
"Sayang ayoo kita pulang juga" ucap Farrel lembut tak lama dari sejak kepergian Tasya dari tempat itu.
"Huex..huex.."
Doni bertingkah seperti orang yang muntah, saat mendengar Farrel memanggil Metta dengan sebutan sayang.
" Kenapa lo..keselek?"
" Mual gue tiba tiba"
" Kena couvade lo?" Farrel terkekeh.
" Sialan lo, gue mual denger lo ngomong sayang" Doni terkikik, dan tak lama mendapat lemparan kulit jeruk nipis tepat di dahinya.
"Aww..Rel ta api"
" Rasain lo"
" Udah deh kalian ini ribut terus," Metta terlihat jengah. "Gak dirumah, gak di luar apa gak bisa lepas dari keributan bocah bocah" Metta mendengus kesal.
" Ayo kita pulang" Metta hendak beranjak namun tertahan karena Farrel menahan tangannya.
" Sayang.." ucap Farrel, membuat Metta mengernyit, kedua alisnya bertaut.
" Ayo kita pulang sayang, harus nya gitu kak" ucap Farrel meralat perkataan Metta.
Metta terlihat kikuk, kedua manik hitamnya mengedar ke arah kiri dan kanan, menyelidik apa ada orang yang mendengarnya.
" Udah deh ayo"
Sementara Doni masih terkikik melihat sikap Metta yang acuh tak acuh pada Farrel.
.
.
.
Ayu menghentakkan kaki keluar dari ruang kerja suaminya, dengan perasaan yang kacau menuju kamar utama, kemudian duduk termenung di balkon kamar nya, memandang semburat orange yang terhampar diatas awan yang sudah terlihat hampir menggelap.
Sesekali menghela nafas, pikiran nya pun menerawang, mungkin ini belum pasti namun berita yang disampaikan suami dan Alan itu sudah dipastikan akurat.
Farrel?? bocah itu tak pernah menceritakan soal ini padanya, Ayu merasa jauh dengan anak yang selama ini bermanja padanya. Ketakutan nya menjadi saat mengetahui anak bayi nya itu sekarang tengah jatuh cinta. Merasa terlupakan, merasa Farrel telah berubah. Terlihat bulir bening jatuh dari sudut matanya.
sementara diruang kerja Arya masih berkutat dengan berkas laporan dari Alan.
"Ternyata bocah itu bisa diandalkan juga" Seru Arya yang duduk berhadapan dengan Alan.
" Itu lah yah, kehadiran perempuan itu membuat El semakin dewasa, dia bahkan menjadi sering datang ke kantor."
" Sudah dipastikan perempuan itu mengincar harta anak ku saja" batin Arya.
" Bagus juga" Arya mangut mangut.
" Tapi Yah, bagaimana ini? bunda seperti nya shock mendengar El punya kekasih"
" Bunda orangnya memang lebay, sudah jangan kau khawatirkan" tukas Arya kembali memeriksa laporan dari Alan.
" Tapi yah,!" Seru Alan.
" Bunda juga begitu dulu saat adiknya menikah" Arya menggelengkan kepalanya.
" Bisa kau bayangkan jika nanti El ataupun kau menikah, bunda seperti apa?" ucap Arya tanpa mengalihkan pandangan nya pada berkas laporan.
" Meski aku bukan anak kandung kalian?" Seru Alan bergumam.
Kali ini Arya menengadahkan kepalanya, matanya menyorot pada Alan yang tertunduk.
Pletak...
Sebuah pulpen terlempar hampir mengenai kepala Alan.
" Kau ini bicara apa? kau ini anak ayah dan bunda" Suara Arya menggelegar ke seluruh ruangan.
Alan semakin tertunduk, perkataan yang terlontar oleh mulutnya pun bukan hanya menyakiti Arya namun juga sebenarnya menyakiti diri sendiri.
" Jangan kau ucapkan lagi perkataanmu barusan" seru Arya dengan tegas.
" Iyaa yaah...maaf"
.
.
" Nih bocah ilang akhirnya balik kerumah" seru Alan yang berpapasan ditangga rumahnya.
" Apaan sih lo"
" Pacaran sampe lupa waktu lo, dah kayak ospek aja dari pagi buta sampai hampir gelap gini baru pulang"
" Sirik aja lo, makanya cari pacar sana" sahut Farrel terkekeh.
" Sana liat bunda,dari tadi mengurung diri terus dikamar, gue khawatir"
Farrel mengernyit kemudian bergegas menuju kamar sang bunda, " Bun..." Farrel mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
" Bunda, El masuk yaa"
" Bunda kemana, kok tidak ada" Farrel mengedarkan pandangan disekeliling kamar, namun sosok yang dicari pun tidak ada, kecuali pintu balkon masih terbuka.
" Mungkin bunda disana" Farrel berjalan menuju balkon, dilihatnya sang bunda tengah duduk termenung di satu sudut kursi.
Ayu terhenyak saat sentuhan hangat menjalar ditelapak tangan nya. "Bunda lagi ngapain,hem?" Tanya Farrel lembut.
" Gak ngapa ngapain," Suara Ayu terdengar datar.
" Udara disini dingin bun, ayo masuk"
" Bunda masih mau disini"
" Memangnya bunda sedang mikirin apa?"
" Tidak ada" Ayu mengherdikkan bahu.
" Bunda,.." Farrel menelengkupkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Cx Kau ini, sudah punya kekasih masih saja manja" ucap Ayu.
" Apa bunda marah gara gara El punya pacar?"
Ayu terdiam, dari pertama mendengar kabar itu hatinya merasa tak karuan.
Ayu menghela nafasnya "Jauhi dia El, bunda gak mau kamu dekat dengan wanita itu"
Farrel tersentak, seketika menengadahkan kepala nya " Bunda..,bunda bahkan belum mengenalnya" Farrel beranjak dari duduknya.
" Apapun alasan kamu bunda tetap tidak setuju" bunda berdiri dan beranjak dari duduknya, meninggalkan Farrel yang hanya bisa diam mematung mendengar apa yang dikatakan ibunya.
" Maafkan Bunda nak, ini semua bunda lakukan untuk kebaikanmu" batin Ayu, melihat Farrel dari belakang pintu.
Tidak ada keinginan Ayu melukai hati anak nya, namun hal ini harus menjadi pilihan nya. Farrel menyusul Ayu masuk kedalam. " Tapi kenapa bun, setidak nya kasih El alasan bunda tidak setuju, bunda saja bahkan belum mengenalnya"
" Bunda tidak ingin kamu kecewa nantinya" Ayu duduk ditepi ranjang.
" Bunda, kakak orang yang baik"
" Semua orang akan memperlihatkan sisi baiknya saja diawal El"
" Tapi Kakak bukan perempuan seperti itu bun, bunda harus mengenalnya baru bunda akan tau seperti apa dia" Farrel bersujud memegang tangan Ayu.
" Kamu masih terlalu kecil El, sedang kan dia?dia perempuan dewasa, perempuan matang nak!" Ayu menghempaskan tangan Farrel yang masih erat memegangnya, keinginan nya memeluk anak kecilnya itu pun ditahan nya, hatinya sungguh teriris.
" Tapi El mencintainya" Farrel tertunduk lemas, saat hubungan nya dengan Metta baru saja dimulai dan semakin membaik, justru masalah timbul dari sang bunda.
Apa jadinya suatu hubungan tanpa restu orangtua, apalagi restu sang ibu. Fikiran Farrel kacau seketika, sekelebat bayangan Metta tengah tersenyum terlintas begitu saja, berganti sosok Bunda yang ada dihadapannya.
Entah apa yang harus dilakukannya, Farrel merasa dalam kebingungan, diantara 2 perempuan yang ada dihatinya. Farrel sangat mencintai bunda namun Farrel juga tidak ingin kehilangan Metta.
Farrel tertunduk lemas, beranjak keluar meninggalkan kamar Ayu. Menuju kamar nya yang berada di sebrang tangga, membuka pintu kamarnya dengan lesu, kemudian menguncinya dari dalam. Ingin marah namun hatinya tak berdaya jika menyangkut sang bunda. Menangis, itulah yang Farrel bisa lakukan. Bulir cairan bening itu meluncur dengan cepat dari pelupuk matanya.
.
.
.
#Sindrom couvade itu adalah gejala yang dirasakan justru oleh para suami atau laki laki sebagai bentuk kehamilan simpatik seperti yang dirasakan saat istri
mengalami gejala kehamilan, seperti mual atau morning sickness yaa.
Jangan lupa like, komen dan terus dukung karya remahan rangginang ini dengan tekan Favorit dan rate 5 yaa guyz. jangan lupaa..
Makasih😘