindakan tiba-tiba dari Metta yang selalu tidak bisa ditebaknya, membuat nya heran sekaligus bahagia.


Hidupnya terasa sudah lengkap, hanya saja kejadian terhadap Alan yang masih menjadi kekhawatiran terbesar dalam hidupnya sekarang. Bahkan bunda nya sendiri ikut menyalahkan dia atas apa yang terjadi pada Alan, menurut bundanya, seharusnya dia mengingatkan nya sedari dulu. Tanpa dia tahu, rencana besar yang tengah di susun oleh Alan, dan anak buahnya, termasuk Mac.


Farrel kembali menghela nafas, ditenggaknya botol air mineral itu hingga tandas setengahnya, lalu kembali duduk di ruang tunggu.


Setelah menunggu satu jam penuh, akhirnya Metta keluar dari ruangan senam, masih dengan pakaian senam yang baru saja diberikan oleh Farrel, yang bahkan belum di cucinya itu.


"Sudah selesai?" ujarnya dengan menyeka keringat dari dahinya.


Metta mengangguk, senam hamil pertamanya membuat tubuhnya harus menyesuaikan diri terlebih dahulu, beberapa bagian tubuhnya terasa pegal, dengan keringat yang masih membasahi seluruh tubuhnya.


"Cape?"


"Tidak, hanya saja belum biasa, betis ku pegal." ujarnya terkekeh.


"Iya nanti aku pijitin," menyerahkan botol air mineral.


"Benar yaa!" dengan telunjuk yang mengarah pada Farrel.


"Tentu, kapan aku pernah bohong coba?"


Metta menggelengkan kepalanya, "Iya tidak pernah berbohong, tapi tidak mengatakan segala sesuatu dari awal."ketusnya.


"Itu berbeda Sayang!" menjumput hidung mancung Metta.


"Pokoknya pijitin Aku!"


"Tapi ... harus ada imbalannya!" kedua alis Farrel naik turun.


Metta lagi-lagi mencubit pinggang suaminya, hingga beberapa ibu hamil yang juga keluar dari ruangan itu memberikan senyum geli pada mereka.


"Bisa-bisanya!"


Farrel mencubit lembut pipinya, "Aku bercanda!"


.


Mereka akhirnya tiba diapartemen, saat hendak masuk ke dalam, mereka dikejutkan oleh kedatangan Doni,


"Bos ... "


"Aku menyuruhmu istirahat, dan juga merenung, kenapa malah keluyuran?"


"Kalian bicara lah di dalam, jangan disini!" ujar Metta yang melihat raut keduanya yang sulit di artikan.


Akhirnya mereka masuk, Metta membuatkan minuman untuk keduanya, setelah itu dia memilih pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


"Ada yang mau aku katakan,"


"Katakan lah!" Ujarnya dengan menyeruput susu coklat yang baru saja diletakan di atas Meja.


"Aku minta maaf, kau benar! Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, hingga membuat klien kita tidak nyaman, tapi...."


Farrel mengangkat tangannya, menyuruhnya untuk berhenti bicara, "Jika masih ada kata tapi, itu artinya kau masih belum bisa menerima sepenuhnya, lebih baik kau pulang dan kembali merenung, saat kau tahu jawaban nya, baru kau boleh kembali bekerja!" ujar Farrel dengan bangkit dari duduknya.


"Habiskan minuman mu, istriku sudah membuatkannya untukmu!"


Doni masih terpaku di tempatnya, mencoba memahami apa yang Farrel katakan, dia memang menyadari semuanya, tapi dia melakukannya karena masih berharap jika Fara adalah Tiwi.


Tapi....


Setelah menghabiskan minumannya, dia membawa nya ke wastafel, mencuci gelasnya sendiri.


"Lho kenapa dicuci, simpan saja padahal!" ujar Metta yang baru saja turun.


"Tidak apa-apa, aku terbiasa melakukannya, jadi terbawa kemanapun."


Metta mengangguk, "Bagaimana perasaanmu?"


"Entahlah, aku merasa tidak ada alasan untuk hidup saat ini." ucap Doni meraup wajahnya kasar.


Metta menghela nafas, "Aku pernah berada di posisi mu sekarang, tidak terima kenyataan yang terjadi dan mengutuki takdir, marah pada diri sendiri dan juga Alam yang seolah tidak pernah memberikan kita kesempatan."


Doni terperangah, menatap istri dari sahabatnya itu yang berdiri dihadapannya.


"Tapi yang sebenarnya terjadi adalah kita yang terlalu berharap lebih, kamu berharap Fara adalah Tiwi, kamu ingin menebus kesalahan-kesalahan yang pernah kamu lakukan dulu bukan?"


Doni mengangguk, "Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri, gara-gara aku meraka pergi."


"Aku tidak bisa menyalahkan mu, maafkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu, kita tidak bisa melupakan sesuatu yang terjadi begitu saja, tapi kita bisa menerima semuanya,"


"Kau belum pergi juga!" seru Farrel yang menuruni tangga.


Metta membulatkan kedua manik ke arahnya, "El...."


Dia merengkuh bahu sang istri, mencium aroma shampo dari rambutnya. "Apa yang kakak bicarakan dengannya?"


"Terima kasih Kak, Bos ...aku pergi dulu!"


Doni yang tidak nyaman akhirnya kembali keluar.


"Hm....!"


Metta masuk ke dapur, dia mengeluarkan bahan masakan dari dalam lemari es, lalu memanaskannya di dalam microwave.


Farrel memeluknya dari belakang, "Aku tidak suka kakak seperti tadi, bicara hanya berdua dengan laki-laki lain."


Setelah menyetel Timer, Metta membalikkan tubuhnya menghadap Farrel, jarak mereka terhalang oleh perut buncitnya, hingga Farrel tidak bisa merapatkan tubuhnya, dia mengunci tubuh ibu dari anaknya itu, dengan kedua tangan yang menekan meja.


Metta mengalungkan kedua tangannya, "Dia itu sudah aku anggap sebagai adikku, mana mungkin aku menyukai laki-laki yang lebih muda lagi."


Farrel mengernyit, "Terus kakak fikir Aku?"


Metta tergelak, "Aku suka lupa kalau kamu itu masih kecil." ucapnya dengan merekatkan ibu dari dengan telunjuk yang sedikit berjarak.


"Kecil-ku hanya di umur saja! Yang lainnya kamu tahu sendiri."


"Iya ... iya ... punya mu besar, ehh!"


Farrel tergelak kembali, "Kamu semakin nakal yaa!"


Metta tak kalah tergelak, dia bahkan menutup wajah dengan bintik bintik merona karena malu.


"Aku hanya mengatakan pada Doni, berdamailah dengan masa lalu,"


Farrel mengernyit ke arahnya.


"Aku mendengarnya dari laki-laki terkonyol,"


Kedua mata Farrel membola,


"Terkonyol, termanis, sampai manisnya mengalahkan gula, bahkan saling manisnya, aku sampe diabet.


Farrel tergelak, dia mengusap perutnya, "Sayangnya papa, kamu yang bikin mama mu berubah yaa. Hari ini papa merasa mama mu berubah,"


"Iya papa," jawab Metta menirukan suara anak kecil.


"Baiklah kalau begitu, papa akan memberikan hadiah untuk mama mu." ujarnya dengan menggendong tubuh Metta dengan satu gerakan.


"Farrel ... gak mau! Turunkan aku, aku lapar, mau makan!"


Farrel tidak menggubrisnya, dia terus membawanya menaiki tangga,


"Itu Microwave nya belum aku matiin!"


"Biarkan saja, dia akan mati sendiri."


"Sayang, pintu belum di kunci!"


"Kakak lupa, disini pake locked otomatis,"


Mereka tiba di depan kamarnya, "El ... kata dokter Mariska tidak boleh sering-sering!"


"Benarkah? Aku akan menelepon Om Frans, dan menyuruhnya untuk merubah perkataannya menjadi boleh sering-sering."


Metta yang berpegangan pada leher Farrel mencubit lehernya, membuat ga irah Farrel semakin memun cak. Segala alasan dari Metta tidak di gubrisnya, dia tetap pada pendiriannya,


"Ini kan hadiah ku, untuk kakak yang hari ini bersikap manis padaku,"


"Ish... kau ini, mana ada hadiah begituan!"


"Makanya, kita adain sayang,"


Menutup pintu kamar dengan mendorongnya dengan ujung tumit. Lalu berjalan ke arah ranjang, dan menurunkan Metta di sana dengan lembut.


"Kau ada-ada saja!"


.


.


Terima kasih buat yang masih setia❤. Mohon maaf kalau author tidak sempat membalas komen kalian. Tapi pasti di baca kok😙


Maksih juga buat yang tidak lupa like dan komen, kasih gift dan vote nya.❤