Berondong Manisku

Berondong Manisku
latihan


"Bu, kak Sha beberapa hari ini mengurung diri terus dikamar, apa yang terjadi?" tanya Andra pada sang ibu yang tengah membereskan dapur.


"Entahlah, rasanya kakakmu itu sedang tidak ada masalah berat, ibu lihat hubungan nya dengan Farrel semakin baik juga." jawab Sri.


"Aku akan memeriksanya kedalam, aku takut kalau si onyon berbuat yang aneh-aneh!"


Sri mengangguk, "Kamu benar, lihatlah sana."


Andra sesegera mungkin mengetuk pintu kamar kakaknya, namun tidak pula ada jawaban, sedangkan pintu kamarnya dikunci.


Sementara didalam kamar


Aku memang tidak bisa berkata....


"Astaga, menjijikan sekali."


Aku tahu aku bukan.


"Heuuh bukan apa Sha?" Metta beberapa kali menggaruk kepalanya, hingga rambutnya berantakan.


"Ayolah Sha, kamu pasti bisa!" gumamnya.


Metta kembali menarik nafas panjang, dengan mengangguk kearah cermin dan berdehem berapa kali.


El ....


" Payah, baru memanggil namanya saja aku tidak bisa."


"Terserahlah aku cape, aku memang gak bisa berkata-kata seperti itu."


Metta membenamkan kepalanya dibawah bantal. Sampai terdengar ketukan keras dipintu kamarnya, dengan langkah gontai dia menyeret kakinya kearah pintu dan membukanya.


"Apa?" sentaknya.


"Heh, belum juga masuk udah nyolot! kenapa sih, tuh muka, rambut astaga kayak bukan anak gadis sih nyon!" ucap Andra dengan menarik rambut Metta yang berantakan.


"Sakit, bego! lagian mau apa sih kepo banget jadi cowok,"


"Heh...." Andra menyenggol bahu kakaknya.


" Aku khawatir makanya kesini, takut kalau kak Sha gila, eeeh... ternyata memang gila,"


"Sialan emang punya adik..."


Metta duduk ditepi ranjang, menyisir rambutnya dengan kedua tangan. Sementara Andra menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.


"Eh, nyon! aku mau nanya?"


"Nanya aja sih...." ucap Andra sambil mengutak ngatik ponselnya.


"Pria suka gak sama perempuan romantis,"


Kedua alis Andra terlihat mengkerut, "Romantis? kayak gimana contohnya?"


Metta memukul betis Andra, "Bego, sama aja bohong! Dah sana keluar aku mau tidur,"


"Memangnya kenapa tiba-tiba ngomongin romantis."


Andra bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk.


Metta berseringai, dia menemukan solusi kegundahan nya. Lalu mengambil secarik kertas serta bolpoin yang diserahkan pada Andra.


"Tulis kata-kata yang menurutmu bagus, untuk menggambarkan jam tangan ini!" Ucap nya dengan berseringai.


"Astaga, jadi gara-gara ini kaka Sha terus mengurung diri sehabis pulang ke rumah. Bego banget!" Andra mengamati jam tangan itu.


"Nilai pelajaran bahasaku ancur-ancuran kak, ini malah disuruh bikin kata-kata. Ogah dah mending maen game!" Ujar Andra bangkit dari ranjang dan melenggang keluar begitu saja.


"Ya udah lah terserah," Metta akhirnya merebahkan tubuhnya yang lelah hingga terlelap.


Hingga hari yang ditunggu pun akhirnya tiba, Sri membawa bungkusan hitam ke kamar Metta, tidak ada kecurigaan dari Metta karena Sri mengatakan gaun itu adalah pemberian anak sahabatnya yang tinggal diluar negeri, juga seluruh keluarganya tidak ada yang mau ikut dihari itu.


"Sampaikan saja salam ibu untuk keluarga Farrel," ucap Sri.


Sri memaksa Metta memakai gaun pemberian itu tanpa curiga sedikitpun, karena tidak enak menolak dan juga membuat ibunya sedih, Akhirnya Metta memakainya.


Flash back Off


"Bagaimana Sha? apa kau bahagia Nak," tanya Ayu saat mereka berkumpul dalam satu meja.


"Mba ini seperti tidak tahu rasanya saja, sudsh pasti bahagia dong Mba," Ucap Frans yang baru saja datang.


"Om ...." Sahut Farrel.


"Kau dari mana saja, kenapa baru datang, kakakmu ini hampir saja membuat hotel ini banjir dengan air matanya hanya karena menunggu mu datang." ujar Arya dengan mendelik.


Frans mengelus bahu Ayu, "Mba ini selalu saja berlebihan sejak menikah denganmu ..."


"Heh, kenapa malah menyalahkanku?"


"Sudah kenapa kalian malah ribut, kau duduklah, seperti tiang listrik saja kau ini!" ucap Ayu pada sang adik yang hanya berdiri.


Membuat semua yang duduk disana tergelak dengan panggilan aneh Ayu pada Frans.


"Tiang Listrik?" Nissa menatap Frans dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


Sementara Sri menyenggol lengan Nissa, "Jangan begitu!"


"Apa...aku hanya melihat Ibu!"


"By the way, selamat ya kalian sekarang sudah resmi bertunangan, kenapa kamu mau Sha dengan keponakan Om yang manja ini," kelakar Frans dengan tertawa.


"Karena cinta lah Om apalagi! iya kan sayang...." Farrel mengusap tangan Metta yang terlihat canggung dan hanya tersenyum kecut kearah nya.


"Jangan macam-macam El, jangan membuat aku semakin malu!" bisiknya.


Farrel terkekeh, "Enggak sayang, aku hanya akan melakukan satu macam!"mengecup tangan Metta, dan menatapnya dengan alis yang dinaiki turunkan.


Metta menginjak kaki Farrel dengan masih tersenyum kecut, "Kubilang jangan macam-macam!"


Farrel meringis, "Sakit kak, kau melukai hatiku," ucapnya dengan tangan menempel di dadanya.


Metta menatap jengah kearah Farrel, yang membuatnya kembali kesal.


"Jangan marah lagi sayang, aku hanya terlalu bahagia hingga ingin terus menggodamu,"


"El, apa penerbanganmu dilakukan besok?" Tanya Frans tiba-tiba.


Membuat Metta menatap heran padanya, lalu beralih pada Farrel.


"Penerbangan apa?"


.


.


Makasih buat semua dukungannya untuk karya aku ini.


lope lope buat kalian.