Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bersenang-senang


Farrel menjatuhkan tubuhnya di kasur, sementara Metta masih tergelak, dengan berjalan ke sana kemari.


"Kakak cari apa? Cepatlah...."


"Sabar sayang,"


Metta tengah mencari sesuatu, membalikkan bantal sofa, menyibak selimut. Masuk kedalam walk in closed Lalu kembali lagi berjalan mendekat ke meja rias.


"Sayang cari apa sih?"


"Remote televisi sayang, kamu melihatnya tidak?"


Farrel mengernyit, ternyata istrinya terlihat sibuk itu hanya karena mencari remote televisi.


"Ini, ada di sini kok sejak tadi!"


Metta berdecak, "Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, aku sudah mencarinya kemana-mana."


"Aku gak tahu kakak mencarinya, kakak juga tidak bilang!" ujar Farrel dengan mendengus.


Metta merebut remote dari tangan Farrel, dengan tersungut dia kemudian menyalakan televisi dan memilih musik karoke. Membuat Farrel semakin mengernyit.


"Kakak, kenapa malah mau menyanyi! Tadi bilangnya kita akan bersenang-senang."


"Iya ini maksud ku, dengan berkaroke, bukankah kita bersenang-senang?" ujarnya dengan mulai memilih lagu.


Lagu pertama yang dia pilih, membuatnya terkikik. Lalu mengedipkan sebelah matanya pada Farrel.


Cuma kamu sayangku didunia ini,


Cuma kamu


Membuat Farrel tergelak, gaya Metta dengan berkali- kali mengerling ke arahnya membuat dia bergidig sendiri.


"Kakak ganti gak lagunya, astaga!"


Metta tergelak, "Sini, kau juga harus bernyanyi dong." ujarnya melambaikan tangan.


Farrel hanya menggelengkan kepalanya, "Kakak saja sendiri, jangan mengajakku."


Metta kemudian memilih lagu kedua,


"Setiap ada kamu mengapa jantungku


Berdetak lebih kencang,"


Metta menunjuk ke arah Farrel.


"Seperti genderang mau perang,"


"Astaga kakak...."


Metta terkekeh, namun dia belum mau berhenti, malah semakin mendekat ke arahnya dengan mata menggoda.


Setiap ada kamu mengapa darahku


Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala


Setiap ada kamu otakku berfikir


Bagaimana caranya untuk berdua bersama kamu


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Aku sedang ingin bercinta karena


Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak.


Farrel menutupi wajahnya dengan kedua tangan, baru kali ini melihat Metta bertingkah seperti itu, benar-benar membuatnya geli tapi juga menggemaskan.


"Kakak ini masih jam tiga malam, ayo tidur!"


"Aku belum selesai sayang!" ujarnya pada pengeras suara denga echo yang tinggi.


Membuat Farrel akhirnya terbahak.


"Sayang, kamu aneh sekali, udah ayo tidur." ujarnya merengkuh pinggang Metta.


"Tapi aku belum selesai."


"Sudah, besok lagi ... aku mengantuk! Ayo tidur!"


"Sayang aku kan ingin menghiburmu!"


"Iya, tapi bukan begini caranya, aku tidak terhibur."


Metta mengernyit, "Lalu bagaimana?"


Farrel menuntunnya naik keatas ranjang, lalu mendekapnya dengan melingkarkan kakinya ke atas paha Metta.


"Karena bersenang-senang belum boleh, biarkan aku begini saja! Aku mau tidur."


Metta terkikik, "Memangnya kamu sangat ingin melakukannya?"


"Tentu saja, aku sudah menahannya beberapa hari ini," ujarnya dengan kedua mata yang terpejam.


Metta mendongkak, dia kembali terkikik, "Kamu benar-benar ingin?"


Farrel membuka kedua matanya kembali, menatap Metta yang tengah mengenadahkan kepalanya, dengan terkekeh.


"Kakak mengerjaiku yaa? Sengaja mengatakan hal itu. Ih menyebalkan!" ujarnya dengan kesal.


Lalu menurunkan kakinya begitu saja, "Sayang, kau memang menyebalkan!"


Lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke sisi lain, membelakangi istrinya yang masih terkikik.


"Kakak ngeselin,"


"El....! Jangan marah dong." Metta mengusap lengannya.


Namun Farrel menepiskan tangan Metta.


"Ih... marah- marah terus!"


"Biarin, siapa suruh menyebalkan begitu. Mengatakan belum boleh,"


Metta terkekeh, "Jadi ngidamnya ini yaa papa."


"Gak tahu ahk, kakak nyebelin."


Farrel tidak menjawab, dia memejamkan kedua matanya.


Metta kembali terkikik, "Sayang...."


Farrel mengerdikkan bahu dengan bibir yang mengatup.


"Sayang, lihat sini dulu!"


"Enggak mau, aku mau tidur!"


"Abang...." ujar Metta menahan tawa, namun pria kecil itu sudah kepalang kesal.


"Abang sayang, nanti nyesel lho."


"Enggak bakalan."


"Ya sudah aku ke bawah saja," Metta beranjak dari kasur dan berjalan melewati Farrel.


Farrel menyipitkan matanya lalu tersentak.


Dia langsung berdiri dan menarik Metta yang sudah mendekati arah pintu.


"Kakak mau turun seperti ini? Astaga..."


Metta kembali terkikik, "Kan kamu nya ngambek jadi aku mau ke bawah saja, mau masak."


Farrel melihat Metta dari bawah hingga ke atas, "Kakak sengaja kan?"


Dia mengangguk, "Habisnya kamu menggemaskan sekali, kamu kan tidak pernah marah-marah seperti ini, aku jadi ingin mengerjaimu."


Farrel menghimpit tubuh Metta pada tembok dibelakangnya. "Kakak menyebalkan, dengan memakai pakaian seperti ini."


Metta mengalungkan kedua tangannya pada lehernya. "Benar begitu? Kalau begitu akan kan menggantinya ya."


"Ja--jangan!!" sergah Farrel.


Dia merekatkan tangan di pinggang Metta, pakaian menerawang itu membuatnya semakin menginginkannya. Memperlihatkan lekuk tubuh Metta yang semakin mengencang.


"Sayang...jadi aku menyebalkan atau tidak?"


Farrel menggelengkan kepalanya, "Sekarang tidak, justru aku ingin melahap habis. Bolehkan? Anak kita tidak akan apa-apa kan?"


Metta mengangguk, "Dia akan senang...."


Tidak menunggu lama, Farrel pun meraih dagu Metta dan mengecup bibirnya, perlahan-lahan kecupan berubah menjadi lu mattan, dengan tangan yang menyusup disela ceruk Metta.


"Sayang, tenanglah!"


Farrel melu mattnya dengan rakus, beberapa hari ini dia menahannya, karena Metta apalagi saat dia sakit, dan sekarang kesempatan itu datang, mana mungkin akan disia-siakannya.


Farrel menggiring Metta ke dalam ranjang, perlahan namun pasti, dia sudah berada dalam kungkungannya.


Metta membuka satu persatu kancing baju tidur Farrel, sementara tautan lidah mereka tetap terbelit, gejolak hebat kini mereka rasakan kembali, dan ini kali pertama merela melakukannya setelah tahu Metta tengah hamil.


"Apa benar-benar tidak apa-apa?"


Metta menggeleng, "Nanti kita tanyakan pada dokter, kurasa tidak apa-apa selama kita berhati-hati."


Farrel mengangguk, dengan bibir yang kembali melu matt, tangannya menyisir lembut inci demi inci tubuh Metta, lalu menyusupkan kepalanya pada leher Metta.


Dia kembali turun, membenamkan kepalanya ke dalam dada Metta, baju transparan itu memudahkannya, mencecap benda bulat yang semakin kencang karena kehamilannya, sementara tangannya mere mass benda bulat satunya lagi.


Membuat Metta menggelinjang, desiran demi desiran membuat gai rah mereka semakin memuncak,


Setelah puas mencecap benda bulat, kini dia turun semakin kebawah, mendaratkan kecupan-kecupan lembut disetiap jengkal tubuh Metta.


Hingga dia sudah di sela paha Istrinya, Metta yang sengaja tidak memakai apapun, dia hanya memakai pakaian transparan itu saja tanpa under we ar didalamnya.


"Aaahkkk...El," rintih Metta saat lidah suaminya itu menari perlahan dibawah sana, membuat dirinya bergelinjangan hebat.


Dia menekan kepala Farrrel hingga lidahnya semakin dalam dan menari-nari disana.


Mencecapnya dan sesekali meresap nya tanpa rasa jijik.


"Eeuuggghhhh


"El ... aaahhkkk, aku ingin...aah"


Metta merasakan kemenangannya yang pertama, sementara Farrel terus membuatnya semakin gila.


"Eeel...ahkkkkk ... hentikan!"


"Kakak siap?"


"Dia tampak ragu, namun juga mengangguk kecil, dengan kembali me lumatt bibir sang suami.


Farrel mengarahkan senjata miliknya untuk masuk kedalam tempat yang menjadi rumahnya.


" Eeeuughhh ... sempit lagi sayang! Aaahhh..."


Farrel mulai bergerak perlahan, mengingat istrinya tengah mengandung.


"Sayang...."


Mereka semakin merapatkan diri, saling mendekap dengan peluh yang mulai membanjiri, mewakilkan gai rah yang membuncah, perlahan namun pasti, mereka kembali terbang, melambung tinggi menuju angkasa.


Lenguhan dan erangan keduanya semakin indah, menambah sensasi dengan nafas yang saling memburu.


"Saayang...aku ingin, aaahhh"


"Aaaaagghhh...."


Lolongan panjang keduanya saling terdengar, begitu dahsyat, semakin melambung saat Farrel menghentak dengan sekali dorongan pelan.


"Sayang... aaaahhhh..."


Tubuh Farrel ambruk seketika, disamping Metta, dengan nafas yang memburu. Dada nya naik turun tak karuaan.


Metta menoleh pada suaminya yang langsung terlelap begitu saja, hanya dengkuran halus yang kini terdengar.


"Kamu pasti cape...." ucapnya dengan mengecup pipi.


"Harus bekerja dan juga merasakan gejala yang biasanya perempuan saja yang mengalaminya."


Farrel mengerjap, menarik tubuh yang masih sama-sama polos itu,


"Tidurlah," ucapnya dengan mendekap erat.


Hingga keduanya benar-benar terlelap, disaat hari sudah menjelang pagi.