Berondong Manisku

Berondong Manisku
Doni Vs Tiwi 2


"Kaki mu terluka cukup parah, kau harus istirahat total!" ucap dokter jaga kemudian kembali duduk dikursi dan mencatat sesuatu di kertas.


Tiwi meringis, dia bangkit dari ranjang pemeriksaan."Tapi aku hanya terkilir dok,"


"Siapa yang bilang melahirkan, dokter juga mengatakan kau terkilir." cibir Doni yang duduk dikursi dihadapan dokter.


"Kau diam saja, aku tidak bicara padamu!" sentak Tiwi.


Sementara Dokter hanya bergeleng kepala saja, terlihat dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Sementara keduanya terlibat perang mata dengan tajam. Tiwi mengepalkan tangannya menahan marah, sedangkan Doni menarik satu sudut bibirnya keatas, senyum simpul untuk meledek Tiwi.


Sialan, curut kurang ajar! Berani sekali dia. Batin Tiwi.


Memangnya siapa dia, jangan berfikir aku bodoh, dia pasti memiliki banyak rencana jahat, aku harus terus mengawasinya. Batin Doni.


"Aku sudah resepkan obatnya, kau tinggal ambil di ruang obat." ucap dokter perempuan itu.


Doni meraihnya, melihat sekilas selembar kertas yang diberikan dokter itu lalu memberikannya pada Tiwi.


"Nih, bawa sendiri tugas ku sudah selesai!"


Tanpa bicara apapun, Tiwi menyambar kertas itu dengan kasar, kilatan dari matanya kian menajam kearah Doni.


"Terima kasih!" cibir Doni, "Dasar tidak punya etika!" gumamnya kemudian.


"Oh ya, sebegitu kau inginnya aku mengucapkan terima kasih padamu?" Tiwi mendesis.


"Heh, kalian selesai kan urusan kalian diluar saja! Kau bawalah pulang pacarmu itu, dia harus istirahat total, kalian mengganggu pekerjaan ku saja dengan ribut-ribut disini!" sergah Dokter tatapan mengarah pada Doni.


"Dia bukan pacarku!"


"I hate you."


"Wah, apa lagi aku nona! aku tidak akan tertipu oleh mu, perempuan licik!" Doni berkacak pinggang.


" Benci dan cinta itu memang selalu datang diwaktu bersamaan," sela dokter menohok mereka.


"Aku tidak sudi jatuh cinta padanya!" umpat Tiwi.


"Terus aku mau gitu... sorry to say... no way! jawab Doni kemudian.


Membuat dokter itu jengah dan seketika menggebrak meja, "Sudah kubilang selesai kan diluar sana, Doni bawa!" ucapnya pada Doni.


"Baiklah aku pergi dok, terima kasih!" ucap Doni menunduk sedikit pada Dokter itu.


Tiwi turun dari ranjang dengan berpegangan pada tepian ranjang, Kaki nya terlalu sakit untuk dipakai berjalan, untung saja dokter memberikan tongkat kruk untuknya. Sementara Doni sudah keluar dari ruangan Dokter jaga.


"Sialan, cleaning service sialan. dia membuatku kesusahan begini!" umpat Tiwi yang keluar ruangan pun dengan susah payah.


Dia berjalan ke ruangan obat, dan menyerahkan resep dari dokter, sementara Doni memperhatikan nya dari jauh.


"Kasian juga sebenarnya perempuan licik itu." gumam Doni yang tidak meninggalkannya, namun juga enggan membantunya berjalan.


Dengan perlahan Tiwi berjalan kembali keruangannya, jarak yang cukup lumayan dan harus melalui undakan tangga, meskipun lift juga ada namun harus berjalan memutar dan jarak nya lebih jauh, mengingat ruang kesehatan terletak gedung paling belakang.


Perlahan Tiwi menuruni Tangga, meskipun tidak banyak namun amat menyiksanya, ditambah rasa sakit yang menjalar dikaki bengkak nya. Dan Tiwi harus menyesuaikan diri dengan tongkat untuk berjalan.


Sementara Doni hanya mengekor dengan jarak yang lumayan, dia masih enggan membantu nya kembali tapi juga merasa kasihan melihatnya.


"Apa yang aku lakukan? Tidak ingin membantunya tapi masih melihatnya dari jauh! Rasain ini karma buat perempuan licik sepertinya. Kalau bisa aku tendang sekalian, eeh tidak... aku tidak sejahat itu, aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran." Monolog Doni.


Tiwi sudah merasa lelah, tangannya pun terasa kebas karena menahan tongkat yang harus dia seimbangkan, sementara harus berjalan dalam unakan tangga yang memnuatnya harus menahan tubuhnya sendiri.


"Sialan, ide siapa yang membangun tangga disini! harusnya lift saja yang langsung ke ruangan, ini sangat menyiksaku." Umpat Tiwi.


Tiba diundakan terakhir, tubuh Tiwi limbung dan tak kuat menahannya lagi. Tiwi jatuh terduduk, dengan meringis Tiwi mengusap kaki nya yang semakin sakit.


"Tongkat sialan, ini tidak membantu sama sekali, brengsekk semua nya brengsekk." ucap nya dengan mengumpat.


Doni terkikik, namun juga kasihan melihatnya, akhirnya dia berdecak dan menghampiri nya. Doni mengambil tongkat dan plastik berisi obat.


"Kau mau apa? sudah sana pergi," ucap Tiwi yang berusaha mencari pegangan untuk kembali bangkit berdiri.


"Tidak perlu, aku tidak sudi dibantu curut sepertimu!"


Doni terbelalak, "Apa... kau memanggilku apa? Curut...." melepaskan kembali lengan Tiwi yang sudsh setengah berdiri hingga kembali limbung.


"Kurang ajar, kalau tidak berniat membantu sudah sana pergi saja! kau hanya membuat aku semakin kesusahan." bentak Tiwi yang sudah menahan bulir bening disudut mata nya.


Doni terdiam melihat Tiwi yang terlihat benar-benar kesakitan, lalu tanpa kata Doni menarik lengan Tiwi dan menggendongnya, tak lupa juga obat dan tongkatnya dia bawa.


"Brengsek turunkan aku! Untuk apa kau membantuku,"


"Diamlah ... kalau tidak aku akan benar-benar menurunkanmu!" ucapnya dengan terus berjalan,


Karyawan-karyawan yang melintas melihat ke arah mereka sepanjang jalan, akhirnya mereka sampai diruangan Tiwi. Doni menurunkan Tiwi dikursinya,


"Ambil tasnya, aku akan mengantarmu pulang sekalian!"


" Tidak usah aku akan pulang sendiri saja," ucap Tiwi dengan membereskan barangnya.


"Terserah kalau begitu , kesombonganmu luar biasa nona, sungguh-sungguh sombong."


Doni berbalik, dan berlalu pergi meninggalkan Tiwi. lalu dia menghembuskan nafasnya pelan,


"Brengsek, orang paling brengsek yang pernah aku temui!"


Setelah semua barang nya rapi, Tiwi berjalan keluar dari ruangan, dia sudah memesan taxi online untuk pulang. Tiwi kemudian menunggu didepan pintu lift.


Ting


lift terbuka, Tiwi pun masuk kedalamnya, dengan mengotak-ngatik ponsel miliknya. Tak lama lift pun terbuka,


Ting


Tiwi keluar dari lift, dia berpapasan dengan Metta.


"Tiwi, kamu kenapa?"


Tiwi berjalan melewati Metta, seolah-olah tidak melihatnya. Metta menyusul langkahnya,


"Biar ku bantu, kau mau pulang? Apa sudah pesan Taxi atau apa....?


"Tidak usah sok baik, kau senang kan melihat aku begini!" ketus Tiwi.


"Apa maksud mu, aku hanya ingin membantumu saja, ada apa denganmu!"


Tiwi menatap nyalang pada Metta, "Ini gara-gara tunanganmu itu!"


Metta terbelalak, "Apa maksud ucapan mu?"


Tiwi kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Metta. Metta yang masih heran hanya memandang Tiwi yang berjalan menuju sebuah mobil dan masuk kedalamnya.


"Apa maksud dia mengatakan hal itu?Apa Farrel melakukan sesuatu padanya?" gumam Metta.


Dia kembali berjalan kearah lift, dengan perasaan yang masih penasaran, Metta masuk kedalam Lift saat lift terbuka.


Ting


Lift terbuka, Metta keluar dan menuju ruangan Farrel, dia ingin bertanya langsung padanya, mengenai Tiwi.


Namun seseorang menghentikan langkahnya,


"Mau kemana?"


.


.


Jangan lupa like dan komen yang banyak yaa, Terima kasih❤