
"Sudah, kamu istirahat lagi ya," Metta merapikan selimut. Menaikkannya hingga batas dada.
"Aku dari tadi tidur terus sayang, kepalaku pusing!"
sahut Farrel dengan mata terpejam.
"Aku panggil dokter dulu yah, tunggu sebentar!"
Namun lagi-lagi tangannya ditahan Farrel, "Tidak usah, pusing ini karena mungkin kebanyakan tidur, lagian sudah malam, dokter dan susternya mungkin sedang istirahat juga,"
"Iya gak apa-apa, itukan memang tugas mereka!"
"Tidak usah sayang, aku hanya sedikit pusing, ini udah tengah malam. Kakak juga harus istirahat kan."
Metta menghela nafas, akhirnya dikembali mendudukkan tubuhnya dikursi.
"Tidurlah disofa itu, nanti badan kakak sakit semua kalau tidur seperti tadi." ucap Farrel meraih tangan Metta lalu menggenggamnya.
Metta membalas erat tangan yang masih terasa dingin itu dengan tangannya,
"Jangan khawatirkan aku," ucapnya lembut.
"Tidurlah, jangan sampai ikut sakit!Aku belum bisa ngapa-ngapain kalau kakak sakit." ucapnya dengan mengelus jemari Metta dengan ibu jarinya.
Metta berdecak lagi, "Kau selalu saja memikirkan orang lain, sementara dirimu sendiri saja mengkhawatirkan!"
Farrel terkekeh lemah, "Aku hanya mengkhawatirkan kakak, tidak ada yang lain,"
Metta mendekatkan wajahnya, "Masih bisa bicara sembarangan?"
Farrel menggelengkan kepalanya, "Ti-- dak ...."
Farrel menarik sebelah bibirnya melihat wanitanya yang mendengus kasar.
"Jangan marah-marah sayang! sini naik, kita tidur...." Farrel menepuk ranjang disebelahnya.
"Jangan macam-macam, masa aku tidur dengan orang sakit!" Metta menggelengkan kepalanya lalu bangkit menuju sofa,
"Gak apa-apa, lagian ranjang ini muat kok untuk kita berdua!" Masih menepuk ranjang.
"Tidak, mau muat mau enggak! Aku tidur disini saja." Menghempaskan tubuhnya disofa.
"Selamat malam sayang!" Ucap Farrel dengan senyum simpul, merasa kekasihnya itu semakin menggemaskan, baru saja menyatakan perasaannya namun kembali seakan tidak peduli.
"Ya ...." Metta mendengus.
Farrel meraih ponselnya yang terletak diatas rak dipinggir ranjangnya, mencoba menghubungi Alan, sudah dipastikan Alan akan berfikiran sama dengannya, merasa curiga atas kejadian yang terjadi tadi siang.
Namun Metta yang masih belum terlelap sempurna itu bangkit dengan cepat, matanya menyipit kearah Farrel, kemudian menyambar ponsel dari tangan kekasihnya itu.
"Kau ini bandel sekali, tadi mengeluh pusing! tapi malah bermain ponsel," mulutnya mengerucut dengan hidung yang mengembang.
"Kakak, ada yang ingin aku tanyakan pada Alan, kembalikan ponselku!" Tangan Farrel mengenadah ke arah Metta.
Dia menyembunyikan ponsel dibelakang punggungnya, "Jangan memikirkan pekerjaan, kau ini baru saja sadar! sudah untung tidak hilang ingatan,"
"Sa-yang ... kembalikan ponselnya, sebentar saja!" Metta menggeleng,
"Aku tidak bisa tidur lagi, makanya aku melihat ponsel sebentar, mau menghubungi Alan!" tangannya masih mengenadah, namun sekarang jarinya dia gerakan keatas dua kali.
"Sayang, kembalikan sini!"
Metta masih menggelengkan kepalanya, "Bandel ....!"
"Kalau gitu kakak yang kemari, naik kesini biar aku bisa tidur!" giliran Farrel yang mendengus kasar.
Tangan yang mengenadah kini melambai, "Ayo kemari, temani aku! atau kembalikan ponselku ..." lalu kembali menengadah.
"Ih, kau ini ...." Dengan mulut yang semakin mengerucut menggemaskan, Farrel masih menahan senyumnya agar tidak mengembang
"Cepet sayang! nanti aku bertambah pusing,"masih menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
Akhirnya Metta naik ke ranjang yang sama, masuk kedalam selimut, "Ini hanya akal-akalanmu saja kan? hem...."
Farrel menarik bibirnya keatas, " Jangan galak, aku ini sedang sakit!"
"Sakit jadi alasan..." tubuhnya dia geser menjadi membelakangi Farrel.
"Kak, boleh aku minta tolong?Sepertinya tiang infus itu harus pindah kesebelah sana?" ucap Farrel menunjuk tiang infus yang berada disamping kanan ranjangnya.
Metta membalikkan tubuhnya, "Kenapa memangnya?"
Metta meraih tiang infus lalu dipasangkan kembali di tiang yang berada disampingnya, " Kenapa harus dipindah, nanti kamu kesulitan, tanganmu yang di infus kan sebelah kiri,"
"Pokoknya pindahkan saja!"
"Sudah, jangan salahkan aku kalau nanti kesulitan bergerak!" Metta kembali membaringkan tubuhnya dan kembali berbalik membelakangi Farrel.
"Terima kasih, dengan begini aku leluasa memeluk kakak," ucap Farrel dengan terkekeh pelan,
Kini tangan Farrel yang terpasang infusan melingkar dipinggang Metta. Metta terkesiap, karena gerakan tangan Farrel yang menyelusup tiba-tiba.
"Astaga, apa kau sedang becanda? sakit aja masih menyebalkan begitu!" Berusaha mengangkat tangan Farrel dari pinggangnya.
Farrel terkekeh, "Diam, biar begini saja! atau aku akan bermain ponsel,"
"Menyebalkan!! Apa ini modus orang sakit?" senyumnya terbit walau hanya tipis dibibir Metta.
.
.
Sedangkan diluar, Doni maupun Mac masih setia berdiam ditempatnya, meski mereka duduk saling berdampingan, tak sedikitpun obrolan diantara mereka.
"Mac apa kau tidak lapar?" tanya Doni pada akhirnya.
Mac hanya diam, dia menolehkan kepalanya kearah Doni, namun tidak menjawab pertanyaannya.
Doni mendecak, "Salah, aku malah ngomong sama tembok!"
Mac melebarkan pupilnya tajam, lalu bangkit meninggalkan Doni yang masih menggerutu.
"Sinis terus...sinis! Dia beneran orang atau bukan sih! heran, udah gak pernah ngomong, diajak ngomongpun hanya diam seperti itu." Doni masih melihat punggung Mac yang semakin menjauh.
Doni menyandarkan kepalanya, dengan mata terpejam dia memikirkan banyak hal, kedatangan Tiwi dengan tiba-tiba menggoda secara terang-terangan, pada dirinya yang dia duga adalah Farrel, namun belum sempat dia katakan pada Farrel, dan terakhir kecelakaan yang menimpa sahabatnya itu murni kecelakaan apa ada sabotase didalamnya.
"Kepalaku mendadak pusing, apa begini pekerjaan Mac dan bang Alan? aku tidak bisa membayangkan jadi mereka." Doni membuka matanya, lalu mengembuskan nafasnya kasar.
"Huh ....!"
Doni sontak kaget saat melihat paper bag didepan wajahnya, dengan Mac yang berdiri tepat di hadapannya.
"Makanlah, jangan sampai kau sakit! pekerjaanku akan semakin bertambah jika kau sakit," ucapnya lalu Mac duduk disamping Doni.
Doni yang heran mengambil paperbag itu, membukanya sedikit lalu dia kembali menatap Mac yang tengah menatap pintu ruangan tanpa ekspresi.
"Terima kasih Mac."
Namun Mac tidak menjawabnya. "Dasar robot, tapi dia juga ternyata baik!"
Doni mengeluarkan minuman beserta roti didalam paper bag, "Mac apa kau juga sudah makan?"
Hening
Doni membuka roti itu, lalu memasukkannya ke mulutnya, "Apa kau benar-benar tidak merasa lapar?"
Masih hening
"Aku lihat kau juga belum makan dari tadi?" Doni terus menyuapkan roti rasa coklat itu.
"Mac, roti ini sangat enak, dimana kau membelinya?" Doni terus mengunyah namun juga terus bicara.
"Apa kau tidak punya kata-kata dalam kepalamu?"
tak ada sahutan sedikitpun dari Mac.
"Mac, apa kau dengar aku?" Doni menoleh kearah Mac yang hanya diam saja.
"Astaga, robot itu bisa tidur juga!"
.
.
Jangan lupa like dan komen
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.
Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini
Terima kasih buat semua dukungannya