
Tiba-tiba saja mereka dikagetkan oleh suara deheman,
"Ekhem ...Ekhem ..."
Ketiganya menoleh ke arah suara, dan kaget melihat sosok yang tengah berdiri didepannya,
"Apa yang kalian bicarakan disini?"
"Sayang, bukankah aku menyuruhmu untuk pergi ke tempat Doni? Kenapa malah Doni yang datang kemari?"
Farrel sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia pun hanya tersenyum kecil, sementara Doni dan Mac hanya saling menatap.
"Bagaimana ini Mac?"
"Masalah besar Don!"
"Apa seharusnya kita pergi saja?"
Metta berjalan mendekati ketiganya yang tengah berkumpul, "Sayang, aku sedang bertanya padamu? Kenapa malah diam saja?"
Lalu beralih pada Doni, dan mengulurkan tangan, "Selamat Doni, pencapaianmu kali ini luar biasa, tanpa bantuan kamu, suamiku tidak akan berada di posisinya sekarang!" ujarnya dengan nada yang penuh penekanan.
Deg
Deg
Doni melirik Farrel, lalu beralih pada tangan Metta yang masih terulur, dia bisa saja menjabat tangan itu, namun sudah pasti akan mendapat masalah dari Farrel nantinya.
"Doni, kau tidak ingin menerima tanganku! Baiklah, tidak masalah ... aku tahu seseorang akan marah padamu, dan kau tidak punya pilihan lain bukan?" selorohnya dengan ujung mata mendelik ke arah suaminya.
Doni hanya diam tidak menjawab sedikitpun, dia hanya melirik ke arah Farrel lalu ke arah Mac, seolah meminta bantuan.
"Doni, kau sedang sariawan?"
Farrel bangkit dari duduknya, "Sayang, lebih baik kita kembali ke atas, udara malam tidak baik untukmu dan anak kita!"
Metta menoleh ke arahnya, "Benarkah? Kenapa kau selalu tahu apa yang baik dan apa yang tidak untukku!" ucapnya dengan nada ketus.
"Mampus kau Rel...!"gumam Doni.
"Apa maksudnya? Tentu saja aku tahu, aku akan selalu tahu!"
Metta mengangguk-ngangguk, "Benar, kau tahu semua yang terbaik untukku, terima kasih!"
Metta hanya mengangguk begitu saja pada Doni dan juga Mac, kemudian dia berlalu begitu saja.
"Mampus kau Rel ... istrimu sepertinya mendengar apa yang kita bicarakan!"
"Aku pergi!"ujarnya menyusul sang istri yang berjalan dengan cepat, sementara Doni dan Mac saling memandang, "Mac ...bagaimana ini!"
"Kita tunggu di sini, barangkali Mas Farrel butuh bantuan kita!"
"Tapi ini sudah malam Mac? Kau yakin akan menunggunya di sini! Lebih baik kita pulang!"
Mac mendengus, "Bilang saja kau ingin menbuka hadiah-hadiah ini!"
Doni menggaruk kepalanya, "Kau seperti tudak tahu saja!"
Mac menatapnya tajam, bak elang yang membuat Doni tak berkutik, dia pun hanya memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Iya Mac ... kita akan menunggunya di sini, siapa tahu Farrel membutuhkan bantuan kita, dan kalau perlu sampai besok kita tunggu!" ucapnya.
Sementara itu
"Sayang, hati-hati jalannya! Jangan buru-buru seperti itu."
Metta tidak menggubris perkataan Farrel, dia terus berjalan, hingga hampir tersandung, untung saja Farrel berada dibelakangnya saja memegang pinggang wanita yang tengah hamil itu.
"Apa yang aku bilang, kakak tidak menurut pada suami! Jadinya seperti itu."
Metta mendelik, namun kembali berjalan dan masuk ke dalam flatnya.
"Sayang ... ada apa?"
"Tidak ada apa-apa! Memangnya aku kenapa?"
Farrel hapal kata-kata yang terlontar itu, tidak ada-apa artinya ada apa-apanya,
"Sayang ... hei, maafkan aku!"
"Memangnya kamu bersalah apa? Kenapa meminta maaf?" tanyanya dengan acuh.
Setelah menghabiskan sekotak kemasan susu untuk kehamilan, Metta pergi ke kamarnya, dan Farrel masih mengikutinya di belakang.
"Sayang, jangan marah!"
"Aku gak marah El ... kenapa juga harus marah! Apa karena kamu tidak jujur?" ucapnya dengan mendelik.
Lalu Metta menuju walk in closet, menggeret koper dari atas lemari.
"Sayang! Please jangan pergi, aku tahu aku salah! Aku minta maaf, tapi tolong ... maafkan aku!"
"Aku tidak ingin kehilanganmu, dan juga calon anak kita! Please ... kasih aku hukuman apapun, tapi jangan pergi!" ungkapnya lagi dengan tangan yang menangkup, dan terus merengkuh bahunya.
Metta menghela nafas, "Sayang ... geser! Kau membuat gerak ku semakin sempit."
"Jangan pergi!"
Metta memasukkan pakaiannya ke dalam koper, juga pakaian bayi yang sudah dia beli, perlengkapan bayi pun dia masukan ke dalam koper kecil miliknya.
Melihat hal itu Farrel semakin takut, Metta marah besar dan hendak pergi meninggalkannya, dia tak bisa membayangkan hidup tanpa istri yang 3 bulan lagi akan melahirkan anaknya itu.
Selesai memasukan semua barang yang hendak di bawanya, dia menutup kopernya dengan berjongkok, namun Farrel segera merengkuh tubuhnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"El ... katakan! Apa yang membuat mu merasa aku harus memaafkanmu! Apa kesalahanmu kali ini?"
"Maafkan aku kak!" lirihnya.
"Katakan!"
"Soal bebep, motor matic kakak yang rusak, sebenarnya tidak, sehari saja masuk bengkel sudah bisa dibawa pulang, aku sengaja mengatakan harus di bengkel selama seminggu agar aku bisa terus mendekati kakak!"
Metta mengangguk, wajahnya terlihat kaget, "Lalu...."
"Lalu masalah Doni, aku yang memberinya apartemen itu karena dia membantu mempercepat kepulangan Andra saat di negara B, aku memberinya hadiah karena itu."
Wajah Metta semakin keruh, dia kaget dengan kedua mata yang membola.
"Apalagi?"
"Dan Andra memang mengetahui rencanaku, Alan juga membantuku, Mac, dan tentu saja Doni sebagai mentor Andra!"
"Apa rencanamu itu?"
"Secepatnya menikah dengan mu! Karena aku tidak bisa menunggu sampai Andra kembali!" lanjutnya lagi.
"Apalagi?" ujar metta dengan suara intonasi yang semakin meninggi.
"Acara honeymoon! Itu bukan dari Bunda, tapi aku yang berinisiatif mengatakan itu dari bunda, dengan bantuan bunda tentu saja!"
Metta mendengus kasar, "Ternyata semua orang-orang yang berada di dekatmu membantumu! Adikku sendiri pun ...! Astaga." Metta memijit pelipisnya. Kepalanya tiba- tiba merasa pusing.
"Sayang ... aku sudah mengatakan semuanya, maafkan aku!"
"Mobil untuk Andra?"
Farrel menggaruk kepalanya, "Selain untuk hadiah kelulusan, mobil itu juga hadiah karena Andra menyetujui kepulangannya!"
"Astaga Andra!"
"Kau ...," Metta berdecak dengan melihat Farrel dengan tajam."
Di memukul bahu Farrel dengan membabi buta, "Kenapa kamu selalu melakukan hal konyol sperti itu!! Aku cape tahu gak ... kau ini menyebalkan!" ujarnya dengan menggeret kopernya, dia keluar dari walk in closet, Farrel mengejarnya.
"Sayang ... aku sudah mengatakan semuanya, tanpa terkecuali! Dan kakak masih mau pergi dari ku?"
"Kalau iya memangnya kenapa? Aku sudah mendengarnya dari mulutmu sendiri bukan! Dan aku benar-benar kecewa, kau itu orang terkonyol yang pernah aku kenal, tapi aku tidak menyangka, kekonyolan mu itu membuatku...."
"Aaahhh...." Metta memegangi perutnya, dia meringis dengan keringat dingin membasahi keningnya, dan semakin banyak.
"Kak ... ayo kita ke rumah sakit!"
.
.
Jangan lupa like dan komen yaa, mampir juga di karya aku yang lain❤❤