
Doni masuk begitu saja ke dalam ruangan Farrel, dia mendengus kesal berkali- kali. Sementara Farrel menatapnya dengan heran.
"Apa lagi sekarang? hidup mu jadi tidak tenang begitu!" ujar Farrel menutup laptop yang tengah digunakan mendesain sketsa.
Doni berdecak, "Gimana aku bisa tenang coba? Tuh wanita licik sangat mengangguku, dia bilang dia ingin pulang, tapi malah mengajakku mencari makan," mendengus kasar.
"Dan kau tahu, saat kita makan, dia tidak mau, katanya aroma makanan itu membuatnya mual, " Ujarnya dengan tangan memukul udara,
"Kesel tahu gak Rel, rasanya aku ingin melemparkan kuah dalam mangkuk itu pada wajahnya." sambungnya lagi, lalu mengacak rambutnya.
Farrel tergelak, " Itu resiko yang harus kau terima, suruh siapa melakukan hal yang tidak boleh dilakukan, sembarangan sih! tau rasa kan sekarang, makanya dijaga tuh cacing mu."
"Kayak aku, aman kan mau ngelakuin kapan dan dimanapun aku mau." ungkapnya lagi, dengan kedua alis yang naik turun.
"Aahkk...aku jadi kangen istriku!"
Doni berdecak, "Iya, aku tahu, aku salah ... terus aku harus bagaimana sekarang, jijik banget tahu gak, liat mukanya aja bikin aku mual."
Alih-alih menjawab Doni, dia malah mengambil foto Metta yang terletak di atas meja, lalu memandanginya, dengan senyum yang tiba-tiba saja terukir.
"Bos, nanti dulu lah, lihatin fotonya, lagian juga dia tidak akan kemana-mana. Nanti malam juga bisa di peluk, kau ini memang tidak peduli dengan sahabatmu ini." ketus Doni.
Suara ketukan di pintu terdengar, Mac menyembulkan kepalanya,
"Kita pulang sekarang atau nanti?"
Farrel melambaikan tangannya, "Mac kebetulan kau datang, kau dari mana?"
Mac berjalan masuk, dia berdiri dihadapan Farrel namun sekilas kedua matanya menatap Doni yang tengah terlihat frustasi itu.
"Dari rumah sakit Mas, Leon di rawat, dia terluka parah oleh Alan." jawab Mac.
Farrel mengernyit, " Alan, ngapain dia sampai membuat Alan semarah itu?"
Mac menggelengkan kepalanya, "Lebih baik Mas tanyakan saja pada Alan sendiri, aku tidak berhak menjawabnya."
Farrel terlihat mengangguk-ngangguk, lalu dia melirik Doni yang sedang menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau bantu si anak bodoh itu Mac! Lihatlah, hidupnya berantakan gara-gara seorang wanita ular."
Farrel menoleh pada Doni, "Heh, anak bodoh, ceritakan pada Mac semuanya, mungkin dia bisa membantumu, aku mau pulang dulu."
Farrel membereskan meja kerjanya, sementara melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kau ini, bukannya membantuku, kau malah pergi begitu saja! Dasar...."
"Kau mau bantuan apa lagi? Kau sudah aku beri ijin untuk tidak masuk dulu kantor mulai besok, selesaikan urusanmu sampai beres, dan Mac akan membantumu." ujar Farrel yang ikut mendaratkan tubuhnya di sofa sebelah Doni.
"Besok aku akan mengajaknya ke suatu tempat, tapi aku butuh bantuanmu Mac, aku tidak yakin itu jika itu adalah anakku."
"Hah...."
Mac yang baru tahu itu pun terhenyak dengan apa yang di katakan Doni,
"Pantas saja kau terlihat acak-acakan begini, wajahmu juga kusut. Udah kayak baju belom di setrika." Mac tergelak.
Namun Farrel dan Doni menatap nyalang ke arahnya.
"Tidak lucu sama sekali Mac, kau garing sekali."
ujar Doni ketus, sedangkan Farrel hanya diam namun sorot mata coklatnya menajam, bak menusuk tepat di jantung hati Mac.
"Hibur dia Mac, bukannya malah bercanda! Tidak hanya kusut, dia juga bodoh."
Doni berdecak, "Kalian sama saja, astaga...."
.
Doni kemudian menceritakan semuanya pada Mac, mulai dia bertemu pertama kali saat di ruangan Farrel saat di Divisi umum, Tiwi yang berniat menggoda Farrel, dan malah dirinya yang membalasnya, kemudian pertemuan saat dia mencari info tentang Tasya, itu juga karena perintah Farrel.
"Kau ingat, semua tugas dari mu yang membuat aku terjebak dalam masalah ini! Dan kau ingin pulang begitu saja," ujarnya bergeleng kepala.
Farrel menoyor sahabatnya yang bodoh itu, "Masalahnya bukan dari perintah yang aku berikan padamu, tapi dari dirimu sendiri, kau tidak berfikir sebelum melakukannya, kenapa malah menyalahkan orang lain?"
Doni mendengus,
"Aku akan membantumu, berikan foto wanita ular itu, aku akan menyelidikinya. Tapi jika benar anak yang dia kandung itu benar adalah anakmu, mau tidak mau kau harus bertanggung jawab, nikahi dia, jangan mengorbankan seorang anak yang tidak sama sekali berdosa, kau paham kan?"
Doni mengangguk, berbicara dengan Mac sedikit menenangkan, mungkin karena dia lebih mengerti, dia juga berpengalaman darinya, dari pada dengan Farrel yang dia juga tahu, dia sama sepertinya, bahkan Farrel lebih parah, dia sama sekali berhubungan dengan siapa pun, kecuali dengan Mettasha.
"Biar aku mengurus nya, kau lakukan saja tugasmu, aku akan segera mencari tahunya." ujar Mac yang membuat Doni semakin tenang,
"Terima kasih Mac, kau sungguh peduli padaku."
"Jangan sungkan, kita ini sudah seperti keluarga, walaupun kau terasa menjadi saudara tiri bagiku." ucap Mac dengan ketus.
"Heh ...kau ini!" tapi aku sungguh mengandalkanmu Mac." ujar Doni.
"Nanti aku akan mengirimkan fotonya padamu." lanjut Doni.
Farrel yang kini mengotak-ngatik ponselnya itu, menoleh kembali ke arah Doni.
"Kenapa kau tidak memintanya sekalian, kau bahkan tidak menyimpan foto ibu dari anakmu? Keterlaluan."
"Seandainya saja kau bukan bos ku aku sudah menghajarmu saat ini."
Mereka sama- sama tergelak, Doni sejenak melupakan ketegangannya karena masalah yang dia hadapi.
.
.
Mac mengirimkan foto Tiwi pada seseorang, lewat pesan singkat.
'Cari tahu tentang kegiatannya selama kurun waktu dua bulan ke belakang.'
Lalu Mac mengirimkan pesan singkat itu. Dia lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kita tunggu saja kabar dari orangku, kita akan tahu segera, tapi kau juga harus siapkan mental mu."
Doni membasuh wajahnya dengan kedua tangan, tidak ada pilihan lain lagi, jika memang benar, berarti dia akan menikahinya.
Membayangkannya saja tidak pernah, ini karena aku terlalu bodoh.
Farrel berdiri, dia bersiap untuk pulang,
"Sudah kan? kau tenang saja, bersikaplah sebagai seorang pria sejati." ujarnya dengan menepuk dadanya sendiri.
Farrel keluar dari ruangannya, dia menuju ruangan Alan, dan melihat meja sekretaris Alan sekaligus kekasihnya itu tetap rapi semenjak terakhir siang dia melihatnya.
"Al ... kau di didalam?" ujarnya dengan masuk kedalam.
Alan menoleh, "Ada apa? Mencari istrimu? mereka belum kembali, mereka pasti bersenang- senang! Dasar wanita,"
Farrel menghempaskan tubuhnya di sofa, "Aku mencarimu."
"Ada apa?"
Alan lantas menyusulnya dengan mendaratkan tubuhnya juga di sofa.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, ini mengenai rencana bunda yang ingin segera memberikan mu jodoh, jika kau tidak membawa kekasihmu pada ibu dalam satu bulan kau ingat?"
Alan mendengus, "Aku akan menikah, tapi tidak untuk waktu dekat ini! Kau faham... katakan juga pada bunda, kalau bunda tetap memaksa, aku tidak mau lagi pulang ke rumah,"
Farrel bergidig, " Katakan saja sendiri! aku tidak mau ikut campur, kenapa kau tidak membawa dia ke rumah, kau tidak berniat menikahinya? kau hanya main-main begitu?"
"Sudahlah, berhenti membahas tentang Maslah itu, apa kau sedang memerintahkan Mac mengawasi seseorang?"
"Dari mana kau tahu," Farrel berdecak, "Aku lupa kau ini serba tahu,"
"Iya ... ini mengenai Doni, dia sedang ada masalah dengan seorang wanita yang mengaku hamil olehnya."
Alan berdecak, "Bodoh !!"
.
.
Farrel keluar dari ruangan Alan, dan kaget saat melihat istrinya tengah tertawa dengan sahabatnya dia meja kerja.
"Sayang ... kenapa kembali kesini? Bukannya tadi bilang akan langsung pulang?"
Metta langsung menarik lengannya, "Iya ... karena Dinda yang terus mengoceh saat berkendara, saking serunya kita baru sadar saat berada di bawah...." ujar nya terkekeh.
"Hei, kenapa kau menyalahkan ku, kau yang terus berbicara, aku hanya menjawab pertanyaan mu saja." sangkal Dinda.
"Dasar aneh...! Ya sudah mari kita pulang saja," Ujarnya merengkuh bahu sang istri.
"Dan kau, bersihkan mejamu, kenapa kau suka sekali menempel memo kecil seperti itu. Sungguh aneh!"
Metta terkikik dengan menatap Dinda yang merengut, "Manis sih manis, tapi dia selalu sinis padaku. Bagaimanapun juga aku kan calon kakak iparnya." lalu terkikik.
"Sayang kok gitu sih ngomongnya?" ujar Metta saat mereka masuk kedalam mobil.
"Entahlah, dia itu sungguh aneh,"
"Tapi Kakak mu menyukainya lho, jangan lupa! ujar Metta mengatupkan mulutnya.
Farrel tergelak, "Karena mereka sama- sama aneh apalagi!"
"Hm... oh iya aku tadi melihat Doni dan Tiwi jalan berdua, kau tahu apa yang terjadi pada mereka? apa mereka sedang berkencan?"
Farrel menyalakan mesin mobilnya, dia menghela nafas, "Lebih dari itu...."
Dengan kedua alis yang bertautan, "Hah, lebih dari itu apanya?"
"Entahlah, aku juga pusing memikirkan anak bodoh itu!"
Metta semakin heran, dia tidak tahu maksud perkataan suaminya itu apa. Dia juga tidak bertanya lebih lanjut.
"Tidak usah kakak pikirkan kedua orang itu, lebih baik kakak pikirkan tentang aku saja." ujarnya dengan mengecup tangan yang digenggamnya.
"Kau ini kan ada di sini, kenapa aku harus memikirkan mu! Dasar aneh...."
"Ah iya aku lupa, bagaimana kalau kita pikirkan tentang anak saja." ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"El...."