Berondong Manisku

Berondong Manisku
Titik terendah seorang Faiz


"Sha, kau kah itu?" lirih Faiz dengan kelopak mata yang terkulai.


Metta mengangguk pelan, dia masih belum percaya. Pria tegap yang beberapa waktu lalu masih memperlihatkan ancaman dengan beraninya. Kini, bak pesakitan yang tak terurus.


"Kenapa dia Dok?" tanya Farrel pada Dokter yang baru saja membuka pintu.


"Depresi, lebih tepatnya Major Depressive Disorder!"


"Apa itu Dok?" selidik Metta penasaran.


"Pasien trauma dengan rasa kehilangan yang teramat sangat dan perasaan bersalah yang tinggi, yang dipendam nya sejak lama."


"Dari hasil catatan medis, dia kehilangan semangat hidupnya, bahkan belum tidur selama seminggu belakangan, hanya melihat langit-langit seperti sekarang ini, atau hanya melihat kearah satu benda saja."


"Tapi, baru saja dia memanggil namaku."


"Itu mungkin karena ada satu memory kuat yang terhubung, maka dari itu saya memanggil kalian kesini."


"Mungkin dengan itu dia bisa kembali seperti semula."


Metta dan Farrel silih menatap, lalu beralih kembali menatap Faiz. "Ajaklah bicara serileks mungkin," ucap Dokter menepuk bahu Farrel.


"Dia membutuhkan support dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Tapi, saya lihat dari data kepolisian dia tidak mempunyai keluarga dekat."


"Siapa tahu kedatangan kalian membuat keadaan pasien membaik. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih Dok."


Farrel mengusap lembut punggung Metta, seolah tahu apa yang dirasakan kekasihnya itu.


"El, apa dia akan baik-baik saja."


"Cobalah kakak berbicara dengannya," Farrel mendekati ranjang tempat Faiz terbaring. Sedangkan pupil mata Faiz hanya berfokus pada Metta.


"Halo Faiz, lo akan baik-baik saja, jangan menyerah oke." menepuk bahu Faiz.


Namun Faiz sama sekali tidak merespon, dia kembali menatap langit-langit, yang sesekali menitikkan air bening dari ujung matanya.


Metta mendekat, menggenggam tangan yang terasa dingin itu. "Mas?" Ujung netra bergerak mengikuti arah suara, namun tidak ada kata yang terlontar dari kulit tipis yang mulai mengering itu.


Tak ada kata yang mampu keluar dari mulut Metta, hatinya merasa teriris melihat keadaan Faiz sekarang.


Farrel menyentuh bahu Metta, "Aku tunggu diluar, siapa tau dia nyaman bicara dengan kakak." Metta pun mengangguk, "Terima kasih."


Metta menarik kursi, lalu mendudukinya, menghadap tubuh tegap yang tengah terbaring. Meski netra mereka kini bertemu, namun tatapan dari Faiz seolah tak ada artinya.


Metta melirik makanan yang belum tersentuh sedikitpun. "Mas, belum makan yah. Mau aku suapin?" Metta meraih tempat makan dan menyendoknya.


"Ayo, buka mulutmu."


Namun Faiz sama sekali tak membuka mulutnya, dia hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Ayo makan Mas, biar cepet sembuh." Faiz menggeleng lagi.


"Atau Mas mau aku pesanin makanan dari luar? Mas mau apa?" Metta merogoh ponsel dari dalam tasnya.


Faiz tetap tak bergeming, seolah langit-langit ruangan lebih nyaman dilihat.


"Mas tau kan, aku juga pernah kehilangan sosok ayah. Dan sebagai anak pertama di keluarga, aku merasa gagal karena tidak bisa memberikan yang terbaik semasa beliau hidup." menyendokkan sedikit bubur pada mulut Faiz yang tidak menolak.


"Saat itu aku juga hancur, kehilangan arah hidup dan tidak tahu harus berbuat apa." menyuapkan lebih besar bubur kedalam mulutnya yang mulai mau mengunyah.


"Aku kecewa dengan predikat anak pertama dengan segala tanggung jawab dipundakku waktu itu."


"Dan aku merasa tidak berguna, putus asa, kecewa pada keadaan juga." Faiz mulai mengunyah dan menelan tanpa penolakan.


"Dan aku juga tersiksa dengan perasaan itu."


"Mas tahu? Suatu hari aku sadar, mungkin ayahku diatas sana tidak akan suka melihat anak yang harusnya menjadi tumpuan keluarga ini ternyata gagal dan tidak bisa diandalkan."


"Beliau akan sangat sedih melihat anak laki-laki kebanggaannya seperti ini."


Metta mengelap ujung bibir Faiz dan mulai menyuapinya lagi hingga bubur dalam mangkuk itu tandas setengahnya.


"Besok aku bawakan masakan yang paling Mas suka, Mas mau kan?" Faiz tidak menanggapi sama sekali.


"Ayam betutu extra pedas, ee...eum membicarakannya saja aku jadi sangat lapar."


"Bagaimana Mas mau?" Faiz lagi lagi tidak merespon.


"Cepet sembuh ya Mas, jangan sia-siakan apa yang sudah ibu dan ayah Mas ajarkan, Mas harus kuat."


Faiz mulai merespon, bibirnya mulai bergetar. Seperti hendak berucap sesuatu namun masih tercekat di tenggorokan, hanya bulir bening yang turun semakin drastis di wajahnya."


"Jika Mas ingin menangis, menangislah Mas, keluarkan sakit yang Mas rasakan." Metta mengelus lengan Faiz.


"Semua orang pasti sering berlaku egois, pada orang lain, maupun pada dirinya sendiri. Dan itu sifat manusia. Jadi Mas jangan berkecil hati ya." Metta kali ini menyendok obat yang sudah disediakan perawat, lalu Faiz menekannya tanpa paksaan.


"Obatnya harus diminum teratur ya, agar Mas bisa kembali sehat dan menjalani semuanya dengan ikhlas."


Faiz mulai menggenggam tangan Metta yang menggenggamnya, namun mulutnya masih belum mau mengatakan apapun.


"Maafkanlah diri Mas sendiri, dan juga ayahnya Mas."


Faiz mulai mengangkat jemari Metta, kemudian dia simpan di dadanya. Metta mengukir senyum di bibirnya. "Aku juga sudah memaafkan mu Mas, bahkan sebelum Mas meminta maaf."


Sementara Farrel yang merapatkan dirinya di balik pintu mendengarkan semua yang dikatakan Metta, sudut bibirnya terangkat, hingga melengkung penuh.


"Inilah yang aku suka dari kakak, mudah memaafkan meski tahu itu menyakitkannya."


Kemudian Farrel masuk kembali kedalam kamar yang Faiz tempati. Merangkul Metta dan mengecup pucuk rambutnya.


Metta mendelik penuh heran, seolah berkata "Jangan macam-macam."


Farrel pun tidak bersikap berlebihan seperti biasanya, saat melihat tangan kekasihnya masih di genggaman Faiz, dia hanya tersenyum, melihat Metta yang sontak kaget menatap dirinya. Kali ini dia mampu bersikap dewasa.


" Tidak apa-apa." lalu mengangguk. Membuat Metta kembali merasa lega. dan dia mulai pandai menempatkan dirinya.


"Kita pulang sekarang?" Metta mengangguk.


"Mas aku pulang dulu ya, besok aku kemari lagi." Menatap ke arah Farrel seakan meminta pendapatnya.


"Iya, besok kita akan kemari lagi, kalau perlu setiap hari kita kesini untuk menemanimu oke. Dan apa tadi? kesukaanmu? ayam betutu ya..."


Faiz kali ini menggerakkan pupilnya kearah Farrel yang melangkah mendekati tepi ranjang. Dia mencondongkan tubuhnya kearah Faiz, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.


"Bukankah kamu ingin mengalahkanku dalam bisnis? sembuhlah dengan cepat, aku butuh Rival bisnis yang sepadan." Farrel menepuk-nepuk bahu Faiz.


Manik hitam Faiz terlihat berbinar, dia mengangguk pelan kearah Farrel.


"Mas, kita pamit pulang dulu ya."


"Inget bro, yang aku katakan." tunjuk Farrel dengan membuka pintu lalu menghilang di baliknya.


"Apa yang tadi kamu bisikan?"


"Rahasia...."


.


.


Jangan lupa like dan komen di karya receh ini ya, terus dukung karya Author remahan ini.


Makasih❤