
"Aku mau mandi!" ujar Metta dengan berlari.
Metta masuk kedalam kamar mandi bermewah yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya. Lantai yang terbuat dari marmer dan ukiran-ukiran pada dinding kamar mandi yang membuatnya tertegun.
"Kenapa kamar mandi dua kali lipat lebih bagus?" gumam Metta yang langsung mengisi Bathtube hingga penuh, lalu perlahan melucuti pakaiannya dan masuk kedalam bathtube yang hangat dan berendam disana.
Metta menyandarkan punggungnya, menikmati aroma terapi yang menenangkan, tanpa menyadari jika Farrel sudah masuk kedalam kamar mandi yang tidak terkunci itu.
Dia juga mulai melucuti pakaiannya sendiri lalu perlahan masuk kedalam bathtube yang sama.
"Aaaaa...astaga, kau membuatku kaget!" Teriak Metta.
Dia melonjak kaget karena Farrel yang sudah berada di dalam bathtube yang sama dengannya, Farrel terkekeh,
"Kapan kamu masuk? Astaga," Metta menutup tubuh bagian depannya.
"Baru saja masuk," Farrel kembali terkekeh.
Metta berdecak, "Aku lupa mengunci pintunya!"
"Kakak tidak lupa kok, pinyu kamar mandi ini memang tidak didesain dengan kunci di pintu nya,"
Membuat Metta mengernyit, "Kenapa?"
Farrel meraup wajah Metta dengan tangannya, "Kakak lupa, hotel ini memang di desain khusus untuk orang-orang yang memang datang untuk honeymoon."
"Pantas saja kamar mandi ini jauh lebih mewah dibanding ruangan lain, udah seperti kamar saja." sungut Metta yang masih menutup tubuh bagian atas dengan kedua tangan.
"Kenapa masih ditutup, toh aku sudah melihatnya," ujar Farrel menarik tangan Metta.
"Jangan aku malu!!"
Farrel mendesis, "Malu sama siapa hem? Aku ini gak malu walau kakak melihatku dengan bebas. Aku kan suamimu."
Ah geli sekali mendengar dia mengatakan hal itu.
"Ya walaupun begitu aku malu, kamu kan meamng gak tahu malu! Lagi pula ngapain juga kesini! Benar-benar malu tahu gak." sungut Metta.
Farrel hanya terkekeh melihat Metta yang masih kesal itu, lalu dia membalikkan tubuh Meta hingga membelakanginya.
"Mau ngapain? El lepas ih..."
"Aku hanya ingin menggosok punggung mu. Setelah itu gantian kakak yang menggosok punggungku," ucap Farrel yang menggosok punggung nya.
Acara gosok-menggosok tidak kuncung selesai karena sudah dipastikan acara berlangsung lebih dari pada sekedar menggosok punggung.
Farrel tidak bosan bermain di dua benda bulat Milik Metta dari arah belakang. Membuatnya menggelinjang diantara sensasi hangatnya air yang semakin memanas karena sentuhan lembut dari genggaman tangan Farrel di benda bulat miliknya.
Dengan mencecap tengkuk bagian belakang Metta semakin dalam, Farrel merekatkan pelukannya hingga membuka lebar kakinya agar Metta terduduk di antara kedua kakinya .
"Ini benda yang aku suka!" Bisik Farrel dengan suara serak.
Metta menggelinjang, "Aku bilang hanya menggosok punggung, dasar ... apa kau tidak lelah?"
"Ini juga bagian dalam menggosok punggung!" Farrel terkekeh.
Semakin lama tangan Farrel semakin berkeliaran ke segala arah, membawa Metta kembali melambung karena sentuhan lembut dari genggaman tangan hangatnya.
Hingga tanpa sadar dia mengerang, membuat Farrel semakin menjadi hanya karena mendengar de sa han dari sang istri. Farrel mengangkat tubuh Metta menghadap dirinya, dengan rakus dia mencecap benda bulat itu dan mere masnya bersamaan. Sementara tangan yang satu tengah memilin benda bulat yang satunya lagi.
Eeuggh...
Farrel menggeram, saat melesakkan benda keras yang telah berdiri kokoh itu kedalam rumah nya. Merasakan kembali sensasi dari sebuah gelanyar hebat yang menyerang pusat inti. Masuk kedalam ruang kendali dan siap meluncurkan rudalnya ke luar angkasa.
"El...." gumam Metta
Dengan bibir yang sedikit bergetar, lengguhan itu akhirnya lolos begitu saja, dengan posisi duduk di pangkuan Farrel yang semakin sibuk bak bayi kehausan, sementara tanganya melingkar dipinggang Metta. Menjalari punggung dan kumpulan daging yang membuatnya semakin tinggi di awan dan bersiap meluncur keluar angkasa.
Lagi-lagi mereka saling berpegangan erat untuk terbang mencapai puncak nirwana, gerakan-gerakan mulai melambat dengan diiringi geraman dan lengguhan dari bibir keduanya.
Aaahhgggkk.. Eeugghhh.
Lolongan panjang keduanya terdengar, itu berarti tanda mereka telah sampai di nirwana dan siap melambung sangat tinggi di pusat ini, dan bergerak tanpa komando.
Lalu dia kembali melesak masuk dan menyusuri lapisan-lapisan didalam nya, dan siap meledak bersama di udara, Lagi dan lagi.
Dengan nafas yang memburu, Farrel menempelkan dahi yang kini basah bercampur peluh keringat, lalu mengecup keningnya beberapa saat dan semakin dalam.
"Tuh kan mandinya jadi lama!!" ujar Metta dengan mendorong dada Farrel dengan kedua tangannya.
Farrel terkekeh, lalu membilas tubuh Metta dengan air dari shower. "Biar aku bersihkan."
"Cuma bersihkan, gak ada yang lain! Aku lelah dan lapar." sela Metta mengingatkan.
"Iya sayang."
Dan acara berakhir, Farrel membungkus tubuh polos yang semakin banyak titik kemerahan dan membuat Metta berdecak. Lalu keluar begitu saja dengan tergelak.
"Dasar...." gumam Metta dengan bibir yang mengukir sedikit senyum.
.
.
Setelah berganti pakaian mereka menikmati hidangan yang entah makan siang atau sore, lagi-lagi mereka melupakan jam makan karena sibuknya kegiatan baru yang menyenangkan bagi para pasangan yang baru saja menikah.
"Tuhkan kamu jadi lupa cerita sama aku tentang Doni dan juga Andra, iihh nyebelin tahu gak!" ujar Metta dengan mencebikkan bibirnya.
Farrel menggaruk kepalanya, "Aku fikir kakak sudah lupa, ternyata masih ingat."
"Ayo cerita sekarang!"
"Habiskan dulu makanan nya, baru cerita yaa!"
"Cerita aja, aku juga pasti akan makan. Bukan karena kamu tapi karena aku sangat lapar."
Farrel terkekeh, dengan jawaban istrinya yang selalu ketus. Sementara sejam yang lalu masih mengeluarkan suara merdu yang terdengar sangat indah di telinganya.
"Iya makan dulu saja ya sayang! Nanti cerita nya," ucap Farrel
Dia yang sebenarnya mulai takut bercerita, karena sudsh dipastikan Metta akan kesal atau pun marah saat mendengarnya. Padahal dia sudah mengulur waktu agar Metta melupakan rasa penasaran nya terhadap kejadian dibalik pernikahannya yang mendadak.
Metta menghabiskan hidangan dipiringnya dengan cepat, karena perutnya merasa sangat lapar dan tenaga nya terkuras habis. Setelah selesai dengan makan nya mereka menikmati pemandangan dari balkon kamarnya. Menatap langit negara yang memiliki banyak iklim itu, yang saat ini mereka beruntung karena iklim sedang bagus dengan hari yang cerah dan angin sejuk.
Metta yang duduk berselonjor menghirup udara sebanyak-banyaknya menggantikan pasokan udara dalam paru-parunya dengan yang baru dan segar.
Sementara Farrel berdiri memandang gadis berego tinggi yang sekarang menjadi miliknya. Istrinya dengan segala tanggung jawabnya.
Metta yang menyadari Farrel yang terus memandang kearah nya pun hanya bergeleng kepala. "Tidak mau bercerita, malah ngeliatin terus kayak gitu! Kenapa sih... benar-benar ada yang kamu sembunyikan dari ku kan?" Ujarnya semakin penasaran.
Farrel menggeleng dan menjulurkan lidah, "Memang nya tidak boleh, aku kan bebas memandang kakak sekarang."
"Ya...ya...terserah kamu saja sayang!" Ketus Metta.
"Jadi Doni itu aku kasih apartemen ka--karena dia berhasil...."
Metta mengernyit, giliran aku tidak bertanya, dia malah ngomong.
"Berhasil karena?"
Dengan takut-takut, " Membuat Andra terpilih jadi Tim atlet yang akan menggantikan tim Doni yang harus mengikuti turnamen lainnya,"
"Benarkah hanya itu?"
Farrel mengangguk, "Just that."
"Ohhh...." Metta hanya beroh ria.
Maaf sayang, aku hanya menghindari resiko terberat yang aku terima nanti jika kamu tahu yang sebenarnya.
Metta menghampirinya, dia melingkarkan tangannya di pinggang Farrel dan mendongkak, " Terima kasih yaa...."
Farrel mengangguk dan kembali menempelkan benda kenyal itu sekilas namun sangat dalam.
"Sama-sama istriku."