Berondong Manisku

Berondong Manisku
Hentikan aku atau tuntaskan sampai selesai.


Farrel mendekati Metta dan meletakkan paperbag yang dia bawa ditepi ranjang. Dan ikut duduk disebelahnya, seketika Metta menggeliat merubah posisi tidurnya hingga jubah bagian atas tersingkap.


Glek..


Farrel menelan ludah saat melihat jelas belahan dada Metta, naluri pria nya tiba tiba muncul, ada sesuatu di bawah sana yang menyeruak tiba tiba.


" Kakak sudah berani nakal ya, kenapa menggoda ku begitu!" gumam Farrel, pada Metta yang jelas jelas tengah tidur itu.


Sebagai pria yang bukan remaja lagi, namun bukan juga pria dewasa. Farrel akui dia menginginkan nya. Bahkan sangat menginginkannya. Farrel mengepal tangan nya menahan gairah dalam dirinya, inilah kali pertama Farrel tak bisa menahan inginnya yang semakin membuncah. Ingin rasanya menyerang dan melahap habis perempuan yang sudah mulai berani nakal terhadapnya itu dan tidak akan memberi ampun jika itu terjadi.


"Ahk..rasanya dengan membayangkan nya saja aku bisa gila."


Namun dengan segera dia menepis pikiran nya itu dan beranjak ke kamar mandi untuk segera menuntaskan nya.


Butuh waktu beberapa menit Farrel berada di kamar mandi dengan dunia nya hingga akhirnya tuntas sudah dan merasa lega.


Tak berselang lama Metta terbangun, dan bersandar pada tepi ranjang.


" Astaga kenapa gue malah tidur lagi."


" Kemana Farrel"


Matanya mencari sosok Farrel yang belum juga muncul, namun dirinya enggan untuk beranjak dari atas kasurnya. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi.


" Ternyata di kamar mandi"


" Dia kan sudah mandi"


Metta mengerdikkan bahu nya.


" Sudahlah kenapa juga aku memikirkannya."


Tatapan Metta berhenti pada sebuah paperbag, dahinya mengernyit.


"Apa itu, mungkin kah itu pakaian buat ku."


Metta segera beranjak dari ranjang dan menyambar paperbag itu, kemudian mengambil apa yang ada didalamnya.


Dress selutut berwarna cream, sangat simple namun juga terlihat mewah.


"Wah, selera nya memang bagus, dan tunggu apa ini?Astaga...dia bahkan menyiapkan ini," dengan wajah memerah Metta mengeluarkan sesuatu, penutup dua benda bulat dan segitiga bermuda untuknya dengan warna senada, yang dia acungkan ke udara dan menempelkan nya pada tubuhnya, memastikan ukuran nya pas atau tidak.


" Cx dia bahkan bisa tau ukuran yang pas untukku " gumam Metta dengan senyum yang terbit di bibirnya yang tipis.


Seketika pintu kamar mandi terbuka, Farrel melangkah keluar, mata nya tertegun melihat ke arah Metta. Pandangannya tertuju pada Metta yang tengah memegang benda benda keramat itu.


Deg..


Deg..


Metta tersentak melihat Farrel yang memaku di tempatnya, sekilas beralih melihat benda yang di pegangnya. Secepat kilat Metta segera memasukan barang nya lagi kedalam paperbag.


" Astaga berkali kali gue malu berhadapan bocah ini" batin Metta.


" Aysss..kenapa harus pula melihatnya, yang tadi saja sungguh menyiksa" batin Farrel.


" Emmph.. kau lihat apa?"


" Aku tidak melihat apa apa."


Metta melangkah menuju kamar mandi.


"Minggir aku mau ganti baju dulu" Metta tertegun karena Farrel menghalanginya. Sedang kan otak Farrel masih belum bisa berpikir dengan baik.


Langkah mereka pun malah saling mengikuti hingga Kaki Metta ke kiri Farrel juga kekiri, dengan cepat kaki Farrel melangkah ke kanan, namun Metta pun ikut pulan ke kanan.


" Ayyyss...kakak diem" Farrel memegang bahu Metta, ketika mereka saling berhadapan.


Metta tertegun, dadanya mulai bergemuruh. Begitu juga Farrel, gelanyar aneh melingkupi mereka berdua.


Sesaat mereka hanya saling memandang, Farrel mendekatkan wajahnya.


" Kakak, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi" bisiknya ditelinga Metta.


Metta menelan ludah, hembusan nafas Farrel tepat di belakang telinganya membuat desir desir ditubuhnya menyeruak.


Dengan gairah yang membuncah Farrel semakin mendekat, tangannya meraih leher jenjang Metta hingga dengan mudah langsung memajukan wajahnya menyambar bibir mungil milik Metta, sementara tangan satunya memegang erat pinggang Metta.


" Aaaahh..." Erangan itu lolos begitu saja dari mulut Metta, perasaan yang begitu dirindukannya. Metta mencengkram kuat baju Farrel, saat tangan Farrel menyusup di balik jubah mandi nya, hingga mendesir hebat, bulu bulu halus dipermukaan kulit seketika meremang, tak disadari Metta sangat menginginkannya pula. Farrel bermain dengan


dua benda kenyal yang membuat Metta semakin mengerang, tanpa melepaskan tautan pertukaran saliva mereka.


Erangan demi erangan keluar begitu saja dari bibir mereka, kian lama kian membuncah. Nafas terengah engah dari keduanya memenuhi ruangan. Tak cukup sampai disitu Farrel membalikkan tubuh Metta hingga menghadap belakang, dengan tangan bertumpuk menempel di tembok.


Bibir Farrel menyusuri leher belakang, kemudian turun menyusuri licinnya kulit punggung Metta. Sementara tangannya masih betah bergerilya di depan kedua benda bulat milik Metta.


" Kakak tidak keberatan??" bisik Farrel dengan suara berat khas ditelinga Metta.


" Lakukan lah, aku sudah tidak tahan" batinnya yang menjawab.


Metta mengangguk.


Dalam satu hentakan Farrel mengangkat tubuh Metta yang terbungkus jubah mandi yang sudah tak karuan itu. Mendaratkan tubuh setengah polos nya ke dalam ranjang dengan lembut bak barang antik mudah pecah.


Metta mengerang saat sentuhan lembut tangan Farrel menyusuri kulitnya.


" Apa kakak yakin melakukan nya denganku"


pertanyaan Farrel membuat Metta kesal, Metta menginginkan nya lebih.


Metta mengangguk lagi, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin segera menyeruak keluar.


" Hentikan aku sekarang, atau tuntaskan sampai selesai, karena aku tak akan berhenti setelah ini " Farrel berseringai.


Metta menggeleng, kemudian mengangguk.


Dia sudah tak tahan lagi.


" Aaahh....Farrel " desahnya saat Farrel.


" Lakukan sekarang, kau sungguh menyiksa ku"


Farrel menyeringai, ini kali pertama untuknya namun naluri pria nya mengalir begitu saja. Dengan bermodal pengalaman hanya dari menonton video saja. Farrel terkekeh membuat Metta bertambah kesal.


" Kakak tidak akan menyesal?" tanya nya lagi.


Tangan Farrel mulai membuka tali yang menjuntaindi jubah mandi yang dikenakan Metta, matanya membelalak melihat indahnya mahluk lemah di depannya, dengan bertumpu satu tangan Farrel mengungkung Metta dibawahnya. Menyusuri dua benda bulat dan tentu saja jejak mulai bertebaran disana.


" Euuhh..." Metta melenguh dan mengerang, saat Farrel mencecap satu benda kenyal bak seorang bayi yang kehausan, sementara satu tangan masih bergerilya di satu benda kenyal sebelahnya.


Tak puas sampai disitu Farrel mulai membuka kedua paha mulus Metta.


" Aaaahkk..." Suara lenguhan membuatnya semakin bergairah.


" Kakak siap" ucapnya dibawah sana.


Metta menekan kepala Farrel dengan perlahan, suara Metta mulai meracau.


Jantung berpacu kencang, dengan nafas saling memburu.


Blesss..


" Aaahhhh..."


Dengan satu hentakan Farrel memasuki Metta, menaik turunkan gerakan dengan lembut. Metta mengerang, melenguh bahkan meracau, begitu pula dengan Farrel. Nafas keduanya saling memburu mengejar sesuatu yang akan meledak.


" Farrel.."


" Farrel.."


" Aaah.... Kakak"


.


.


.


๐Ÿ๐Ÿ


Panas gak, disini cuaca lagi panas๐Ÿ˜‚


jangan lupa like dan komen nya yaa๐Ÿ˜˜