
"Wanita memang sulit dimengerti"
"Kalau gitu kamu pacaran saja dengan laki-laki, biar sama sama saling mengerti" Metta berbalik dengan sorot mata yang tajam.
Farrel terkikik, menyusul Metta masuk kedalam rumah nya kembali.
"Jadi maen pedang pedangan dong..hiiih" Farrel bergidik.
" Tau ah.."
"Kakak kenapa sih marah-marah terus?lagi PMS yaa"
"Sudah sana pulang, nanti ada yang ngambek"Metta mengibas ngibas tangannya.
"Kenapa harus pulang, inikan malam minggu, waktunya mengapel pacar" Farrel terkikik.
"Ngapel apaan astaga, sudah tidak ada istilah ngapel dihidupku." Ucap Metta kesal.
"Aku sudah setua ini,"batin nya, namun hatinya juga ikut menggelitik.
"Istilah itu akan tetap ada di kamus hidupku, bahkan aku akan melakukan nya juga setelah menikah nanti, aku akan spend time hanya berdua, sedangkan anak anak kita titipkan bersama kakek dan nenek, atau om dan tante nya, iya kan ka?"Farrel menaik turunkan kedua alisnya dan juga memasang senyuman di bibirnya.
"Astaga, hentikan bualanmu itu. Aku ingin muntah" Metta mendelik.
"Kalau begitu kita ke dokter saja bagaimana, mungkin anak kita sedang merajuk hahaaa" Farrel tak kuasa menahan tawa.
"Astaga Faaarrrrel"
Farrel tak perduli Metta yang sudah di puncak kekesalan nya, dia menghempaskan bokongnya di sofa.
"Hahaha.. Kakak berhentilah berteriak,"
"Kalau begitu berhentilah membuatku kesal" Melemparkan vas bunga.
"Hei..jangan menyiksa terus calon suuuaa..."Farrel terhenti setelah melihat Metta yang sudah membulatkan kedua bola matanya sempurna.
"Iya baiklah, aku berhenti" Farrel terkikik.
"Tadi kakak bilang apa?ada yang ngambek?"
"Siapa? bunda..bunda sudah tidak akan apa apa, tapi meskipun belum sepenuhnya setuju tentang kita"
Metta menghela nafas berat, "Bukan bunda kamu, tapi gadis cantik yang merangkul mu, si rubah itu" batinnya
"Bunda hanya perlu waktu untuk bisa mengenal lebih dekat dengan kakak,"
"Dan aku tidak akan pernah menyerah, selama kakak tidak mengabaikan aku lagi" Farrel tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Lalu bagaimana dengan pacarmu yang baru?" Farrel mengernyit,
"Siapa?"
Metta mendesis " Fikir aja sendiri, keluar dari apartemen dengan saling merangkul" gumam nya pelan
Farrel mencoba untuk mengingat, mengetuk ngetuk ujung jari nya dipahanya.
"Ooh, Tasya. Dia baik baik aja kok." membuat Metta terhenyak dengan jawaban yang diberikan oleh Farrel.
Air muka Metta berubah seketika "Jadi benar apa yang gue lihat malam itu"
Farrel menyinggungkan bibirnya saat melihat perubahan muka Metta.
"Tapi Tasya hanya membantu ku, disana juga ada Ala.. n" Farrel memelankan ucapannya.
" Ala ..siapa? Metta semakin penasaran, dengan ucapan Farrel yang sengaja tidak diteruskan.
"Bukan siapa siapa.." Farrel mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan memberikannya pada Metta.
"Apa ini?"
"Misi kenangan" Metta menautkan kedua alis nya,
"Untuk?"
"Kakak punya waktu semalam untuk mengisi nya,"
"Kakak cuma mengceklis tempat yang pernah kakak datangi saja"
Dahi Metta bertambah mengkerut, "Apa sih maksudnya?"
"Sudah pokoknya kakak isi, besok aku jelaskan aturan mainnya"
.
.
"Kalian masih ingat tentang 1 tugas yang belum kalian kerjain?" Ucap Farrel pada Andra,
"Cx, masih inget aja deh" sahut Nissa.
"Memangnya tugas apa?"
"Nih, kalian harus menuliskan tentang tempat tempat yang ingin kakak kalian datangi kalau perlu semua nya"
"Gue gak mau ngerjain" Andra membantah.
"Ee..bang! kenapa..." Nissa menyenggol lengan Andra.
Destinasi wisata dan bahkan tempat yang ingin kakak kalian datangi." ucap Farrel menyerahkan pulpen pada Nissa.
"Gue bilang gue gak mau" suara Andra mulai meninggi.
Farrel memasang wajah datar "Memangnya kenapa?"
"Gue gak mau kakak gue jadi korban, gue seperti penghianat yang sedang menjual kakak gue ke lo." Andra mengepalkan tangannya.
Farrel menyinggungkan bibirnya "Astaga, gue kira apa," batinnya.
"Kenapa kalian berfikir seperti itu?Kalian pikir ini transaksi jual beli barang. Aku hanya ingin kakak kalian merasakan bahagia, mengajaknya ke tempat yang belum pernah kakak datangi, selama ini kakak sudah bekerja keras untuk kalian, tidak pernah punya waktu untuk hanya sekedar menyenangkan dirinya sendiri. Apa aku salah?"
Andra dan juga Nissa menunduk, semua yang dikatakan Farrel tak salah, bahkan hal itu dipikirkannya juga.
Farrel melanjutkan kembali perkataannya "Aku tidak akan membuat kakak kalian kecewa."
Nissa mulai menangis, mengingat semua yang kakaknya lakukan untuk keluarganya. Tanpa mengeluh sedikit pun.
Begitu juga Andra, penilaiannya salah terhadap Farrel, dia tak menyangka laki laki yang hanya terpaut 1 tahun dengannya bisa memiliki pemikiran seperti itu. Sedangkan dia masih menjadi beban keluarga. Bahkan tidak pernah membuat kakaknya bahagia.
"Ternyata kakak tidak menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya, kalau tidak, mungkin mereka juga tidak akan bersikap begini. Mereka juga pasti tidak akan terima" batin Farrel.
"Yaa sudah kalau kalian tidak mau melakukannya, aku pulang saja."
"Tidak bang, jangan pulang. Kita mau kok, iya kan bang" Nissa menggoyang goyang kan lengan Andra.
"Iya, gue mau."
Akhirnya mereka mulai menulis tempat tempat yang mereka tau, bahkan semua tempat yang berada di kotanya. Farrel tersenyum melihat keduanya mendukung rencananya, Dia pun tidak khawatir tentang ibunya Metta. Karena Sri menyetujuinya sejak awal.
"Nih bang selesai" Nissa menyerahkan kertas itu pada Farrel.
Farrel tersenyum membaca apa yang ditulis dalam kertas itu. "Kalian yakin kalau kakak kalian ingin pergi kesemua tempat yang sudah kalian tulis ini?"
Keduanya saling memandang, "Semua kan tempat destinasi dan wisata, pokoknya tempat seru buat didatangi, tapi kita gak tau mana saja yang pernah kakak datangi ataupun yang belum, iya kan dek" Nissa mengangguk.
"Yaa sudah begini saja tidak apa, tapi diantara semua tempat yang kalian tulis mana yang paling kalian tahu kakak kalian ingin pergi" Farrel tengah terlihat berpikir.
"Ada dibagian paling bawah," jawab keduanya.
Farrel melihat tulisan yang paling bawah, kemudian melengkungkan bibirnya dan mengangguk ngangguk.
"Baiklah ini pasti akan menyenangkan" ucap Farrel yang disusul oleh anggukan dari kedua adiknya Metta"
.
Flash back Off
Metta membulak balikkan kertas yang diberikan Farrel padanya, membaca satu persatu nama nama tempat destinasi wisata dan bahkan ada beberapa tempat kuliner, dan juga cafe.
"Apa maksudnya ini?Ada ada saja dia itu "batinnya. Namun Metta juga melengkungkan bibirnya, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Kehadiran Farrel menjadi warna baru didalam hidupnya, hidupnya yang biasa saja, memberikan tawa yang yang tak biasa, tingkah yang membuat nya kesal tapi juga menyenangkan. Kekonyolannya bahkan kata kata yang manis yang kerap diucapkannya.
Meski dirinya tidak suka pria romantis yang hanya bisa membual, rayuan gombal, dan apapun itu yang hanya menyenangkan diawal saja. Tapi naluri perempuan lah yang memang menyukai kelembutan dan juga senang saat ada yang memberikan kata kata manis maupun rayuan.
Metta melipat kertas itu dan menyimpannya. Dia beranjak menuju ranjangnya, bersiap bergelut dalam mimpinya di malam minggu.
"Selamat malam Farrel"
.
.
Menurut kalian Farrel itu gemesin atau nyebelin??π€£π€£
Terus dukung karya aku dengan like, komen dan rate 5 nya,syukur syukur masih ada vote yang nganggur. jadi vote boleh lah ke siniπ€π€§
Maaf kan mood aku lagi sebel nih liat si El, jadi ikut nyebelin juga.π€£
Makasih kalian yang udah selalu kasih aku semangat.π€ππβ€