Berondong Manisku

Berondong Manisku
Cemas


Farrel kembali ke gedung divisi, berjalan memutar ke area belakang, melihat area-area yang sebenarnya jarang dia kunjungi. Atau bahkan baru tahu hari ini.


Para staff dan karyawan pria terlihat mengangguk kearahnya, sedangkan para wanita tampak melebarkan matanya seolah baru saja melihat seorang artis.


Hingga Farrel berada di lorong yang menjadi penghubung antar gedung,


Dreet


Dreet


Farrel merogoh ponsel dari saku balik jasnya, melihat pesan masuk yang ternyata dari Metta.


"El, kita sudah ditunggu diruang rapat."


Farrel bergeleng kepala, " Dasar kakak, gak pernah bisa basa-basi!" lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya


Farrel kemudian langsung menuju gudang, dia memang akan mengadakan rapat dengan para staff gudang.


Metta masuk kedalam ruangan Farrel, melihat Doni yang tengah bermain game diponselnya.


"Don, apa berkas untuk rapat sudah semua? sebentar lagi kita kesana," ucap Metta menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Doni beranjak, dia sebenarnya ingin menceritakan kedatangan Tiwi, namun tidak jadi karena Farrel belum juga kembali.


"Sudah, aku masih menunggu Farrel kembali, dia pergi menemui ayahnya."


"Iya aku sudah tahu, ayo kita pergi!" ucapnya masih diambang pintu.


Doni keluar dari ruangan dengan membawa berkas, lalu berjalan beriringan dengan Metta yang sudah menunggunya. Membuat Tiwi mendongkakkan kepalanya melihat Metta terlihat begitu akrab dengan Doni.


"Sepertinya aku harus bertanya pada Mettasha." Tiwi mengangguk-ngangguk.


Dinda yang baru saja melintas di depannya terlihat heran, dan mengikuti arah mata Tiwi.


"Ngapain dia melihat seperti itu?" Dinda mengherdikkan bahunya, lalu kembali duduk ke meja kerjanya.


Farrel tiba digudang, disusul oleh Metta dan juga Doni yang baru muncul dari arah berlawanan.


"Sayang, sudah datang?" Farrel tersenyum pada kekasih yang kini tengah membulatkan matanya.


"El, kita dikantor," bisik Metta.


Sementara Doni menatap jengah kearah sepasang kekasih itu.


"Ayo, selesaikan dulu pekerjaan kalian, baru nanti berpacaran, kalian tidak peka dengan aku yang jomblo ini!"


Metta dan Farrel melihat kearahnya lalu terkikik.


Mereka berjalan beriringan sementara Doni mengekor dibelakangnya.


Para staff gudang sudah siap, berkumpul ditengah-tengah gudang menyambut manager mereka, salah satu dari mereka menyerahkan helm khusus untuk mereka kenakan.


"Maaf Nona, silahkan pakai helmnya." ucap seorang staff gudang yang terlihat sudah berumur, memberikan helm berwarna kuning pada Metta.


Farrel langsung menyambar helm itu dari tangannya dengan cepat, "Biar aku saja!"


"Kakak, pakai ini," ucapnya setengah berbisik


Metta membulatkan matanya, "El biar aku saja, lihat mereka melihat kearah kita!"


"Memangnya kenapa? kakak ketakutan sekali," Farrel merengut.


"Astaga ...."


Saat Farrel hendak memakaikannya dikepala Metta, dengan cepat Metta menyambar helm tersebut dari tangan Farrel.


"Biar aku aja!"


Metta kemudian segera memakai helm, sebelum Farrel berbuat sesuka hatinya.


Membuat para staff memandang dengan heran kearah mereka.


Farrel berusaha menahan senyumnya, saat Metta merengut dengan gemas, kemudian dia memakai helmnya sendiri.


Mereka terus berjalan dengan menunjukan laporan dan laporan barang yang datang dan sudah keluar. Menunjukan tempat satu dengan tempat yang lainnya. Sementara Metta tengah mengamati barang yang berbeda sudut.


Saat Farrel dan rombongannya berjalan mendekati barang-barang berat, tiba-tiba sebuah pipa besar terjatuh dari tumpukkannya,


Suara teriakan yang terdengar entah dari sebelah mana, seketika semua menoleh kepada arah suara pipa yang saling berbenturan. Semua orang berhambur menjauh. Doni yang berdiri di paling ujung menarik seorang hingga terselamatkan, sementara Farrel yang berdiri ditengah-tengah kerumunan melihat kearah pipa. Tepat didepannya seorang staff paruh baya yang tadi memberikan helm pada mereka, dengan cepat dia mendorong orang itu hingga terjerembab ke arah Doni dan terhindar dari benturan pipa.


"El ... awas!" Metta berteriak, menutup mulutnya dengan tangannya.


Terlambat bagi Farrel untuk menghindar setelah dia mendorong seorang staff, pipa tersebut mengenai tubuhnya sendiri hingga dia ikut terguling. Pipa terus menggelinding hingga membentur tembok dan akhirnya berhenti.


Semua berhambur kearah Farrel yang sudah terlentang dilantai, Doni berlari kearahnya begitu juga Metta.


"El ... Panggil ambulance cepat!" Metta berteriak.


Semua dalam kepanikan, melihat Farrel yang tak sadarkan diri. Doni mengangkat Farrel hingga menggunakan pahanya untuk dijadikan bantalan.


"Rel, hei ... sadarlah."


Doni menepuk-nepuk kedua pipinya, darah merembes dari belakang kepalanya. Membuat semua orang semakin panik. Salah satu dari mereka sibuk menelepon ruang kesehatan untuk mengirimkan ambulance.


Metta begitu ketakutan, melihat tangannya kini penuh dengan darah,


"Doni, bagaimana ini?"


"Ambulance panggil ambulance cepat, kenapa kalian hanya menonton saja." teriaknya kesal.


Doni tak kalah panik, dia terus mengguncang tubuh sahabatnya, "Rel, jangan bikin takut gini, ayo bangun!"


Metta mulai menangis, memegangi kepala Farrel yang semakin merembes namun Ambulance belum juga datang.


"El, bangun ... sadarlah!"


Setelah beberapa lama akhirnya Ambulance akhirnya datang juga, para petugas dari ruang kesehatan berlari kearahnya dengan membawa ranjang Brankar.


Farrel masih belum sadarkan diri, dia lalu dimasukkan kedalam ambulance.


"Kakak saja yang masuk, biar aku menyusul dari belakang!" Ucap Doni,


Metta mengangguk, dia masuk kedalam ambulance menemani Farrel, petugas itu menutup pintu Ambulance dan segera melarikan Farrel kerumah sakit.


"El, jangan bikin aku takut, ayo buka matamu?!" lirih Metta dengan linangan air mata. Namun Farrel tetap tak sadarkan diri.


Hingga mereka sampai disebuah rumah sakit, petugas rumah sakit mengeluarkan Brankar lalu mendorongnya masuk.


"Maaf mbak, silahkan tunggu diluar. Dokter akan memeriksa terlebih dahulu." perawat wanita itu menutup pintunya.


Pintu UGD tertutup, Metta menggigit-gigit jarinya cemas. Doni tiba dengan kecemasan yang sama.


"Bagaimana kak?"


"Farrel baru saja dibawa masuk, dokter akan memeriksanya terlebih dahulu."


"Tenang lah, Farrel pasti baik- baik saja!"


Metta mengangguk, namun cairan bening meluncur tanpa berhenti dari matanya. Kecemasan dan juga ketakutan tampak jelas dari wajahnya.


"Kakak tenanglah, aku akan menghubungi keluarganya terlebih dahulu."


Metta mendudukkan tubuhnya dikursi tunggu, keresahan meliputi dirinya, apalagi Dokter belum keluar juga dari tadi. Dia berdiri kembali lalu mondar-mandir tidak karuan.


"Ya tuhan ... selamatkan Farrel." ucapnya dalam hati


Hingga akhirnya pintu itu terbuka, dokter keluar dengan penuh peluh dikeningnya, membuat Metta semakin cemas.


"Dok, bagaimana keadaannya?"


Dokter yang baru keluar dan baru saja menghirup udara segar itu tertunduk, membuka sarung tangan medisnya. Lalu menghela nafas pelan.


"Maaf ...."


.


.


.


Maaf hari ini author sedikit riweh di RL, Maaf jika tidak maksimal yaa