Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kondisi Tiwi


Kedua iris mata milik Metta itu memicing, "Hebat, tapi aneh? Apa maksudnya?"


Farrel menyeruput kopi macha yang jadi kesukaannya selama Metta hamil, padahal sebelum dia sama sekali tidak menyukainya.


Segala sesuatu yang berhubungan dengan kakak, menjadi kesukaan ku, kesukaaan nya menjadi kesukaanku. Separah itu. Batin nya ikut berdecak.


"Iya aneh, siapa yang hamil, siapa yang bekerja!" ujarnya kemudian.


"Benar juga, kita berdua ini yang aneh! Kamu yang merasakan semua gejala kehamilan, sementara aku yang tidak merasakan apapun bisa menggantikan kamu di kantor."


Mereka tergelak bersama, dan itu berlangsung beberapa hari, Metta terus mengantikan Farrel yang terus mangkir dari kantor, mood nya benar-benar berubah dengan cepat, selalu sensitif dalam semua hal.


Metta sendiri tidak terlihat seperti tengah hamil, dia tetap aktif dalam semua hal, terutama dalam pekerjaan. Meskipun bunda dan ayah sering melarangnya namun tetap saja dia merasa baik-baik saja.


"Kakak maafkan aku, seharusnya aku yang bekerja, bukan kakak! Aku ini seorang suami, harusnya aku yang bertanggung jawab." ujar Farrel saat Metta baru saja tiba.


"Kamu ini bicara apa? Kalau pun kamu tidak bekerja, tapi kamu tidak berhenti memberi nafkah pada ku bukan?"


"Tapi kan harusnya aa--."


Metta menempelkan telunjuknya pada bibir suaminya, "Jangan terlalu difikirkan, aku tidak keberatan, lagian juga kamu yang menggantikan aku kan."


"Lagian kartu yang kamu kasih itu gak asa batasnya kan? Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau kamu tidak memberiku uang. Ayo makan, bukankah kau harus makan yang lebih bergizi?"


Setelah selesai Meeting, mereka masih enggan meninggalkan kafe tersebut, selain sudah lama tidak keluar rumah, mereka juga tengah menikmati life musik di kafe tersebut.


Metta merengek ingin mendengar lagu bergendre Reggae yang mengalun oleh seorang vokalis pria yang tampak masih muda.


"Suaranya bagus kan?" ujar Metta yang menjentik-jentikkan jari nya sesuai irama musik.


"Sudah hentikan gerakan tangannya sayang, kita dilihatin orang! Jangan bertingkah konyol."


Metta tergelak dengan tingkah Farrel yang misuh-misuh, kedua iris coklatnya melebar sempurna.


"Kakak hentikan!"


"Sayang, bagaimana kalau kamu kesana dan bernyanyi."


"Sayang, udah deh! Jangan ngaco, lebih baik kita pergi dari sini."


"Ah... papa gak asik yaa!" Ujar Metta mengelus perutnya.


Farrel berdecak, dia mencondongkan wajahnya lebih dekat, "Aku tidak bisa menyanyikan lagu bergendre reggae, jangan membuatku malu dengan menyuruhku nyanyi kesana." ujarnya dengan bola mata yang bergerak ke arah panggung kecil didepannya.


Metta terbahak, baru kali ini dia melihat satu hal yang tidak bisa dilakukan pria kecilnya itu.


"Ternyata kamu juga punya kekurangan, satu kekurangan diantara kegeniusanmu."


Farrel berdecak, "Karena aku tidak suka, dan tidak berminat untuk mempelajarinya, berbeda hal dengan yang lainnya,"


Metta mencubit pelan pipi Farrel, "Gemes banget sih kamu."


"Sayang ... sakit!" pekik Farrel.


"Oh iya sayang, bagaimana keadaan Tiwi? apa dia sudah ada perubahan?" tanya nya pada Farrel.


Dia menggelengkan kepalanya, "Hampir dua minggu dia dirawat, belum ada perubahan sama sekali, dia juga masih di ruangan ICU."


"Setelah ini, bisakah kita mampir kesana?"


Farrel mengangguk, "Hm...kita kesana nanti, sekarang habiskan makanannya dulu, kakak makan untuk dua orang, jadi harus banyak," ujarnya kemudian memindahkan daging miliknya pada piring Metta.


"Ini terlalu banyak El, kau ingin aku gemuk?"


"Tidak apa! Jangan khawatirkan soal nerat badan dulu, yang penting Farrel junior sehat.Hem?"


Metta mendengus, "Baiklah papa,"


Hap... Metta menyuap dengan kesal, sementara Farrel terkekeh, dengan mencubit pipinyanya lembut. "Terima kasih sayang!"


.


.


Dengan mobil yang dilajukan oleh Mac, mereka akhirnya menuju ke rumah sakit, untuk melihat bagaimana keadaan Tiwi, tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit.


Setelah turun, mereka masuk kedalam, berjalan dengan Farrel yang menggenggam tangan Metta, menyusuri koridor rumah sakit.


Ting


Lift terbuka, beberapa orsng keluar dari dalam lift dan mereka menunggu sebelum semua orang keluar.


BRUKK


Seseorang yang tengah sibuk mengotak-ngatik ponsel tidak sengaja menabrak Metta, untuk saja Farrel dengan sigap memegangi bahunya hingga dia tidak terjengkang dan jatuh.


"Heh ... pakai matamu untuk melihat! perhatikan jalanmu!" sentak Farrel pada pria tersebut.


"Ooh... maafkan! Saya buru-buru." ujarnya dengan menangkup kedua tangan.


"Sekali lagi saya minta maaf." ujarnya lalu ergi begitu saja.


Farrel mengernyit, "Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana yaa?"


Mereka akhinya masuk kedalam lift. "Memangnya siapa dia?"


"Entahlah, tapi sepertinya temannya Alan." ujar Farrel kemudian.


Ting


Lift kembali terbuka, mereka beriringan keluar. Menuju ruangan dimana Tiwi dirawat.


Terlihat Doni tengah menangkup wajah nya dengan tertunduk.


"Don...." Ujar Farrel.


Doni mendongkak, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Bagaimana keadaan Tiwi?"


"Masih sama, tidak ada perubahan sama sekali." ujarnya lesu.


Metta berjalan melihat celah jendela, menatap Tiwi yang masih terbaring itu dengan nanar.


Ya tuhan, beri apapun yang terbaik untuknya.


"Bagaimana dengan keluarganya Doni? Bukankah tempo hari kau kesana?"


Doni menggelengkan kepalanya, "Percuma saja, mereka tidak mau melihatnya. Bahkan bertanya kondisi nya saja tidak."


Farrel menghela nafas, bagaimana mungkin satu keluarga tidak peduli dengan keluarga nya sendiri.


Seorang dokter yang ditemani perawat datang menghampiri mereka, mereka juga terlihat tidak bisa berbuat banyak.


Mereka masuk ke dalam ruangan ICU, terlihat memeriksa Tiwi dan juga mengecek mesin-mesin yang terhubung pada tubuhnya.


Dokter itu menghela nafas. Lalu melirik ke arah perawat.


"Kondisinya semakin buruk! Dia bisa bertahan hanya dengan bantuan mesin saja." ujarnya.


Mereka lantas keluar, lalu berjalan mendekati Doni.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, kondisi pasien mengalami penurunan drastis, kita hanya bisa berdoa yang terbaik saja untuknya."


Doni terhenyak dengan penuturan dokter, dia membasuh wajahnya dengan kasar.


"Dok, apa boleh aku masuk ke dalam?"


"Silahkan, tapi hanya satu orang saja."


Doni mengangguk, lalu bergegas masuk kedalam.


Deg


Deg


Suasana ruangan tempat Tiwi terbaring tidak berdaya itu terasa saat dingin dan juga hening, hanya suara dari alat medis yang berbunyi, melihat kondisi Tiwi yang membuat hatinya teriris, selang medis menempel disekujur tubuhnya. Dan kepala yang mah terbalut perban.


Doni menarik kursi dan duduk disamping ranjangnya. Tanpa sadar air bening itu lolos begitu saja, hatinya terasa perih, melihat kondisi Tiwi yang tidak berdaya.


"Tiwi ... maafkan aku! Aku membuatmu seperti ini, aku sangat menyesal," ujarnya dengan meraih tangan Tiwi.


"Cepatlah sadar, kau harus mengatakan sendiri apa yang kau tulis didalam suratmu! Katakan kau tidak akan menyerah padaku! Katakan kau akan terus berusaha agar aku melihatmu. Katakan itu sendiri yaa." ujarnya dengan derai air mata.


"Oh iya, aku kemarin ke rumah ibumu. kau jangan khawatir ya. Mereka pasti akan kemari, sebentar lagi mereka akan menemuimu. Percaya padaku." ujarnya asal.


"Ayo dong buka matamu, aku sudah lelah bicara sendiri dari tadi," menghela nafas.


"Aku mau mendengarmu menyebutku curut dengan sorot mata yang menyalang." Doni sedikit terkekeh.


"Aku juga mau melihat matamu yang genit! Ayolah, jangan terus tidur. Kau tidak bosan apa tidur terus."


Doni mengelus pipi nya perlahan. Dia baru ingat hari ini hasil laboratorium tentang DNA akan keluar.


"Kau mau aku pergi mengambilnya? Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan hasilnya, seharusnya aku mengikuti perkataanmu, aku akan menganggap anak itu adalah anakku. Walaupun sekarang sudah tidak ada lagi."


Doni terus saja berbicara sendiri, berharap Tiwi mendengarnya dan segera sadar. Dan berharap dia segera membuka matanya. Namun sejak dia masuk hingga beberapa lamanya dia berada disampingnya, keadaan Tiwi tetaplah sama.


"Kalau kamu memang beneran sayang sama aku, buka matamu sekarang."


Suara bunyi mesin terdengar nyaring, membuat Doni terhenyak, tangan Doni terus menggenggam tangannya. Dokter dan suster masuk dengan tergesa dan menyuruhnya untuk keluar.


Namun Doni enggan keluar dari ruangan, dia tetap ingin berada didalam dan melihat, dokter melihat kondisi Tiwi, mesin pendeteksi jantungpun berbunyi kembali.


Doni meraup wajahnya, saat dokter mulai memompa dada Tiwi. Dan segala upaya untuk menyelamatkannya.


"Tidak Tiwi ...aku mohon bertahanlah."


Farrel dan Metta yang masih berada diluar tidak kalah khawatirnya. Metta bahkan mondar mandir.


"Sayang duduklah, kamu malah membuatku semakin cemas!" ujar Farrel menarik pergelangan tangan sang istri.


"Aku khawatir El ... melihat dokter dan suster dengan muka tegang mereka."


Farrel merengkuh bahunya, "Tenanglah...."


Walaupun dia sendiri sama khawatir dengannya.


Seseorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka. Dengan wajah lelah dan juga lusuh. Dia menghampiri Farrel dan juga Metta.


"Apa anakku ada di dalam?