
Farrel melajukan mobilnya kembali menuju rumah, rumah yang beberapa hari ini Farrel merasa asing, sifatnya yang sama persis dengan sang bunda menjadi penyebabnya. Mereka tetap berada di keinginannya masing-masing. Hingga Farrel memilih menghindar, daripada harus terus berdebat tanpa ada yang mau mengalah.
Namun tak dapat dipungkiri, mereka sama-sama merindukan satu sama lain, diam-diam Ayu selalu mengajak suaminya untuk mengikuti Farrel, mengikuti keseharian Farrel, mengetahui anaknya sedang baik-baik saja. Tentu saja peran Alan lah yang paling besar.
Bahkan pernah suatu hari Ayu mengikuti sendiri anak manjanya itu, berkeliling tempat hingga harus mengendap- ngendap agar tidak ketahuan. Diam-diam mengikuti Farrel yang tengah pergi dengan pacarnya. Meski berkali-kali Ayu melarangnya, namun Farrel seakan tidak peduli. Bunda tidak lagi berani melabrak secara langsung, kejadian tempo hari membuatnya lebih berhati-hati.
"Yah, bunda ini sudah tidak tahan. Ayah cepatlah bertindak!" rengek Ayu menghampiri suaminya di ruang kerjanya.
"Bersabarlah, belum saatnya." ucap Arya yang masih berkutat dengan laporannya di meja kerja.
"Tapi kapan Yah, sampai kapan ... ?"
"Jawabannya selalu saja sabar, sabar, Ayah gak tahu gimana rasanya jadi bunda."
"Bersabarlah sedikit lagi, tidak akan lama kok. Setelah itu Ayah yang membereskannya."
"Suami egois!" Ayu kemudian menghentakkaan kakinya keluar dengan menutup pintu dengan keras.
"Terserah saja, aku capek!" gumam Ayu berjalan melalui tangga menuju kamarnya.
Tepat dengan datangnya Farrel dari pintu masuk, hingga Ayu menoleh ke belakang. Mereka akhirnya saling menatap. Ada kerinduan yang tidak bisa di ungkapkan.
"Bunda aku kangen Bunda."
"El, sini nak peluk Bunda."
Keduanya hanya saling menatap, tanpa melakukan apa yang ada di fikiran masing-masing meskipun sebenarnya mereka ingin.
"Ini semua gara-gara Ayah!"
Ayu kemudian berbalik, kembali berjalan tanpa menghiraukan Farrel. Ujung matanya tiba-tiba menganak. Ayu tak lagi dapat menahannya, dia segera masuk kedalam kamar dan menenggelamkan wajahnya diatas bantal. Menangis sesegukan.
"Bunda," lirih Farrel mengikuti langkah sang bunda namun harus menelan kekecewaan saat sang Bunda menutup pintu kamar tepat pada saat Farrel berada di depannya.
"Bunda, kenapa jadi begini!" mengacak rambutnya sendiri.
Farrel lalu turun kembali, mencari Arya. Bertepatan dengan Mimah yang baru saja keluar dari ruangan belakang.
"Bi, Ayah mana?"
"Kalau gak salah tadi sih ada di ruang kerja Den." Ucap mimah.
"Oh iya sudah, aku kesana dulu, makasih ya bi." Farrel berjalan menuju ruang kerja yang ada di samping ruangan.
"Duh gusti, ada apalagi dengan nyonya! perasaan semakin gimana gitu ya." Mimah menggelengkan kepalanya kemudian masuk kembali ke lorong yang menghubungkan ke arah belakang.
Tok
Tok
"Yah, apa aku boleh masuk?"
"Masuklah."
Farrel masuk kedalam ruangan kerja Ayahnya, "Yah, bunda ....?"
"Biarkan saja, lama-lama juga luluh," Arya berseringai. "Kamu fokus saja pada perusahaan, bukankah waktu kamu hanya tinggal sekitar 1bulan lagi?"
"Iya Yah ..., aku akan terus berusaha,"
"Itu baru anak Ayah,"
"Bukankah Ayah akan membantuku untuk mendapatkan restu dari bunda jika aku berhasil meyakinkan para pemegang saham,"
"Ayah tidak lupa kan!" Farrel menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Mana mungkin Ayah lupa," kali ini Arya menatap lekat sang anak dengan berseringai juga.
"Maafin Ayah nak ...."
"Tapi yah, bunda masih bersikap seperti itu padaku."
"Bunda kan memang keras kepala, sama sepertimu!"
"Apa aku coba bicara lagi dengan bunda?" tanya Farrel.
"Tunggu bebarapa saat lagi, bicarakan dengan kepala dingin." cegah sang Ayah.
Farrel mengangguk, tak ada salahnya dia mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, selama itu masuk difikirannya dan juga dapat diterima.
"Ya sudah Ayah mau kembali ke kamar, Ayah sudsh ngantuk. Ayo kamu juga istirahat, bukan kah besok kamu harus pergi ke kantor pagi-pagi!" Ucap Arya saat hendak keluar dari ruangan kerja.
"Iya sebentar lagi aku ke kamar, Ayah duluan saja."
.
.
Arya masuk ke kamar, dilihatnya Ayu sudah terlelap didalam ranjang meraka. Arya kemudian naik mengikuti sang istri.
"Lantas mau apa kalaupun iya? aku sedang marah!"
"Kamu marah padaku?" menusuk-nusuk bahu istrinya yang dia duga memang belum tidur.
"Iya, aku marah. Bahkan aku sangat marah."
"Sudahlah, nanti aku juga akan membereskannya."
"Halah, palingan kamu juga nanti nyuruh orang lagi."
"Sayang ayo lah jangan begini, ayo kita bicara!"
"Aku tidak mau! biar saja, biar tahu rasa."
Ayu terus menjawab dalam hati semua pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya. "Sayang, jangan membuatku menjadi serba salah begini dong."
"Kalau begitu bereskan semuanya, aku sudah tidak tahan. Bahkan aku sudah lama menahan diri hanya untuk memeluk anakku sendiri!"
Ayu masih setia dengan kepura-puraan nya tidur, padahal dari tadi dia mengoceh didalam hatinya, mendengarkan suaminya berbicara sendirian.
"Ayah janji akan membereskannya saat posisi El resmi diterima oleh para pemegang saham dan juga wakil direksi."
Ayu terkesiap, seketika dia membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Arya. "Benarkah?Ayah tidak bohong pada Bunda?"
Arya berseringai, dia selalu tahu saat istrinya mulai merajuk dan juga akan bersikap berlebihan seperti ini.
"Mana pernah Ayah berani berbohong pada Bunda!"
"Kapan peresmiannya?"
"Bunda berpura-pura tidur ya." Mencubit pelan hidung istrinya.
"Ayo jawab saja pertanyaanku? kapan peresmian itu ..."
"Batas waktu pembuktian kinerja 3 bulan, dan El bisa menghandle semuanya hampir sebulan ini."
"Seperti didalam rekaman Yang diberikan Alan?"
"Bunda memang pintar, seperti itulah anak kita. Maka dari itu Ayah minta Bunda bersabar, setidaknya sampai dia benar-benar resmi memimpin perusahaan."
"Dan perempuan itulah yang menjadi penyemangatnya."
"Bukankah ada Alan yang membantunya juga!"
"Iya benar, tapi tidak mungkin selamanya. Karena Alan juga harus menjalankan perusahaan peninggalan keluarganya."
Ayu akhirnya mengangguk, dia paham apa yang direncanakan Arya, yang membuatnya harus lebih bersabar sedikit lagi.
"Jika kita membereskannya sekarang, Ayah takut El malah tidak bisa bersikap dewasa."
"Ayah tidak akan mengingkarinya kan?" menarik kerah piyama Arya
"Ayah janji." menarik sang istri dan menjadikan lengannya menjadi bantalan kepalanya.
"Bunda hanya ingin hubungan bunda dan anak nakal itu seperti dulu," Pelupuk mata mulai basah.
"Ayah tau rasanya seperti apa? sangat menyakitkan yah, seorang ibu tidak bisa memeluk anaknya sendiri."
"Itu karena Bunda terlalu sensitive!" mengelus rambut istrinya.
"Ayah....!"
"Iya ... Iya," Arya terkekeh.
"Dia jadi tidak betah dirumah!" melingkarkan tangan pada pinggang Arya.
"Itu karena dia sibuk, hampir tiap hari pergi kuliah dan juga ke kantor." Arya masih betah bermain rambut sang istri.
"Itulah, makanya Bunda tidak setuju kalau El menjalankan perusahaan saat ini," Ayu memejamkan matanya sesaat.
"Bahkan umurnya saja belum 20 tahun."
"Dia sudah dididik keras oleh Ayahmu, dan sekarang dia juga di didik seperti itu oleh Ayahnya sendiri."
Ayu terus saja berbicara, mungpung ada kesempatan pikirnya. Segala unek-unek diutarakannya pada suaminya.
"Pokoknya Bunda ikuti saja rencana Ayah, biar Ayah nanti yang membereskan perempuan itu."
.
.
Jangan lupa klik jempol nya, tulis komen positifnya, saran dan kritik yang membangun akan author terima. Karena Author sendiri masih harus belajar banyak.
Terima kasih buat semua dukungannya, Gift, Fav dan apa yah, ooh Vote nya yang masih ada juga boleh lah kirim ke mariš¤
Terima kasih semuaā¤