
Metta masuk kedalam rumah di apit oleh Nissa, sementara Farrel dibelakangnya bersama Doni.
"Setelah ini kalian boleh pulang, aku akan menginap di sini." ujar Farrel pada saat melewati Mac yang tengah duduk.
Mac mengangguk, lalu bangkit dari duduknya, "Hubungi aku jika membutuhkan sesuatu!"
Farrel mengangguk, lalu masuk kedalam rumah. Doni dan Mac keluar dari pekarangan rumah,
"Tunggu....!" ujar Nissa berlari menyusul dari belakang.
"Kak Doni udah janji lho mau nganter aku ke toko buku, ayo berangkat sekarang!" ujarnya dengan mata berbinar.
Doni melirik Mac, namun Mac malah mengerdikkan bahu. Bukan urusanku
Aku kan tidak benar-benar ingin, hanya karena aku ingin menyelamatkan sepasang pengantin baru, aku yang terus terkena getahnya.
"Kau terlalu bodoh dalam bertindak!" ujar Mac yang langsung berjalan menuju mobil nya.
Sedangkan Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap Mac yang masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkannya begitu saja.
"Gimana? Jadi kan? Jangan bilang kak Doni mau ingkar janji!" tukas Nissa dari belakang.
Doni memutar tubuhnya kembali masuk dan duduk.
"Nanti yaa, tunggu sebentar. Biar kak Doni berfikir dulu!"
"Kak Doni tadi bilangnya janji mau nganter, kenapa sekarang malah mau berfikir?"
"Pokoknya Nissa mau nagih janji Kak Doni!" ujarnya berkacak pinggang.
"Besok saja gimana? Besok yaah ... besok."
"Awas yaa besok ingkar lagi! Aku akan marah pada kak Doni.
Doni mengacak rambut Nissa, "Iya bawel besok kakak antar, sekarang kakak harus pulang dulu, ada pekerjaan juga!"
Doni akhirnya bisa pergi dari sana, dia bergegas. Sebelum Nissa berubah fikiran.
.
Sementara didalam rumah
"Ibu fikir kalian tidak akan pulang kesini,"
"Iya Bu, bunda juga tadi menanyakan hal yang sama." ujar Farrel mendudukkan dirinya.
Sementara Metta tengah mengeluarkan barang-barang yang akan di berikan sebagai oleh-oleh.
Ibu Sri membantunya, "Banyak banget Sha?"
"Iya bu, sekalian. mungpung ada disana, kakak jadi lupa diri, terbawa hawa nafsu." ujar nya terkekeh.
Metta membulatkan matanya, "El....eeeh!"
lalu ibu Sri tergelak, "Kenapa bisa lupa diri?"
"Maksudnya lupa diri, semua ingin dibeli! Gitu bu...." sela Metta.
"Ooh...."
Ibu Sri beroh ria. Sementara Farrel terkikik.
"Awas kamu!" gumam Metta menatap suaminya.
"Ya sudah kalau begitu kalian istirahat saja dulu." ujar Ibu Sri.
"Aku mau mandi." bisik Farrel pada Metta yang masih sibuk dengan mengeluarkan barang bawaannya.
"Hm... Mandi lah!"
Metta membawa Farrel masuk ke kamar nya, kamar sederhana dan sangat berbeda dengan kamar miliknya di rumah utama maupun apartemen,
"Nih... handuk kamu! Ini juga," ujar Metta menyerahkan sikat gigi baru pada nya.
Kericuhan terjadi saat Andra dan Nissa juga berebut kamar mandi, membuat Farrel mendudukkan kembali tubuhnya di sofa, dengan menggelengkan kepalanya
"De, abang dulu yang masuk! abang baru pulang masuk bersih-bersih! Kamu nanti saja." ujar Andra yang masuk lebih dulu.
Membuat Nissa menghentakkan kakinya dan duduk disebelah Farrel.
"Menyebalkan." sungutnya.
Farrel terkikik, "Sabar, jangan marah-marah!"
Metta yang baru keluar dari kamar pun heran, melihat Farrel yang malah duduk dan mengobrol dengan Nissa.
"Masih ada Andra sayang, nih Nissa juga lagi nunggu." ujarnya dengan terkikik.
"Maaf yaa, di sini memang begini! setiap hari harus saling menunggu, tidak boleh telat sedikit!" ujarnya dengan menatap Nissa.
"Nah kan bang! Kak Sha selalu emosian kalau ngomong," gumam nya pada pria yang baru saja menjadi kakak iparnya.
Metta mencubit pelan pipi Nissa, "Ngomong yang jelek-jelek tentang kakak? Hem...."
"Awwwss... kakak sakit!" kata Nissa yang langsung melarikan dirinya kebelakang ibu Sri yang baru datang dari dapur.
"El ... apa sebaiknya kita pulang ke apartemen saja?"
"Tidak usah, besok pagi saja kita pulang, sekarang kita menginap disini dulu." Ucap Farrel meraih tangan Metta.
"Terima kasih!" Farrel mengangguk.
.
.
Jika di apartemen atau di rumah utama Adhinata, seusai selesai mandi, Farrel akan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, namun di sini. Itu tidak mungkin.
Dia keluar kamar mandi pun dengan sedikit mengendap, karena entahlah kenapa tiba-tiba dia merasa malu. Melihat Ibu Sri yang tersenyum ke arah nya saja membuat kikuk. Apa karena telah melakukan sesuatu dengan anaknya?Entah lah mungkin hanya perasaan nya saja.
Dan juga harus melewati Nissa dan Andra yang tengah mengerjakan tugas di meja makan, sapaan Andra pun terasa beda, seolah dia tengah melakukan sesuatu yang memalukan. Apa semua orang menikah juga begini? Kenapa semuanya tersenyum aneh?.
Farrel masuk kedalam kamar, menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu dia membuka pakaiannya yang dia pakai dari kamar mandi, dan melihat baju ganti yang telah dipersiapkan oleh Metta sudah berada di tepi ranjang.
Sesuatu yang baru, yang dilakukan oleh Metta, padanya. Membuatnya tersenyum lalu memakai pakaiannya.
Lalu dia naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Hingga dia terlelap sendiri.
.
.
Sementara Metta tengah membantu Ibu Sri menyiapkan makan malam. "Sudah sana panggil suami mu, kita makan malam bersama."
Sementara Nissa terkikik mendengar ibu mereka memanggil kata suami pada Farrel, sesuatu hal yang baru untuk kehidupan mereka.
"Lucu sekali, sekarang kak Sha sudah punya suami." gumam Nissa.
Andra menyenggol lengannya, "Biasa aja kali, nanti juga kamu gitu. Kalau udah punya suami."
"Iya juga, tapi kan aneh saja mendengarnya." Terkikik lagi, sementara Andra memutar kedua matanya malas.
""Huss... kalian ini!" sentak Ibu Sri.
Sementara Metta menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam kamarnya.
"El... kamu tidur?"
Tidak ada jawaban, hanya dengkuran lembut yang terdengar, Metta mencondongkan tubuhnya melihat Farrel dari dekat.
"Ternyata beneran tidur."
Metta menusuk-nusuk pipi Farrel yang tengah terlelap, wajah yang terlihat damai dan imut dengan buku mata yang lentik.
"Hanya sedang tidur saja dia terlihat kalem."
Dia lantas keluar kembali dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Tidak jadi membangunkannya karena merasa kasian.
"Lho mana menantu ibu?"
Membuat Andra jengah mendengarnya, lalu mencebikkan bibir. Menantu ibu. cibirnya.
"Farrel sudah tidur," ucap Metta dengan mendudukkan dirinya dikursi.
"Kalau begitu, kamu nanti saja makannya, tunggu suami mu bangun!"
"Ibu... kenapa harus menunggunya. Biar dia makan sendiri nanti, lagi pula aku sudah lapar."
"Gimana nanti kalau dia bangunnya pagi-pagi, aku harus menahan lapar semalaman." imbuhnya lagi.
Ibu Sri menggelengkan kepalanya, "Nanti kamu bangunin dia lagi, siapa tahu dia langsung bangun. Sudah sana panggil suami mu."
Andra dan Nissa terkikik melihat Kakak perempuan mereka mengerucutkan bibirnya, karena tidak jadi makan.
"Sekarang ibu punya menantu kesayangan, saingan sama anak bungsu." gumam Andra dengan terkikik pada Metta.
Metta mendelik padanya, lalu mencapit kerupuk udang dari piringnya.
"Jangan ikut-ikutan!"