
"Kamu benar-benar gak tau!" Metta memejamkan matanya.
"Ah sudahlah, lain kali tanya dulu. Jangan langsung main ambil saja." Metta melempar kotak kecil berwarna merah itu kedalam tong sampah. Lalu merebut satu kantong besar dari tangan Farrel dengan tersungut.
" Hei, kenapa kakak malah membuangnya. Jelaskan dulu itu permen apa?"
"Bagaimana cara menjelaskannya."
Metta masuk kedalam mobil, disusul Farrel dibalik kemudi. "Kak, kenapa kakak buang?"
"Lebih baik benda itu dibuang, ayo jalan!"
Metta kemudian merogoh ponselnya dari dalam tas, lalu mengotak ngatiknya. Sementara Farrel masih belum paham, bahkan dia hanya diam saja.
Setelah mendapat dengan apa yang sedari tadi Metta cari di ponsel pintarnya, "Kurasa ini cocok,"
"Nih, baca!" menyerahkan ponselnya pada Farrel.
"Apa itu kak?"
"Bukankah kamu ingin tahu permen jenis apa yang kau beli tadi?" Farrel mengangguk.
"Bahkan disana ada varian rasa dan juga macam bentuknya."
"Varian rasa?" Metta mengangguk, bibirnya melengkung penuh menahan tawa.
"Lantas kenapa kakak tadi membuangnya,?" Farrel menepi dan menghentikan laju mobilnya
"Karena tidak cocok dengan usia kamu, udah tinggal baca aja sih!"
Farrel meraih ponsel yang diberikan kekasihnya itu, lalu membacanya dengan teliti. Seketika kedua maniknya membulat sempurna, dengan bulu mata yang lentik ikut turun naik.
"Astaga," pekik Farrel menatap Metta, sedangkan
Metta terkikik melihat reaksi Farrel, "Gimana? cukup jelas?"
"Itu ... anu ....!" tangannya mengulur menyerahkan ponsel pada Metta yang masih terkikik.
"Itu untuk ... " Farrel menautkan jarinya lalu beralih pada perbatasan kedua pahanya. Heran, dia bahkan baru mengetahuinya sekarang.
"Apa ....?"Seketika wajah Farrel memerah bak kepiting rebus.
"Sialan, bahkan ada cara memakainya segala."
"Apa yang kakak pikirkan?"
"Tidak ada!"
Metta masih saja tertawa, melihat perubahan air muka Farrel, "Kak, sudah hentikan. Jangan tertawa lagi." sergahnya dengan bibir mengerucut dan hidung yang mengembang menjadi satu.
"Bukankah harusnya kakak bangga padaku! Aku bahkan baru tau itu sekarang."
"Benarkah?" Pandangan Metta berubah menelisik kearahnya. Farrel mengangguk, "Aku ini masih polos, mana tau hal yang begituan."
"Bagaimana dengan varian rasanya, di icip gitu." pertanyaan konyol berseliweran dikepala Farrel.
"Lagian penjaga swalayan itu bisa-bisanya memajang benda seperti itu di display paling depan."
"Yaa...ya lebih baik tidak tahu saja. Itu tidak baik untuk dicontoh. Pppfftt..." benar- benar tidak bisa menahan tawa.
"Lalu yang baik yang bagaimana?" Farrel menatap nakal pada Metta.
"Pertanyaan apa itu?"
Mereka saling melempar pandangan dan akhirnya tertawa terbahak.
"Astaga, apa Alan tahu soal ini juga? Ah, mungkin dia sudah tahu, curang!"
Farrel kembali menjalankan mobilnya, sungguh dia merutuki kebodohannya. Metta masih dengan tawanya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Metta, "Jangan dulu keluar!" Farrel membuka seat beltnya lalu keluar dengan berlari kecil mengitari mobil, membuka pintu untuk Metta.
"Cx sudh kubilang tidak perlu begini. Kau ini!"
"Ini hal keren yang paling ingin aku lakukan,"
Metta hanya berdecak.
Kemudian Farrel membuka bagasi dan mengeluarkan kantong besar hasil belanja nya. Kemudian menentengnya dikedua tangannya.
"Biar ku bantu,"
"Tidak usah, kakak duluan saja."
"Sudah, sini aku ambil kantong yang paling ringan." Metta terkikik lalu mengambil satu kantong dari tangan Farrel.
"Assalamualaikum, bu aku pulang."
"Hei, ini rumahku!" bentak Metta.
"Gak apa-apa kan, ini juga nanti jadi rumahku!"
"Ish, mulai lagi." Metta berlalu masuk kedalam rumah dan membiarkan Farrel yang masih berada diambang pintu.
Andra tengah duduk di ruang tamu, tangannya masih memakai gips. dengan satu tangan dia bermain ponsel.
"Gimana nyon, udah mendingan?"
"Lumayan kak, tapi besok harus fisioterapi lagi." Metta mengangguk, "Ya sudah, besok kakak antar!"
"Ibu mana? kok gak keliatan? Nissa juga gak ada..."
"Kak, ini mau di simpan dimana?"
"Astaga, aku hampir lupa." mendekati Farrel yang tengah berjongkok menyimpan kantong belanja.
"Hai, calon kakak ipar!" sapa Andra membuat Farrel melayangkan lengkungan penuh dari bibirnya.
"Istirahat kan tangannya jangan bermain ponsel terus!"
"Gue harus terus berlatih kak, bulan depan aku harus mengikuti esfort."
"Bagaimana dengan lenganmu? Apa tidak bisa dibatalkan saja." Metta muncul dari arah dapur setelah menyimpan segala macam.
"Ini kesempatan besar gue kak, mana mungkin! gue bahkan menunggu kesempatan ini sejak lama." Andra membenarkan posisi lengannya.
"Kalau gitu, aku akan minta Doni melatihmu, dia atlet esfort."
"Doni Permana?" Farrel mengangguk.
"Wah dia salah satu idolaku, dia sangat keren!"
"Hei kenapa kamu malah mendukungnya, bagaimana dengan lengannya. Dia belum sembuh total!" Metta misuh-misuh dari ruang makan, mengeluarkan barang dari kantong.
"Kakak tenang saja, lengannya pasti sembuh, masih ada waktu sampai pertandingan itu kok."
Andra mengangkat sudut bibirnya keatas, dukungan untuknya bertambah.
"Kau ini sama saja!" Farrel terkikik.
"Ayo semangat sembuh, kakak juga sebenarnya pasti mendukungmu."ucap Farrel dengan keyakinan.
Andra mengangguk, sebenarnya mereka hanya bertaut usia 1 tahun, tapi kenapa Farrel terlihat lebih dewasa dari dirinya! dia bahkan memahami keinginanku. Diam-diam Andra mulai mengagumi.
Bahkan keberanian yang dia lihat ketika mereka berada di bandara. Dengan gagah berani melawan tubuh- tubuh tegap tanpa rasa takut.
"Bang, nanti juga ajarin gue bela diri ya."
"Siap, adik ipar!" Farrel mengacungkan jempol nya.
Tak lama, ibu dan Nissa baru saja datang, "Assalamualaikum, eh ada nak Farrel!"
"Iya bu," bangkit dari duduknya lalu menyalami ibu.
"Bang." Nissa melambaikan tangan lalu berlalu mendekati sang kakak yang belum selesai membongkar barang.
"Lho, Sha belanja segini banyaknya."
"Gak tau nih bu, kerjaan dia! gumamnya pelan.
Tanpa mengatakannya pun Sri sudah tau siapa yang dimaksudkan. Dia mengukir senyum di bibirnya.
"Padahal aku cuma membeli perlengkapan untuk masak besok,"
"Ah iya, bagaimana sekarang keadaanya." Sri sudah mengetahui ketika Metta menanyakan persediaan bumbu tadi sore.
Metta menarik kursi disamping ibunya. "Memprihatinkan bu, dia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun, pandangannya kosong. Kata dokter depresi mayor-mayor apa gitu aku lupa."
Dengan pandangan menatap Farrel yang tengah bermain game dengan Andra.
"Yah, yah kamu kesana, jangan kesitu"
" Bang awas bang"
"Kapan-kapan ibu ikut menjenguknya Sha." Metta kembali menatap ibunya.
"Iya bu,"
Tidak ada dendam sedikitpun dihati Sri, dia memahami semua yang terjadi dengan penuh lapang dada dan keikhlasan. Entah bagaimana jika Sri tahu kalau sebenarnya ibunya Farrel belum memberikan restu pada anaknya.
Sementara Nissa hanya memperhatikan pembicaraan mereka, matanya mondar-mandir sesuai siapa yang sedang bicara.
"Nih buat kamu," menyerahkan snack ukuran jumbo.
"Wah makasih kak, tau aja kesukaan aku!"
"Bukan kakak yang beli, bilang terima kasih sama abang." ucap Metta menunjuk dengan dagunya kearah Farrel.
Farrel tersenyum, mendengar Metta memanggil sebutan untuk adiknya terhadap dirinya, dia merasa kehadiran nya diterima.
"Makasih Bang El."
.
.
"Jadi besok aku jemput kakak ya," ucap Farrel saat membuka pintu mobil berpamitan.
"Tidak usah, nanti seluruh kantor heboh melihat kita."
"Jangan menolakku." Farrel mengecup kilat pipi Metta.
"Aku pulang dulu." masuk kedalam mobil, dan melambai pada Metta yang masih terperangah.
.
.
Hayoo, jangan lupa like dan komen yaa🤭, dukung terus karya receh ini. Dengan like sesudah baca, apalagi komen membuat Author semakin semangat, kasih bunga, kopi ataupun vote kalian untuk mendukung author juga yaa.. 🤭🤭😁
Terima kasih❤