
Farrel merengut saat dia mengenali kursi penumpang dari mobil yang dikemudikan oleh Mac.
"Jangan tertawa kak, kakak malah membuat aku tidak bisa tidur!"
Metta masih terkikik, "Memangnya kau fikir siapa? kau bahkan mengawasiku 12 jam! Tidak ada kesempatan aku bertemu pria lain selain Mac dan juga Andra." Metta kini berpura-pura menekuk wajahnya,
"Memangnya kakak mau bertemu siapa hem selain mereka, pasti mau ketemu aku, iya kan!"
"Ish kau ini!" Metta mematikan sambungan teleponnya dengan kesal.
Sementara Farrel disana pun terbahak karena berhasil membuat kesal kekasih sekaligus tunangannya itu, dengan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, dia memeluk ponselnya diatas dada.
"Ah, aku kangen sekali padanya..."
"Ih, selalu saja nyebelin! Gak dekat gak jauh, masih saja ngeselin." gumam Metta dengan mendekap kedua tangannya, namun senyum tersungging tipis di bibirnya.
Mac menatap pantulan Metta dari balik kemudi, dia bak alat perekam berjalan yang akan melaporkan setiap langkah dan setiap raut perubahan dari wajahnya tuannya.
Mobil berhenti tepat didepan kantor divisi, Metta turun dari mobil. Dia melenggang masuk kedalam ruangannya.
"Semua mata yang memandangnya menganggukkan kepala kearah nya. Membuat Metta heran,
"Ish, mereka berlebihan sekali!"
Dinda yang baru saja datang menepuk bahunya. "Hai Shaun, ngapain bengong disini?"
"Mereka kenapa?" tanyanya pada Dinda.
"Mungkin terkesima lihat kamu," Dinda terkikik.
.
.
Seperti biasa, setelah ketiga anaknya pergi, Sri akan dirumah sendirian. Aktifitasnya hanya itu-itu saja, sesekali dia kerumah bu Asti, tetangga yang sudah berumur yang tinggal jauh dari semua anaknya. Sri selalu membantu bu Asti yang tinggal sendirian, selebihnya dia habiskan hanya dirumah saja.
Pagi itu Sri yang tengah menyiram tanaman nya di taman samping rumahnya. Tidak terlalu besar, namun karena dirawat dengan sepenuh hati, taman kecil itu sangat indah dan juga nyaman.
"Hei Mbak Sri, kenapa masih repot-repot mengurus taman bunga itu? Kenapa tidak menyewa asisten rumah tangga, bukankah anakmu sekarang sudah jadi orang kaya?"
"Eh ... seperti tidak tahu saja! Dia itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk menguras harta."
Ujar seseorang yang ikut menimpali.
"Astaga..." Sri mengurut dadanya. " Siapa yang kalian bicarakan?
"Cih... sok suci, padahal situ ikut andil kan! Masih saja pura-pura!"
Kedua ibu-ibu itu berlalu dengan mendelik dan juga cekikikan. Membuat Sri menggelengkan kepalanya.
"Mereka tidak tahu apa-apa tapi seolah tahu segalanya."
Sri kembali menata tanaman, memindahkan tanaman obat juga bunga-bunga kesayangannya.
Tanpa mereka sadari Mac sudah melapor pada tuannya, membuat Farrel yang tadinya mengernyit kemudian berubah menjadi terbahak.
"Benarkah Mac? Apa penduduk disana tidak punya televisi? Farrel masih terbahak.
"Entahlah Mas, aku tidak memeriksa satu persatu rumah warga! Apa kau mau aku melakukannya?"
Farrel semakin terbahak, "Tidak usah Mac, aku tidak mau Alan sampai marah karena orangnya menjadi tersangka kasus menyatroni rumah warga."
Mac menarik sudut bibirnya. "Lakukanlah tugas yang aku berikan.
Kali ini Mac yang berseringai, cukup dalam hati mnta saja dia tengah terbahak.
"Baik, aku akan melaksanakan tugas sesuai perintah."
"Bagus, kau urus dengan baik!"
Farrel menutup sambungan teleponnya dengan Mac, lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur. Disusul oleh tubuhnya yang dia hempasan begitu saja.
Keesokan pagi.
Terdengar suara ribut-ribut diluar rumahnya, Puluhan ibu-ibu berbondong-bondong berjalan melewati rumah Metta menuju sebuah bangunan serba guna di wilayahnya.
Bisik-bisik terdengar dari mulut ke mulut, sebagian lagi tertawa dengan puas. Andra yang tengah memanaskan mesin motornya melihat dengan heran,
"Tuh ibu-ibu jam segini mau pada kemana? apa kagak masak buat suami dan anaknya sekolah ya!"
Andra mengerdikkan bahu, lalu dia kembali masuk.
"Gak tahu, Kak sepertinya mereka akan mengadakan rapat, atau apa gitulah... aku gak tahu pastinya apa!" sahut Andra.
"Lebih baik ibu melihatnya, penasaran juga sebenarnya ada apa dengan mereka." Sri berhambur keluar dan mencegat salah satu tetangganya.
"Ada apa bu?"
"Semua warga khususnya ibu- ibu disuruh berkumpul semua di gedung serba guna ibu, hayoo!" ucapnya dengan kembali berjalan.
"Ooh begitu, kenapa ibu tidak mengetahuinya yaa?" Sri kembali masuk.
Membuat Metta yang tengah menyuapkan sarapannya terheran.
"Ada apa bu?"
"Entahlah, sepertinya ibu harus kesana."
"Aku ikut bu," seru Nissa yang melangkah menyusul ibunya.
Jarak rumah dengan gedung serba guna itu cukup dekat hingga Sri dan Nissa tidak terlalu lama untuk sampai ke tempat itu.
Sebuah mobil boks besar melintas dan berhenti di depan gedung itu, Dua orang pria turun dari atasnya, lalu seorsng pria terlihat menghampiri supir mobil itu dan menggumamkan sesuatu.
Samar-samar Sri melihat kearah mereka dari jauh, begitupun dengan Nissa.
"Bu bukankah itu paman? Maksudku paman Mac?"
Kedua Mata Sri menyipit, "Iya sepertinya itu dia, apa yang dia lakukan disini ya Niss...."
"Nissa gak tahu bu, ayo kita kesana."
Sri tampak gusar saat melihat Mac menyuruh dua pria itu menurunkan barang muatan dari atas mobil itu.
"Nissa, hubungi kakakmu! Suruh dia kesini ...." ujarnya dengan mempercepat langkah.
Kini di depan gedung serba guna itu terpasang layar putih proyektor, dengan beberapa pria berpakaian hitam-hitam berjaga-jaga di sekitarnya.
Sri mengamati seragam yang mereka kenakan, pakaian hitam berlogo PT ARR. Corps. Seragam yang sama dikenakan oleh Mac.
Deretan kursi terpasang didepan proyektor yang belum menyala itu, puluhan ibu-ibu sudah memenuhi kursi paling depan. Dan sisanya masih berdiri mencari kursi yang masih belum terisi.
"Jika sudah datang semua maka acara ini akan dimulai," ucap seorang pria yang disinyalir pembawa acara.
Metta bergegas datang, dia berboncengan dengan Andra, setelah turun dari motor, mereka berjalan membelah sejumlah kerumunan mencari ibu dan adik bungsu mereka.
Metta juga melihat Mac yang tengah menatapnya dan mengangguk kearahnya, dia membalas dengan anggukan pula.
"Rame sekali kak, ada apa ya! Sudah seperti nonton bareng piala dunia begini." Metta hanya mengangguk.
Dia beralih menatap pria-pria berseragam serupa, yang dikenalnya. Lalu matanya menangkap sang ibu dan adiknya.
"Ndra, itu mereka!"
Mereka segera menghampiri keduanya, "Bu, ada apa?"
"Perasaan ibu gak enak Sha...kau lihat mereka! bahkan ada Mac juga disini. Apa kau tahu sesuatu?"
"Tidak bu...aku tidak tahu,"
Apa yang dikatakaan Sri bak sebuah pancingan untuk Metta, matanya menyisir setiap sudut mencari Mac, dan dia menemukan Mac berada disisi proyektor, berdiri mengawasi mereka yang tengah bekerja. Matanya kini penuh curiga,
Apa yang dilakukannya disini, asal jangan aneh-aneh saja. Batin Metta
Pria berseragam yang berada paling depan itu menginterupsi mereka agar tenang, karena sebentar lagi proyektor akan segera dinyalakan.
Semua menunggu tidak sabar, sama seperti keluarga Metta, tak lama kemudian terlihat Mac membisikkan sesuatu setelah melirik jam tangannya.
Bertepatan proyektor itu menyala, sebuah video berputar disana, video saat Metta dan Farrel di acara ulang tahun dan berakhir menjadi pesta pertunangan, semua mata tertuju pada layar putih itu, berdecak kagum bahkan menutup mulutnya tak percaya.
Begitu juga Metta, dengan mulut sedikit menganga lalu ditutupnya dengan tangan, "Astaga, apa maksudnya ini?"
.
.
Jangan lupa like dan komen yang banyak yaa..terima kasih
✍Mampir juga dia novelku yang kedua yaa, Cerita lain dari Dinda dan juga Alan, ada bagian yang tidak ada disini, tapi terkuak di sana.hehe
"Assistant Love"